NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Di kerjain

Beberapa saat setelahnya, Aurin sudah menghidangkan salmon panggang di meja makan. Hidangan itu dihias dengan begitu rapi dan estetik.

​"Makan siang Anda sudah siap, Tuan," ujar gadis itu.

​Suara Aurin membuat Gallelio yang sejak tadi sibuk memeriksa setiap sudut rumah demi mencari celah kesalahan kecil harus menoleh. Aroma daging ikan panggang yang menyeruak seketika menggugah selera, membuat perutnya meronta ingin segera diisi. Namun, ia tetap melangkah dengan penuh wibawa. Tatapannya menelisik tampilan salmon itu dengan tajam. Secara visual memang terlihat efisien dan menarik, tapi Gallelio tidak hanya menilai dari tampilannya saja.

​Ia duduk di kursi kebesarannya, menunggu Aurin menyiapkan piring di hadapannya.

​"Kamu yakin ini sudah pas tingkat kematangannya?" tanya Gallelio sedikit ragu.

​Ujung garpu yang ia pegang mulai memilah daging ikan yang lembut itu. "Rasanya juga sudah pas?" lanjutnya sembari menyuapkan sedikit potongan salmon ke dalam mulut, persis seperti seorang juri yang siap memberikan penilaian paling kejam.

​Gallelio terdiam selama beberapa saat.

​Sial, ini jauh lebih enak daripada di restoran mana pun! batinnya berteriak kesal.

​Namun, wajahnya tetap tidak berekspresi. Ia sengaja memasang wajah datar yang sulit dibaca. Hal itu membuat Aurin yang berdiri beberapa sentimeter di dekat meja makan harus meneguk ludah kasar karena merasa sangat gugup.

​"Bagaimana, Tuan?" tanya Aurin tanpa sadar karena rasa penasarannya yang besar.

​Mendengar itu, Gallelio langsung menoleh dan menatapnya dingin. "Bukankah di aturan itu disebutkan bahwa kamu tidak diperbolehkan memulai pembicaraan duluan? Baru sehari saja sudah dilanggar!" ucapnya dengan nada menekan.

​Aurin seketika menunduk dalam. Tekanan di sekitar ruang makan itu meningkat drastis, membawa atmosfer dingin yang sangat mengintimidasi.

​"Karena saya lapar, saya akan memakan makanannya. Tapi bukan berarti makanan yang kamu buat ini enak, bukan!" ujarnya ketus. "Karena masih hari pertama, saya berikan toleransi. Untuk besok-besok jangan harap saya akan menutup mata dengan kesalahan kamu lagi!"

​Gallelio kemudian melanjutkan makannya. Suap demi suap ia habiskan dengan lahap, seolah tubuhnya tidak bisa berbohong bahwa ia sangat menikmati hidangan tersebut. Sementara itu, Aurin yang melihatnya hanya bisa berdiri diam sembari menahan rasa laparnya sendiri yang mulai terasa perih.

Setelah makan selesai, Gallelio langsung berdiri tanpa memedulikan piringnya. "Ulangi beberes rumahnya, masih banyak debu-debu yang nempel!" ujarnya sembari melangkah pergi dari tempat itu.

​Aurin mengelus dadanya panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit. Ia kemudian mendekat ke arah meja makan.

​"Bukan berarti makanan yang kamu buat ini enak, bukan! Nyenyenyeeee!!" gerutu Aurin mengulang kembali kalimat Gallelio tadi dengan nada asal. Tangannya mulai meringkus piring yang sudah bersih tak tersisa, seolah ingin segera menghilangkan jejak kehadiran pria itu.

​"Bilang saja makanan yang saya buat enak, sampai-sampai dimakan habis begini!" lanjutnya masih dengan nada kesal yang tertahan.

​"Oh, jadi di belakang kamu suka menggerutu dan mengumpati tuanmu? Lancang sekali!"

​Aurin nyaris menjatuhkan piring di tangannya begitu suara Gallelio yang tajam menusuk masuk ke gendang telinganya. Entah sejak kapan pria itu kembali, tapi kini ia sudah berdiri dengan bersedekap dada, menatap Aurin dengan tatapan yang sangat dingin.

​Gadis itu meneguk ludah kasar. Kakinya yang berpijak mendadak terasa lemas seperti jeli. Dia benar-benar tertangkap basah.

​"Tuan, bukankah Anda..."

​"Kenapa? Berharap saya pergi agar kamu bisa mengejek begitu, iya?" Gallelio melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Aurin refleks mundur selangkah, namun Gallelio tidak membiarkannya lolos.

​"Saya tidak suka ada yang berani mengumpat pemilik rumah, apalagi itu adalah babu yang menumpang!" desis Gallelio sembari mencengkeram rahang gadis itu.

​Cengkeramannya membuat Aurin terpaksa mendongak, bertemu langsung dengan tatapan kilat tajam yang penuh amarah. Ruang makan itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekam.

​"Jadi gadis yang penurut!" ujar Gallelio seraya melepaskan tangannya dengan kasar. Ia kemudian mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, seolah-olah Aurin adalah kotoran yang harus segera dihilangkan dari jangkauannya.

​"Buatkan saya kopi jam tiga nanti!" lanjutnya ketus sebelum benar-benar berlalu dari sana.

