Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Malam itu terlalu sunyi,
Langit seperti menahan napasnya. Arcelia berdiri di balkon kamarnya. Angin berhembus pelan, tetapi tirai tidak bergerak. Tidak satu helai pun.
Ia menunduk melihat halaman rumah. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan pepohonan yang lebih gelap dari biasanya.
Tiba-tiba,
Lampu taman berkedip.
Sekali,
Dua kali,
Lalu padam.
Arcelia membeku. Jantungnya berdegup lebih keras. Ia menoleh ke belakang. Kamarnya tetap terang. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Udara terasa… lebih berat.
“Ini lagi…” bisiknya pelan.
Ia berjalan ke meja belajar. Buku yang tadi ia tutup kini terbuka kembali. Halaman yang sama. Halaman dengan simbol itu.
Simbol yang seperti lingkaran terbelah dengan garis-garis tajam di dalamnya. Padahal ia yakin sudah menutupnya.
Tangan Arcelia gemetar saat menyentuh halaman itu. “Kenapa selalu kembali ke sini…”
Tiba-tiba terdengar suara pelan dari luar jendela. Seperti seseorang… menggesekkan kuku di kaca.
Kriiikkk…
Arcelia menahan napas. Ia perlahan menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi bayangan di kaca, itu bukan bayangannya sendiri. Bayangan itu… berdiri sedikit lebih dekat.
Di tempat lain,
Kaelion belum tidur. Ia duduk di kursi ruang kerjanya, lampu meja menyala, berkas-berkas terbuka. Tapi pikirannya tidak ada di sana.
Sejak dua hari lalu, ia merasa sesuatu berubah.
Bukan di perusahaan.
Bukan di rumah.
Tapi pada Arcelia. Ia bisa merasakannya. Seperti ada gelombang tak terlihat yang bergerak pelan, mendekat.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan.
Dari nomor tak dikenal.
“Lingkaran itu telah memilihnya.”
Kaelion langsung berdiri. Wajahnya menegang.
“Siapa ini?” gumamnya.
Tak ada balasan ketika ia menelepon balik.
Nomor tidak terdaftar.
Ia menatap keluar jendela apartemennya. Langit malam terasa terlalu gelap. Hampir seperti… menelan cahaya.
Kembali ke kamar Arcelia,
Lampu tiba-tiba mati. Semua gelap.
Arcelia menjerit pelan. “Ma…?”
Tak ada jawaban.
Suara gesekan itu kembali.
Lebih dekat.
Lalu,
Sebuah bisikan, tepat di belakang telinganya.
“Waktunya hampir tiba.”
Arcelia membalik tubuhnya dengan cepat. Tak ada siapa-siapa.
Lampu menyala kembali.
Semua kembali normal.
Tapi di cermin, simbol itu kini muncul samar di belakang lehernya. Seperti tanda lahir yang baru bangun dari tidur panjang.
Dan di ruang kerja Kaelion, laptopnya tiba-tiba menampilkan gambar yang sama.
Simbol itu.
Tanpa ia membuka apa pun. Layar menjadi hitam.
Dan satu kalimat muncul,
“Ulang tahun ketiga belas adalah gerbangnya.”
Kaelion menatap layar itu dengan mata membeku.
“Elvarin…”
Ia akhirnya mengerti. Ini bukan hanya tentang Arcelia... Ini tentang seluruh keluarga itu. Dan sesuatu yang telah lama… menunggu.
Malam di rumah Virellia terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam dinding di lorong berdetak terlalu jelas.
Tik
Tok
Tik
Tok
Arcelia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi tempat tidur. Lampu utama ia matikan, hanya lampu meja yang menyala temaram.
Buku itu masih ada di pangkuannya. Buku lama yang ia temukan tanpa sengaja di perpustakaan sekolah beberapa minggu lalu. Tidak terdaftar. Tidak ada kode inventaris. Seolah memang menunggunya.
Dan setiap kali ia mencoba mengembalikannya, buku itu selalu kembali. Halaman yang sama terbuka. Simbol lingkaran terbelah. Ia menyentuh garis di tengah lingkaran itu.
“Kenapa rasanya… seperti aku pernah melihat ini?” bisiknya.
Angin malam masuk dari balkon yang sedikit terbuka. Tirai bergerak pelan. Tapi hawa yang masuk bukan sekadar dingin, ia membawa perasaan asing. Seperti ada sesuatu yang ikut melangkah masuk.
Arcelia berdiri.
Ia berjalan menuju cermin tinggi di sudut kamar. Bayangannya terlihat normal. Seragam sekolahnya sudah ia ganti dengan piyama putih sederhana. Rambut panjangnya tergerai.
