Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 32 : Balik ke dunia Nyata
*Ep 32 : BALIK KE DUNIA NYATA*
Jam 12:30 malam. Hotel. Lobby sepi
Mobil travel berhenti pelan di depan hotel. Nggak kena macet dalam kota karena tengah malam. Jalanan cukup sepi hanya kendaraan besar yang lalu lalang, lampu jalan berkedip kuning.
Semua turun dengan muka kusut, ngantuk, tapi hati puas. Badan capek, tapi nggak ada yang ngeluh.
Zaki dan Indry pisah kamar.
Karna cuma untuk istirahat sebentar saja, mereka cuma pesan 2 kamar yang kasur bawah biar bisa rame-rame.
Kamar cowo dan kamar cewe.
Penerbangan jam 9 pagi, jadi nggak perlu mewah-mewah.
Kamar 301 buat cewe: Indry, Mama Zaki, Carel, Meta.
Kamar 302 buat cowo: Zaki, Paman Marsono, Pak Haji Ustman, Paul, Ogah, Mr Bule, Mauba
Sebelum naik, Pak Haji Ustman kumpul semua di lobby.
“semua, besok bangun jam 5. Jangan kesiangan. Sholat subuh dulu baru beres-beres.”
“Siap, Pak Ustadz!” jawab kompak.
Di kamar cewe, chaos kecil langsung mulai.
Meta lempar koper. “Gue capek banget! Tapi bahagia!” tidur
Carel langsung rebah di kasur. “Jangan ganggu gue 5 menit.”
Mama Zaki duduk di pinggir kasur, ngelus punggung Indry. “Kamu kuat ya, Nak.”
Indry cuma angguk. Mata masih berkaca-kaca.
Di kamar cowo, nggak kalah rame.
Ogah langsung buka baju, tidur telentang. “Akhirnya! Kasur!”
Mr Bule buka HP, liat foto-foto seharian. “This is crazy. I love it.”
Paman Marsono duduk di kursi, ngopi dari termos. “Besok kita pisah, Nak. Jaga diri di Jakarta.”
Zaki cuma angguk. Pikiran masih di kampung.
Jam 1 pagi semua mati lampu.
Tapi di kamar cewe, Indry belum tidur. Dia megang cincin tunangan. Diputer-puter.
Meta yang pura-pura tidur buka mata. “Ngapain? Nggak bisa tidur ya, pengantin?”
Indry ketawa pelan. “Iya. Kayak mimpi.”
Meta: “Mimpi yang jadi nyata. Besok gue minta fotoin pas di pesawat. Gue mau upload story: ‘Saudara tunangan gue’.”
Indry cubit pelan. “Tidur!”
_Jam 4:30 pagi. Alarm berdering._
Semua bangun. Mandi. Ngumpul di satu ruang, Doa pagi. Dua keyakinan disatukan dalam satu Doa. Nambah tanda salib aja sebagian.
Kemas kemas, beres-beres, lipat baju, alat mandi.
Jam 6:30 semua udah siap di lobby. Rapi. Wajah masih ngantuk tapi semangat.
Sarapan udah siap di pantry Hotel. Nasi kuning. Nasi goreng. bubur ayam. sate.
“Ini baru keluarga,” kata Paman Marsono sambil suap nasi.
Meta sambil makan masih sempat dandanin alis. “Nanti di bandara ketemu orang banyak. Harus cantik!”
Jam 7:15 mobil travel datang.
Koper diangkut. 12 orang, 15 koper, 3 kardus oleh-oleh.
Supirnya geleng-geleng. “Keluarga apa rombongan pindahan, Pak?”
Pak Haji Ustman ketawa. “Keluarga besar, Pak. Doain lancar ya.”
_Jam 7:40 pagi. Bandara Supadio._
Suasana bandara rame. Orang pulang kampung, orang balik kerja.
Mereka cari kursi yang bisa rame. Nemu di pojokan dekat gate 3.
Kursi panjang jadi tempat duduk melingkar. Koper jadi sandaran.
Nunggu sambil ngobrol.
Kesan-kesan selama pulang kampung keluar satu-satu.
Meta paling ribut. Seperti biasa.
“Gue nggak nyangka kampungnya sebagus itu! Sungai jernih, bintang banyak, orangnya baik! Gue mau tinggal di sana! Alex, kita pindah ya!”
Mr Bule cuma angguk. “Yes babe. Where you go, I go.”
