JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Lampu-lampu jalan di kawasan ruko mulai berpendar, membiaskan cahaya jingga pucat yang menembus kaca depan, menandakan malam telah tiba. Arlo, Kevin, dan Emilia sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan keheningan yang tebal dan aroma sisa kopi yang tertinggal di udara.
Haura berdiri di dekat meja admin, sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas. Ia sesekali melirik ke arah lorong belakang. Marco duduk di kursi packing, membelakanginya, hanya diterangi lampu pilar yang remang.
Haura berjalan mendekat, menyentuh pundak Marco yang tegap. "Kamu beneran nggak mau pulang, Marco?"
Marco berbalik perlahan, matanya yang tajam menelusuri lekuk tubuh Haura di bawah balutan blus sutra yang mulai terasa menyesakkan bagi mereka berdua. "Gue udah bilang, kan? Rumah gue bukan di sana lagi. Dan di sini..." ia menarik pinggang Haura hingga wanita itu terduduk di pangkuannya, "...ada satu-satunya orang yang gue mau."
"Tadi siang Tante kamu bikin rusuh di sini," bisik Haura, napasnya mulai memberat saat tangan Marco mulai menjelajah di balik belahan rok kerjanya. "Kalau dia balik lagi gimana?"
"Biarin," sahut Marco serak. Ia membenamkan wajahnya di leher Haura, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat wanita itu mengeluarkan desahan tertahan. "Ah... Marco, jangan di sini..."
"Kenapa? Lo takut?" Marco menatap Haura dengan intens, matanya berkilat penuh hasrat. "Gue nggak peduli sama dunia luar, Ra. Yang gue peduliin cuma gimana caranya bikin lo terus-terusan manggil nama gue."
Marco tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat Haura dari kursi, membawanya dengan langkah pasti menuju kamar tamu di belakang. Begitu pintu tertutup, Marco langsung menekan Haura ke pintu kayu yang kokoh.
Ciuman itu tidak lagi lembut seperti kemarin. Kali ini, Marco menyerang dengan tuntutan yang membara. Lidahnya bertaut dengan lidah Haura, menciptakan suara basah yang memenuhi ruangan sempit itu. Haura merintih, tangannya mencengkeram kuat bahu Marco, membiarkan tubuhnya diambil alih sepenuhnya.
"Mmmhh... Marco, ahh..." desah Haura saat tangan Marco menyentuh titik paling sensitif di balik pakaiannya. Ia merasa dunianya meluap.
"Sebut nama gue, Ra," perintah Marco di sela napasnya yang memburu.
"Marco... ahhh, Marcoo, ya ampun... ahh!" suara Haura meninggi, sarat akan kenikmatan yang tak terbendung.
Marco melepaskan pakaian Haura dengan gerakan yang terburu-buru, tidak sabar untuk merasakan kehangatan kulit wanita itu. Di bawah temaram lampu, tubuh Haura tampak begitu sempurna, putih dan menggoda. Marco menelusuri setiap inci tubuh Haura dengan bibirnya, menciptakan jejak basah yang membuat Haura terus melengkungkan punggungnya, mengeluarkan desahan panjang yang merdu di tengah sunyinya ruko.
"Ahh... pelan-pelan... ahh... sayang..." pinta Haura, kepalanya menengadah dengan mata terpejam rapat.
"Gue nggak bisa pelan, Ra," desah Marco, suaranya kini terdengar berat dan sangat dalam. "Lo bikin gue gila."
Mereka bergerak di atas kasur sempit yang berderit pelan, mengikuti ritme gairah yang semakin lama semakin liar. Setiap sentuhan Marco adalah sebuah pernyataan kepemilikan yang mutlak. Haura tidak lagi memikirkan status, tidak memikirkan Anggun, atau kemarahan papanya. Yang ada hanyalah sensasi luar biasa yang disalurkan oleh pemuda di atasnya.
"Ahh... ahh... iya... di situ... ahh, Marco, lebih dalam... ahhh!" rintihan Haura terdengar makin menjadi-jadi, memenuhi setiap sudut kamar.
Marco memberikan semuanya—keringat yang menetes dari dahi mereka menyatu, napas yang saling memburu, dan gesekan tubuh yang panas. Di puncak kenikmatan, Haura mendekap Marco dengan sangat erat, kuku-kukunya mencengkeram kulit punggung pemuda itu.
"Ahh... ahhh... Marcoo... aku mau... ahhh!"
