NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Kasta dan Kecurigaan

Udara di SMA Garuda Nusantara selalu terasa lebih dingin saat sore hari menyapa. Di kompleks asrama yang megah ini, waktu luang adalah sebuah kemewahan yang biasanya diisi dengan diskusi-diskusi berat atau kegiatan klub yang prestisius. Bagi Senara, sore hari adalah waktu untuk menyendiri di perpustakaan, tempat di mana bau kertas tua memberinya rasa aman yang tidak bisa diberikan oleh layar-layar sentuh di kamarnya.

Namun, sore ini kedamaiannya terusik. Rika, teman sekamarnya yang energik, menyeretnya ke 'The Wing'—sebuah kafe eksklusif di dalam area asrama yang menjadi tempat berkumpulnya para siswa paling berpengaruh di sekolah itu.

"Ayolah, Nara! Kamu tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik rak buku. Sekali-sekali kamu harus melihat bagaimana anak-anak Garuda bersantai," seru Rika dengan semangat.

Senara melangkah ragu melewati pintu kaca otomatis kafe tersebut. Aroma biji kopi pilihan dan kue-kue premium langsung menyambutnya. Kafe itu didesain sangat modern dengan sofa-sofa kulit berwarna karamel dan pencahayaan yang hangat. Namun, yang membuat Senara merasa sesak adalah label harga yang tertera di papan menu digital di atas konter.

Satu gelas kopi susu kecil di sini seharga dengan jatah makan ibunya selama dua hari di Blok 4.

"Kamu mau pesan apa, Nara? Aku yang traktir hari ini sebagai perayaan atas keberhasilanmu di lab robotika kemarin," tawar Rika tulus.

Senara menatap menu itu dengan wajah kaku. "Aku... aku tidak haus, Rika. Air putih saja sudah cukup."

"Jangan bercanda! Di sini air mineral saja harganya mahal. Pesanlah sesuatu yang enak," paksa Rika.

Senara akhirnya menunjuk sebuah menu yang namanya paling pendek yang bisa ia temukan: Hot Tea. Ia merasa sangat tidak nyaman duduk di sofa empuk itu, terutama saat ia menyadari bahwa beberapa siswa di meja seberang mulai melirik ke arahnya. Mereka adalah teman-teman Bima—anak-anak dari keluarga konglomerat yang sudah saling mengenal sejak taman kanak-kanak.

"Lihat itu," bisik seorang siswi berambut pirang hasil smoothing mahal kepada teman-temannya. "Itu kan si peringkat satu yang pakai pensil kayu kemarin? Dia bahkan terlihat bingung melihat daftar menu."

Tawa kecil pecah di meja itu. Senara menunduk, pura-pura sibuk merapikan ujung rok seragamnya. Ia merasa seperti sebuah bercak noda di atas kain sutra putih. Di tempat ini, prestasinya di laboratorium tidak berarti banyak jika ia tidak tahu cara memesan kopi atau tidak memiliki barang bermerek.

Bima duduk di sudut kafe yang lebih tenang, tersembunyi di balik pilar besar. Di depannya ada sebuah tablet, namun ia tidak sedang mengerjakan tugas. Matanya tetap tertuju pada Senara. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu—bagaimana jarinya yang gemetar memegang cangkir porselen, bagaimana matanya terus melirik ke arah pintu keluar, dan bagaimana ia tampak sangat tertekan oleh keramaian.

"Dia benar-benar tidak cocok di sini," gumam Bima pelan.

Salah satu teman dekat Bima, seorang pemuda bernama Ferdi yang ayahnya memiliki jaringan hotel internasional, mendekati meja Senara. Ferdi dikenal sebagai perundung halus yang menggunakan kata-kata sopan untuk menghina orang.

"Permisi, Senara ya?" tanya Ferdi dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku dengar kau sangat hebat dalam logika matematika. Kebetulan sekali, aku punya sedikit masalah dengan aplikasi pengatur jadwal di ponselku. Bisa tolong kau lihat sebentar?"

