( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Akbar
17 Februari — Pagi Hari, Kerajaan Nightdoom.
Pagi-pagi sekali, kesibukan luar biasa telah menyelimuti area lapangan terbuka di wilayah Kerajaan Nightdoom. Hari ini adalah hari keberangkatan menuju Kekaisaran Dratora. Raja Rasdinand berdiri tegak di tengah lapangan dengan seragam kebesarannya yang gagah, dikawal ketat oleh beberapa pasukan khusus yang berbaris rapi.
Rasdinand menoleh, menatap Emily yang berdiri setia di sampingnya. Udara fajar itu terasa sangat sejuk dan menusuk tulang, hingga setiap kali Rasdinand mengembuskan napas, uap putih tampak mengepul keluar dari mulut dan hidungnya.
Dengan gerakan mantap, Rasdinand merogoh kantung kain di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah naga mainan kecil—mainan pemberian Vanetra yang berfungsi sebagai media transportasi mereka. Tanpa ragu, Rasdinand melemparkannya sejauh mungkin ke depan.
Perlahan tapi pasti, naga mainan itu mulai memancarkan cahaya remang-remang. Ukurannya kian membesar secara drastis seiring jarak lemparan yang menjauh.
Di belakang Rasdinand, Edelweiss yang mengenakan seragam Elite Guard-nya langsung memasang posisi siaga. Tangannya bertumpu pada gagang pedang, siap menarik bilah tajam itu kapan saja demi melindungi sang raja jika terjadi variabel acak yang tidak diinginkan. Sementara di belakang Emily, berdiri Raidou—seorang Elite Guard berkacamata yang senantiasa ditugaskan khusus untuk menjaga sang ratu.
BLAM!
Tepat saat naga itu sepenuhnya menyentuh tanah, wujudnya telah berubah total menjadi seekor naga raksasa yang hidup. Pendaratannya menciptakan getaran hebat yang mengguncang permukaan tanah di sekitar lapangan, membuat hewan-hewan tanah terkejut dan lari berhamburan.
Melihat naga transportasi mereka telah bangkit sepenuhnya, Rasdinand menatapnya dengan pandangan tajam, lalu melangkah mendekat secara perlahan. Edelweiss mengekor di belakang dengan langkah berhati-hati. Meskipun ia tahu naga ini adalah sekutu, dalam situasi dunia yang kacau seperti sekarang, lengah sedikit saja bisa berakibat fatal. Selalu ada persentase kecil dari variabel acak yang mengintai.
Namun bagi Edelweiss, meskipun ia tidak memiliki kekuatan sihir khusus, ia sangat percaya diri bahwa pedangnya masih sanggup menumbangkan makhluk apa pun yang berani mengancam keselamatan rajanya.
Begitu Rasdinand tiba tepat di depan monster reptil raksasa itu, sebuah pemandangan mengejutkan terjadi. Sang naga justru menutup kedua matanya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Rasdinand. Sayap abu-abunya yang kokoh dan awalnya terbuka lebar kini terlipat rapi, sebuah tanda penghormatan mutlak atas kehadiran sang Raja Nightdoom.
Rasdinand melirik punggung naga tersebut, lalu memberi isyarat kepada Emily, Edelweiss, dan Raidou. "Bersiaplah."
Mereka berempat akan berangkat ke Rapat Akbar untuk mewakili Nightdoom, membahas kelanjutan insiden langit serta memenuhi permintaan khusus dari sang Kaisar yang memimpin Dratora. Satu per satu dari mereka mulai menaiki punggung naga yang kokoh itu.
Sebenarnya, ada sedikit riak kekhawatiran di hati Rasdinand mengenai keamanan Nightdoom selama ia tinggal. Namun, ia menilai hal buruk berskala besar tidak akan terjadi. Lagipula, di Nightdoom saat ini masih ada Leoric—yang meskipun kondisi mentalnya sedang rapuh, namun kekuatan tempurnya tetap tidak bisa diremehkan. Ditambah lagi, ada Clarissa yang cukup cakap untuk mengatur pemerintahan sementara.
Belum lagi kehadiran Basten, dan Anastasya yang memegang pangkat sebagai wakil Elite Guard. Dengan kekuatan mereka yang bersiaga di sana, rasanya tidak akan ada faksi luar yang berani macam-macam untuk sementara waktu.
Rasdinand mengusap lembut kepala naga itu, memberikan isyarat bahwa seluruh penumpang telah siap.
ROOOAARRR!
Naga berkulit abu-abu gahar itu meraung keras, mengepakkan sayap lebarnya yang masif, lalu melesat membelah angkasa. Keberangkatan mereka diiringi oleh sorak-sorai penuh semangat dari para pasukan yang mengantar di lapangan bawah.
