🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 | Teknologi di Zaman Perunggu
...----------------{🔖}----------------...
Panas di lembah tambang ini bukan hanya sekadar suhu; ia adalah beban fisik yang menindih paru-paru ku. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup uap logam yang mendidih. Aku duduk di sudut barak kayu yang pengap, menatap tangan yang dulu memegang kendali atas triliunan dolar, kini dipenuhi kapalan dan noda tanah yang mengerak.
"Tenang, Satya," gumam ku, mencoba mengatur detak jantung yang masih sering melonjak tak beraturan. "Tubuh mu adalah mesin yang sedang melakukan kalibrasi ulang terhadap atmosfer murni ini. Udara ini mengandung energi alami yang terlalu padat bagi mu yang sudah terbiasa dengan distorsi modern. Tapi kau bukan hanya kekuatan mu. Kau adalah akumulasi pengetahuan dari sebuah peradaban yang berjarak ribuan tahun di depan mereka."
Aku melihat ke arah luar barak. Para budak sedang berebut jatah air dari gentong kayu besar. Air itu keruh, berwarna cokelat lumpur dari Sungai Kuning, penuh dengan bakteri dan sedimen yang membuat banyak dari mereka tewas karena disentri sebelum sempat mengangkat palu.
"Dewa tidak memberkati kita hari ini, Bung," gumam seorang budak di samping ku, seorang pria bertubuh kurus bernama A-Gong. Dia batuk darah, menatap nanar ke arah air yang menjijikkan itu. "Air ini beracun. Tapi haus akan membunuh mu lebih cepat."
Aku berdiri, mengabaikan rasa nyeri di tulang rusuk ku. "Air itu tidak dikutuk dewa, A-Gong. Ia hanya kotor. Dan aku bisa memperbaiki nya."
A-Gong menatap ku seolah aku baru saja bicara dalam bahasa hantu. "Memperbaiki nya? Kau mau berdoa pada sungai?"
"Tidak," jawab ku pendek. "Aku akan menggunakan logika."
Aku menghabiskan sisa hari itu dengan mengumpulkan material yang dianggap sampah oleh para penjaga: tabung bambu besar, pasir halus dari tepi sungai, kerikil, dan arang sisa pembakaran tungku pandai besi yang sudah dihancurkan. Di bawah tatapan curiga para mandor, aku mulai menyusun lapisan-lapisan di dalam bambu yang telah ku lubangi ujung nya.
"Arang untuk adsorpsi kimia, pasir untuk filtrasi partikel kecil, kerikil untuk penyaring kasar," batin kaisar di dalam diri ku mendiktekan prinsip dasar teknik lingkungan. "Di zaman ini, ini adalah sihir. Bagi ku, ini adalah pelajaran sekolah dasar."
Saat matahari mulai terbenam, aku menuangkan air lumpur itu ke bagian atas tabung bambu yang ku pasang tegak lurus. A-Gong dan beberapa budak lain nya berkumpul, menonton dengan sinis.
"Lihat si orang aneh ini," ejek seorang mandor bertubuh besar yang sedang lewat. "Kau pikir bambu itu bisa mengubah kencing menjadi madu?"
Tetes demi tetes mulai jatuh dari ujung bawah bambu. Air itu tidak lagi cokelat. Ia jernih. Begitu jernih hingga memantulkan cahaya senja yang kemerahan.
A-Gong gemetar. Dia menampung tetesan itu dengan tangan nya, mencicipi nya, lalu mata nya membelalak. "Manis... Ini air paling murni yang pernah aku minum!"
"Apa?!" Mandor itu merenggut air tersebut, meminum nya, dan tertegun. "Bagaimana mungkin? Tidak ada mantra, tidak ada persembahan darah..."
"Ini disebut filtrasi," kata ku, menatap langsung ke mata mandor itu dengan sisa-sisa wibawa yang membuat dia secara tidak sadar mundur satu langkah. "Berikan aku perlengkapan pandai besi, dan aku bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada air jernih."
Kabar tentang Budak Ajaib sampai ke telinga militer Hao lebih cepat dari yang kuduga. Esok pagi nya, Jenderal Zhao datang dengan langkah yang menggetarkan debu tambang. Zirah perunggu nya berkilau sombong, namun mata nya memancarkan rasa tidak percaya.
"Kau yang menciptakan pemurni air ini?" tanya Zhao, menunjuk ke arah barisan bambu yang kini digunakan massal oleh para budak.
"Itu hanya permulaan, Jenderal," kata ku, berdiri tegak meskipun rantai masih membelenggu kaki ku. Aku telah menyiapkan sebuah model kecil dari kayu dan tali rami di atas meja batu. "Pasukan mu menggunakan busur tradisional yang butuh tenaga besar untuk ditarik dan akurasi nya payah saat tangan prajurit mu lelah."
"Busur kami adalah yang terbaik di daratan tengah!" seru Zhao tersinggung.
"Terbaik untuk masa sekarang, tapi sampah untuk masa depan," balas ku dingin. Aku menunjukkan model Crossbow (Busur Silang) dengan mekanisme pelatuk sederhana. "Dengan ini, seorang petani yang baru memegang senjata pun bisa menembus zirah kulit dari jarak seratus langkah. Tanpa perlu menahan beban tarikan tali secara manual. Mekanisme pengunci ini yang akan melakukan nya untuk mereka."