Ferdi meletakkan ponsel lipat terbaru yang harganya mungkin setara dengan motor Bang Jaka di depan Senara.

Senara menatap benda itu dengan tatapan kosong. "Maaf, aku tidak tahu banyak soal ponsel seperti ini."

"Oh, ayolah. Kau kan jenius yang bisa menulis ulang sistem operasional robot dalam sepuluh menit. Masa hanya memperbaiki pengaturan notifikasi saja tidak bisa?" sindir Ferdi, suaranya sengaja dikeraskan agar siswa lain mendengar. "Atau jangan-jangan, kepintaranmu itu cuma keberuntungan saja? Kau tahu, banyak anak beasiswa yang hafal buku tapi gagap saat memegang teknologi nyata."

Rika mencoba membela. "Hei, Ferdi, jangan ganggu dia. Dia hanya sedang istirahat."

"Aku tidak mengganggu, Rika. Aku hanya bertanya. Tapi lihatlah dia... memegang ponsel saja seolah-olah sedang memegang bom," tawa Ferdi meledak.

Senara merasa wajahnya memanas. Ia tidak marah karena dihina, ia hanya merasa sangat asing. Ia benar-benar tidak tahu cara menggunakan ponsel lipat itu. Di dunianya, teknologi adalah alat untuk bekerja, bukan perhiasan mahal yang fungsionalitasnya tertutup oleh kemewahan antarmuka.

"Maaf, aku tidak bisa membantu," ujar Senara pelan, lalu berdiri. "Rika, aku harus kembali ke asrama. Ada tugas yang belum selesai."

Senara berjalan cepat meninggalkan kafe, hampir saja menabrak pintu kaca karena ia lupa bahwa pintu itu harus ditunggu sejenak agar terbuka otomatis. Di belakangnya, suara tawa Ferdi dan teman-temannya masih terdengar samar.

Bima menutup tabletnya dan berdiri. Ia mengikuti Senara dari jarak jauh. Ia melihat gadis itu tidak kembali ke asrama, melainkan pergi ke taman belakang gedung akademik yang sunyi. Senara duduk di sebuah bangku batu, menarik napas panjang berkali-kali seolah-olah paru-parunya baru saja kehabisan oksigen di dalam kafe tadi.

Bima memutuskan untuk muncul. "Ferdi memang menyebalkan, dia merasa teknologi adalah hak asuh golongannya."

Senara tersentak kaget. "Bima? Sejak kapan kamu ada di sana?"

"Cukup lama untuk melihatmu dipermalukan oleh sebuah ponsel," jawab Bima sambil duduk di ujung bangku yang berbeda. "Kamu tahu, Senara, di sekolah ini kemampuan otakmu hanya setengah dari pertempuran. Setengahnya lagi adalah bagaimana kamu bisa beradaptasi dengan lingkungan yang membencimu."

Senara menatap lurus ke depan, ke arah matahari yang mulai terbenam. "Aku tidak peduli mereka membenciku atau tidak. Aku di sini untuk belajar agar aku bisa membawa ibuku keluar dari Blok 4. Itu saja."

Bima terdiam sejenak. Kejujuran dalam suara Senara selalu membuatnya merasa terusik. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya, sebuah alat bantu dengar digital versi prototipe yang sedang dikembangkan perusahaannya.

"Coba pakai ini," ujar Bima sambil menyodorkannya.

"Untuk apa? Pendengaranku baik-baik saja," tolak Senara curiga.

"Ini bukan alat bantu dengar biasa, ini bisa menerjemahkan bahasa asing secara real-time melalui frekuensi saraf. Besok kita ada kelas Bahasa Mandarin tingkat lanjut, dan aku tahu kamu belum pernah mempelajarinya di sekolah lamamu. Anggap saja ini tawaran perdamaian karena teman-temanku sudah kurang ajar tadi."

Senara menatap benda kecil itu dengan ragu. "Aku tidak mau berutang budi padamu, Bima."

