Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Kevin duduk di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah keluarga nya. Mesin sudah lama dimatikan, tapi ia belum juga turun. Lampu-lampu taman rumah mewah itu memantul di kaca mobilnya, membuat bayangannya sendiri tampak terpecah-pecah. Seperti dirinya sekarang tak lagi utuh, tak lagi yakin pada apa yang ia inginkan.
Nama Laura terus berputar di kepalanya.
Cara gadis itu menatapnya tadi siang masih melekat jelas. Tatapan yang tidak lagi memohon. Tidak lagi penuh cinta. Bahkan tidak menyimpan kebencian yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah jijik dan itu jauh lebih menyakitkan daripada makian.
Kevin menghembuskan napas panjang, lalu meraih ponselnya. Ia tahu, ada satu orang yang harus ia hubungi malam ini. Satu-satunya orang yang sejak awal tahu dua sisi hidupnya.
Ponsel berdering.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
“Kevin?” suara Mita akhirnya terdengar, agak serak. “Kamu ke mana aja? Dari sore nggak ngabarin.”
Kevin menelan ludah. “Aku baru pulang.”
“Pulang dari mana?” tanya Mita, nada suaranya otomatis meninggi. Ia selalu peka jika Kevin mulai terdengar berbeda.
“Dari rumah tante Amara.”
Ada jeda.
“Hah?” Mita tertawa kecil, seolah menganggap itu lelucon. “Ngapain ke sana?”
Kevin tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke depan, ke jalanan yang lengang.
“Aku ketemu Laura.”
Hening.
Senyap di seberang sana begitu pekat, seolah napas Mita ikut tertahan.
“Laura…?” suara Mita akhirnya keluar, lebih pelan, lebih hati-hati.
“Iya,” jawab Kevin singkat.
“Dia ngapain di rumah tante kamu?” Mita bertanya cepat. “Dia kan...”
“Dia kerja di rumah sepupu aku, Gita,” potong Kevin. “Sebagai pembantu.”
Kali ini, tawa Mita terdengar jelas. Bukan tawa geli, melainkan tawa penuh ejekan.
“Kamu bercanda,” katanya. “Laura? Jadi pembantu?”
Kevin mengencangkan rahangnya. “Aku nggak bercanda.”
“Oh Tuhan…” Mita tertawa lagi. “Dunia memang lucu ya, Vin. Dulu dia sok paling bermartabat. Sekarang...”
“Cukup Mit,” Kevin memotong tajam.
Mita terdiam, menyadari perubahan nada Kevin.
“Kamu… masih mikirin dia?” tanya Mita pelan, tapi menusuk.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku nggak tahu.”
Jawaban jujur itu bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
“Yang aku tahu,” lanjut Kevin, “dia sengaja menghilang dariku. Pergi tanpa penjelasan. Dan sekarang aku tahu alasannya.”
“Alasannya apa?” Mita bertanya.
Kevin tersenyum miring. “Karena dia tahu.”
Mita membeku.
“Tahu… tentang kita?” suara Mita nyaris berbisik.
“Bukan cuma tentang kamu,” jawab Kevin dingin. “Tapi tentang semua kebohonganku.”
Mita menelan ludah. “Dia ngomong apa ke kamu?”
“Tidak banyak,” jawab Kevin. “Justru itu yang membuatku kesal.”
“Kesal?” Mita mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena dia tidak berteriak,” kata Kevin. “Tidak menangis. Tidak memohon. Dia memperlakukanku seperti… sampah yang tidak layak diingat.”
Di seberang sana, Mita terdiam cukup lama.
“Dan itu melukai ego kamu,” katanya akhirnya, datar.
Kevin tidak menyangkal.
“Kamu tahu,” lanjut Kevin, suaranya lebih rendah, “selama empat tahun aku bersamanya, dia selalu menunggu. Selalu percaya. Selalu memaafkan. Tapi hari ini… dia menepis tanganku seperti aku orang asing.”
