mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pameran Kecil Hati Besar
Jakarta masih setia dengan hujan hampir setiap sore. Tapi di rumah Menteng, tidak ada yang peduli dengan cuaca di luar. Di dalam, selalu ada kehangatan yang tidak bisa diusir oleh dinginnya air hujan.
Pagi itu, Rara bangun lebih awal dari biasanya. Ia langsung berlari ke kamar orang tuanya, melompat ke tempat tidur Kalara dan Raka yang masih setengah tidur.
"Ma! Ayah! Bangun! Hari ini hari penting!"
Kalara membuka mata dengan malas. "Jam berapa, Nak?"
"Jam setengah enam! Rara nggak bisa tidur!"
Raka menguap lebar. "Memangnya ada apa, Sayang?"
"Rara kan pameran lukisan di sekolah! Hari ini! Semua harus datang!"
Kalara dan Raka saling pandang, lalu tersenyum. Mereka lupa—hari ini adalah hari besar bagi putri sulung mereka. Rara, yang kini duduk di kelas 4 SD, akan mengikuti pameran seni sekolah. Lukisannya yang berjudul "Keluarga Besarku" terpilih sebagai salah satu karya terbaik dan akan dipamerkan di aula sekolah.
"Ya ampun, Rara lupa kasih tahu!" Rara memukul jidatnya sendiri. "Maklum, sibuk."
Raka tertawa. "Kamu sibuk apa, sih?"
"Sibuk sekolah, sibuk gambar, sibuk jagain adek-adek. Sibuk, pokoknya."
Kalara mengelus rambut Rara. "Ya udah, sekarang kita siap-siap. Biar jam 8 kita sudah sampai sekolah."
Rara melompat senang. "Yes! Rara mau panggil Eyang juga! Dan Tante Lastri! Dan Om Arsya! Dan Tante Nad! Dan Asmara! Dan Kiki! Semua!"
"Semua akan datang, Sayang. Tenang."
Rara berlari keluar kamar, meninggalkan Kalara dan Raka yang menggeleng-geleng.
"Anak kita energinya luar biasa," kata Raka.
"Iya. Mungkin nggak pernah tidur."
Mereka tertawa, lalu bangun untuk memulai hari.
Kabar tentang pameran Rara menyebar cepat di rumah Menteng. Eyang Kusuma yang sedang sarapan langsung bersemangat.
"Eyang mau lihat cucu pameran! Pasti ramai!"
"Tapi Eyang, nanti banyak orang," kata Arsya khawatir. "Eyang kuat?"
"Eyang kuat, Nak. Eyang harus lihat Rara bangga."
Lastri menawarkan diri, "Saya temani Eyang. Bawa kursi roda kalau perlu."
Nadia menggendong Kiki sambil menyuapi Asmara yang ogah-ogahan makan. "Kami semua juga datang. Rara pasti senang."
Asmara yang mendengar kata "Rara" langsung menunjuk ke atas. "Kak! Kak!"
"Iya, kakak Rara. Nanti kita lihat kakak pameran."
Asmara bertepuk tangan meskipun tidak mengerti.
Pukul 8 pagi, mereka berangkat dengan dua mobil. Raka mengemudikan mobil pertama bersama Kalara, Rara, dan Melati. Arsya di mobil kedua bersama Nadia, Asmara, Kiki, Lastri, dan Eyang Kusuma.
Di sekolah, suasana sudah ramai. Aula sekolah dipenuhi orang tua, guru, dan siswa. Lukisan-lukisan karya siswa dipajang di dinding dengan pencahayaan yang bagus. Rara langsung mencari lukisannya—dan menemukannya di tempat yang paling strategis: di tengah, setinggi mata.
"Ini! Ini lukisan Rara!" teriaknya.
Semua berkumpul di depan lukisan itu. Lukisan berukuran 60x80 cm, penuh warna dan detail. Ada rumah Menteng dengan pohon beringinnya. Ada banyak orang di halaman—Eyang Kusuma di kursi malas, Lastri di sampingnya, Arsya dan Nadia dengan baby Kiki, Kalara dan Raka dengan Asmara di gendongan, Rara sendiri, Melati, bahkan Pak Willem dan Mama Kalara dan Ayah Arsya. Di langit, ada dua wajah tersenyum—Rarasati dan Asmara, seolah sedang melihat dari atas.
