NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sepulang sekolah, matahari yang terik seolah menyedot seluruh energi dari tubuh Arash.

Begitu pintu kamar terbuka, dia langsung melempar tas punggungnya asal-asalan ke atas kasur empuknya.

Tanpa melepas seragam atau mengganti baju, Arash menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, membiarkan punggungnya terbenam dalam kelembutan kasur.

Dia telentang, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih tersengal-sengal sisa pelajaran olahraga basket tadi siang.

Hening sejenak.

Namun, kesunyian itu tak bertahan lama.

"Mass... masih lama gak sih skorsingnya?" tanya sebuah suara lirih dari arah atas lemari jati. Itu Lala.

Hantu cegil itu tampak mengintip dari balik tumpukan buku tua di atas lemari, wajahnya tampak begitu merana, persis seperti tawanan yang sudah mendekam di penjara selama berabad-abad.

Arash membuka matanya, lalu mendongak sedikit ke arah sumber suara.

Selama dua minggu terakhir, dia memang sengaja menjaga jarak.

Tapi, melihat hantu cewek itu terus-menerus menampilkan ekspresi sedih yang jujur, entah mengapa pertahanan Arash mulai runtuh.

Dia merasa keterlaluan jika terus-terusan mendiamkan mahluk yang sebenarnya hanya terlalu cerewet dan terlalu sayang padanya itu.

Arash menghela napas panjang, mengeluarkan udara dari dadanya dengan berat.

"Udah."

"Hah?" Lala tampak terlonjak kaget. "Beneran udah? Skorsingnya berakhir sekarang?"

Wajah Lala yang tadinya kusut seketika berubah cerah.

Pendaran hijau di tubuhnya berkerlip lebih terang, menandakan kalau perasaan gembiranya benar-benar meledak.

"Hemm. Tapi ingat, jangan diulangi lagi kelakuan kamu yang muncul dadakan kayak tahu bulat itu!" tegas Arash memperingatkan.

"Yeeeee! Akhirnya aku bebas! Aku bebas deket-deket Mas ganteng lagi!" sorak Lala kegirangan.

Hantu itu tak membuang waktu.

Dalam satu gerakan lincah, dia melayang turun dari atas lemari dan mendarat ringan di udara, tepat di sebelah tubuh Arash yang masih rebahan.

Dia ikut merebahkan diri di samping Arash, meskipun tentu saja, tubuhnya tak benar-benar menekan kasur.

"Jangan nempel-nempel, La! Ingat, kita bukan muhrim!" protes Arash, mencoba menggeser tubuhnya sedikit menjauh, meski secara teknis dia tidak merasakan sentuhan fisik apa pun.

Lala memanyunkan bibir, terlihat kesal dengan protes Arash.

"Ih, Mas ganteng jangan julid-julid terus dong. Kita kan gak bisa sentuhan juga, aku transparan! Gak bakal kerasa apa-apa juga di kulit kamu."

"Iya sih, tapi tetap aja rasanya aneh," sahut Arash.

"Udah, gak apa-apa. Aku lagi seneng banget hari ini," kata Lala, kembali ceria.

Dia menopang dagunya dengan tangan, menatap wajah lelah Arash dengan binar mata yang penuh antusiasme.

"Lagian ada banyak banget yang pengen aku ceritain ke kamu! Tentang gosip-gosip terbaru di dunia ghaib sekolah ini, tentang si Pocong yang lagi galau berat di kantin, terus..."

"Haish, nanti aja, La," potong Arash memohon. "Aku masih capek banget, sumpah. Tadi abis basket dua babak penuh, otot-ototku rasanya mau copot semua."

Lala tampak kecewa, bahunya merosot turun.

"Yahhh... padahal ceritaku seru banget, lho. Dijamin bakal bikin kamu gak ngantuk lagi."

"Nanti malam aja, ya? Habis sholat Isya, aku tadarusan sebentar. Setelah itu waktu luangku free total. Aku janji bakal dengerin semua cerita kamu sampai telingaku panas," tawar Arash dengan nada suara yang mulai melemah karena kantuk.

"Oke deh, aku pegang janji Mas ganteng!" Lala tersenyum manis. Namun sedetik kemudian dia tampak ragu. "Kalau gitu, aku izin pergi sebentar dulu, ya?"

Arash membuka satu matanya, menatap Lala penuh selidik. "Mau ke mana? Tumben izin."

"Mau curhat ke Kak Merah," jawab Lala enteng.

"Kamu sejak kapan punya teman di kompleks ini? Kok berani-beraninya main sama dia?"

Lala mengangguk semangat. "Sejak Mas ganteng pingsan itu. Aku nangis terus, eh tiba-tiba disamperin Kak Merah. Walaupun dia terkenal jahat dan galak banget, kayak ibu tiri di sinetron, tapi ternyata dia baik banget sama aku.’’

"Oke, oke, udah! Sana pergi. Main sama bawang merah aja sana," potong Arash, sudah malas berdebat soal silsilah pertemanan ghaib Lala.

"Ihhh, bukan bawang merah, Mas ganteng! Dia kuntilanak merah!" koreksi Lala dengan wajah cemberut karena namanya salah sebut.

"Whatever, deh. Kalian cocok kok. Si Merah dan si Putih," kata Arash terkekeh geli.

Lala menjulurkan lidah, lalu dengan satu kibasan gaun hijau, dia melesat pergi menembus tembok kamar.

Arash tersenyum kecil melihat kepergiannya, lalu memejamkan mata rapat-rapat. Rasa kantuk yang luar biasa akhirnya menjemputnya ke alam mimpi, meninggalkan keheningan kamar yang kembali damai.

Arash tahu, setelah ini hidupnya pasti akan jauh lebih bising dengan segala cerita ajaib dari si hantu cegil itu, tapi entah mengapa, itu justru membuatnya merasa tidak sendirian.

...☘️☘️☘️...

Sejak kumandang azan Maghrib bergema membelah langit senja, Arash sudah berada di dalam Masjid Pondok Pesantren Al-Falah.

Berada di lingkungan pesantren milik kakeknya selalu berhasil memberikan ketenangan batin tersendiri bagi Arash.

Setelah melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, makan malam seadanya di kediaman utama, dan dilanjutkan dengan sholat Isya, Arash tidak langsung beranjak pulang.

Dia memilih beriktikaf sejenak di pojok masjid yang agak teduh.

Sekitar jam delapan malam, untaian ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam sesi tadarus pribadinya baru saja selesai dibacakan.

Arash menutup mushaf besarnya dengan perlahan, mengecupnya khidmat, lalu meletakkannya kembali ke dalam rak kayu berukir.

Cowok itu membenarkan letak peci hitamnya dan bersiap untuk melangkah pulang ke kamarnya demi menepati janji mendengarkan cerita si hantu cegil Lala.

Namun, baru saja Arash hendak melangkah keluar melewati pintu pembatas masjid, sebuah suara berwibawa yang sangat ia kenal memanggil namanya.

"Arash."

"Iya, Eyang," sahutnya lembut.

"Sini dulu, Le," panggil Kyai Hasan sembari melambaikan tangan tuanya yang memegang seuntai tasbih kayu kokka.

Arash melangkah mendekat dengan takzim. Di samping Kyai Hasan, tampak duduk seorang laki-laki sepuh lainnya di atas hamparan karpet hijau masjid.

Sosok itu mengenakan jubah putih longgar dan serban kain beludru hijau yang dililitkan rapi di kepala.

Guratan-guratan usia di wajahnya tampak begitu kentara, menandakan bahwa usianya jelas sudah melewati angka kepala delapan, bahkan terlihat lebih tua dari Eyang Hasan sendiri.

Meskipun demikian, sepasang mata laki-laki sepuh itu masih memancarkan kilatan binar spiritual yang teramat tajam dan sangat dalam.

"Arash, kenalkan, ini sahabat lama Eyang," kata Kyai Hasan lagi dengan nada suara yang tenang namun terselip kehati-hatian yang tidak biasa.

"Assalamualaikum, Eyang," ucap Arash dengan sopan.