Mita menarik napas dalam. “Kevin, jangan bilang ke aku kalau kamu mulai merasa bersalah sekarang.”
“Aku tidak bilang aku merasa bersalah,” sahut Kevin cepat.
“Aku hanya… tidak suka kehilangan kendali atas dirinya.”
Mita tertawa pendek. “Akhirnya kamu jujur.”
Kevin mengepalkan tangannya. “Kamu tahu yang lebih parah?”
“Apa?”
“Dia terlihat lebih kuat daripada yang aku ingat,” kata Kevin lirih. “Dan itu tidak seharusnya terjadi.”
“Kenapa tidak?” tanya Mita sinis. “Karena menurutmu, hidupnya harus hancur tanpamu?”
Kevin menutup mata.
“Mungkin,” katanya pelan.
Mita menghela napas panjang. “Kamu egois, Vin.”
“Kamu juga,” balas Kevin.
Mita tersenyum kecil di seberang sana, senyum yang tidak terlihat tapi terasa. “Lalu kamu mau apa sekarang?”
Kevin membuka mata, menatap bayangannya sendiri di kaca.
“Aku mau dia tahu,” katanya. “Aku mau dia tahu bahwa selama ini aku tidak pernah sendiri. Bahwa pengkhianatanku bukan kecelakaan. Tapi pilihan.”
“Kenapa?” Mita bertanya.
Kevin terdiam beberapa detik, lalu menjawab dengan suara yang jauh lebih dingin.
“Karena aku tidak mau dia merasa aku kehilangan segalanya,” katanya. “Kalau dia jatuh… aku ingin memastikan dia jatuh lebih dalam.”
Mita terdiam.
“Kamu yakin?” tanyanya pelan. “Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak bisa mundur.”
Kevin tersenyum tipis. “Aku tidak akan pernah mundur.”
Mita menghela napas. “Kamu tahu, dia sekarang tinggal di rumah keluarga besar. Banyak mata. Banyak rahasia.”
“Itu justru membuatnya menarik,” jawab Kevin. “Aku penasaran… sejauh apa dia bisa bertahan.”
Mita terdiam, lalu tertawa pelan.
“Kamu benar-benar kejam,” katanya. “Tapi aku tidak akan pura-pura suci.”
Kevin tahu arti tawa itu.
“Kalau begitu,” lanjut Mita, “kita mainkan dengan rapi. Jangan gegabah.”
Kevin mengangguk, meski Mita tak bisa melihatnya.
“Aku ingin tahu segalanya tentang hidupnya sekarang,” kata Kevin. “Siapa yang melindunginya. Siapa yang mulai peduli padanya.”
Mita teringat sesuatu. “Kamu bilang dia kerja di rumah sepupumu?”
“Iya.”
“Berarti… dirumah Mas Haikal?”
Nama itu membuat Kevin menyipitkan mata.
“Iya,” jawabnya. “Haikal.”
Mita tersenyum licik. “Menarik.”
“Apa maksudmu?”
“Bukankah waktu itu kamu pernah cerita kalau Mas Haikal itu bukan pria sembarangan,” kata Mita. “Kalau Laura berhasil membuatnya peduli… berarti Laura memang berubah.”
Kevin terdiam. Dadanya terasa panas, entah oleh cemburu atau sesuatu yang lebih gelap.
“Kalau Haikal melindunginya dan ikut terlibat,” kata Kevin akhirnya, “maka permainan ini akan jauh lebih besar.”
Mita tertawa pelan. “Dan kamu menyukainya.”
Kevin tidak menjawab.
Panggilan berakhir tak lama kemudian. Kevin menurunkan ponselnya perlahan. Di dalam mobil yang sunyi, hanya suara napasnya sendiri yang terdengar. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap langit malam.
Laura.
Gadis yang dulu ia hancurkan dengan pengkhianatan.
Kini berdiri di dunia yang sama sekali baru dan tanpa ia sadari, bayangan masa lalunya kembali menjerat.
Kevin tersenyum tipis.
Permainan ini belum selesai.
