"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Bab 33: Pemburuan di Jalan Lintas
Pukul 02.15 dini hari. Langit Tanjungbalai seperti tumpahan tinta, kelam tanpa bintang. Di dalam bangsal VIP Rumah Sakit Umum, keheningan pecah oleh suara tarikan napas Arka yang tajam. Kelopak matanya terbuka paksa, menyingkap sepasang mata yang merah dan liar, jauh dari kesan tenang "Sang Arsitek" yang biasanya.
"Hendra..." desis Arka. Suaranya serak, seperti gesekan amplas di atas beton.
Gips di lengannya terasa berat, namun ada rasa panas yang menjalar di balik perban kepalanya. Arka duduk di tepi ranjang, dunianya sempat berputar hebat, namun ia mencengkeram besi ranjang hingga buku jarinya memutih. Ingatannya masih seperti kepingan puzzle yang terbakar—hitam dan tak lengkap—tapi satu hal yang tertancap kuat adalah rasa tanggung jawab yang menghujam jantungnya.
Pintu bangsal terbuka pelan. Sarah masuk dengan membawa botol air mineral, wajahnya pucat dengan kantung mata yang dalam. Saat melihat Arka sudah duduk, botol di tangannya jatuh ke lantai.
"Arka! Kau gila? Kau baru saja bangun dari koma!" Sarah berlari mendekat, tangannya gemetar mencoba menahan bahu Arka.
"Dia pergi, Sarah," Arka menepis tangan Sarah dengan lembut namun tegas. Tatapannya tertuju pada layar televisi yang mati, namun pikirannya melesat ke luar sana. "Hendra Wijaya tidak hanya lari. Dia membawa server cadangan berisi data 10.000 UMKM kita. Jika dia sampai ke pelabuhan tikus atau melintasi perbatasan, dia akan menghapus data itu atau menjualnya ke pasar gelap. Ribuan orang akan kehilangan identitas bisnis mereka besok pagi."
"Tapi kondisimu—"
"Kondisiku tidak sepenting martabat orang-orang yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk panti asuhan kemarin," potong Arka. Ia berdiri, kakinya sempat goyah, namun ia memaksakan diri tegak. "Panggil Bang Jago. Katakan padanya, armada malam ini bukan untuk mengantar paket. Ini untuk menjemput masa depan kita."
Tiga puluh menit kemudian, di pinggir Jalan Lintas Sumatera, raungan mesin memecah kesunyian malam. Hendra Wijaya duduk di kursi belakang sebuah SUV lapis baja hitam, wajahnya berkeringat dingin. Di sampingnya, sebuah koper perak berisi hard drive utama Sovereign yang ia curi melalui orang dalam saat kekacauan di panti semalam.
"Cepat! Kenapa kau melambat?!" bentak Hendra pada sopirnya.
"Tuan, ada sesuatu yang aneh," sopir itu menunjuk ke kaca spion.
Di belakang mereka, satu per satu lampu sorot muncul dari kegelapan. Bukan lampu mobil polisi yang biru dan merah, melainkan lampu kuning pucat dari ratusan motor bebek. Mereka muncul dari gang-gang kecil, dari balik truk pengangkut sawit, seolah-olah aspal itu sendiri yang melahirkan mereka.
"Kurir-kurir itu..." Hendra mendesis, tangannya mencengkeram koper perak itu erat. "Tabrak saja mereka! Jangan berhenti!"
Namun, dari arah depan, sebuah mobil sedan sport hitam melesat memotong jalur. Mobil itu berhenti dengan suara decit ban yang memilukan telinga, menghalangi jalan SUV Hendra tepat di jembatan layang.
Elina Clarissa turun dari mobil itu. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan tertiup angin kencang. Ia mengenakan jaket kulit hitam, tangannya memegang radio panggil.
"Hendra Wijaya! Kau tidak akan membawa satu bit pun data rakyat dari kota ini!" suara Elina menggema, diperkuat oleh pengeras suara.
SUV Hendra mencoba banting stir, namun ratusan kurir Sovereign sudah mengepung dari belakang, membentuk formasi barikade hidup. Mereka tidak membawa senjata api, hanya helm di tangan dan kemarahan yang membara di mata.
Pintu mobil SUV terbuka. Hendra keluar dengan dikawal empat pria berbadan tegap yang memegang senjata api. "Mundur! Atau aku hancurkan server ini sekarang juga!" teriak Hendra gila.
Di tengah barisan kurir, sebuah motor bebek tua—yang knalpotnya bocor—maju perlahan. Pria yang mengendarainya mengenakan jaket kurir lusuh dengan kepala yang masih dibalut perban putih yang mulai merembes darah.
Arka turun dari motornya. Langkahnya pincang, namun tatapannya membuat para bodyguard Hendra ragu untuk menarik pelatuk.