Padahal dia nggak ngerti 70% yang Meta omongin.
Mr Bule exited cerita padahal pendengar angguk-angguk kagak ngarti.
“The food! The chicken! So spicy! And the dance! I try to dance, but my body not working!”
Ogah terjemahin: “Dia bilang ayamnya enak, tariannya susah.”
Semua ketawa.
Pak Ustadz salut dengan adab di kampung.
“Di kampung itu, semua sopan. Anak kecil salim ke orang tua. Yang muda bantu yang tua. Nggak ada yang cuek. Gotong-royong yang udah jarang di kota. Semua orang terlibat, tau porsi masing-masing. Di Karawaci, tetangga sebelah aja nggak kenal, ya kan Meta? Di Tegal pun mulai begitu.”
Mama Zaki angguk. “Iya, Pak Haji. Di sana masih kompak.”
Ibu bangga sama Indry dan keluarga.
“Indry, Ibu salut sama kamu. 15 tahun jaga adik-adik sendirian. Sekarang kamu nggak sendirian lagi. Ibu senang liat kamu bahagia.”
Indry peluk Ibu. “Makasih, bu.”
Paman Marsono juga ngomong.
“Rasanya sungguh nyaman kalau tinggal di Kalimantan yang masih asri. Udara bersih, orang ramah. Kalau pensiun nanti, Paman mau buka kebun di sana.”
Zaki ketawa. “Boleh, Paman. Nanti saya yang jaga kebunnya.”
Indry berterima kasih pada semua.
“Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Paman. Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih, semuanya. Tanpa kalian, aku nggak kuat. Sekarang aku punya keluarga besar lagi.”
Carel peluk Indry. “Kita keluarga, Kak. Selamanya.”
Obrolan nggak terasa. Tiba-tiba announcement berbunyi.
“Passengers for flight GA 210 to Jakarta Soekarno-Hatta, please proceed to gate 3.”
“Passengers for flight JT 610 to Tegal, please proceed to gate 5.”
Waktunya pisah.
Ibu, Pak Ustadz, Paman Marsono pulang ke Tegal.
Mereka peluk satu-satu.
Ibu peluk Indry lama. “Jaga diri ya, Nak. Jangan lupa kabarin.”
Pak Haji Ustman jabat tangan Zaki. “Jaga keluarga, Nak. Jaga amanah.”
Paman Marsono tepuk bahu Zaki. “Kapan-kapan main ke Tegal. Paman masakin mie ongklok.”
Yang lain pesawat ke Soekarno-Hatta.
Zaki, Indry, Carel, Paul, Mauba, Ogah, Meta, Mr Bule.
Pelukan terakhir di gate 3.
“Jaga diri di Jakarta ya!”
“Iya! Nanti ketemuan lagi!”
_Di dalam pesawat ke Jakarta._
Indry duduk di samping Zaki.
Pesawat lepas landas. Kampung Bisomu hilang di balik awan.
Indry sandarkan kepala di bahu Zaki.
“Capek ya?” tanya Zaki.
Indry angguk. “Tapi nggak mau pulang.”
Zaki genggam tangan Indry. “Nanti kita balik lagi. Bawa nama kita berdua.”
Di belakang, Meta udah update story.
Foto Zaki-Indry pegang cincin. Caption: “RESMI TUNANGAN! SAUDARA GUE NIKAH TAHUN INI! DOAIN YA GAES!”
Komentar masuk 200 dalam 10 menit.
Mr Bule tidur di samping Meta. Capek. Tapi senyum.
Ogah dengerin musik pakai headset. Muka masih merah karena nangis tadi.
Carel, Paul, Mauba ngobrol pelan. Bahas kerjaan, bahas kos, bahas kapan ketemuan lagi.
Pesawat terbang 1 jam 13 menit.
Tapi rasanya cepat. Karena nggak ada yang mau pisah.
_Jam 11:30 siang. Soekarno-Hatta._
Landing.
Mereka keluar bareng. Tapi bentar lagi pisah lagi.
Carel, Paul, balik ke tempat kerja masing-masing karena harus balik kerja secepatnya.
Zaki dan Indry, Mauba, dan Ogah ke Rumah Berkat Karawaci.
Meta dan Mr Bule ke Apartemen.
Sebelum pisah, mereka foto bareng di depan pintu keluar.
“Foto terakhir sebagai rombongan!” kata Meta.
Semua berjejer. Angkat jempol.
“RESMI TUNANGAN!” teriak Meta.
Orang-orang sekitar noleh. Malu-maluin.
Zaki peluk Indry pelan.
“Besok siap lagi ya. Kita urus dokumen nikah.”
Indry angguk. “Iya. Semangat, calon suami.”
Zaki kecup kening Indry. “Semangat, calon istri.”
Mobil pisah arah.
Carel lambaikan tangan dari jendela taksi online.
“Jangan lupa traktir!”
Indry ketawa. “Iya!”
Di mobil, Indry diem.
Zaki liat. “Kenapa?”
Indry: “Rasanya… kosong. 4 hari rame, sekarang sepi lagi.”
Zaki pegang tangan Indry.
“Nggak sepi. Kita ada.”
Indry angguk. “Iya. Kita ada.”
Di belakang Mauba dan Ogah berasa ngontrak liat pasangan bucin ini sepanjang jalan.. jadi bobo aja lagi mereka.
Mobil travel berhenti di pinggir jalan.
"Stop bentar! Laper!" teriak Ogah.
Akhirnya semua mampir ke Sate Maranggi Cianjur. Duduk lesehan, makan pakai tangan. Bau sate bakar, sambal oncom, lalapan.
Zaki pesenin Indry es teh manis. "Biar nggak seret."
Indry ketawa. "Aku udah gede, Zak."
Mereka makan dengan sukacita. Nggak lupa Doa lintas Agama dulu.
_Malamnya. Rumah Berkat Karawaci._
"Koper taruh di ruang tamu aja ya. Kita istirahat dulu," kata Indry.
Semua udah kenyang dari sate maranggi tadi, jadi nggak ada yang minta makan lagi.
"Cuma mau mandi sama tidur," gumam Ogah sambil ngeloyor ke kamar atas.
Zaki dan Indry masuk kamar.
Pintu ditutup. Hening.
Lama banget perjalanan, tapi otak mereka masih di kampung.
Indry duduk di pinggir kasur. Liat cincin di jari.
"Aku berasa mimpi masih nggak percaya," bisiknya.
Zaki duduk di sampingnya. Pegang tangan Indry pelan.
"Cincinnya nggak bohong," jawabnya.
Mereka diem. Saling pandang.
Rasanya aneh. Statusnya udah beda. Nggak pacaran lagi. Nggak cuma 'teman dekat'.
Sekarang: TUNANGAN
Zaki angkat tangan Indry, kecup punggung tangan itu pelan.
"15 tahun nunggu momen ini."
Indry ketawa kecil. "Lebay."
Tapi dia nggak lepas tangan.
Ciuman jatuh. Pelan. Hangat.
Kayak mau nyimpen semua rasa 4 hari di kampung biar nggak hilang.
Nafas mereka makin dekat, dahi nempel dahi.
"Zaki..." bisik Indry pelan.
"Iya sayang," jawab Zaki, suaranya serak.
Tangan Zaki usap punggung Indry, hati-hati. Nggak lebih.
"Nanti kebablasan," bisiknya. "Tahan sampai halal ya."
Indry angguk. Pipinya merah.
"aku juga nggak kuat kalau kamu makin nakal," katanya sambil nyubit pelan.
Zaki ketawa. "Oke, oke. Janji tahan."
Mereka ngobrol sambil masih pegangan tangan.
"Tanggalnya mau kapan?"
"Usahain Desember. Biar pas libur panjang. Keluarga bisa datang semua."
"Tempatnya di gereja Karawaci aja ya? Resepsi di Tegal."
Obrolan serius, tapi diselingi ketawa kecil. Sesekali Zaki nyuri kecup kening. Indry balas cubit.
"Jangan ganggu. Lagi ngitung budget."
"Budget penting. Tapi kamu lebih penting," jawab Zaki sambil senyum nakal.
Zaki buka album foto di HP. Foto di sungai, foto di dapur, foto di teras.
Dia simpan foto Indry pake sarung basah ke folder khusus: “Istri.”
"Cute," bisiknya.
Indry lempar bantal pelan. "Udah tidur! Besok kerja!"
Lampu dimatikan.
Mereka tidur pelukan, nggak lebih.
Karena tunangan itu baru awal.
Yang panjangnya, seumur hidup.
Di luar kamar, Ogah dan Mauba nongkrong di teras.
Laptop dibuka. HP di tangan.
Group OTW Kalbar rame banget. Foto-foto belum berhenti masuk.