Dan kali ini, tidak ada yang akan keluar tanpa luka.
****
Pagi itu udara di kediaman Haikal terasa berbeda.
Bukan karena cuaca, melainkan karena kehadiran seseorang yang selalu membawa serta bayangan tuntutan dan ekspektasi, yaitu Mama Haikal, Anggun.
Mobil sedan hitam berhenti tepat di halaman depan. Ratna yang sejak pagi sudah bersiap langsung bergegas membuka pintu. Wajahnya berubah sigap bahkan sedikit tegang. Ia tahu betul, setiap kali Mama Anggun datang, rumah ini tidak pernah benar-benar tenang.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Ratna sopan, sedikit membungkuk.
Anggun turun dari mobil dengan langkah mantap. Pakaian serba krem dengan potongan elegan membalut tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, kacamata hitam besar masih bertengger di wajahnya. Aura perempuan yang terbiasa mengendalikan keadaan terpancar kuat.
“Pagi,” jawabnya singkat. Tatapannya langsung menyapu seisi rumah, seolah menilai apa saja yang berubah sejak terakhir kali ia datang.
“Haikal sudah bangun?” tanyanya.
“Sudah, Nyonya. Tuan sedang di ruang makan.”
Anggun mengangguk kecil lalu melangkah masuk. Namun langkahnya terhenti sesaat ketika ia menyadari satu hal.
"Siapa nama kamu?."
"Ratna, nyonya."
“Ratna,” katanya sambil menoleh, “di mana pembantu satunya lagi?”
Ratna sedikit terkejut, lalu menjawab cepat, “Maksud Nyonya… Laura?”
Mama Anggun menaikkan alis. “Jadi benar Haikal sekarang punya dua pembantu.”
“Iya, Nyonya. Tapi Laura tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Tugasnya hanya melayani kebutuhan Tuan Haikal.”
Kening Mama Anggun berkerut tipis. Bukan marah, lebih seperti tidak suka. Ia tidak berkomentar, hanya mendengus pelan sebelum melanjutkan langkahnya.
Di ruang makan, Haikal sudah duduk rapi dengan kemeja kerja. Wajahnya datar seperti biasa, namun saat melihat ibunya masuk, ia langsung berdiri.
“Mama,” sapanya.
Mama Anggun menepuk bahu putranya singkat.
“Kamu kurus. Kerja terus, lupa jaga diri.”
Haikal hanya tersenyum tipis. “Mama juga kelihatan sehat.”
Mama Anggun duduk, Ratna sigap menyajikan teh hangat. Namun mata Mama Anggun kembali menyapu ruangan.
“Gita belum turun?” tanyanya.
Seolah dipanggil oleh namanya sendiri, Sagita muncul dari arah tangga. Wajahnya sudah dirias rapi, mengenakan gaun rumah yang elegan. Namun di balik senyum yang ia paksakan, ada rasa malas dan enggan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
“Mama,” sapa Sagita lembut sambil menghampiri dan mencium tangan mertuanya.
Mama Anggun membalas dengan senyum tipis. “Kamu makin kurus, Gita.”
Sagita tersenyum kaku. “Mungkin karena kerjaan, ma.”
“Perempuan itu tidak boleh terlalu sibuk,” balas Mama Anggun tanpa basa-basi. “Nanti lupa kodrat.”
Kalimat itu seperti jarum halus yang menusuk tepat ke dada Sagita. Ia duduk perlahan di samping Haikal, menunduk sedikit.
Sarapan berlangsung dengan suasana yang… formal. Ratna mondar-mandir, menyajikan hidangan. Laura, seperti biasa, tidak terlihat, karena ia merasa tidak enak badan. Dan ia sudah memberi tahu Haikal.
Mama Anggun memperhatikan itu.
“Kamu biarkan pembantumu bersembunyi di kamar saat ada tamu?” tanyanya kepada Haikal.
Haikal mengangkat wajahnya. “Laura memang tidak bertugas di area umum, Ma. Lagi pula dia lagi sakit.”
