Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Irene segera menghampiri Nathan yang berdiri sejajar dengan Vania. Nathan sendiri masih diam saja saat Irene bergelayut pada lengannya.
Vania sendiri masih mencerna apa yang terjadi di depan matanya. Pikirannya hanya berputar dengan pertanyaan ada hubungan apa Nathan dengan Irene juga keluarga mantan suaminya.
"Nathan, Kamu juga disini Nak?" tanya Mommy Jane di ikuti oleh Daddy Alex dan Satria yang mendekat pada Nathan.
Satria sendiri hanya bisa menghela nafas. Pertemuan ini pasti akan terjadi kan. Dan Satria merasa memang Vania perlu tahu siapa Nathan sebenarnya.
Bukannya Satria tidak suka Vania dekat dengan Nathan. Hanya saja Satria masih takut jika Nathan memanfaatkan Vania juga Resa untuk balas dendam padanya.
"Iya." jawab Nathan masih sambil menatap ke arah Vania.
Kemudian Daddy Alex segera menyapa Vania yang diam karena semuanya justru bertanya pada Nathan.
"Selamat atas pembukaan Tokonya." ucap Daddy Alex sambil memberikan buket bunga yang dibawanya.
Vania menormalisasikan suasana hatinya yang cukuo kalut dengan tersenyum dan menerima buket bunga itu dengan baik.
"Terima kasih Tuan sudah mau datang." jawab Vania.
Mommy Jane juga Irene pun beralih pada Vania dan memberi ucapan selamat pada Vania secara bergantian.
Vania kemudian mengajak semuanya untuk duduk di salah satu meja yang disatukan agar semuanya bisa duduk bersama.
Tidak lupa Vania meminta pegawainya untuk mengambilkan menu-menu kue Mereka.
"Ayah." seru Resa yang baru saja tiba dengan Sely bersama pengasuhnya.
Satria memangku Resa duduk di pangkuannya. Sementara Sely juga di ajak duduk bersama dan dipangku oleh Mommy Jane yang memang menyukai anak kecil.
"Grany, jangan pangku Sely. Dia berat karena gendut." keluh Resa pada Mommy Jane.
Semua yang ada disana tersenyum dengan ucapan Resa. Kecuali Vania yang segera menegurnya.
"Resa, tidak boleh seperti itu Sayang." tegur Vania.
"Tidak apa aunty, bial Sely gendut tapi tetep cantik." timpal Sely.
Tawa semuanya terdengar, perdebatan kedua bocah itu menjadi penghibur di tengah suasana hangat toko. Tapi tidak bagi Nathan yang terus menatap ke arah Vania meski yang ditatapnya selalu menghindarinya.
"Oh ya Kakak kok ada disini juga?" tanya Irene penasaran.
Semua mata mengarah pada Nathan kecuali Vania. Menunggu jawaban dari Nathan yang tidak banyak bicara.
"Aku."
"Saya mengundang Tuan Nathan karena Dia adalah pemilik tempat ini." jawab Vania memotong.
Vania tidak mau Nathan mengatakan hal yang bukan-bukan di depan keluarganya. Ya Vania sudah bisa mencerna jika ternyata keluarga dari mantan suaminya ini adalah keluarga Nathan juga.
Nathan ingin mengoreksi perkataan Vania, namun kedatangan Bram disana mengurungkan niatnya. Bram membisikkan sesuatu pada Nathan dan membuat Nathan harus berpamitan terlebih dulu.
"Silahkan dinikmati Tuan, Nyonya. Saya harus permisi ke belakang dulu." ucap Vania berpamitan kemudian setelah Nathan juga Bram undur diri.
.
.
"Vania."
Liliana mengikuti langkah Vania yang pergi ke ruangannya di toko itu. Vania memberikan senyuman hangat pada Liliana yang menghampirinya.
"Ada apa Lili?" tanya Vania.
"Are You okay?" Liliana tahu pasti Vania kaget dengan kenyataan yang juga baru saja diketahuinya hari ini.
"Ck, Kau tahu Lili. Aku merasa takdirku memang selalu dibohongi, benarkan?" ungkap Vania dengan nada getir.
Liliana segera memeluk Vania. Sebagai sahabat, Liliana sangat paham dengan perasaan Vania yang harus kembali dibohongi oleh orang terdekatnya.
Meski Nathan dan Vania belum memiliki ikatan apapun, tapi selama ini Liliana tahu jika Vania sudah mulai membuka diri untuk Nathan.
"Apa Aku mudah sekali untuk dibohongi Lili? Apa berhak Mereka melakukan ini padaku Lili?" lirih Vania.
Perasaan sakit ini kembali Vania rasakan. Dan sialnya Vania justru merasa sangat sakit dengan kenyataan ini lebih dari saat mengetahui Satria menikah lagi.
"Tidak Vania, jangan berkata seperti itu." Liliana mengelus punggung Vania berharap bisa membantu Vania menenangkan dirinya.
Vania meregangkan pelukan Liliana dari tubuhnya. Dia mengusap pelan air mata yang juga jatuh di kedua pipinya.
"Katakan dengan jujur Lili, apa Kamu juga menyembunyikan sesuatu dariku? kalau iya lebih baik katakan sekarang Lili." ucap Vania putus asa.
Dia tidak mau orang-orang terdekatnya harus menyembunyikan sesuatu darinya. Vania lebih baik mengetahui kenyataan pahit sekalipun daripada dibohongi seperti orang bodoh.
"Gak Vania, Aku gak ada sembunyiin apapun dari Kamu." jawab Liliana.
Vania menangis sambil menutupi wajahnya. Hari dimana seharusnya Vania merasa bersemangat untuk pembukaan tokonya justru berakhir dengan kekecewaan yang kembali harus di telannya.
.
.
......................