"Kau ingat apa yang kau katakan pada ayahku sepuluh tahun lalu, Hendra?" Arka bersuara, setiap kata seperti tetesan es. "Kau bilang orang miskin tidak punya hak atas arsitektur dunia. Kau bilang kami hanya sekadar angka yang bisa kau hapus."
Arka melangkah maju, melewati garis aman. Sarah yang baru sampai dengan mobil lain berteriak histeris memanggil namanya, namun Arka tidak menoleh.
"Hari ini, angka-angka yang kau rendahkan itu mengepungmu," lanjut Arka. "Tanpa Sistem di otakku, aku bisa melihatmu dengan jelas sekarang. Kau bukan raksasa bisnis. Kau hanya pencuri yang ketakutan."
"Diam kau, sampah!" Hendra mengangkat koper itu tinggi-tinggi di atas pembatas jembatan. "Satu langkah lagi, dan 10.000 UMKM ini akan lenyap selamanya!"
Arka berhenti. Ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, sebuah denyutan yang memaksanya untuk berlutut. Namun, ia melihat para kurir di belakangnya—Bang Jago, para janda pedagang pasar, anak-anak muda yang baru lulus sekolah. Mereka menatapnya. Bukan sebagai dewa dengan Sistem AI, tapi sebagai kawan yang terluka.
Insting jalanan Arka mengambil alih. Tanpa perhitungan algoritma, ia menyadari satu hal: Hendra terlalu pengecut untuk menghancurkan satu-satunya kartu as-nya sebelum ia benar-benar aman.
"Lakukan saja, Hendra," ucap Arka tenang. "Hancurkan. Dan lihatlah apa yang dilakukan ribuan orang ini padamu setelahnya. Kau bisa menghapus data, tapi kau tidak bisa menghapus dendam di hati mereka."
Hendra gemetar. Keberaniannya yang palsu runtuh saat melihat Arka terus melangkah maju dengan luka yang mengucur di dahinya.
"Jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat!"
Arka menerjang.
Bukan dengan teknik bela diri kelas atas, tapi dengan serudukan kasar seorang kurir yang sudah terbiasa berkelahi demi mempertahankan paketnya dari begal. Mereka berguling di atas aspal kasar. Hendra memukul luka di kepala Arka, membuat Arka mengerang kesakitan, namun Arka tidak melepaskan cengkeramannya pada koper perak itu.
Duk!
Arka menghantamkan dahinya ke hidung Hendra. Darah menyembur. Koper itu terlepas, meluncur di atas aspal menuju pinggir jembatan.
Sarah dan Elina berlari bersamaan. Mereka tidak memedulikan Hendra atau para bodyguard yang kini sudah dilumpuhkan oleh Bang Jago dan massa kurir. Mereka hanya peduli pada pria yang tergeletak di samping koper itu.
Arka terengah-engah, punggungnya bersandar di ban mobil SUV. Koper perak itu ada di pelukannya. Ia menatap Sarah, lalu Elina. Memorinya masih belum kembali sepenuhnya, ia masih belum ingat momen-momen manis secara detail, tapi rasa sakit di hatinya saat melihat air mata Sarah terasa sangat nyata.
"Datanya... aman," bisik Arka.
Sarah memeluk kepala Arka, mengabaikan darah yang mengotori bajunya. "Bodoh... kau benar-benar bodoh, Arka Pramudya. Kau bisa saja mati!"
Elina berdiri di samping mereka, menatap Hendra Wijaya yang kini diseret oleh pihak kepolisian yang akhirnya tiba di lokasi. Ia melihat bagaimana Sarah memeluk Arka, dan ada secercah rasa getir di matanya, namun ia menelannya bulat-bulat. Kemenangan ini memiliki rasa yang aneh; manis karena keadilan ditegakkan, namun pahit karena ia tahu hati Arka mungkin bukan miliknya untuk dimenangkan.
"Kau menyelamatkan mereka, Arka," Elina berbisik pelan, hampir tak terdengar di antara deru angin malam. "Kau bukan lagi Arsitek versi Sistem. Kau adalah Arsitek versi mereka."
Arka memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kepalanya terasa sunyi. Tidak ada barisan kode, tidak ada bisikan instruksi AI. Hanya ada suara napas Sarah yang tersengal dan hangatnya tangan Elina yang sempat menyentuh bahunya sebelum wanita itu berbalik untuk mengurus detail hukum.
Di bawah lampu jalanan lintas Sumatera yang berkedip, ribuan kurir Sovereign mengangkat helm mereka ke udara. Sebuah penghormatan tanpa suara bagi pria yang telah menukarkan segalanya—termasuk memorinya—demi sebuah kata bernama: Harga Diri.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.