Mama Anggun menatap putranya tajam. “Itu pembantu atau asisten pribadi?”
Haikal tidak menjawab. Hanya menyeruput kopi.
Sagita bisa merasakan ketegangan itu. Ia tahu, setiap percakapan dengan Mama Anggun tidak pernah berhenti di permukaan. Dan benar saja topik yang ia takuti akhirnya muncul.
“Gita,” Mama Anggun membuka suara sambil meletakkan cangkirnya.
“Mama mau bicara serius.”
Sagita menegakkan punggungnya. “Iya, Ma.”
“Kalian sudah menikah empat tahun,” lanjut Mama Anggun. “Mama tidak melihat tanda-tanda akan ada cucu.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
Ratna menahan napas. Haikal menunduk. Sagita mengepalkan jarinya di bawah meja.
“Mama bukan mau menyalahkan,” kata Mama Anggun dengan nada yang terdengar tenang, namun penuh tekanan. “Tapi usia kamu dan Haikal tidak muda lagi. Kalau perlu, Mama bisa carikan dokter kandungan terbaik. Bahkan kalau harus ke luar negeri.”
Sagita tersenyum, senyum yang terasa seperti topeng. “Terima kasih, Ma.”
Mama Anggun mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kamu sudah periksa, kan?, sehat kan, gak ada masalah kan?”
Sagita menoleh sekilas ke Haikal. Ia ingin sekali berkata yang sebenarnya. Bahwa selama empat tahun, ia hidup dalam pernikahan tanpa sentuhan. Bahwa ia merasa lebih seperti teman serumah daripada istri.
Bahwa masalahnya bukan rahimnya.
Tapi lidahnya kelu.
“Sudah, Ma,” jawabnya akhirnya.
Mama Anggun mengangguk pelan. “Bagus. Jangan tunda. Perempuan yang baik itu menjaga keluarganya, dan melahirkan keturunan untuk menjadi penerus dimasa depan nya.”
Sagita menunduk. Di dalam hatinya, ada teriakan yang tak pernah keluar.
Bagaimana aku menjaga sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki?
Ia melirik Haikal. Suaminya itu tetap diam, seolah topik ini tidak menyentuhnya sama sekali. Tidak ada pembelaan. Tidak ada penjelasan.
Dan itu lebih menyakitkan daripada teguran Mama Anggun.
Mama Anggun berdiri. “Mama harap lain kali datang ke sini, Mama tidak lagi mendengar alasan.”
Haikal ikut berdiri. “Mama jangan khawatir.”
Mama Anggun menatap putranya lama. “Mama percaya sama kamu. Dari dulu kamu selalu nurut.”
Kalimat itu membuat Sagita merinding.
Ia tahu betul artinya, jika Mama Anggun sampai tahu kebenaran, ia tidak tahu siapa yang akan dikorbankan.
Mama Anggun melangkah pergi, Ratna mengantarnya sampai pintu.
Begitu pintu tertutup, Sagita masih duduk diam. Dadanya terasa sesak.
“Haikal,” katanya pelan.
Haikal berdiri, merapikan jasnya. “Aku harus berangkat ke kantor.”
Sagita menatapnya, ingin berkata banyak hal, terlalu banyak. Tapi Haikal sudah melangkah pergi.
Ia ditinggal lagi.
Ratna kembali ke ruang makan, memperhatikan Sagita yang menunduk.
“Nyonya,” kata Ratna hati-hati, “Nyonya tidak apa-apa?”
Sagita mengangkat wajahnya. Senyum pahit terbit di bibirnya. “Bi Ratna… apa aku benar-benar istri yang gagal?”
Ratna terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara.
Di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup, Laura mendengar sebagian percakapan itu. Ia bersandar pada pintu, wajahnya tenang tanpa ekspresi.
Di dalam kepalanya, satu kesimpulan terbentuk jelas,
Retakan itu sudah ada jauh sebelum aku datang.
Dan ia tahu…
tinggal menunggu waktu sebelum semuanya runtuh.