Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Tantrum
Dokter Lucky menjahit luka sabetan pisau yang dialami oleh satpam RS Bhayangkara. Memang kalau malam hari, tidak terlalu banyak satpam yang berjaga. Satpam yang terluka, tampak mengernyitkan dahinya saat merasakan nyeri meskipun sudah disuntik bius lokal.
"Dok Lucky, apakah orangnya itu bakalan meninggoy?" tanya Satpam itu.
"Kayaknya sih nggak sih. Otaknya melengse sih iya," jawab Dokter Lucky cuek.
"Dok ...."
"Biar dia tahu rasa. Xanax itu memang bikin tenang tapi bikin candu! Dan dia bodoh, main datang ke Bhayangkara!" ucap dokter Lucky lagi.
"Dok, kalau dia gegar otak, Dok Lucky bisa dipanggil Dok Daffa," ucap Suster Mini.
"Aku hadapi," jawab dokter Lucky kalem. "Biar tahu kan siapa yang ngawur awalnya."
Satpam dan Suster Mini saling berpandangan. Terlepas dokter Lucky dikenal sering seenaknya tapi dia tipe bertanggung jawab atas tugasnya. Dia juga dikenal sangat perhatian pada anak buahnya selama bisa di andalkan. Jangan harap dokter Lucky akan memberikan kredit pada koas atau residen jika tidak bisa menyelesaikan tugas.
Dokter Rahmat dan dokter Lucky dikenal dokter green flag yang bisa bertransformasi menjadi red flag jika berhubungan dengan nyawa seseorang. Apalagi jika semua ilmu tidak bisa diimplementasikan.
"Untuk sementara kamu harus pakai arm Sling sebelah kiri ya," ucap dokter Lucky ke Satpam yang sudah selesai dijahit dan diperban.
"Baik Dok."
***
Sementara itu di ruangan lainnya, dokter Juno dan dua orang koas serta perawat, memeriksa kondisi korban hantaman pispot stainless dokter Lucky. Hasil CT scan dan Rontgen ada memar di rahang serta memar di kepala.
"Gegar otak ringan, tulang pipi retak. Dok Lucky benar-benar kacau. Apa dia lupa kalau dia hobinya gym dan gelut?" gerutu dokter Juno.
"Setidaknya tidak sampai mokat sih," ucap dokter Santi.
"Memang kacau dah!" gumam dokter Juno.
"Bagaimana jika dokter Daffa tahu?" tanya dokter Santi.
"Yaaa mau gimana lagi?" jawab dokter Juno.
"Dok Juno. Aku sudah dapat identitasnya!" seru salah seorang suster.
"Siapa?"
"Namanya Randy Zainal. Anaknya pegawai departemen dalam negeri, Aldi Zainal. Aku sudah hubungi ayahnya."
"Lalu?" Dokter Juno menatap suster itu.
"Dia tidak mau mengakuinya. Dia bilang anaknya sudah diusir dari rumah karena bikin malu."
Semua orang saling berpandangan. Waduh!
***
Dokter Lucky memejamkan matanya sejenak usai mengurus beberapa kasus lagi. Dia memang merasa lelah malam ini. Apalagi tadi sudah dirusuhi oleh Kenzie. Dokter Lucky tersenyum sambil memejamkan matanya. Membayangkan putranya yang semakin menggemaskan.
Dia bersyukur punya istri Daisy yang meskipun putri Mafioso tapi dia sangat keibuan. Sungguh dokter Lucky tidak menduga jika Daisy bisa seperti itu. Sangat istri dan ibu idaman. Makanya dia heran ada pria yang begitu saja main selingkuh padahal istrinya sudah berkorban banyak.
Daisy ada sisa-sisa Stretch Mark di perutnya dan sempat membuatnya tidak nyaman tapi bagi dokter Lucky, itu art. Itu seni yang berarti. Daisy sudah berusaha menyingkirkan bekas-bekas Stretch Mark tapi masih ada bekasnya.