Di sisi lain Kerajaan Nightdoom, Anastasya telah sepenuhnya keluar dari ruang perawatan. Pagi itu, ia sudah berada di tempat pelatihan, mengayun-ayunkan pedangnya dengan fokus penuh demi mengembalikan dan memperkuat kondisi fisiknya.
Sementara itu, Leoric sedang diajak berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut Nightdoom oleh Clarissa. Tentu saja, dari kejauhan, ada Basten yang selalu mengawasi mereka dengan mata waspada.
Sedikit demi sedikit, Leoric mulai menampilkan ekspresi kehidupan di wajahnya. Sinar di matanya perlahan kembali—sebuah kabar yang sangat baik bagi Clarissa. Gadis pirang itu bahkan sempat membelikan satu cup es krim dari sebuah toko yang beruntung selamat dari bencana tanggal 7 kemarin.
Mereka berdua duduk di bangku taman, memakan es krim itu bersama secara bergantian. Itu adalah momen yang sangat hangat dan manis. Namun entah mengapa, Basten yang mengawasi dari kejauhan justru merasa hatinya mendadak "panas" di tengah hawa fajar yang sejuk ini.
‘...Entahlah, tapi kenapa aku malah iri ya? Tidak, tidak, tidak... Aku ini seorang Elite Guard yang harus siap kehilangan nyawa kapan saja. Berkeluarga sama sekali tidak cocok untukku,’ batin Basten, mencoba menepis rasa bergejolak di dadanya.
Basten menggelengkan kepala, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Leoric dan Clarissa yang masih asyik berbagi es krim, sementara di depan mereka, anak-anak kecil tampak berlarian dengan riang gembira bersama teman-temannya.
Jauh di angkasa, di tengah perjalanan kelompok Rasdinand menuju Dratora, Emily mendadak menangkap sesuatu. Di kejauhan, terhalang oleh kabut tebal yang menyelimuti langit, tampak sebuah siluet bayangan berukuran masif yang menyerupai seekor angsa raksasa.
Rasdinand sebenarnya langsung memasang sikap awas begitu melihat sosok itu. Namun, ia dengan tenang menepuk tangan Emily dan menyuruhnya untuk mengabaikan makhluk tersebut. Rasdinand mengklaim bahwa jika sosok misterius itu berniat menyerang, mereka pasti sudah disergap sedari tadi.
"Kau benar, tapi tetap saja... Semenjak insiden langit itu terjadi, manusia tidak benar-benar menjadi sosok penguasa di dunia ini lagi," kata Emily dengan tubuh yang sedikit gemetar karena ngeri.
Rasdinand menanggapi kalimat istrinya dengan intonasi yang sangat tenang namun penuh wibawa. "Kita sedari awal memang bukanlah penguasa dunia, Emily. Tetapi, eksistensi manusia tetap akan berdiri di atas makhluk-makhluk asing itu... Jangan takut, Sayang. Derajat kita jauh melebihi mereka. Kita sebagai manusia memiliki satu kelebihan mutlak: akal."
"...Kau benar, Sayang," jawab Emily. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih yakin dan percaya diri.
Perjalanan udara itu memakan waktu sekitar tiga jam. Berkat kecepatan naga gagah yang mereka tunggangi, sebuah struktur bangunan dengan tembok beton raksasa yang melingkar kokoh mulai terlihat sedikit demi sedikit di ufuk depan. Siluet agung itu menjadi penanda mutlak bahwa mereka telah tiba di pusat Kekaisaran Dratora.
Di dalam lingkungan tembok raksasa itu, terhampar ribuan bangunan yang rapi seperti perumahan warga, dengan sebuah istana utama yang berukuran sangat megah di tengah-tengahnya. Dan yang paling menakjubkan... di atas puncak istana utama, berdiri sebuah patung naga raksasa berwarna emas dengan detail perak pada bagian sisik-sisiknya. Ukuran patung itu benar-benar menegaskan betapa masifnya skala istana tersebut.
Mereka berempat terpukau. Terlebih ketika Rasdinand menyadari bahwa di pusat kekaisaran ini, tingkat kerusakannya sangatlah minim—hanya menyisakan sedikit bekas luka dari insiden langit kala itu. Faksi Dratora saat ini sedang dalam masa pemulihan, namun alih-alih terlihat seperti sedang memperbaiki keruntuhan, mereka justru terlihat seperti sedang melakukan renovasi mewah pada kerajaan mereka.
