Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Suasana kantor pusat Manafe Corp di lantai eksekutif pagi itu mendadak gempar. Bukan karena fluktuasi saham, melainkan karena sebuah kotak kado berukuran raksasa dengan pita merah menyala yang hampir menutupi seluruh meja mahoni milik Ezzvaro. Liam, yang berdiri di samping meja, hanya bisa menelan ludah melihat nama pengirim yang tertera di kartu ucapan: Garcia Alton.
Ezzvaro masuk ke ruangannya dengan wajah kaku, diikuti oleh Gabriel yang berpura-pura sedang mengecek jadwal di tabletnya. Begitu melihat kado itu, Ezzvaro menghentikan langkahnya.
"Apa lagi ini, Liam?" tanya Ezzvaro dingin, matanya menatap tajam kotak yang seolah-olah mengejek kewarasannya itu.
"Kado dari Nona Garcia, Pak. Katanya sebagai tanda perkenalan calon tunangan yang manis," jawab Liam datar, meski matanya melirik nakal ke arah Gabriel.
Ezzvaro mendengus. Dengan kasar, ia menarik pita merah itu dan membuka tutup kotaknya. Harapannya adalah melihat sesuatu yang bar-bar—mungkin botol alkohol mahal atau sesuatu yang memalukan. Namun, di dasar kotak yang sangat besar itu, hanya ada sebuah amplop hitam kecil yang tampak kesepian.
Ezzvaro membuka amplop itu. Isinya hanya selembar tiket.
KONSER THE LUMINEERS – VIP ACCESS – LONDON O2 ARENA.
Ezzvaro tertegun. Matanya menyipit. "Hanya tiket konser?"
Gabriel, yang sejak tadi berdiri di belakang, menjulurkan kepalanya dengan rasa ingin tahu yang dibuat-buat. Namun, begitu melihat nama band yang tertera di tiket itu, jantungnya berdegup kencang. Itu adalah band favoritnya. Band yang selalu ia dengarkan bersama Ezzvaro saat mereka masih di apartemen lama, lagu-lagu yang menjadi soundtrack ciuman-ciuman rahasia mereka.
Gila... Garcia benar-benar melakukan ini, batin Gabriel menahan tawa. Garcia tahu persis cara memancing Ezzvaro menggunakan kesukaan Gabriel.
"The Lumineers?" gumam Ezzvaro dalam hati. Pikirannya langsung melayang pada memori tiga tahun lalu. Ia ingat bagaimana Gabriel akan menari kecil di dapur saat lagu Ophelia diputar. Ia ingat bagaimana Gabriel menangis bahagia saat ia menjanjikan akan membawanya ke konser mereka suatu saat nanti—janji yang terkubur karena perpisahan mereka.
Tiba-tiba, sisi posesif dan "budak cinta" Ezzvaro bangkit. Ia tidak bisa membiarkan Garcia pergi ke konser itu dan menikmati lagu-lagu "milik mereka" sendirian. Dan ia lebih tidak bisa membayangkan Gabriel hanya mendengar ceritanya saja.
"Liam," panggil Ezzvaro tiba-tiba, suaranya terdengar mendesak.
"Ya, Pak?"
"Cari satu tiket lagi. Kursi yang paling dekat dengan tiket ini. Aku tidak peduli berapa harganya, beli dari calo, beli dari pemilik aslinya, atau beli seluruh barisannya jika perlu. Aku akan ikut menonton."
Gabriel hampir menjatuhkan tabletnya. "Kau ingin pergi menonton konser, Kak Ezzvaro? Dengan Garcia?"
Ezzvaro berbalik, menatap Gabriel dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya. Dan kau juga akan ikut sebagai... asisten pribadiku. Aku butuh seseorang yang mengawasi agar Garcia tidak melakukan hal gila di sana."