Suara desahan yang memuncak beradu dengan derit kasur yang semakin kencang. Saat mereka mencapai titik akhir, ruangan itu terasa seolah meledak oleh emosi dan gairah yang telah mereka tahan seharian.
Setelah semuanya mereda, mereka terbaring terengah-engah dalam pelukan satu sama lain. Hening kembali menyapa, namun kali ini terasa sangat berbeda. Ada kepuasan dan ikatan yang semakin dalam.
Marco mengusap rambut Haura dengan lembut, menatap wajah wanita itu yang tampak damai meski masih tersisa rona merah di pipinya. "Masih mau nyuruh gue pulang sekarang, Ra?"
Haura tersenyum tipis, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Marco. "Jangan pulang. Tetap di sini... sama aku."
Marco tersenyum penuh kemenangan, mengecup kening Haura dengan lembut. Di luar ruko, malam semakin larut, namun di dalam kamar itu, mereka berdua telah membuat janji tanpa kata bahwa malam ini hanyalah awal dari segalanya.
***
Pagi hari di ruko jastip menyambut dengan cahaya keemasan yang menembus sela-sela rolling door yang masih setengah terbuka. Kamar tamu lantai bawah menjadi saksi bisu betapa panasnya malam yang baru saja mereka lewati.
Haura keluar dari kamar mandi ruko dengan rambut basah yang dibalut handuk kecil. Ia mengenakan blus putih bersih dan rok pensil, berusaha sekuat tenaga mengembalikan image Ratu Jastip yang tegas. Begitu ia duduk di meja admin, jemarinya lincah membuka laptop untuk mengecek laporan pengiriman yang tertunda.
Tiba-tiba, denting pintu terbuka dan Emilia masuk dengan kantong plastik berisi kopi susu kesukaan mereka. Langkahnya terhenti saat melihat Haura dengan rambut yang masih lembap di jam sepagi ini. Matanya menyipit penuh selidik, menatap Haura dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan senyum yang sangat tidak bisa diartikan dengan baik.
"Abis 'sunah rosul' ya, Ra?" goda Emilia dengan nada yang sengaja dibuat keras.
Bruk!
Sebuah kotak tisu plastik melayang melintasi meja dan mendarat tepat di perut Emilia. Haura melotot tajam, wajahnya memanas hingga ke telinga.
"Berisik, Em! Aku lagi kerja!" desis Haura, suaranya berusaha tegas meski ada nada gugup yang tak bisa ia sembunyikan. "Jangan asal ngomong kalau nggak tahu apa-apa!"
Emilia tertawa terbahak-bahak sambil menaruh kopi susu di meja Haura. "Gue cuma nebak berdasarkan aroma bahagia di ruangan ini, Tante Bos. Lagian, lo dateng pagi banget, rambut basah, terus si Marco baru aja keluar dari kamar tamu dengan muka... yah, muka orang yang dapet 'bonus' semalam. Susah buat nggak mikir yang aneh-aneh, kan?"
Haura hanya bisa mendengus, kembali membenamkan wajahnya ke layar laptop agar tidak perlu menanggapi godaan sahabatnya itu. Namun, tepat saat itu, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama "Papa" terpampang jelas di sana.
Haura tertegun. Jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Ia melirik ke arah lorong belakang, memastikan Marco tidak sedang memperhatikan, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Pa?"
"Kamu di mana, Haura?!" Suara Anggara di seberang telepon meledak, penuh dengan nada otoritas yang membuat Haura merinding. "Sudah dua hari kamu nggak pulang! Maksud kamu apa? Masih marah soal yang Papa bilang dua hari lalu soal Anggun? Masih mau membangkang?!"
Haura menggigit bibir bawahnya. Kejadian dua hari lalu—saat papanya dengan kejam menyebutnya "gagal" sebagai wanita hanya karena ia melawan Anggun—masih meninggalkan luka menganga di hatinya.
"Aku sibuk, Pa," jawab Haura dengan nada datar, berusaha menyembunyikan getar suaranya. "Pesanan Eropa lagi banyak banget, jadi aku menginap di ruko supaya lebih efisien."
"Alasan!" Anggara mendengus. "Papa tidak peduli dengan jastip bodoh itu. Kamu harus ingat siapa kamu dan dari keluarga mana kamu berasal. Papa sudah dengar kabar kalau kamu terlalu dekat dengan asisten magang itu. Hentikan drama ini, Haura!"
