Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Tahu Semuanya
Bel berbunyi nyaring. Menandakan waktu mata kuliah berakhir.
Andin membereskan buku-bukunya.
Di depan pintu, Bayu sudah menunggu, sambil bersidekap tangan.
Beberapa mahasiswi yang keluar dan berpapasan dengannya, berhenti untuk mengagumi ketampanannya yang diluar nalar. Beberapa bahkan terang-terangan mencoba meminta nomor, bahkan menggodanya.
Andin hanya melihat dari tempat duduknya. Tersenyum manis. Ia yakin seribu persen suaminya itu tidak akan termakan bujuk rayu para betina itu.
Sesekali gadis itu melambaikan tangan. Menyemangati suaminya yang terlihat sangat menderita.
Saat hendak memasukkan buku terakhir, Bian tiba-tiba datang ke depannya. Raut lelaki itu tidak bisa ditebak.
“Ini jurnal pribadiku, Din. Baca baik-baik.” Katanya, sambil menyerahkan sebuah dokumen agak tebal.
“Apa ini, Bi?” Tanyanya pelan.
“Baca saja. Dan kamu akan mengetahui kebenaran tentang suami kamu itu. Dia bukan manusia Andin. Dia berbahaya.” Bian mengingat dengan ekspresi serius, suaranya turun satu oktaf. Berbisik.
“Siapa yang berbahaya?” Itu suara Bayu.
Bian tersentak kaget. Wajahnya menoleh kebelakang dan mendapati Bayu sudah berdiri disana.
Dua orang laki-laki itu saling bertatapan intens. Bian yang hanya setinggi dagu Bayu terlihat kesusahan mengimbangi tatapan penuh permusuhan Bayu.
“Jadi, siapa yang sebenarnya berbahaya itu?” Bayu bertanya dingin. Pandangannya seakan ingin memakan Bian mentah-mentah.
“None of your business, bro.” Bian menjawab sok akrab. Padahal ekspresinya menyalak penuh amarah.
Adegan berbahaya itu hanya bisa disaksikan Andin dari tempatnya berdiri. Gadis itu tidak berani melerai.
Detik berlalu sangat lambat, saat akhirnya Bayu dan Bian memutus tatapan itu. Bian segera pergi meninggalkan ruang kelas. Langkahnya cepat, hampir berlari.
…..
Sepeninggal Bian, Bayu dan Andin berjalan beriringan menuju parkiran. Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.
Bayu masih diam seribu bahasa, rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan dengan ekspresi yang sama marahnya seperti saat di ruangan tadi.
Di depan mobil, Andin berhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang.
“M-mas….”
Bayu tidak menjawab, tapi ia berhenti dan menoleh. Tatapannya yang tajam akhirnya bertemu dengan mata Andin. Meski tidak membalas, Andin tetap bersyukur karena lelaki itu mau menatap matanya.
“Mantan pacarmu.” Bayu bersuara saat Andin hendak meraih gagang pintu mobil.
“Si bajingan itu mungkin….. ada hubungannya dengan penculikan Radit.”
Andin menghembuskan napas panjang, lelah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu mobil dan masuk. Bayu menyusul tak lama kemudian, duduk di balik kemudi dengan gerakan kasar. Suasana di dalam mobil langsung terasa pengap.
“Aku juga berpikir begitu, mas.” Jawab Andin tenang.
“Kamu…. Percaya padaku?” Bayu bertanya bingung.
Andin menoleh, sama bingungnya.
“Tentu saja aku percaya pada suamiku.” Tegasnya.
“B-bukankah si brengsek itu adalah…… orang yang kau cintai? K-kalian sudah bersama sejak lama.”
“Hhuummm….” Andin menarik napas dalam, seakan mengeluarkan sesak dalam dadanya.
“Itu dulu mas. Sekarang, aku lebih mencintaimu.” Mata gadis itu menatap lekat suaminya. Menegaskan kata-katanya dengan tatapan.
“Jangan mengujiku, Andin.” Tukas Bayu, memutus tatapan itu.
“Mas, tidak percaya padaku?”
“A-aku…. Tidak…. B-bisa percaya cinta manusia bisa berubah secepat itu.” Bayu tergagap. Berusaha menutupi semburat merah lembut di kedua pipinya.
“Mas… aku mencintaimu dan itu serius. Jadi sekarang, ayo selidiki Bian tanpa perlu merasa sungkan padaku. Laki-laki itu sangat mencurigakan.” Tegas Andin.
Bayu diam. Memalingkan wajahnya dari Andin. Lelaki itu sudah jelas tersipu malu atas pernyataan cinta sang Luna, tetapi sangat malu untuk sekedar menampakkan wajah konyolnya.
“Mas, Bian tahu kalau kamu adalah manusia serigala.”
DEG.
Jantung Bayu berdegup kencang. Ia segera menoleh pada sang istri.
“Si brengsek itu??” Tanya Bayu berang.
“Iya mas. Dia menyuruhku berhati-hati padamu. Dan…. Ini.” Andin memberikan dokumen pemberian Bian.
Bayu mengambilnya dan segera membukanya. Disana banyak foto-foto tentang klan nya. Foto-foto tentang transformasi seorang manusia serigala yang diambil sangat dekat. Bahkan ada foto Packnya.
“Berarti benar. Si brengsek itu ada kaitannya dengan penculikan Radit.”
Andin mengangguk setuju. Keduanya saling bertatapan. Tanpa kata. Namun saling memahami.
“Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki Bian.” Bayu membuka suara. Nadanya dingin.
Mobil itu akhirnya berlalu, meninggalkan area parkiran kampus.
Di belakangnya, Bian memperhatikan dari dalam mobilnya. Matanya memancarkan aura permusuhan yang kentara.
Pertempuran baru saja dimulai.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/