Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengundang orang pintar ke desa
Keesokan harinya Warsito tidak membuang waktu. Dia segera menemui Pak Yuda.
"Pak Yuda." Panggilnya dari depan rumah.
Pak Yuda yang sedang duduk di bangku bambu langsung menoleh.
"Lho, Pak RT. Ada apa?"
"Kita ke menemui Pak Desa sekarang." Kata Pak Warsito singkat.
"Sekarang?" Pak Yuda mengernyit.
Pak Warsito mengangguk.
"Ini sudah tidak bisa ditunda. Karena warga sudah menunggu hasilnya." Katanya.
Melihat raut wajah Pak Warsito yang serius, Pak Yuda pun langsung berdiri.
"Baik, Pak. Ayo."
Keduanya berjalan menyusuri jalan desa. Sesampainya di rumah Pak Desa, Pak Warsito memberi salam.
"Assalamualaikum..."
"Wa’alaikumsalam…" sahut dari dalam. Tak lama, Pak Desa keluar.
"Lho, Pak Warsito, Pak Yuda. Silakan masuk."
Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu.
"Sepertinya ada yang penting?" tanya Pak Desa sambil duduk.
Pak Warsito langsung mengangguk.
"Iya, Pak. Ini soal keadaan desa."
Pak Desa menghela napas kecil.
"Masih tentang kejadian-kejadian itu?"
"Iya, Pak," jawab Pak Yuda.
Pak Warsito kemudian mulai menjelaskan.
"kemarin sore, beberapa warga datang ke rumah saya. Mereka resah dan ketakutan Pak." Ujar apak Warsito mulai menjelaskan prihal kedatangannya pagi itu.
"Saya bisa mengerti." Pak Desa mengangguk pelan.
"Mereka minta agar memanggil orang pintar ke desa ini Pak."
"Orang pintar? Maksudnya… dukun?" Pak Desa langsung mengernyit.
"Iya, Pak. Mereka ingin memanggil dukun yang katanya sakti." Pak Yuda mengangguk.
Suasana menjadi sedikit hening. Pak Desa menyandarkan punggungnya.
"Kenapa sampai ke situ?"
Pak Warsito menatapnya serius.
"Kejadian semalam, Pak."
"Daud, Jaka, dan Udin melihat penampakan."
"Penampakan?" Pak Desa terlihat terkejut.
"Iya, Pak. Katanya berwujud Sapri yang sudah meninggal itu." Kata Pak Yuda menimpali.
Pak Desa terdiam sejenak. Wajahnya mulai terlihat berpikir keras.
"Warga jadi semakin yakin ini bukan hal biasa." Kata Pak Warsito melanjutkan.
"Mereka takut akan ada korban lagi." Ujarnya lagi.
Pak Desa mengusap dagunya pelan.
"Lalu, pendapat panjenengan bagaimana?" Tanya Pak Kades.
Pak Warsito menarik napas.
"Kalau saya pribadi lebih baik kita minta bantuan Ustadz Sakari saja."
"Iya, Pak. Itu lebih jelas arahnya." Pak Yuda mengangguk setuju.
Pak Desa menatap keduanya bergantian.
"Tapi warga tidak setuju?" Pak Warsito menggeleng.
"Mereka tetap kekeh ingin memanggil dukun."
"Mereka sudah tidak sabar lagi."
Pak Desa terdiam, tampak seperti sedang berpikir. Matanya menatap ke arah lantai, seolah menimbang-nimbang segala kemungkinan yang ada.
Akhirnya, ia menarik napas panjang.
"Kalau begitu…" katanya pelan.
Pak Warsito dan Pak Yuda langsung menatapnya.
"Kita dengarkan warga."
Keduanya sedikit terkejut.
Pak Desa melanjutkan dengan nada tenang, namun tegas.
"Kalau memang itu yang membuat mereka merasa lebih tenang, ya kita beri kesempatan."
Pak Warsito menghela napas pelan.
"Berarti… kita memanggil dukun, Pak?" tanyanya memastikan.
"Iya. Tapi dengan catatan." Pak Desa mengangguk perlahan
Pak Yuda dan Pak Warsito langsung memperhatikan.
"Kita tidak boleh sembarangan."
Pak Desa menatap keduanya bergantian.
