Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
Pagi itu, suasana di kelas Bahasa Mandarin tingkat lanjut terasa jauh lebih mencekam daripada kelas Fisika. Jika Fisika adalah tentang logika angka yang sudah akrab bagi Senara, maka Mandarin adalah tentang nada, rasa, dan ribuan karakter yang terlihat seperti jaring laba-laba yang rumit. Di SMA Garuda, kelas bahasa bukan hanya soal bisa bicara, tapi soal memahami filosofi di balik setiap goresan.
Senara duduk di bangku tengah, matanya sedikit sembab karena hanya tidur tiga jam. Di sampingnya, Rika sedang sibuk melakukan kalibrasi pada perangkat earbuds penerjemah miliknya.
"Nara, kamu beneran nggak mau pakai alat bantuan? Hari ini Lao Shi Zhang bakal ngasih tes dikte langsung tanpa kamus digital," bisik Rika khawatir.
Senara menggeleng lemah. Ia hanya meletakkan buku catatan kertasnya yang sudah penuh dengan coretan tangan semalam. "Aku bakal coba sebisaku, Rika. Kalau gagal, ya... mungkin aku memang harus belajar lebih keras lagi."
Dari barisan belakang, Bima memperhatikan interaksi itu. Ia melihat laci meja Senara kosong, alat biometrik pemberiannya tidak ada di sana. Berarti Senara benar-benar memilih untuk menghadapi tes ini dengan tangan kosong. Bima merasa campur aduk, antara kesal karena umpannya tidak dimakan, dan penasaran bagaimana gadis itu akan bertahan hidup.
Lao Shi Zhang masuk dengan langkah anggun. Beliau adalah wanita paruh baya yang terkenal sangat disiplin. Tanpa salam pembuka yang panjang, beliau langsung menyentuh layar besar di depan kelas.
"Hari ini, kita akan menguji kemampuan analisis karakter. Di layar akan muncul sebuah puisi klasik Dinasti Tang. Saya akan membacakannya satu kali, kalian tidak diperbolehkan menggunakan perangkat lunak penerjemah otomatis. Gunakan pemahaman kalian sendiri untuk menuliskan maknanya dalam bahasa Indonesia," ujar Lao Shi Zhang dengan nada dingin.
Seluruh kelas mengeluh pelan. Tanpa bantuan AI penerjemah, menerjemahkan puisi klasik adalah tugas yang hampir mustahil bagi pemula.
Bima segera mengaktifkan fitur offline dictionary di jam tangannya. Ia masih memiliki keunggulan teknologi, meskipun tidak seinstan perangkat yang ia tawarkan pada Senara. Ia mulai membedah karakter demi karakter.
Lao Shi Zhang mulai membacakan puisi tersebut, suaranya mengalun dalam nada-nada Mandarin yang kompleks.
Senara memejamkan matanya, ia tidak mencoba mengingat suara itu sebagai kata-kata. Semalam, ia sudah memetakan frekuensi nada Mandarin ke dalam skala numerik di kepalanya. Nada satu adalah datar, nada dua naik, nada tiga meliuk, dan nada empat jatuh. Ia mendengarkan ritme itu seperti ia mendengarkan ketukan kode.
Saat Lao Shi Zhang selesai, Senara segera membuka matanya. Ia tidak langsung menulis, ia menatap deretan karakter di layar yang tampak asing. Namun, otaknya mulai bekerja dengan cara yang sangat berbeda dari siswa lain. Ia tidak mencari arti kata di dalam memori bahasanya, melainkan mencari pola visual.
Ia teringat coretan-coretan yang ia buat semalam. Karakter ini memiliki radikal 'air', karakter itu memiliki radikal 'gunung'. Ia menggabungkan logika visual itu dengan nada yang baru saja ia dengar.
Sret... sret... sret...
Pensil kayu Senara kembali menari di atas kertas, ia menulis dengan sangat cepat. Bagi Senara, menerjemahkan ini seperti memecahkan enkripsi. Jika radikalnya air dan nadanya jatuh, kemungkinan besar maknanya adalah 'hujan' atau 'sungai yang deras'. Ia membangun konteks kalimat itu melalui probabilitas logika.
Sepuluh menit berlalu, Lao Shi Zhang berjalan berkeliling. Beliau berhenti di meja Bima, mengangguk kecil melihat terjemahan Bima yang sangat teknis dan kaku, khas hasil olahan kamus digital.
Lalu, beliau berhenti di meja Senara.
Beliau terdiam cukup lama. Seluruh kelas mulai melirik. Bima bahkan sampai menegakkan punggungnya untuk melihat apa yang terjadi. Apakah Senara akhirnya menyerah dan mengosongkan kertasnya?
Lao Shi Zhang mengambil kertas Senara. "Siapa yang mengajarimu teknik ini, Senara?" tanya beliau, suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh keheranan.
Senara mendongak, tampak gugup. "Saya... saya belajar sendiri semalam, Lao Shi. Saya hanya mencoba menghubungkan bentuk goresannya dengan nada yang Lao Shi bacakan."
Lao Shi Zhang membacakan hasil terjemahan Senara di depan kelas. " 'Guguran bunga di tepi sungai yang sunyi, membawa pesan musim gugur yang tak sempat tersampaikan.' "
Beliau menatap Senara dengan tajam. "Terjemahanmu bukan hanya benar secara harfiah, tapi kau menangkap emosi puitisnya. Padahal ada dua karakter di sini yang sengaja saya masukkan dari dialek kuno yang tidak ada di buku paket tahun ini. Bagaimana kau bisa tahu artinya?"
