Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Ruang Hening
Udara di rubanah mansion Moretti terasa seperti logam berkarat—dingin, lembap, dan menyesakkan. Di sinilah, di balik dinding beton setebal satu meter yang kedap suara, kebenaran biasanya dipaksa keluar melalui rasa sakit. Namun, bagi Rebecca, berjalan menuruni tangga menuju sel isolasi tempat ayahnya ditahan terasa lebih berat daripada berjalan menuju medan perang mana pun.
Maximilian berdiri di ambang pintu sel, bayangannya memanjang di lantai semen. Ia menatap Rebecca dengan kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik topeng datarnya. "Kau tidak harus melakukan ini sendirian, Tesoro. Vargo bisa menangani ini dalam sepuluh menit."
"Vargo hanya akan mendapatkan pengakuan," sahut Rebecca, suaranya terdengar jauh dan asing di telinganya sendiri. "Aku butuh penutupan. Dan aku butuh dia tahu bahwa pengkhianatannya tidak hanya gagal, tapi juga melahirkan monster yang paling dia takuti."
Maximilian mengangguk perlahan, menyerahkan sebuah tablet yang terhubung dengan kamera interogasi. "Aku akan berada di balik kaca satu arah ini. Jika dia menyentuhmu, atau jika kau merasa goyah, beri kode."
Rebecca menarik napas panjang, merapikan blazernya, dan melangkah masuk.
Arthur Sinclair duduk terikat di kursi besi di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu neon yang berkedip. Wajahnya yang dulu angkuh kini hancur oleh memar dan rasa takut. Saat pintu besi berderit terbuka, ia mendongak dengan harapan yang memuakkan.
"Rebecca... putriku..." suaranya serak. "Kau datang untuk mengeluarkanku dari sini, kan? Kau sadar bahwa Maximilian adalah iblis yang sesungguhnya? Dia mengurung ayahmu sendiri seperti binatang!"
Rebecca menarik kursi kayu di depan ayahnya, duduk dengan tenang, dan menyilangkan kakinya. Ia menatap pria di depannya seolah sedang meneliti spesimen yang menjijikkan. "Berhenti memanggilku putriku, Arthur. Hubungan darah itu sudah kau tukar dengan koin d'Angelo di San Gimignano."
"Aku melakukannya untuk kita!" Arthur berteriak, air mata buaya mulai mengalir. "Valenti mengancam akan membunuhku! d'Angelo menjanjikan masa depan—"
"Cukup!" Rebecca menggebrak meja dengan telapak tangannya. Suara benturannya bergema seperti letusan senjata. "Aku sudah mempelajari semua skema finansial yang kau berikan kepada d'Angelo. Kau memberikan rincian tentang jalur logistik pelabuhan sektor utara. Kau tahu d'Angelo berencana menyerang saat pesta pernikahan kami, bukan?"
Arthur terdiam. Matanya bergerak gelisah ke arah sudut ruangan. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Rebecca mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke mata ayahnya. "Vargo baru saja menyadap komunikasi dari unit taktis d'Angelo. Mereka bergerak malam ini, Arthur. Bukan saat pernikahan, tapi malam ini. Mereka pikir karena aku membawamu ke sini, sistem keamanan Moretti sedang fokus pada interogasimu. Mereka pikir kami lengah."
Rebecca mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya—pisau yang biasa ia gunakan untuk membersihkan busur panahnya—dan memainkannya di depan wajah Arthur. "Katakan padaku di mana titik buta yang kau berikan pada mereka. Kau tahu sesuatu tentang 'Pintu Belakang' di sistem kanal pelabuhan yang belum sempat Max perbaiki. Katakan, atau aku akan membiarkan Vargo masuk dengan peralatan bedahnya."
"Kau tidak akan melakukannya," Arthur gemetar, namun mencoba bertahan. "Kau adalah seorang Sinclair. Kau punya nurani. Kau mencintaiku."
Rebecca tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Maximilian di balik kaca merinding. "Nurani Rebecca Sinclair sudah mati di dalam lemari saat kau menjual denah rumahnya, Arthur. Sekarang, yang ada hanya Rebecca Moretti. Dan Nyonya Moretti tidak memiliki tempat bagi pengkhianat."
Rebecca menekan ujung pisau itu ke punggung tangan Arthur yang terikat. Tidak dalam, hanya cukup untuk mengeluarkan setetes darah. "Katakan. Sekarang."
"Di... di gorong-gorong sektor dua!" Arthur akhirnya menjerit, mentalnya runtuh di bawah tatapan dingin putrinya. "Ada pipa pembuangan tua yang terhubung langsung ke gudang persenjataan utama. Aku yang memberitahu mereka bahwa sensor tekanan di sana tidak berfungsi sejak dua tahun lalu. d'Angelo mengirim tim penyelam malam ini!"
Rebecca berdiri, menyeka pisaunya dengan tisu. "Terima kasih, Arthur. Itu saja yang kubutuhkan."