Zhao mengambil model itu, mempelajari nya. Sebagai seorang jenderal, dia segera melihat potensi penghancur nya. "Ini... ini bisa mengubah cara kita berperang. Bagaimana kau bisa memikirkan ini? Siapa kau sebenarnya?"
"Aku adalah orang yang ingin membeli kebebasan nya," jawab ku. Aku mendekati nya, membiarkan kedua mata ku berkedip sesaat, hanya cukup untuk memberikan aura tekanan yang membuat bulu kuduk nya berdiri. "Emas dan perak kalian tidak ada guna nya bagi ku sekarang. Uang kertas belum ditemukan, dan sistem barter kalian melelahkan. Aku ingin status. Aku ingin akses ke perpustakaan istana. Dan aku ingin hak untuk tidak dirantai."
Zhao terdiam lama. Keheningan di antara kami hanya diisi oleh suara palu yang jauh. "Jika kau bisa membuatkan sepuluh senjata ini dalam skala penuh dan mereka terbukti efektif, aku akan membawa mu ke hadapan Kaisar sebagai penasihat teknis. Tapi jika kau gagal... kepala mu akan menghiasi gerbang tambang ini."
"Sepuluh?" aku tersenyum tipis, sebuah senyuman predator. "Aku akan memberi mu sesuatu yang lebih baik. Aku akan memberi mu desain Ballista, busur raksasa yang bisa menghancurkan gerbang kota dalam satu tembakan."
Malam itu, aku diizinkan bekerja di bengkel pandai besi. Untuk pertama kalinya, aku tidak memegang batu, melainkan besi dan kayu berkualitas.
"The Sovereign berpikir mereka membuang ku ke neraka," gumam ku sembari mengukir kayu dengan teliti. "Mereka lupa bahwa peradaban dibangun di atas ide. Di dunia ini, ekonomi adalah militer. Siapa yang memiliki teknologi militer paling efisien, dia yang memegang nilai tukar tertinggi. Aku sedang menciptakan mata uang baru di sini: Keunggulan Taktis."
Aku merasakan sisa energi di mata ku mulai stabil. Udara yang tadinya menyesakkan, kini mulai bisa aku olah melalui pernapasan meditatif yang ku pelajari di kuil tersembunyi. Tubuhku mulai beradaptasi.
"Kau bekerja seperti orang kesurupan," sebuah suara lembut muncul dari balik bayang-bayang.
Putri Lian. Dia berdiri di sana tanpa pengawalan ketat, hanya satu pelayan yang menunggu jauh di luar. Gaun sutera nya tampak kontras dengan jelaga dan api di bengkel ini.
"Kebebasan adalah motivasi yang kuat, Putri," kata ku tanpa mengalihkan pandangan dari busur silang yang sedang ku rakit.
"Jenderal Zhao bilang kau menawarkan senjata dewa," Lian mendekat, aroma melati nya memotong bau arang. "Dia takut pada mu, Satya. Dia bilang kau memiliki mata seorang pemberontak, bukan budak."
"Ketakutan adalah reaksi alami terhadap sesuatu yang tidak dipahami," kata ku. Aku meletakkan busur silang yang sudah jadi, lalu menatap nya. "Kenapa kau di sini, Lian? Bukankah ini tempat yang terlalu kotor untuk seorang putri?"
Lian menyentuh permukaan busur itu. "Aku ingin tahu apakah kau benar-benar akan membeli kebebasan mu, atau kau sedang membangun jalan untuk merebut kekaisaran ayah ku. Tanda di leher mu... ia bercahaya setiap kali kau bekerja."
Aku menyentuh leher ku. Benar, pendaran emas itu muncul kembali. "Aku tidak tertarik pada tahta kuno ini, Lian. Aku ingin pulang. Tapi untuk pulang, aku butuh sumber daya yang hanya bisa didapat dengan berada di puncak kekuasaan."
"Kau sangat jujur, itu berbahaya," Lian berbisik, mata nya menatap ku dengan binar yang bukan lagi sekadar rasa ingin tahu. "Jika ayah ku tahu ambisi mu, dia akan membakar mu hidup-hidup."
"Maka pastikan dia tidak tahu sampai aku menjadi terlalu berharga untuk dibakar," balas ku.
Aku mengambil sebuah belati kecil yang baru saja aku selesaikan, yang ku sempurnakan dengan teknik case hardening sederhana (pengerasan permukaan besi dengan karbon arang) sebuah teknologi yang belum sempurna di zaman ini. Aku memberikan nya pada nya.
"Pegang ini. Ini lebih tajam dari pedang mana pun di gudang senjata mu. Anggap ini sebagai bunga pinjaman atas kebaikan mu memberi ku tempat berteduh di tenda mu kemarin."
Lian menerima belati itu, menguji tajamnya pada sehelai rambut nya yang jatuh. Rambut itu terpotong tanpa perlawanan. Dia terkesiap.
"Satya... siapa kau sebenarnya?"
"Aku adalah masa depan yang datang untuk memperbaiki masa lalu," kata ku, kembali ke pekerjaan ku. "Sekarang pergilah. Besok, dunia ini akan mulai melihat bagaimana seorang budak mengganti takdir sebuah kekaisaran dengan sepotong kayu dan tali rami."
...----------------{🔖}----------------...
btw mampir jg yah ke karyaku "dia bukan sugar daddy" trimz... 🙏
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee