NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:49.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Ruangan itu masih terasa sesak saat sebuah rahasia besar hampir terlepas dari mulut Sintia. Tidak ada yang berani bergerak, semua mata nyaris melotot seolah memberi isyarat, tapi tidak dengan Adinda wanita itu jelas terkejut seolah penasaran dengan kata yang menggantung itu.

 “Hilang ingat…?” ulangnya pelan.

Adinda mengulang kata-kata itu, namun entah kenapa semua orang nyaris terdiam semua, seolah sedang menyimpan sesuatu yang hanya dia sendiri tidak tahu.

Sintia langsung menggeleng cepat. “Tidak… maksud Ibu, itu saat Arya hilang surat-surat mobilnya dulu, jadi jangan diambil hati ya."

“Hilang surat-surat mobil," sahutnya tapi menelisik.

"Iya," ucap Sintia sambil menganggukkan kepalanya cepat.

Adinda melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Kamar yang kini terasa, asing. Matanya menyapu setiap sudut, yang sudah berantakan, lemari terbuka begitu saja. Lanci berantakan beberapa barang yang sudah tidak ada di tempat.

Tapi anehnya yang ia rasakan sekarang bukan marah karena barang-barang melainkan ada suatu lain yang mengganggu pikirannya, dan ucapan Sintia barusan tidak hanya ia telan mentah-mentah.

Adinda terdiam sejenak namun getaran di hati tidak bisa ia hindari. Seolah ruangan ini menyimpan sesuatu yang pernah ia lupakan.

Tangannya perlahan menyentuh meja rias. Jari-jarinya bergetar, untuk sesaat… bayangan putih melintas di kepalanya.

Cahaya, putih ruang operasi di dalam mimpi itu dan suara alat monitor

Bip… bip… bip…

Deg.

Adinda terkejut ia menarik tangannya cepat napasnya mendadak tidak beraturan, saat bayangan itu mulai tersusun bagaikan kepingin puzzle yang sangat berantakan.

“Ada apa dengan mimpi itu,” gumamnya pelan.

Di luar kamar, Sintia mulai panik. Ia menarik lengan Arya dengan kasar.

“Kamu itu gimana sih!” bisiknya menahan emosi. “Harusnya dari tadi kamu jaga mulut Ibu! Sekarang lihat!”

Arya mengerutkan dahi. “Ibu juga kenapa bicara seperti itu?” balasnya pelan.

“Kalau Dinda sampai ingat semuanya…” suara Sintia melemah, tapi justru terdengar lebih menakutkan, “…kita semua habis.”

Arya mengernyit kan dahinya, dari dulu pria itu merasa bingung. "Kenapa harus habis sih Bu, kalau memang dia pernah lupa ingatan kita katakan saja, memangnya apa yang harus kita takutkan," sahut Arya heran.

Sintia terdiam kali ini ia benar-benar merasa terpojokkan, tidak ada yang tahu jika dulu dirinya sempat melakukan hal yang cukup besar hanya karena sesuatu yang tidak ia sukai hadir di dalam hidupnya.

"Ya meskipun begitu, pasti istrimu yang baperan itu akan menyalakan Ibu, karena tidak kasih tahu," ucapnya lagi. "Kaya tidak kenal istrimu saja, masalah kamar saja diperbesar sampai-sampai gak mau ngalah sama seorang bayi, padahal apa salahnya ngalah dikit," gerutunya seolah menyembunyikan sesuatu yang saat ini tengah ia tutupi.

Arya memejamkan matanya sejenak, seolah ingin menghilang dari permukaan bumi ini, karena ternyata berpoligami tidak sesederhana yang ia pikirkan.

"Sudah deh Bu, Arya pusing," keluhnya lalu pergi begitu saja.

Sementara di dalam kamar Adinda masih membereskan barang-barangnya ke tempat semula, meskipun sedang marah dan cemas akan bayangan mimpi itu, tapi tangannya tidak bisa diam.

Ia tidak suka dengan tempat yang kotor dan tidak nyaman maka dari itu sebisa mungkin kamarnya harus terlihat bersih dan rapi karena hanya satu ruangan ini yang benar-benar masih ia perjuangkan.

Adinda mulai menaruh kembali tumpukan baju ke dalam lemari akan tetapi di tengah-tengah kegiatan itu, ingatan mimpi semalam tidak benar-benar hilang.

Suara tangisan itu, kata-kata yang terdengar di dalam ruangan itu. "Selamatkan ibu atau bayinya."

"Kita selamatkan keduanya ibu dan bayinya."

Entah kenapa ucapan itu terus bergaung di dalam pikirannya, seolah menjadi isyarat yang masih belum ia pahami. Tapi semakin ia menolak, Semakin kuat bayangan itu datang.

“Tidak… tidak mungkin,” gumamnya cepat, seolah menolak pikirannya sendiri.

Adinda langsung memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mencengkeram meja hingga buku-buku jarinya memutih.

“Cukup…” bisiknya lirih.

Namun di saat yang sama satu wajah kecil tiba-tiba muncul di dalam benaknya, bayangan tubuh mungil itu, matanya yang jernih dan suara manja yang memanggilnya 'Mama'

Seketika mata Adinda terbuka, mulutnya bergetar pelan hanya untuk menyebut nama yang cukup indah itu.

“Alesia…”

Nama itu keluar begitu saja dan entah kenapa Ia tidak merasa itu kebetulan, Adinda mencoba untuk menggabungkan antara mimpi itu dengan sosok kecil yang tiba-tiba dekat dengannya di dalam waktu yang tepat.

"Tidak ini bukan kebetulan semata," gumam Adinda lalu tangannya dengan cepat mencari handphonenya seperti sedang ingin menghubungi seseorang.

"Naya, bisakah besok pagi kita bertemu," tulis Adinda dalam pesan itu.

🍀🍀🍀🍀🍀

Malam semakin larut, namun rumah itu tidak benar-benar tenang. Di kamar lain, Luna duduk dengan gelisah. Axel akhirnya tertidur, tapi pikirannya tidak bisa ikut tenang.

Ia menatap ke arah pintu tepatnya ke arah kamar utama, entah kenapa keinginannya begitu kuat untuk merebut posisi Adinda di dalam ruangan itu, karena ia merasa posisinya jauh lebih pantas dibandingkan dengan seorang istri yang tidak bisa memberikan keturunan.

Tatapannya semakin tajam rahangnya mulai mengeras.

“Aku tidak boleh kalah,” gumamnya pelan.

Sementara itu, di ruang tengah, Sintia duduk sendiri. Kepalanya tertunduk, tangannya saling menggenggam erat.

Untuk pertama kalinya. Ia merasa takut, bukan pada Adinda yang marah. Tapi pada sesuatu yang lebih besar.

Rahasia, yang selama ini ia pilih untuk diamkan, entah dasar apa yang membuatnya berani menyingkirkan semua itu dari kehidupan anak dan menantunya.

"Tidak aku tidak boleh takut dengan semua ini, anakku masih di dalam kendaliku, begitu juga dengan Adinda, dan sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan perempuan itu mendapat kebahagiaan," gumamnya seolah membenarkan perbuatannya sendiri.

🍀🍀🍀🍀🍀

Kembali ke dalam kamar, Adinda duduk di tepi ranjang, tatanya menatap kosong ke arah depan. Namun pikirannya berputar cepat.

Semua terasa tidak masuk akal, tapi juga… terlalu nyata untuk diabaikan. Perlahan, ia membuka laci meja kecil di samping ranjangnya.

Tangannya meraba-raba, seolah mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa. Tapi dari sekian banyaknya tempat ia tidak menemukan apa-apa.

Hingga akhirnya tanpa sengaja langkahnya berjalan ke sudut kamar, di sana ada pintu yang tersambung ke ruang kosong dan kecil, tepatnya sebuah gudang tempat barang-barang tidak terpakai.

Entah kenapa langkahnya seolah terdorong untuk menyusuri ruangan kecil dan pengap itu.

Tanpa ia sadari matanya tertuju pada laci kecil yang sudah sedikit kusam tangannya terulur begitu saja untuk membuka dan ....