Eyang Kusuma menangis. "Ini... ini kita semua."
"Iya, Eyang. Rara gambar semua yang Rara sayang."
Melati menunjuk-nunjuk. "Itu Melati! Cantik!"
Asmara yang digendong Arsya ikut menunjuk. "Kak! Kak!"
Kiki di gendongan Nadia hanya tersenyum, tidak mengerti.
Seorang guru mendekat. "Selamat, Rara. Lukisanmu luar biasa. Ibu guru bangga."
"Makasih, Bu."
Guru itu lalu berkata pada Kalara dan Raka, "Rara berbakat sekali. Kami ingin mengikutsertakannya dalam lomba lukis tingkat kota bulan depan."
Kalara terkejut. "Wah, serius, Bu?"
"Iya, Bu. Dengan izin Ibu dan Bapak, tentu saja."
Rara melompat-lompat. "Mau! Rara mau ikut!"
Raka mengelus kepala putrinya. "Nanti kita diskusi dulu, ya. Yang penting sekolah jalan."
"Iya, Ayah!"
Mereka berkeliling aula melihat lukisan-lukisan lain. Ada banyak karya bagus, tapi lukisan Rara memang yang paling menonjol—bukan karena tekniknya yang sempurna, tapi karena emosi yang terpancar dari setiap goresan. Siapa pun yang melihat bisa merasakan bahwa ini lukisan tentang cinta.
Seorang wartawan dari media lokal datang, ingin mewawancarai Rara.
"Dek, boleh wawancara sebentar?"
Rara menatap Kalara, yang mengangguk. "Boleh."
"Lukisan ini judulnya 'Keluarga Besarku', ya? Ceritakan sedikit tentang lukisan ini."
Rara berpikir sejenak, lalu dengan percaya diri ia berkata, "Ini keluarga Rara. Mereka semua orang yang Rara sayang. Rumah ini rumah Rara di Menteng. Pohonnya tua, bunganya wangi. Nenek dan Kakek di langit itu... mereka sudah meninggal, tapi Rara yakin mereka lihat Rara dari sana."
Wartawan itu terharu. "Luar biasa. Kamu baru kelas 4?"
"Kelas 4, Kak."
"Bakatmu besar. Teruslah melukis."
"Iya, Kak. Rara mau jadi pelukis terkenal."
Kalara dan Raka tersenyum bangga.
Setelah acara selesai, mereka memutuskan makan siang di restoran dekat sekolah. Rara memilih restoran Padang—makanan favoritnya.
Suasana restoran ramai, tapi mereka dapat meja besar di pojok. Asmara duduk di kursi tinggi, Kiki di gendongan Nadia. Eyang Kusuma di kursi biasa, Lastri di sampingnya.
"Ini hari bersejarah," kata Arsya. "Rara pameran pertama."
"Iya," sahut Kalara. "Semoga masih banyak pameran-pameran berikutnya."
Rara mengangguk semangat. "Rara akan ikut lomba. Rara akan menang. Hadiahnya buat beli cat lukis baru."
Melati protes. "Melati juga mau hadiah!"
"Nanti Melati juga pameran, ya. Nanti kalau sudah besar."
Melati mengangguk, puas dengan janji itu.
Asmara sibuk dengan rendang di tangannya—makanan yang lumayan pedas, tapi ia tetap lahap. Kiki tertidur di gendongan Nadia, tidak terganggu suara ramai.
Eyang Kusuma makan dengan lahap. "Enak sekali. Dulu, waktu muda, Asmara—kakeknya—suka ajak Eyang makan Padang. Katanya, ini makanan rakyat."
Lastri tertawa. "Dia memang sederhana."
Mereka makan dengan gembira. Rara bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tentang Bu Guru yang baik, tentang cita-citanya jadi pelukis. Melati menyela dengan cerita tentang kucing di sekolahnya. Asmara sesekali berteriak "ma! ma!" minta tambah.
Hidup terasa sempurna.
