Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
Sinar matahari pagi menelusup malu-malu melalui celah gorden ruang makan, menyinari uap hangat yang mengepul dari semangkuk sayur lodeh dan sepiring ayam goreng kremes yang menggoda selera.
Hana berdiri di balik meja, menyeka peluh tipis di dahinya dengan ujung celemek motif bunga. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai merona, ada binar kehidupan yang kembali hadir setiap kali ia berhasil menaklukkan resep baru dari Bi Ina atau ibunya.
Langkah kaki yang mantap terdengar dari arah tangga. Arlan muncul dengan kemeja kerja yang rapi, namun wajahnya langsung berubah cerah, hampir seperti anak kecil yang menemukan harta karun, begitu melihat deretan masakan di atas meja.
"Aromanya sampai ke lantai atas, Hana," puji Arlan sembari menarik kursi kayu dan duduk dengan antusias.
Hana tersenyum malu-malu.
"Semoga rasanya tidak sekreatif minggu lalu ya, Mas. Masih ingat lodeh yang rasanya seperti air laut itu?"
Arlan terkekeh, mengenang masa-masa awal Hana belajar memasak yang sering kali 'kebablasan' memberi garam.
"Proses itu yang mahal harganya. Dan hari ini, saya yakin rasanya sudah sekelas restoran bintang lima."
Arlan mulai menyantap masakan itu dengan lahap. Setiap kunyahan adalah bentuk apresiasi terdalamnya bagi kesembuhan Hana. Ia tahu benar, setiap sayuran yang dipotong dan setiap bumbu yang dihaluskan adalah cara Hana berjuang melawan trauma digitalnya.
Sudah hampir sebulan ponsel Hana mati total di laci kerja Arlan. Gadis itu seolah memutus urat nadinya dengan dunia maya, memilih tenggelam dalam wangi bawang putih dan kunyit daripada membaca hujatan netizen.
Meskipun dia sudah mengklarifikasi hubungan mereka. Namun tetap saja komentar buruk itu masih bermunculan. Arlan menaruh curiga kalau ada yang sengaja melakukan hal itu. Dan semuanya masih dalam proses investigasinya.
Dia tidak dikeluarkan dari kampus, tapi Arlan sendiri yang memilih untuk cuti selama satu bulan. Dia ingin fokus dalam pencarian bukti kasus yang menimpa Hana dan kesembuhan istrinya itu.
Hubungannya dengan Hana juga semakin dekat. Semenjak fakta tentang sapu tangan biru itu diketahui Hana. Bahkan gadis itu tidak seformal ketika Inggit masih ada dulu. Bahkan terkadang sifat ceria dan manjanya muncul di hadapan Arlan.
Meskipun Arlan menikmati setiap momen kedekatan ini, di sudut hatinya ada kekhawatiran yang mengganjal. Hana belum benar-benar bangkit, ia hanya sedang bersembunyi di dalam cangkangnya yang nyaman.
Setelah sarapan selesai, Hana berniat membereskan meja. Ia membawa nampan berisi piring kotor menuju dapur, namun langkahnya terhenti saat melihat Arlan masih berdiri di dekat sofa ruang tengah, sedang mencari kunci mobilnya yang terselip.
"Mas, kuncinya ada di atas bufet dekat vas bunga," seru Hana sembari berjalan agak terburu-buru melewati karpet bulu di ruang tengah.
Namun, nasib berkata lain. Salah satu ujung karpet yang sedikit tertekuk menjadi penghalang. Kaki Hana tersangkut.
"Aaah!" Hana memekik kecil.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan, nampan di tangannya terlepas dan jatuh ke karpet dengan suara buk yang tumpul.
Arlan yang mendengar teriakan itu spontan berbalik dan merentangkan tangannya untuk menangkap Hana. Namun, karena dorongan tubuh Hana yang cukup kuat, Arlan tidak mampu menahan beban itu dengan sempurna. Alih-alih berdiri tegak, Arlan justru terdorong ke belakang dan jatuh terduduk di atas sofa empuk, dengan Hana yang mendarat tepat di atas pangkuannya.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat intim. Karena posisi jatuh yang tidak terduga, dahi Hana sempat terbentur dada Arlan, dan saat ia mendongak untuk meminta maaf, bibirnya justru tidak sengaja bersentuhan, bahkan seperti sebuah kecupan singkat yang mendarat tepat di ujung hidung mancung Arlan.
Waktu seolah membeku.
Suara detak jantung Arlan terdengar begitu jelas di telinga Hana, berpacu cepat seirama dengan napasnya yang tertahan. Aroma sabun mandi Hana yang segar bercampur dengan parfum woody milik Arlan menciptakan atmosfer yang mendadak sangat panas.
Hana terpaku, matanya membelalak lebar. Ia bisa merasakan hangatnya napas Arlan di wajahnya. Kesadaran bahwa ia baru saja 'mencium' hidung suaminya membuat wajah Hana seketika berubah merah padam, lebih merah dari cabai yang ia ulek tadi pagi.
"Ma-maaf, Mas! Aku... aku tidak sengaja. Karpetnya... kuncinya..." Hana terbata-bata.
Hana berusaha bangkit dengan tergesa-gesa namun justru malah hampir terjatuh lagi jika tangan Arlan tidak segera melingkar di pinggangnya untuk menstabilkan posisinya.
Arlan tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Hana dengan tatapan yang sangat dalam, ada sedikit kilat jenaka sekaligus sayang di sana. Ia perlahan menyentuh ujung hidungnya sendiri, lalu tersenyum tipis, senyum yang sanggup membuat lutut wanita mana pun lemas.
"Sepertinya sayur lodeh tadi pagi punya efek samping yang cukup menarik ya?" goda Arlan dengan suara bariton yang rendah.
Hana semakin salah tingkah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar hingga ke telinga.
"Mas Arlan! Jangan dibahas! Itu kecelakaan!"
Arlan tertawa rendah, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan di kampus. Ia membantu Hana berdiri dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Hana. Itu kecelakaan paling menyenangkan yang saya alami minggu ini."
Hana hanya bisa berdiri mematung sembari memegangi celemeknya, jantungnya masih berdegup tak karuan. Arlan mengambil kunci mobilnya, lalu berjalan mendekati Hana dan mencubit pelan ujung hidung istrinya itu dengan gemas.
"Saya berangkat dulu. Jangan terlalu banyak melamunkan 'insiden hidung' tadi ya, nanti ayam gorengnya bisa gosong kalau kamu masak lagi," ucap Arlan sembari melangkah pergi dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Hana menatap punggung Arlan yang menghilang di balik pintu depan. Ia menyentuh hidungnya sendiri, lalu tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini, pikiran Hana benar-benar bersih dari rasa takut akan media sosial.
Pikirannya kini hanya penuh dengan satu hal, pesona suaminya yang ternyata sangat ahli dalam membuat hatinya porak-poranda hanya dengan satu senyuman.