Sret.

Sebuah benda kecil terselip di sudut laci, Adinda mengernyit perlahan ia mengambilnya.

Deg!

Sebuah gelang kecil berukuran bayi, napasnya langsung tertahan, tangannya gemetar saat menatap benda itu lama. Seolah mencoba mengingat sesuatu yang terkunci jauh di dalam dirinya.

“Apa ini…” bisiknya lirih.

Matanya mulai memanas, jantungnya berdetak semakin cepat dan di saat itu juga suara Alesia kembali terngiang, di telinga semakin jelas dan nyata.

“Mama…”

Gelang itu terjatuh dari tangannya, segera ia mengambil meskipun tangannya masih bergetar, bukan karena takut. Tapi karena ia mulai menyadari bahwa hidupnya, mungkin tidak pernah benar-benar seperti yang ia ingat.

Bersambung....

Pagi ... Semoga suka ya.

1
Sugiharti Rusli
semoga apa yang kamu perjuangkan sekarang tidak membuat kamu lupa jaga kesehatan yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
padahal toh status Adinda sekarang sudah jelas telah sendiri lagi,,,
Sugiharti Rusli
soalnya kalo Adinda pasti dia malu kalo harus menyatakan isi hati pada bosnya itu kan, nanti dikira dia perempuan gatal lagi
Sugiharti Rusli
apalagi belum ada POV dari dirinya tuh seperti apa perasaannya, apalagi sekarang sering bertemu Adinda saat mengunjungi Alesia,,,
Sugiharti Rusli
soalnya si Valen juga sepertinya pria kaku apa yah dia itu terhadap lawan jenis, terlihat dia jarang berinteraksi secara intens selama ini,,,
Sugiharti Rusli
padahal sudah mulai saling care yah satu sama lain, tapi masih berjarak aja mereka😊😊😊
Mundri Astuti
Arya masa kamu juga ngga mau tanggung jawab tuk anakmu yg sama adinda ...
Marini Suhendar
ayo..semangat arya rubah hidup mu jd lbh baik
Sugiharti Rusli
semoga meski Valen merasa insecure, mereka tetap bisa jadi saudara sih demi Alesia, meski tidak perlu akrab juga
Sugiharti Rusli
kalo Arya meski dia di mata Alesia hanya om yang dia pikir teman ayahnya, suatu saat pasti sangat dibutuhkan saat dia akan menikah dan perlu wali nikah kan,,,
Sugiharti Rusli
kalo Adinda sebagai ibu kandung ada potensi akan membersamainya bila Valen dan Adinda pada akhirnya menyadari perasaan masing" karena sering bersama
Sugiharti Rusli
Alesia mungkin sekarang belum paham status dirinya sekarang, tapi nanti seiring berjalan waktu dan pemikirannya kan tidak mungkin dia tidak menyadari jati dirinya yah
Sugiharti Rusli
meski baik Adinda dan Arya tidak membersamai putri mereka karena kondisi, tapi sepertinya darah memang lebih kental dari air,,,
Sugiharti Rusli
memang sih Valen patut merasa insecure meski dia ayah yang dikenal oleh Alesia sedari bayi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang ada Alesia yang meski secara hukum belum jadi ibunya, tapi secara biologis memang ibu kandungnya
Sugiharti Rusli
apalagi dia sekarang melihat mantan istrinya juga sudah mulai menata hidupnya lagi bersama orang yang lebih baik dari dirinya kan,,,
Sugiharti Rusli
bagus deh kalo pada akhirnya si Arya menyadari tanggung jawabnya terhadap istri dan anaknya sekarang,,,
Sugiharti Rusli
meski hal itu bikin Adinda dan Valen jadi salah tingkah sendiri sih😝😝😝
Sugiharti Rusli
Alesia seperti anak kecil pada umumnya yah, polos dan apa adanya yang ingin dia ucapkan,,,
Sugiharti Rusli
padahal kalo dipikir latar belakang Adinda yang juga seorang putri pengusaha, seharusnya dia ga bekerja sekeras itu sih,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!