Senara meremas pensilnya. "Saya tidak tahu artinya, Lao Shi. Tapi karakter itu memiliki simbol 'mulut' dan 'angin'. Saya berasumsi itu adalah sesuatu yang diucapkan tapi terbawa angin... jadi saya mengartikannya sebagai pesan yang tidak tersampai."
Keheningan total menyelimuti kelas. Itu bukan sekedar pintar, itu adalah intuisi linguistik yang sangat langka. Bima merasa seolah-olah baru saja dipukul di ulu hati. Ia menghabiskan jutaan rupiah untuk teknologi penerjemah tercepat, tapi Senara mengalahkannya hanya dengan menggunakan logika radikal dan simbol di atas kertas buram.
"Nilai sempurna untuk aspek pemahaman," ujar Lao Shi Zhang sambil mengembalikan kertas itu. "Tapi kamu harus memperbaiki cara menulismu, Senara. Goresanmu terlalu kaku, seperti sedang menggambar diagram mesin."
Senara mengangguk cepat. "Baik, Lao Shi. Terima kasih."
Setelah kelas berakhir, Bima tidak langsung pergi. Ia menunggu di koridor, bersandar pada pilar beton yang dingin. Saat Senara keluar bersama Rika, Bima langsung menghalanginya.
"Rika, bisa tinggalkan kami sebentar?" tanya Bima dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Rika melihat ketegangan di antara keduanya, lalu mengangguk pada Senara dan pergi duluan.
"Kamu tidak memakai alatku," ujar Bima tanpa basa-basi.
"Sudah kukatakan, aku tidak mau berutang budi," balas Senara, mencoba berjalan melewati Bima.
Bima menahan bahu Senara, tidak keras, tapi cukup untuk menghentikannya. "Kamu tahu apa yang paling menyebalkan darimu, Senara? Kamu bertingkah seolah-olah dunia digital ini tidak ada. Kamu menolak teknologi, kamu menolak kemudahan, dan kamu menang hanya dengan pensil kayu sialan itu."
Senara melepaskan tangan Bima dari bahunya. Ia menatap Bima dengan sorot mata yang kali ini tidak tampak norak atau takut. Ada kilatan harga diri yang murni di sana.
"Kenapa itu menyebalkan bagimu, Bima? Apa karena teknologi keluargamu tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa menang?" tanya Senara telak. "Mungkin kamu terlalu sering melihat layar, sampai kamu lupa kalau otak manusia itu sendiri adalah perangkat yang paling canggih yang pernah diciptakan."
Bima terpaku. Kalimat itu menghantamnya tepat di titik paling sensitif dalam egonya.
"Aku tidak butuh alatmu untuk memahami bahasa, Bima. Aku hanya butuh konsentrasi," lanjut Senara. "Dan satu hal lagi... jangan pernah memata-maitai aku lagi. Aku tidak tahu apa yang kamu pasang di alat itu, tapi aku tahu orang sepertimu tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma."
Senara berjalan pergi, meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung di koridor.
Bima mengepalkan tangannya. "Dia tahu?" bisiknya pada diri sendiri. "Bagaimana dia bisa tahu ada sesuatu di alat itu padahal dia bahkan tidak menyalakannya?"
Kecurigaan Bima kini berubah menjadi obsesi yang berbahaya. Ia tidak lagi peduli apakah Senara itu hacker atau bukan. Ia hanya ingin menaklukkan gadis itu. Ia ingin meruntuhkan dinding ketidaktahuan yang dibangun Senara dan melihat apa yang sebenarnya ada di balik tatapan kacamata tebal itu.
Malam itu di asrama, Bima melakukan sesuatu yang nekat. Ia tidak lagi memantau lewat jaringan sekolah. Ia menggunakan drone mikro seukuran lalat yang ia kendalikan secara manual dari balkon kamarnya. Drone itu terbang melewati taman tengah, menuju jendela kamar 301 di Blok C.
Ia ingin melihat apa yang dilakukan Senara saat dia sendirian. Apakah dia masih memegang pensil kayu? Ataukah dia sedang memegang sesuatu yang lain?
Melalui kamera drone yang memiliki fitur night vision, Bima melihat Senara duduk di lantai. Di depannya ada robot biru tua yang kusam itu.
Senara sedang tidak meretas. Dia sedang menangis.
Dia memegang foto ibunya dan robot itu secara bergantian, sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti doa atau curhatan rindu. Di ruangan yang sangat mewah itu, Senara terlihat sangat rapuh dan kecil. Tidak ada kode, tidak ada konspirasi, hanya seorang anak yang merindukan rumahnya di gang sempit yang bau.
Bima menarik napas panjang. Ia mematikan kendali drone-nya dan membiarkannya kembali ke kamarnya. Rasa bersalah mulai menyelinap di antara obsesinya.
Apa aku terlalu keras padanya? pikir Bima. Bagaimana jika dia memang benar-benar hanya seorang gadis jenius yang malang?
Namun, di kamar 301, begitu Senara yakin tidak ada lagi dengung mikro-drone di sekitar jendelanya, ia menghapus air matanya.
Ia tidak melanjutkan tangisnya. Ia hanya menatap robot biru itu sejenak, lalu menyembunyikannya kembali di bawah tumpukan baju. Ia tahu Bima baru saja mengawasinya, ia sengaja membiarkan dirinya terlihat lemah. Ia tahu bahwa bagi orang seperti Bima, kelemahan emosional adalah jawaban yang paling memuaskan untuk menjelaskan sebuah anomali.
"Satu hari lagi berhasil terlewati," bisik Senara dalam hati, sambil merebahkan tubuhnya.