Tapi matanya, tampak lebih tajam dari biasanya. Ia mengangkat tangan, menyentuh belakang lehernya. Rasa hangat itu muncul lagi. Seperti bekas sentuhan api… tapi tidak menyakitkan.
Tiba-tiba,
Lampu meja berkedip
Sekali
Dua kali
Lalu mati
Kamar tenggelam dalam gelap.
Arcelia membeku.
“Ini cuma listrik…” ia mencoba menenangkan diri.
Namun suara dari arah balkon membuat darahnya membeku.
Kriiikk…
Seperti kuku yang digesekkan perlahan ke kaca. Arcelia menelan ludah. Ia memaksa kakinya melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia membuka tirai dengan cepat.
Kosong.
Hanya taman yang gelap dan lampu halaman yang menyala redup. Namun ketika ia hendak menutup kembali, bayangan di kaca bergerak sepersekian detik lebih lambat dari tubuhnya.
Arcelia terdiam.
Napasnya tercekat.
“Itu… bukan aku.”
Bisikan itu terdengar lagi.
Samar.
Dekat sekali.
“Lingkaran telah memilih.”
Arcelia menutup telinganya.
“Siapa kamu?!”
Tak ada jawaban
Lampu menyala kembali. Semua kembali seperti semula. Tapi ketika ia menoleh ke cermin, simbol itu muncul.
Samar.
Berpendar tipis di belakang lehernya. Dan kali ini, ia melihatnya jelas.
Bukan bayangan.
Bukan ilusi.
Itu nyata.
Di tempat lain,
Kaelion belum tidur.
Ia duduk di ruang kerjanya, jasnya masih tergantung rapi di sandaran kursi. Di meja, berkas perusahaan Papa Alveron tergeletak terbuka, laporan yang belakangan mulai menunjukkan kejanggalan.
Tapi pikirannya bukan di sana. Sejak beberapa hari ini, ia merasa sesuatu mengganggunya. Instingnya tidak pernah salah.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal lagi,
“Gerbang akan terbuka saat bulan memudar.”
Wajah Kaelion mengeras.
Ia mengetik cepat.
“Siapa ini?”
Tak ada balasan.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya berubah.
Bukan aplikasi pesan.
Bukan notifikasi.
Tapi gambar.
Simbol lingkaran terbelah. Persis seperti yang pernah ia lihat di dokumen lama milik keluarganya.
Darahnya terasa lebih dingin. “Itu tidak mungkin…”
Ia berdiri, membuka laci meja. Dari dalamnya, ia mengeluarkan map tua berwarna cokelat gelap. Dokumen warisan keluarga. Tentang perjanjian lama. Tentang sesuatu yang disebut,
Penjaga Gerbang.
Dan di sudut dokumen itu, terdapat simbol yang sama. Kaelion menutup map itu dengan cepat.
Tatapannya tajam.
“Jangan bilang… itu dia.”
Ia tidak tahu bagaimana Arcelia terlibat. Tapi satu hal pasti. Di ulang tahun Elvarin yang ke-13 tersebut itu adalah pertanda. Dan angka itu, Tidak pernah kebetulan.
Kembali ke kamar Arcelia,
Ia duduk di tepi tempat tidur, mencoba bernapas teratur.
“Ini cuma halusinasi… mungkin karena aku kurang tidur…”
Namun saat ia mematikan lampu dan berbaring, ia tidak benar-benar tertidur... Ia merasa seperti jatuh.
Turun.
Masuk ke ruang yang bukan kamarnya. Kabut hitam mengelilinginya.
Langit tanpa bintang.
Tanah retak seperti bekas terbakar. Di tengah ruang itu berdiri sebuah gerbang batu besar dengan ukiran simbol lingkaran terbelah.
Dan di depan gerbang, Seseorang berdiri membelakanginya.
Tinggi.
Berjubah gelap.
“Siapa kamu?” suara Arcelia bergetar.
Sosok itu perlahan menoleh.
Namun sebelum wajahnya terlihat, suara keras seperti kaca pecah terdengar. Arcelia terbangun dengan napas terengah.
Kamar kembali normal.
Jam menunjukkan pukul 03.13.
Dan di layar ponselnya,
Notifikasi masuk.
Dari Kaelion.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Arcelia membeku.
Ia belum pernah bercerita apa pun padanya.
Belum pernah.
Tangannya gemetar saat membalas.
“…Kenapa?”
Balasan datang hampir seketika.
“Karena aku merasa kamu tidak sendirian malam ini.”
Arcelia menatap pesan itu lama.
Di luar, bulan tertutup awan. Dan di balik lehernya, simbol itu berdenyut sekali.
Pelan.
Seperti jantung kedua yang baru saja bangun.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....