Namun, saat Rebecca hendak berbalik menuju pintu, sebuah ledakan hebat mengguncang mansion. Lampu neon di ruang interogasi padam sejenak sebelum lampu darurat berwarna merah menyala. Suara alarm Code Black meraung-raung di seluruh bangunan.
"Nona! Mereka sudah di sini!" suara Vargo terdengar melalui interkom. "Mereka tidak lewat kanal! Itu pengalihan! Mereka menyerang langsung ke sel isolasi untuk membungkam ayah Anda!"
Pintu ruang interogasi terbuka dan Maximilian masuk dengan senapan serbu di tangan. "Rebecca, ke belakangku! Mereka menggunakan peledak termit di gerbang bawah tanah!"
Dinding di ujung lorong luar meledak, menyemburkan debu semen dan api. Tiga pria berpakaian hitam dengan pelindung wajah taktis menyerbu masuk. Mereka adalah tim penyelamat—atau lebih tepatnya, tim pembersih—kiriman d'Angelo. Tugas mereka jelas: Arthur Sinclair tidak boleh dibiarkan bicara lebih banyak.
"Jangan biarkan mereka mengambil ayahku!" teriak Rebecca.
Baku tembak pecah di lorong sempit. Maximilian melepaskan serangkaian tembakan presisi yang menjatuhkan dua orang pertama. Rebecca segera mengambil Glock di pinggangnya, berlindung di balik meja besi interogasi.
Arthur menjerit-jerit ketakutan di kursinya, terjepit di antara garis api. Salah satu penyusup yang tersisa melihat Arthur dan mengarahkan senjatanya.
"Tidak!" Rebecca menembak tangan penyusup itu sebelum ia sempat menarik pelatuk.
Pertempuran di ruang bawah tanah itu berlangsung sangat cepat dan brutal. Maximilian bergerak seperti badai, melumpuhkan musuh terakhir dengan hantaman popor senapan dan satu tembakan jarak dekat. Debu mulai mengendap, meninggalkan aroma mesiu dan darah yang kental.
Arthur Sinclair menangis tersedu-sedu, urin membasahi celananya. "Kau menyelamatkanku... Rebecca, kau menyelamatkanku..."
Rebecca berdiri, menatap ayahnya yang menyedihkan dengan napas terengah-engah. Ia memegang senjatanya dengan tangan yang kini sangat stabil. "Aku menyelamatkanmu bukan karena aku mencintaimu, Arthur. Aku menyelamatkanmu agar kau bisa melihat bagaimana aku menghancurkan setiap orang yang pernah kau jadikan tuan."
Maximilian mendekati Rebecca, meletakkan tangan di bahunya. "Vargo melaporkan perimeter sudah aman. Itu adalah tim bunuh diri. d'Angelo sangat takut pada apa yang kau tahu."
Rebecca menoleh ke arah Maximilian. Dilema moral yang tadi sempat menyiksanya kini hilang sepenuhnya. Ia menyadari bahwa ayahnya hanyalah sepotong sejarah yang rusak, sementara Maximilian adalah masa depannya.
"Max," ucap Rebecca tegas. "Pindahkan dia ke fasilitas paling dalam di pelabuhan. Aku ingin dia tetap hidup untuk melihat hari pernikahan kita. Aku ingin dia melihat dari balik jeruji saat aku secara resmi menghapus nama Sinclair dari dunia ini."
Maximilian menatap Rebecca dengan rasa hormat yang mendalam. Ia melihat transformasi itu selesai. Rebecca tidak lagi membutuhkan perlindungan; ia telah menjadi pelindung itu sendiri.
"Vargo, bereskan kekacauan ini," perintah Maximilian. "Dan siapkan jet. Besok, kita tidak akan menunggu d'Angelo menyerang kita. Kita yang akan menyerang jantung Naples."
Rebecca melangkah keluar dari ruang interogasi tanpa menoleh lagi ke arah pria yang memanggilnya putri. Saat ia melewati cermin di lorong, ia melihat bayangannya sendiri—bukan lagi gadis Sinclair yang ketakutan, melainkan seorang wanita dengan mata baja yang siap memimpin sebuah kekaisaran.
Di balik punggungnya, suara tangisan Arthur memudar, digantikan oleh suara langkah kaki tim taktis Moretti yang bergerak dalam sinkronisasi sempurna. Rebecca menyadari satu hal: pengkhianatan ayahnya adalah ujian terakhir dari Tuhan, dan ia baru saja lulus dengan nilai yang tertulis dalam darah.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Rebecca Moretti berdiri di balkon mansion, menatap ke arah pelabuhan. Ia telah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. d'Angelo telah membuat kesalahan besar dengan mencoba membunuhnya di rumahnya sendiri. Sekarang, ia tidak akan lagi bersikap defensif. Bersama Maximilian, ia akan memastikan bahwa mawar putih d'Angelo akan layu dan terbakar di bawah dominasi safir biru Moretti.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