"Tapi Kak, itu konser umum—"
"Tidak ada bantahan, Gabriel Batistuta," potong Ezzvaro dengan nada otoriter yang sebenarnya hanyalah kedok untuk keinginannya menghabiskan malam bersama Gabriel di bawah alunan lagu romantis.
Setelah perdebatan kecil itu, Ezzvaro menyuruh Gabriel masuk ke ruang istirahat pribadinya di balik lemari buku untuk mengganti pakaian.
Ezzvaro beralasan bahwa baju kantor Gabriel terlalu formal untuk rapat mendadak (yang sebenarnya tidak ada). Namun, tujuan aslinya adalah karena Ezzvaro tidak tahan melihat Gabriel memakai kemeja sutra yang tadi pagi ia bayangkan tanda-tanda merah di baliknya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang istirahat terbuka.
Ezzvaro yang sedang berpura-pura membaca laporan langsung mendongak. Dan seketika, martabatnya sebagai pewaris Manafe Corp runtuh.
Gabriel keluar mengenakan salah satu kemeja cadangan milik Ezzvaro—kemeja putih oversized yang panjangnya mencapai pertengahan paha Gabriel. Karena kemeja itu milik pria dengan bahu lebar seperti Ezzvaro, kerahnya jatuh sedikit rendah, memperlihatkan tulang selangka Gabriel yang indah. Lengan kemejanya digulung asal-asalan, memberikan kesan berantakan namun sangat menggoda.
Ezzvaro terpaku. Ia menelan ludah dengan susah payah. Pemandangan itu jauh lebih berbahaya daripada saat Gabriel tidak memakai underwear semalam. Gabriel tampak seperti baru saja bangun dari tempat tidurnya, mengenakan pakaiannya setelah malam yang panjang.
"Vavo... ini terlalu besar. Aku tenggelam di dalamnya," ucap Gabriel sambil menarik-narik ujung kemeja itu, mencoba menutupi pahanya yang jenjang.
Ezzvaro berdiri dengan gerakan kaku. Ia berjalan mendekat, matanya tidak lepas dari Gabriel. Bukannya bersikap profesional, Ezzvaro justru bertingkah konyol. Ia mulai memutari Gabriel, merapikan kerah kemeja itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu tiba-tiba ia menarik pinggang Gabriel agar merapat padanya.
"Ini sempurna," bisik Ezzvaro, suaranya serak. "Kau tampak seperti... milikku sepenuhnya."
"Vavo, Liam bisa masuk kapan saja!" bisik Gabriel panik.
"Biarkan saja," gumam Ezzvaro konyol. Ia justru membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Gabriel yang terbuka karena kerah kemeja yang kebesaran itu. "Aku tidak ingin kau memakai baju lain hari ini. Tetaplah seperti ini di dalam ruanganku. Aku akan membatalkan semua rapat luar."
"Kau gila! Bagaimana dengan tiket konser dari Garcia?"
Ezzvaro berhenti sejenak, lalu mendongak dengan senyum miring. "Konser itu masih nanti malam. Sekarang, aku hanya ingin menikmati pemandangan asisten pribadiku yang memakai baju 'kebesaranku' ini."
Ezzvaro benar-benar kehilangan akal sehatnya. Pria yang biasanya sangat kaku soal aturan kantor itu kini justru sibuk mengunci pintu ruangannya dan menarik Gabriel menuju sofa besar. Bagi Ezzvaro, kado dari Garcia adalah tiket menuju masa depan, tapi pemandangan Gabriel dalam kemejanya adalah surga yang tidak bisa menunggu sampai nanti malam.
Di luar ruangan, Liam hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar bunyi kunci diputar dari dalam. Ia melirik jadwal rapat yang padat di tabletnya, lalu menghapusnya satu per satu.
"Sudah kuduga," gumam Liam sambil menggelengkan kepala. "Bosku bukan lagi singa bisnis, dia hanyalah anak kucing di hadapan Nona Gabriel."