Meta upload video dia goyang heboh. Caption: "INI GW MALEM TUNANGAN SAUDARA GUE!! MALUIN!!!"
Kakek Rahmat balas voice note. "Bagus Nak. Jaga adab."
Ogah ketawa ngak. "Kakek liat semua, ka ZaMet!"
Mauba buka galeri.
"Lihat nih, Ga. Foto kita di sungai. Kangen nggak?"
Ogah ngangguk pelan. "Kangen banget. Kayak mimpi 4 hari."
Mereka diem sebentar.
"Besok abang balik Malang ya," kata Mauba.
Ogah angguk. "Iya bang. Aku bakalan kangen abang. Hhhmmmmmm.....hati masih di sana."
Di group, Pak Haji Ustman kirim pesan panjang.
"Anak-anak, terima kasih sudah jaga adab. Kampung itu berkah. Jaga silaturahmi. Besok video call lagi ya."
Carel balas stiker nangis.
Paul kirim foto: "Ini oleh-oleh kue guni buat kos. Nanti kita makan bareng."
Zaki buka pintu kamar pelan. Liat Ogah dan Mauba di teras.
"Belum tidur?"
Ogah geleng. "Nggak bisa tidur, Kak. Kangen."
Zaki duduk di sebelah mereka.
"Nanti kita balik lagi. Kita cari waktu biar bisa lamaan di kampung. Makasih ya dek kalian udah terima Kak Zaki di sini."
Mauba senyum. "Amin, Kak. Kami doain semua lancar-lancar."
Ogah, "Kak, aku pengen dong ke Tegal. Rindu ibu... 😭" mewek lagi....
Zaki belai kepala Ogah....."Iya pasti. Kapan pun kamu libur kamu boleh pulang ke rumah."
Ogah peluk kak Zaki nya... sekarang selain Kak Indry, Kak Zaki manusia favoritnya 😍 Idolanya 😎
Jam 11 malam.
Ogah dan Mauba baru masuk kamar. Ogah capek nangis kangen. Udah SMA tapi tetap bocil di mata kakak-kakaknya.
Di kamar, Zaki dan Indry masih ngobrol pelan.
"Besok kita ke KUA ya? Tanya syaratnya."
"Iya. Kamu jangan lupa bawa KTP."
"Siap, calon istri."
Obrolan makin santai, makin ngalor-ngidul.
Zaki nyender di sandaran kasur, narik Indry duduk lebih dekat. Nepuk bahu kanannya.
"Sini sayang, dada aku buat kamu lepas lelah sekarang. Jujur ya… 4 hari itu rasanya kayak nahan napas," bisiknya.
Indry angkat alis. "Nahan napas gimana?"
"Nahan biar nggak kebablasan sayang-sayang di depan keluarga," jawab Zaki sambil nyengir nakal.
Indry ketawa kecil, cubit pelan lengannya. "Dasar nggak sabaran."
Zaki pegang tangan Indry, mainin cincin tunangannya pelan-pelan.
"Ini barang kecil, tapi rasanya berat banget ya," katanya.
"Berat gimana?"
"Berat tanggung jawabnya. Berat karena akhirnya kamu bener-bener jadi milik aku… secara resmi."
Indry diem. Pipinya merah.
"Lebay," gumamnya, tapi nggak lepasin tangan.
Zaki mendekat, dahi nempel dahi.
"Jadi mulai sekarang, kalau kangen… boleh minta jatah pelukan kan?"
Indry dorong pelan dadanya. "iisshhh kamu ihhh... Jatah pelukan doang ya. Jangan lebih."
Zaki ketawa pelan. "Iya, iya. Janji. Pelukan dulu. Sisanya… nanti setelah halal."
Ciuman singkat mendarat di kening. Hangat. Cukup bikin jantung Indry nggak beraturan.
Tangan Zaki sempet mampir ke pinggang, tapi langsung dia tarik balik.
"Nanti kebablasan," bisiknya. "Tahan ya, Sayang."
Indry lempar bantal pelan. "Udah tidur! Besok kerja!"
Zaki ketawa, rebah di sampingnya.
"Siap, calon istri."
Lampu dimatikan.
Tapi di hati mereka, masih terang.
Karena tunangan itu baru awal.
Yang panjangnya, seumur hidup.
Tidur pelukan gak pake mesum.
Di luar, Jakarta masih bising.
Tapi di hati mereka, tenang.
Bahagia. Tuhan Tau