"Jeng Daisy, kan ketutup itu," ucapnya waktu itu.
"Tapi mas ... Aku kan tidak pede," jawab Daisy.
"Kamu itu cantik banget. Justru aku bangga karena bekas begini tidak ada artinya dibandingkan dengan semua kelebihan dari kamu," senyum dokter Lucky. "Kamu mau bersama aku. Kamu mau hamil Kenzie. Kamu tabah sama aku. Itu tidak sebanding hanya karena Stretch Mark."
Daisy langsung memeluk dokter Lucky. "Benarkah?"
"Benar. Apalagi kalau aku kasih ini." Dokter Lucky memberikan sebuah kotak kecil. "Aku dapat uang dari saham. Terus aku belikan ini buat kamu deh."
Daisy membuka kotak beludru itu dan matanya terbelalak. Sebuah kalung emas dengan liontin initial 'D' terdapat di sana.
"Cantik." Daisy mencium pipi dokter Lucky. "Banyak rejeki ya Papanya Kenzie."
"Lho, aku tidak pernah pelit sama kamu. Semakin kamu royal sama istri, rejeki pasti ada terus," jawab dokter Lucky.
"Benar." Daisy memeluk erat dokter Lucky. "Terima kasih. You make me happy."
"Happy wife, happy life, happy rejeki suami."
Daisy menarik tubuhnya. "Teori apa itu?"
"Teori semesta keluarga Buwono," jawab dokter Lucky serius.
Daisy tertawa kecil lalu mencium bibir suaminya. "Kamu itu suka asbun."
"Sini, aku pakaikan kalungnya." Dokter Lucky mengambil kalung itu dari koyaknya dan mengalungkan ke leher Daisy.
"Dokter Lucky?"
Dokter Lucky tergagap saat mendengar namanya dipanggil. Dia pun mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ya Allah, aku mimpi sudah di rumah," gumamnya. "Ada apa Sus Mini?"
"Mau kasih tahu. Kalau si Randy Zainal sudah sadar," jawab Suster Mini.
"Hah? Siapa? Pak Zainal? Merrrttua saya?" tanya dokter Lucky bingung. "Mertuaku namanya Vicenzo Mancini."
Suster Mini tidak bilang apa-apa tapi segera memberikan sebotol air mineral dingin. "Anda kurang Aqua Dok!"
"Kayaknya ya," gumam dokter Lucky sambil membuka botol air mineral yang sebelumnya ada tutup plastiknya.
"Dok, itu ambil dari film mana lagi?" tanya Suster Mini.
"Oh, film yang aku tonton sama Jeng Daisy. Judulnya OK Boss yang main Jojon sama Cahyono. Oh Jojon punya mertua namanya Zainal Abidin." Dokter Lucky menghabiskan minumnya.
"Asli Dok ... Jadul banget!" gerutu Suster Mini. "Ayo, Dok. Anda ke kamar Randy."
"Apakah dia gegar otak?" tanya dokter Lucky.
"Entahlah!" jawab Suster Mini dengan nada mengambang.
"Ish!" Keduanya pun menuju bilik tempat Randy terbaring.
Randy melihat dokter Lucky datang dan samar-samar dia mengingat pria yang memukulnya tadi.
"Kamu ... Yang memukul ... aku kan?" bisik Randy.
"Apakah otakmu sudah benar? Idiot kamu sudah pergi?" balas dokter Lucky judes. "Orang idiot mana yang nekad datang ke IGD minta Xanax? Oh aku lupa. Pemadat yang otaknya sudah rusak!"
Dokter Juno dan para suster di sana, hanya tersenyum simpul.
"Kamu ... aku butuh Xanax ...." Randy merasa frustasi karena kedua tangannya terikat di pinggiran besi tempat tidur.
"Oke. Dipukul pakai pispot stainless ternyata tidak ngefek. Bagaimana jika kepala kamu, aku hajar pakai tabung oksigen?"
Randy melongo.
***
Yuhuuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hikksss.....
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