"Ini bukan utang, ini adalah eksperimen. Aku ingin tahu apakah otak sepertimu bisa memproses data suara yang disuntikkan langsung melalui sensor ini," Bima meletakkan perangkat itu di samping Senara. "Kalau kamu tidak mau pakai, buang saja. Tapi jangan salahkan aku kalau besok kamu terlihat jauh bodoh lagi di kelas bahasa Mandarin."

Bima pergi tanpa menunggu jawaban. Sebenarnya, itu adalah jebakan lain. Alat itu telah dipasangi sensor biometrik yang sangat sensitif. Jika Senara memakainya, alat itu akan merekam gelombang otaknya saat ia mencoba memahami bahasa Mandarin. Bima ingin melihat apakah pola aktivitas saraf Senara menunjukkan bahwa dia sebenarnya sudah "berpengalaman" dengan sistem transmisi data seperti ini.

Malam itu di asrama, Senara duduk menatap alat pemberian Bima di atas meja belajarnya. Ia sangat bimbang. Di satu sisi, ia memang sangat buta bahasa Mandarin. Di sekolah lamanya, bahasa asing hanyalah bahasa Inggris tingkat dasar. Jika ia gagal di kelas bahasa besok, beasiswanya bisa terancam.

Namun, ia teringat nasihat Bang Jaka. "Jangan pernah menerima barang gratis dari orang yang ingin menjatuhkanmu."

Senara mengambil buku catatan Mandarin-nya yang masih kosong. Ia mulai mencoba menghafal karakter-karakter dasar dari buku paket. Sangat sulit. Goresan-goresan itu terlihat seperti teka-teki rumit bagi matanya yang lelah.

Ia melihat kembali ke alat digital pemberian Bima. Benda itu tampak sangat menggoda. Hanya tinggal memasangnya di telinga, dan masalahnya selesai. Namun, ketakutannya merusak barang mahal itu kembali muncul. Bagaimana kalau alat itu konslet? Bagaimana kalau alat itu merusak otaknya?

Senara akhirnya memasukkan alat itu ke dalam laci meja dan menguncinya.

"Aku akan belajar sendiri," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak butuh bantuan mesin aneh itu."

Ia menghabiskan sisa malamnya dengan belajar secara gila-gilaan. Ia membagi setiap karakter Mandarin menjadi pola-pola matematika yang bisa ia pahami. Ia menghitung jumlah goresan dan sudut-sudutnya, mencoba mencari logika di balik bahasa tersebut. Baginya, setiap huruf adalah sebuah koordinat.

Di gedung putra, Bima terus memantau tabletnya. Ia menunggu sinyal dari alat itu aktif.

Satu jam... dua jam... hingga tengah malam.

[Status Perangkat: DISCONNECTED]

[Data Stream: ZERO]

Bima menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi. "Dia tidak memakainya? Bahkan saat dia tahu dia akan gagal?"

Rasa frustrasi Bima mencapai puncaknya. Ia tidak mengerti gadis ini. Apakah Senara benar-benar sangat polos dan takut pada teknologi, ataukah dia memiliki insting yang sangat kuat untuk menghindari segala jenis pemantauan?

"Kamu sangat keras kepala, Senara," gumam Bima. "Atau mungkin Kamu memang benar-benar hanya seorang gadis yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang kutinggali."

Kecurigaan Bima mulai goyah. Ia mulai berpikir bahwa mungkin Senara memang bukan hacker. Mungkin dia memang hanya seorang gadis jenius yang lahir di tempat yang salah, yang memiliki ketakutan tulus terhadap hal-hal yang tidak ia pahami. Namun, justru pemikiran itulah yang membuat Bima merasa lebih gelisah. Jika Senara bukan musuh digitalnya, lalu kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkannya?

Tirai malam menutup hari itu dengan Senara yang masih berkutat dengan buku catatan kertasnya dan Bima yang masih terjaga di depan monitor yang kosong. Di SMA Garuda Nusantara, kasta sosial mungkin memisahkan mereka secara nyata, namun ketidakpastian tentang satu sama lain justru sedang membangun jembatan yang akan membawa mereka ke konflik yang lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!