.

.

.

Tidak ada jam istirahat. Aurin sudah kembali ke dapur setelah selesai membereskan kembali rumah itu sesuai titah Gallelio. Kali ini, dia mulai menyeduh kopi untuk pria tersebut.

​Sementara di ruang kerjanya, Gallelio sama sekali tidak bisa fokus pada layar komputer. Pria itu terlalu terpaku pada rekaman CCTV dapur yang menampilkan Aurin tengah sibuk. Entah kenapa, ia lebih memilih mengawasi lewat layar daripada turun langsung. Ia tidak ingin Aurin menjadi besar kepala karena merasa terus ditemani olehnya.

​Gallelio menyandarkan punggungnya sembari menunggu. Namun, alisnya berkerut saat melihat Aurin hanya meletakkan cangkir kopi itu di meja ruang tengah, tanpa berniat mengantarnya ke atas.

​Satu menit... dua menit... ia terus menunggu. Kopi itu tetap di sana, dan Aurin masih berdiri tegak di sisi meja.

​"Kenapa tidak diantar!" gumamnya heran.

​Merasa tidak sabar, ia berdiri dari kursinya dan turun menuju lantai satu.

​"Babu, kenapa kopinya tidak dibawa ke ruang kerja?!" tanyanya dengan nada datar namun menuntut.

​Aurin menunduk dalam. "Dalam aturan yang ditulis, saya tidak diperbolehkan masuk ke ruang kerja Anda, Tuan," jawab gadis itu pelan namun telak.

​Shit! Bisa-bisanya aku lupa lagi! batin Gallelio mengumpat pada dirinya sendiri. Sudah berkali-kali hari ini ia terjebak oleh aturan yang ia susun sendiri demi menyulitkan gadis itu.

​Ia mendekati meja, menyentuh cangkir tersebut. "Sudah dingin! Buat yang baru! Saya tidak suka kopi dingin!" perintahnya ketus.

​Aurin bergegas kembali ke dapur untuk membuat kopi lagi. Sementara itu, Gallelio duduk di sofa dengan seringai licik yang tercetak di bibirnya. Sebuah ide licik melintas di kepalanya untuk benar-benar menguras emosi Aurin.

​Beberapa menit kemudian, Aurin kembali dengan kopi baru yang diletakkan di atas meja. "Silakan, Tuan."

​Gallelio mencicipinya sedikit. "Pfffftttttt!" desisnya sembari meletakkan gelas itu kembali dengan kasar. Kilatan tajam tergambar di wajahnya saat menatap Aurin. "Kamu mau membunuh saya dengan memberi banyak gula? Saya tidak suka, ini terlalu manis! Sana buat lagi!" perintahnya sembari mengisyaratkan Aurin untuk membawa kembali gelas itu.

​Gadis itu menurut. Ia membuat kopi lagi dengan takaran gula yang dikurangi, lalu membawanya kembali ke hadapan Gallelio.

​"Apa-apaan, pahit! Kamu kira saya ini apa sampai dikasih kopi sepahit ini? Kamu kesal?!" bentaknya lagi sembari menggeser gelas itu hingga nyaris tumpah. "Buat lagi!"

​Aurin kembali ke dapur dan datang lagi dengan gelas kopi ketiga. "Ini, Tuan. Rasanya sudah pas," ujar gadis itu sembari sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak meledak karena amarah yang memuncak.

​"Oh, jadi kamu sudah mencicipinya? Lancang sekali mencicipi minuman majikan! Sana buang, saya tidak sudi minum minuman sisa!" ujar Gallelio lagi, semakin menjadi-jadi.

​Sabar, Aurin... sabar... semoga pria yang suka marah-marah ini cepat diambil Tuhan! batin Aurin merutuk.

​"Jangan mengumpat dalam hati, kerja saja yang benar!" sentak Gallelio seolah bisa membaca pikiran Aurin. Ia menatap tajam punggung gadis itu yang kembali terseret ke dapur.

​"Ini, Tuan." Aurin kembali dengan gelas keempat.

​"Pftttt, panas! Kopi sepanas ini, kamu mau membuat mulutku melepuh?!" Gallelio sengaja memuntahkan kembali kopi itu ke dalam gelas.

​Aurin menunduk. Matanya mulai memanas, nyaris menangis karena lelah dan terhina. Tangannya terkepal sangat kuat di sisi tubuhnya.

​"Jadi, buat lagi, Tuan?" tanyanya dengan nada yang mulai bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.

​"Buat lagi!" perintah Gallelio tanpa belas kasihan.

​Aurin mengangguk pelan. Ia kembali ke dapur, namun hanya beberapa detik kemudian, ia sudah kembali ke meja tempat Gallelio masih duduk bersandar dengan angkuh. Kali ini, gadis itu tidak membawa segelas kopi jadi. Ia membawa nampan berisi air panas, air dingin, toples gula, bubuk kopi, sendok, serta gelas kosong. Semuanya diletakkan dengan tegas di depan meja Gallelio.

​"Silahkan, Tuan!" ujarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
ChaManda
keluar kandang kucing, masuk kandang mancan ini mah ☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣Biar Aurin ada kerjaan aja sih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!