Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Ayo, Kak, kita berangkat sekarang! Lulu ingin cepat-cepat sembuh supaya bisa melihat wajah Kakak," seru Lulu antusias sembari memeluk erat lengan Yudha.
"Iya, tenang saja. Kakak pasti membawamu menemui orang sakti itu dan memastikan dia menyembuhkanmu, oke?" sahut Yudha lembut.
Di sisi lain, Yasmin hanya berdiri diam menyaksikan interaksi mereka. Ada secercah rasa iri yang tiba-tiba menyusup di hatinya melihat perlakuan Yudha pada Lulu. Ia berharap Yudha bisa bersikap selembut itu padanya—alangkah indahnya jika itu terjadi! Sayangnya, kesalahpahaman di masa lalu menciptakan jarak yang masih terasa hingga kini. Mungkin butuh waktu lama baginya untuk meruntuhkan tembok itu. Dengan helaan napas panjang, Yasmin menatap Yudha dengan emosi yang berkecamuk. Dulu, pemuda ini adalah miliknya, tapi mengapa ia begitu bodoh hingga melepaskan takdirnya sendiri? Menoleh ke belakang, keputusannya dulu terasa begitu konyol. Ia telah membiarkan cinta yang tulus tergelincir dari jemarinya.
Yudha sama sekali tidak menyadari kecamuk pikiran Yasmin. Setelah berpamitan, Yudha membawa Lulu menuju kaki Gunung Arjuno untuk mencari sumber keajaiban yang ia tuju. Setelah memarkir mobilnya di pos penjagaan kawasan wisata, Yudha membawa Lulu mulai mendaki. Karena Lulu kesulitan berjalan di medan yang tidak rata, Yudha memutuskan untuk menggendongnya di punggung.
Beberapa kali Lulu merasa ketakutan karena jalur yang terjal, dan ia merasa tidak tega melihat Yudha kelelahan. Lulu bersikeras ingin turun dan berjalan sendiri, namun Yudha menolak dengan tegas. Begitu memasuki area lembah yang tersembunyi, Yudha mendapati sebuah gubuk yang tampak sunyi. Ia sempat tersentak; jangan-jangan orang aneh itu sedang pergi keluar?
Tepat saat itu, terdengar keributan besar dari arah luar. Yudha bergegas keluar dan terkejut melihat seorang pemuda berpakaian seperti dukun muda atau petapa sedang dikejar-kejar dan dipukuli oleh beberapa pria paruh baya berpakaian petani. Melihat penampilan si petapa muda yang acak-adakan, Yudha benar-benar melongo. Jangan-jangan orang ini tertangkap basah sedang mencuri ayam warga?
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Yudha segera maju untuk menengahi perkelahian itu.
Fajri, si petapa muda itu, tampak girang melihat kedatangan Yudha. Ia langsung bersembunyi di balik punggung Yudha, tampak ciut menghadapi kemarahan para petani tersebut.
"Bapak-bapak, ada apa ini? Kenapa kalian memukulinya?" tanya Yudha dengan senyum yang dipaksakan.
Para petani itu mendengus gusar. "Kamu tidak tahu betapa nakalnya orang ini! Dia berkali-kali datang ke peternakan kami cuma untuk mencuri ayam. Kamu tahu tidak betapa susahnya membesarkan ayam-ayam itu? Eh, malah dia makan begitu saja. Benar-benar keterlaluan! Tidak bisa, hari ini saya harus memberi dia pelajaran!"
Yudha merasa merinding mendengar penjelasan itu. Ia menatap tajam ke arah Fajri. Bukankah dia ini seorang praktisi ilmu kebatinan? Sejak kapan dia belajar mencuri ayam? Namun, melihat ekspresi Fajri, pemuda itu sama sekali tidak tampak malu. Yudha menggelengkan kepala dan berbisik, "Kamu ini! Kalau butuh ayam, beli saja kenapa? Kenapa harus mencuri?"
"Hehe! Aku sudah terlalu lama mendekam di gunung ini, lidahku rasanya hambar sekali. Ditambah lagi, kamu sudah lama tidak menjengukku, aku harus bagaimana lagi?" jawab Fajri tanpa dosa.
Yudha tidak bisa berkata-kata lagi, namun ia harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu agar tidak terus-menerus dikerumuni massa. Ia menatap para petani dengan senyum meminta maaf. "Begini saja, Bapak-bapak, berapa total kerugian yang harus saya ganti? Biar saya yang bayar."
Mendengar itu, Fajri yang berdiri di belakang Yudha bersorak senang. Ia menepuk bahu Yudha dengan akrab. "Kamu memang yang terbaik! Kamu benar-benar teman sejati."
Raut wajah para petani mulai melunak setelah mendengar tawaran Yudha. Salah satu dari mereka mendengus dan berkata, "Karena kamu yang mau menggantinya, hitung saja semua kerugian kami selama beberapa bulan terakhir. Semuanya jadi 2 juta rupiah."
Yudha mengangguk. Tentu saja jumlah itu bukan masalah baginya. Ia mengeluarkan uang 5 juta rupiah dari dompetnya dan menyerahkannya kepada para petani. "Anggap saja ini sekalian untuk kompensasi kerugian di masa depan. Kalau ada ayam yang hilang lagi nanti, biarkan saja."
Para petani itu kegirangan; uang memang bisa melunakkan segalanya! Wajah mereka mendadak cerah penuh senyum. Mereka bahkan bilang Fajri boleh makan ayam mereka sebanyak yang ia mau, dan mereka berjanji akan mengirimkan beberapa ekor lagi nanti.
Setelah para petani pergi, Yudha menatap Fajri yang masih belum menunjukkan rasa malu sedikit pun. "Kenapa kamu harus mencuri ayam mereka? Apa begini kelakuan orang berilmu?" tanya Yudha pasrah.
Fajri menggeleng santai, melakukan gestur seolah sedang meditasi. "Pernahkah kamu mendengar pepatah, 'Daging masuk ke perut, tapi iman tetap di hati'? Lagipula, aku bukan petapa sungguhan."
Yudha hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu langsung ke inti masalah. "Aku ke sini karena ada perlu. Selain meracik obat, apa kamu bisa mengobati mata orang?" tanya Yudha cemas.
Fajri menatap Yudha dengan sedikit terkejut sebelum akhirnya mengangguk. "Dalam ilmu pengobatan, semuanya saling berkaitan. Selama aku bisa memeriksa pasien dan menemukan akar masalahnya, aku bisa mengobatinya di bagian mana pun."
Mendengar itu, Yudha merasa beban berat terangkat dari pundaknya. Selama bisa disembuhkan, itu sudah cukup. Yudha segera menuntun Fajri masuk ke dalam gubuk.
"Ini orangnya!" Yudha menunjuk Lulu yang duduk diam di dalam ruangan.
Fajri mengamati Lulu dengan saksama untuk beberapa saat, lalu ia menarik Yudha ke ruangan lain dengan ekspresi serius. "Sepertinya masalah matanya disebabkan oleh lonjakan aliran darah dan energi yang tersumbat di saraf optik saat dia masih kecil, mungkin karena luapan emosi yang terlalu hebat."
Melihat wajah Fajri yang mendadak sungguh-sungguh, Yudha segera bertanya, "Apa ada cara untuk menyembuhkannya?"
Fajri mengangguk pelan. "Memang agak sulit dan merepotkan, tapi bukan berarti tidak mungkin. Hanya saja, butuh usaha lebih untuk memulihkannya."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau butuh apa pun, bilang saja padaku, aku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk membantu," ujar Yudha dengan perasaan lega yang luar biasa setelah mendengar bahwa mata Lulu benar-benar bisa disembuhkan.
Fajri melirik Yudha sambil tersenyum tipis. "Tentu saja kamu harus membantu. Untuk mengembalikan penglihatannya, kita perlu membuang energi negatif yang menyumbat saraf optiknya. Selama bertahun-tahun, energi statis ini sudah menyebar ke seluruh lima jalur energi di tubuhnya. Kalau kamu tidak membawanya ke sini sekarang, dia mungkin tidak akan bertahan hidup lewat dari usia dua puluh sembilan tahun!"
Mendengar itu, Yudha tersentak hebat. Ia tidak menyangka kondisi Lulu ternyata seburuk itu. Ia merasa sangat beruntung; jika ia tidak membawa Lulu menemui petapa eksentrik ini, mungkin rahasia kelam tentang kesehatan gadis itu tidak akan pernah terungkap.