Naga perwakilan Nightdoom akhirnya mendarat dengan mulus di area landasan. Begitu kaki Rasdinand dan kelompoknya turun dari naga mainan Vanetra dan menapakkan kaki di tanah kekaisaran... atmosfer di sekitar mereka langsung berubah drastis. Hawanya terasa sangat berat dan penuh tekanan kekuasaan.
Mereka disambut dengan formal oleh barisan pasukan kekaisaran. Di antara barisan penyambutan itu, ada beberapa wajah familiar yang langsung dikenali Rasdinand, seperti Gul, Sakera, dan Yuna.
Tak lama, seorang pria dengan pangkat yang tampaknya jauh lebih tinggi berjalan mendekat. Ia berniat menyapa sekaligus mengantar rombongan Nightdoom menuju ruang rapat utama dari lapangan terbuka berlantai beton khusus tersebut.
"Salam hormat saya pada Kerajaan Nightdoom. Saya, sebagai salah seorang jenderal di sini, akan mengantar Anda menuju tempat rapat yang dimaksud. Tuan, mohon ikuti saya," ucap jenderal berambut putih tersebut dengan tegas. Sebuah cerutu tampak terselip di sudut mulutnya, mengepulkan asap tipis. Seragam penuh militer Dratoranya tampak sangat berwibawa.
Rasdinand menjawab sapaan sang jenderal yang diperkirakan berumur 50-an itu dengan tegas, lalu melangkah mengikutinya.
Di tengah perjalanan menyusuri koridor istana, Rasdinand sempat melirik ke luar jendela. Dari kejauhan, terlihat beberapa ekor naga dengan perawakan serupa tengah terbang rendah menuju lapangan pendaratan tadi. Di situlah Rasdinand paham betul: Kekaisaran Dratora berada di level yang sama sekali berbeda dengan mereka. Bahkan kerajaan terkuat nomor satu di benua pun akan terasa kecil jika dibandingkan dengan pusat kekaisaran ini. Tampaknya, raja-raja dari kerajaan lain yang selamat dari bencana juga baru saja tiba.
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri kemegahan istana, mereka akhirnya tiba di dalam ruang rapat akbar. Ruangan itu berbentuk lingkaran sempurna, berlinang dekorasi emas murni, dengan dinding yang terhubung langsung pada sebuah kaca akuarium raksasa yang sangat indah di sepanjang sisinya.
Dan tentu saja, di ujung ruangan rapat melingkar tersebut, duduk sosok dengan otoritas tertinggi di seluruh penjuru benua ini.
Kaisar Vajrudin Ajisaka.
Seorang pria yang tampak berusia 40-an dengan rambut berwarna oranye yang menyala. Wajahnya sangat rupawan namun memancarkan aura dominasi yang mutlak dari atas singgasananya.
Rasdinand melangkah maju, lalu berlutut sejenak untuk memberi salam hormat pada sang kaisar agung, sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di kursi yang telah disediakan pada meja konferensi bulat tersebut. Di sampingnya, Emily juga mengambil tempat duduk, disusul oleh raja-raja dari wilayah lain yang sudah tiba lebih awal.
Suasana formal yang mencekam menyelimuti ruangan. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, seluruh penguasa dari benua yang kerajaannya berhasil selamat akhirnya berkumpul. Total ada 11 raja dan ratu—sosok-sosok pemimpin dari faksi militer terkuat, mencakup 11 kerajaan besar termasuk Nightdoom yang memegang peringkat kekuatan militer nomor dua di benua.
Namun, di tengah keheningan itu, Rasdinand dan Emily diam-diam dilanda kebingungan. Pandangan mereka bergerak liar, mencari-cari keberadaan raja dan ratu dari kerajaan yang memegang peringkat nomor satu di benua—faksi terkuat di bawah Kekaisaran Dratora.
‘Huh, entah kenapa dalam rapat sesignifikan ini, mereka selalu saja terlambat. Bahkan sebelum dunia dilanda insiden langit pun, kebiasaan buruk itu tidak pernah berubah,’ pikir Rasdinand.
Karena raja-raja lain juga sudah hafal betul dengan tabiat buruk penguasa peringkat satu tersebut, rapat akhirnya diputuskan untuk dimulai saja tanpa mereka. Biarlah mereka menyusul nanti.
Rapat dibuka oleh seorang perwakilan kekaisaran yang mengenakan seragam resmi. Namun, kalimat pertama yang keluar dari mulut pembicara tersebut langsung menghapus seluruh senyuman formal dari wajah para orang penting di ruangan itu dalam sekejap.
"Kerajaan Crimson Leonidas... atau kerajaan dengan peringkat nomor satu di benua ini, telah hancur total."
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.