"Sampaikan ke warga, kalau memang ada yang tahu atau mengenal orang pintar yang benar-benar bisa dipercaya, yang benar-benar punya kemampuan, silakan diundang ke desa ini."
"Iya, Pak… Pak Warsito mengangguk pelan.
"Dan satu lagi." Pak Desa melanjutkan.
"Nanti kalau orang itu datang… ceritakan semuanya dengan jelas."
"Jangan ditutup-tutupi."
"Kejadian Sapri, Herman, Seno sampai kejadian semalam."
"Baik, Pak." Sahut Pak Warsito.
"Biar orang itu tahu apa yang sebenarnya sedang kita hadapi." Lanjut Pak Desa.
Pak Warsito tampak masih ragu. Sebelum akhirnya bicara mengutarakan ke khawatirannya.
"Pak…" katanya pelan.
"Kalau ini justru membuat keadaan semakin buruk bagaimana?"
Pak Desa terdiam.
Pertanyaan itu seperti menggantung di udara.
Namun akhirnya dia menjawab,
"Kita tidak tahu."
"Yang jelas, sekarang warga sudah tidak tenang. Kalau kita paksa mereka untuk menunggu, justru bisa lebih kacau."
Pak Yuda mengangguk kecil. Masuk akal.
Pak Desa kemudian menatap mereka dengan serius.
"Tapi tetap, kita harus waspada."
Pak Warsito akhirnya berdiri.
"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan ke warga."
Pak Yuda ikut berdiri.
"Semoga ini jalan terbaik."
Pak Desa hanya mengangguk pelan.
"Amin." Ucapnya.
Keduanya pun berpamitan.
"Assalamualaikum…"
"Wa’alaikumsalam…"
Sepulangnya dari rumah Pak Kades, Pak Warsito tidak menunda lagi.
Dia meminta Pak Yuda untuk menyebarkan kabar agar semua berkumpul di rumahnya. Tidak butuh waktu lama, satu per satu warga mulai berdatangan.
Suasana terlihat tegang, penuh harap sekaligus cemas.
Pak Warsito berdiri di teras, menatap mereka yang sudah berkumpul.
"Bapak-bapak… Ibu-ibu…" ucapnya pelan.
Perlahan, suara percakapan mereda.
"Saya sudah bertemu dengan Pak Desa pagi tadi."
Semua langsung fokus.
"Bagaimana, Pak?" tanya salah satu warga tidak sabar.
Pak Warsito menarik napas sejenak.
"Pak Desa sudah setuju."
Beberapa warga langsung bersorak kecil.
"Alhamdulillah… Syukurlah…" ucap mereka.
Namun Pak Warsito segera mengangkat tangan.
"Tapi ada syaratnya."
Suasana kembali tenang.
"Kita tidak boleh sembarangan."
Warga saling berpandangan.
"Maksudnya, Pak?" tanya seseorang.
Pak Warsito melanjutkan.
"Kalau memang ada di antara kalian yang benar-benar tahu, atau mengenal orang pintar yang bisa dipercaya, yang benar-benar punya kemampuan. Silakan undang ke desa ini."
Beberapa warga langsung mengangguk-angguk.
"Iya, saya tahu satu orang." Bisik seseorang pada temannya.
"Nanti, kalau orang itu datang kita tidak boleh menyembunyikan apa pun." Pak Warsito kembali menegaskan.
"Semua kejadian harus diceritakan dengan jelas. Biar dia tahu apa yang sebenarnya kita hadapi." Lanjut Pak Warsito.
"Jika sudah ada langsung saja bawa ke rumah saya saja. Di sini kita berkumpul. Kita dengarkan bersama. Kita cari jalan keluarnya bersama-sama." Kata Pak Warsito.
Beberapa warga langsung mengangguk setuju.
"Yang penting kita tetap hati-hati." Pak Yuda yang sejak tadi berdiri di samping, ikut menimpali.
"Kalau begitu, saya akan hubungi saudara saya. Katanya ada orang pintar yang sakti mandraguna disana."
"Iya, saya juga pernah dengar." Bisik-bisik mulai terdengar.
Pak Warsito memperhatikan mereka dalam diam.
Namun di dalam hatinya. Dia tidak sepenuhnya merasa tenang. Tapi, keputusan sudah diambil.