Sore harinya, mereka pulang ke rumah Menteng. Rara langsung memajang piagam penghargaannya di dinding kamar, di samping gambar-gambar karyanya.
"Adek, lihat!" panggilnya pada Asmara yang merangkak masuk. "Ini piagam Rara!"
Asmara menatap piagam itu, lalu bertepuk tangan. Ia tidak mengerti, tapi ikut senang.
Kiki terbangun dan mulai rewel. Nadia menyusuinya di ruang keluarga sambil menonton televisi. Acara berita lokal menayangkan liputan tentang pameran seni di sekolah Rara. Dan tiba-tiba, di layar, muncul wajah Rara sedang diwawancara.
"Lihat! Rara di TV!" teriak Kalara.
Semua berlari ke ruang keluarga. Mereka menyaksikan Rara di layar kaca, berbicara dengan polos tentang keluarganya.
"Ini keluarga Rara. Mereka semua orang yang Rara sayang..."
Eyang Kusuma menangis. Lastri terisak. Arsya dan Nadia berpelukan. Raka memeluk Kalara. Melati berjingkrak. Asmara menunjuk layar. Kiki terus menyusu, tidak peduli.
Rara sendiri hanya tersenyum malu-malu.
Malam harinya, setelah anak-anak tidur, mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Kali ini, topik obrolan tentang Rara dan bakatnya.
"Dia benar-benar berbakat," kata Arsya. "Itu bukan hanya gambar bagus. Itu... penuh perasaan."
"Iya," sahut Kalara. "Gue nggak nyangka dia bisa ngungkapin semua itu lewat lukisan."
Nadia menambahkan, "Mungkin karena dia tumbuh di lingkungan yang penuh cinta. Jadi lukisannya juga penuh cinta."
Raka mengangguk. "Kita harus dukung dia. Beliin peralatan yang bagus, daftarkan kursus kalau perlu."
Eyang Kusuma berkata pelan, "Dulu, Asmara—kakeknya—juga suka menggambar. Tapi tidak pernah punya kesempatan untuk belajar. Sekarang, Rara bisa."
Lastri mengusap mata. "Rarasati juga suka menggambar, waktu kecil. Mereka mewarisi bakat itu."
Arsya meraih tangan Kalara. "Kita harus pastikan Rara bisa berkembang. Jangan sampai bakatnya terpendam."
Kalara mengangguk. "Setuju. Kita cari kursus lukis yang bagus buat dia."
Malam itu, mereka berdiskusi panjang tentang masa depan Rara. Tentang bagaimana mendukung bakatnya tanpa membuatnya terbebani. Tentang bagaimana mengajarkannya bahwa melukis bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang mengekspresikan hati.
Seminggu kemudian, Rara memulai kursus lukis pertamanya. Studio lukis di kawasan Kemang, dengan guru lulusan seni rupa ITB. Rara antusias, tapi juga gugup.
"Ayo, Ma," katanya pada Kalara yang mengantarnya. "Rara mau cepat-cepat mulai."
"Sabarlah, Nak. Masih jam setengah."
Di studio, Rara bertemu dengan anak-anak lain seusianya. Ada yang sudah lama kursus, ada yang baru seperti dia. Instrukturnya, seorang wanita muda bernama Mbak Dina, ramah dan sabar.
"Hai, kamu pasti Rara. Ayo, kita mulai."
Rara duduk di depan kuda-kuda. Perasaan campur aduk—senang, gugup, bersemangat. Tapi begitu tangannya memegang kuas dan mencelupkannya ke cat, semua rasa gugup hilang. Ia larut dalam warna-warna yang ia ciptakan.
Dua jam kemudian, Kalara menjemputnya. Rara keluar dengan wajah berseri-seri.
"Ma! Seru banget! Mbak Dina baik! Rara belajar bikin gradasi warna! Lihat, ini hasilnya!"
Ia menunjukkan lukisan sederhana—pemandangan matahari terbenam dengan gradasi jingga ke ungu. Sederhana, tapi indah.
"Cantik, Nak. Kamu hebat."
"Rara boleh lanjut kursus?"
"Tentu, Sayang. Ma dan Ayah sudah daftarin kamu untuk satu bulan."
Rara melompat senang. "Yess! Makasih, Ma!"