Haura memejamkan mata erat-erat. Papanya tahu? Bagaimana bisa?
"Aku sibuk, Pa. Jadi aku menginap di sini," ulang Haura, kali ini dengan penekanan yang lebih dingin.
"Ya sudah," suara Anggara merendah, namun ancaman di dalamnya justru terasa jauh lebih berbahaya. "Nanti malam usahakan pulang. Papa mau bicara hal yang sangat serius sama kamu. Jangan sampai Papa yang menjemput kamu ke sana dengan cara yang tidak menyenangkan. Paham?"
Tut.
Panggilan terputus. Haura meletakkan ponselnya dengan tangan yang dingin.
"Siapa? Bokap lo?" tanya sebuah suara berat dari belakangnya.
Haura tersentak. Marco sudah berdiri di sana, hanya mengenakan kaos hitam dengan lengan digulung, memperlihatkan otot lengannya yang kencang. Ia baru saja keluar dari kamar tamu, tampak sangat segar dan... berbahaya.
Haura menoleh, menatap pria yang baru saja ia habiskan malam dengannya. "Iya. Dia suruh aku pulang nanti malam. Katanya mau bicara hal serius."
Marco berjalan mendekat, meletakkan tangannya di kursi Haura dan membungkuk hingga wajah mereka sangat dekat. Ia mengabaikan kehadiran Emilia yang sedang pura-pura sibuk menyusun barang.
"Hal serius apa?" tanya Marco, suaranya merendah, jemarinya bermain-main dengan helaian rambut basah Haura.
"Aku nggak tahu," bisik Haura, matanya menatap mata Marco dengan cemas. "Dia tahu soal kamu, Marco. Dia bilang kalau aku terlalu dekat sama asisten magang."
Marco tersenyum, sebuah senyum miring yang penuh dengan tantangan. Ia tidak terlihat takut sedikit pun, justru sebaliknya, dia terlihat sangat tenang. "Biarin dia tahu. Kalau dia mau bicara serius, biar dia bicara sama gue sekalian."
"Marco, jangan gila!" Haura mencengkeram pergelangan tangan Marco. "Papa itu bukan orang sembarangan. Dia bisa bikin kamu hancur kalau dia mau!"
"Gue sudah hancur sejak gue diusir dari rumah, Ra," bisik Marco, bibirnya kini nyaris menyentuh daun telinga Haura. "Satu-satunya yang bikin gue utuh sekarang cuma lo. Jadi kalau Papa lo mau ngambil lo dari gue, dia harus ngelangkahin mayat gue dulu."
Emilia yang sedari tadi menyimak hanya bisa memutar bola matanya, merasa seperti nyamuk di tengah adegan film romansa yang intens. "Duh, bisa nggak sih adegan dramanya ditaruh di luar ruko aja? Ini ruko tempat kerja, bukan studio sinetron!"
Haura melepaskan cengkeramannya, menarik napas dalam-dalam. "Aku harus pulang nanti malam, Marco. Kamu... kamu tetap di sini, ya? Aku nggak mau Papa lihat kamu."
Marco menatap Haura dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu bahwa kepulangan Haura nanti malam akan menjadi titik balik bagi hubungan mereka.
"Oke," jawab Marco akhirnya, namun jemarinya masih membelai pipi Haura dengan lembut. "Tapi kalau nanti malam Papa lo berani bikin lo nangis lagi, jangan ragu buat telepon gue. Gue bakal ada di depan pintu mansion lo sebelum lo sempat naruh ponsel."
Haura mengangguk lemah. Ia tahu, papanya tidak akan pernah mengerti dunianya, tidak akan pernah mengerti Marco, dan tidak akan pernah mengerti mengapa ia memilih pria ini. Namun, saat ia menatap mata Marco, Haura tahu bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja. Kepulangannya malam nanti bukan untuk menyerah, tapi untuk menegaskan siapa dirinya sebenarnya.
***
Ceritaku yang ini masuk kandidat di YAAW 2026 periode 1 gaess 😘😍 makasih buat yang udah ngikutin ceritanya dari mika Alvaro terus anak kembar mereka yang beda kepribadian itu 🫠😘
Buat yang belum baca wajib baca ya!!! Kali ini aku maksa. Jangan lupa mampir 😂🤣 ceritanya ringan nggak ada pelakor bertebaran karena aku sangat anti dengan orang ketiga. Bisa kalian lihat cerita ku yang lain🤣
semangattt