Dia membungkukkan tubuh fisiknya, lalu meraih tangan kanan laki-laki sepuh itu dengan kedua tangannya dan mencium punggung tangannya dengan penuh rasa takzim.

"MasyaAllah..."

Laki-laki sepuh itu tersenyum sangat lebar, memperlihatkan binar ketulusan dari wajahnya yang bersih berseri-seri saat menatap Arash dari dekat.

Bagi pandangan mata manusia awam, Arash mungkin hanya terlihat seperti seorang remaja sholeh biasa yang berwajah tampan dan berwibawa.

Namun, di dalam pandangan batin tingkat tinggi milik laki-laki sepuh ini, pemandangan ghaib yang tersaji justru sangat luar biasa.

Tubuh spiritual Arash tampak diselimuti dan dipenuhi oleh pancaran sinar putih keperakan tak kasat mata yang berkilau sangat pekat.

Sinar itu adalah manifestasi dari energi suci, benteng pertahanan ghaib, serta potensi indigo murni yang baru saja bangkit sepenuhnya setelah insiden penghancuran kutukan pesugihan kemarin.

"Dia memang sangat istimewa, San," kata laki-laki sepuh itu, mengalihkan pandangannya kepada Kyai Hasan sembari mengangguk-angguk takjub.

Kyai Hasan menghela napas panjang, gurat-gurat kekhawatiran seorang kakek seketika tercetak jelas di keningnya.

"Apakah... ini ada hubungannya dengan yang dulu, Mar?" tanya Kyai Hasan dengan volume suara yang direndahkan, hampir menyerupai bisikan ghaib.

"Bisa jadi. Karena dulu kamu menolak dengan keras warisan ghaib leluhur itu, maka energi murni tersebut tidak lenyap, San. Dia melompati satu generasi, mengambang di alam perantara, dan sengaja menunggu bibit baru yang memiliki wadah spiritual yang jauh lebih besar dan bersih. Dan bibit baru yang terpilih itu adalah Arash, cucu kandung kamu sendiri."

Laki-laki sepuh yang dipanggil "Mar" itu ternyata adalah Kyai Umar, salah satu ulama kharismatik sekaligus sahabat karib Kyai Hasan sejak zaman mereka masih nyantri Bersama, puluhan tahun silam.

Berbeda dengan Kyai Hasan yang lebih fokus pada syariat dan pengelolaan pesantren, Kyai Umar dikenal memiliki pemahaman yang sangat mendalam mengenai ilmu hikmah dan hakikat dunia metafisika Islam.

"MasyaAllah... tapi, Umar..." Kyai Hasan tampak gamang.

Sebagai kakek, beliau tahu betul seberapa berat penderitaan ghaib yang harus dipikul oleh seseorang yang memiliki beban sebesar itu.

"Sudahlah, San. Percayalah pada ketetapan Allah. Cucumu ini kuat, wadah ruhaninya bersih dan dilindungi oleh doa-doa yang luhur. Aku sangat yakin dia mampu mengemban tugas ini," potong Kyai Umar menenangkan sahabatnya.

Arash yang berdiri di antara kedua ulama sepuh itu hanya bisa mengerutkan dahi dalam-dalam.

Sinyal radar indigonya mendadak bergetar hebat, menangkap adanya bobot pembicaraan yang teramat serius dan melibatkan takdir masa lalunya.

"Maaf, Eyang... maksudnya bagaimana, ya? Arash benar-benar bingung," tanya Arash dengan sopan namun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Kyai Hasan menatap Arash dengan pandangan mata yang sarat akan kasih sayang sekaligus rasa berat hati. Beliau menepuk pundak kokoh cucunya itu beberapa kali.

"Le, takdir ghaib itu tidak pernah salah memilih alamat. Kamu bisa mulai belajar malam ini juga dengan Eyang Umar," kata Eyang Hasan dengan nada suara yang bergetar karena sedikit khawatir, namun mencoba untuk tegar.

"InsyaAllah, Eyang percaya penuh pada kamu. Kamu bisa, kamu mampu melewati gemblengan ini. Dan jangan pernah lupa, Le... selalu libatkan Allah dalam setiap helaan napas dan langkah mu."

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!