Di rumah, Rara menunjukkan lukisannya pada semua orang. Eyang Kusuma memujinya. Lastri terkesima. Arsya dan Nadia mengangguk-angguk bangga. Melati protes karena tidak diajak.
"Nanti kalau Melati besar, boleh ikut?" tanyanya.
"Nanti, Sayang. Sekarang main dulu sama boneka."
Melati cemberut, lalu lari main.
Asmara merangkak mendekati Rara, menunjuk lukisan. "Kak... kak... bagus?"
"Iya, bagus. Ini buat Asmara."
Rara memberikan lukisan kecil yang tidak sengaja ia buat—coretan warna-warni tanpa bentuk. Tapi Asmara menerimanya dengan senang, memeluk kertas itu erat.
"Makasih, Kak," katanya—salah satu kata pertamanya yang jelas.
Rara terharu. "Sama-sama, Dek."
Kiki, dari pangkuan Nadia, ikut meraih tangan ke arah Rara. Seperti ingin ikut andil.
Malam itu, Rara tidur dengan senyum. Ia merasa bangga—bukan karena pamerannya, bukan karena piagamnya, tapi karena keluarganya mendukung. Ia tidak sendiri.
Maret tiba. Lomba lukis tingkat kota digelar di Balai Kota. Rara ikut bersama puluhan anak lain seusianya. Tema lomba: "Kotaku, Rumahku".
Rara melukis dengan tekun. Ia tidak terpengaruh anak-anak lain yang lebih cepat selesai. Ia menggoreskan kuas dengan perasaan, menciptakan gambar Jakarta yang ia kenal—bukan gedung pencakar langit, tapi rumah-rumah tua, pohon-pohon rindang, dan tentu saja, rumah Menteng dengan pohon beringinnya.
Dua jam berlalu. Rara menyelesaikan lukisannya tepat waktu. Ia menatap hasilnya—tidak sempurna, tapi penuh hati.
Saat pengumuman pemenang, Rara tidak berharap banyak. Ada banyak anak berbakat di sana. Tapi ketika namanya disebut sebagai juara ketiga, ia hampir tidak percaya.
"Rarasati Asmara, dari SD Menteng!"
Rara melompat. Ia naik ke panggung, menerima piala dan piagam. Matanya mencari keluarganya di antara kerumunan. Mereka semua ada—Mama, Ayah, Om Arsya, Tante Nad, Eyang, Tante Lastri, Melati, Asmara, bahkan Kiki. Mereka bertepuk tangan, menangis, tertawa.
Rara tersenyum lebar. Ia melambai pada mereka.
"Ini untuk keluarga," bisiknya.
Malam harinya, rumah Menteng mengadakan pesta kecil. Bukan pesta mewah, hanya makan malam spesial dengan kue tart bertuliskan "Selamat Rara". Asmara dan Melati paling senang karena boleh makan kue sepuasnya.
Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, menggendong Kiki. "Cucuku hebat. Eyang bangga."
"Makasih, Eyang."
Lastri memeluk Rara. "Kamu membuat Tante terharu. Lukisanmu itu... seperti melihat Rarasati kecil."
Rara tersenyum. "Tante, cerita lagi tentang Nenek, dong."
Lastri tersenyum. "Nanti malam, Tante cerita panjang. Sekarang makan dulu."
Asmara mendekat dengan kue di tangan, wajahnya belepotan cokelat. "Kak... kue... enak."
Rara tertawa, mengusap mulut adiknya. "Kamu ini, belepotan."
Asmara tertawa, lalu berlari lagi.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Lastri bercerita tentang Rarasati kecil—tentang bagaimana ia suka menggambar dengan arang di dinding, tentang bagaimana ia selalu membawa buku gambar ke mana-mana. Rara mendengarkan dengan takjub.
"Jadi, Nenek juga suka gambar?"
"Sangat suka. Dulu, Ibu kalian sering marah karena dinding kotor. Tapi Rarasati tidak pernah kapok."
Rara tertawa. "Rara juga suka gambar di dinding. Tapi Mama marah."
"Iya, karena itu kebiasaan turun-temurun."
Mereka tertawa bersama.
Bersambung...