NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta

Cahaya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saidah_noor

Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan.

Rayyan menarik tangan Cahaya dengan langkah cepat, ia seakan ingin segera pergi dari tempat yang memuakkan itu. Api didadanya membakar pikiran dan membuatnya hilang akal, ia sangat marah detik ini.

Cahaya menghentikan langkahnya, namun Rayyan menarik kuat sampai ia memaksakan diri untuk kembali berjalan. Pria ingin membawanya pergi secepatnya, sebelum Ariana muncul dan membuatnya geram.

"Berhenti!" pekik Cahaya namun tak dihiraukan oleh Rayyan.

Pria itu berhenti saat sudah berada didepan mobilnya, ia memaksa Cahaya untuk masuk kedalam kendaraan roda empat itu segera.

Brak

Pintu kendaraan itu ditutup dengan kasar oleh Rayyan, membuat Cahaya tersentak dan telinganya berdenging. Wanita itu lihat Rayyan memutari mobil dan masuk ke dalam, tepat kemudi.

"Apa gak bisa bersikap tenang?" protes Cahaya sembari menutup kedua telinganya, menatap nanar seorang Rayyan.

Rayyan yang melihat itu, lalu menyandarkan dahinya pada stir mobil. Mendengar perkataan Ariana ditoilet tadi membuatnya ingin merobek mulut wanita itu. Ia tak menyangka Ariana yang dulu dan sekarang tak jauh berbeda.

Bahkan sebuah gelar pun hanya sebuah nama, ia masih tak percaya keluarganya menerima wanita itu sebagai tunangannya. Sudah berapa kali ia menolaknya, seolah ia tak punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Setelah tenang, Pria itu menatap Cahaya dengan lekat. Melihatnya membuatnya sedikit tenang, jika dulu mungkin sudah mengamuk.

"Maaf," ucap Rayyan dengan tulus.

"Om Iyan," panggil Cahaya nyaris tanpa suara, baru kali ini ia mendengar paman Yumi meminta maaf. Rasanya seperti mimpi, mata Cahaya mulai berkaca.

"Cahaya, ayo kita menikah!" ajak Rayyan tiba-tiba.

Mata wanita itu membelalak mendengarnya. Apa menikah?

Ia jelas tak salah dengar.

"Ma, mana bisa. Aku masih proses cerai," tolak Cahaya lalu mengalihkan pandangannya ke depan.

Rayyan masih menatapnya, kali ini dengan penuh selidik. Cahaya sedang resah, tapi berusaha tenang. Ia tahu persis sifat gadis kecil ini.

"Aku bantu, setelah selesai kita langsung menikah. Bagaimana?" ujar Rayyan makin menekannya.

Cahaya menunduk, "Kenapa harus terburu-buru, keluarga mu pasti tak akan merestui hubungan kita. Aku janda loh!"

"Terus kenapa? Aku yang mengambil ke-perawananmu, jadi hanya aku yang boleh menyentuhmu." Rayyan menepikan rambut Cahaya ke daun telinganya, membuat wanita itu terlihat cantik dari samping.

Benjolan dileher Rayyan naik turun melihat leher putih nan jenjang wanita itu, ingin menandainya. Hanya itu saja, namun ia masih berusaha menahan diri.

Cahaya melirik Rayyan hanya sebentar, namun membuat jantungnya bekerja keras lagi. Tangannya menggenggam ujung bajunya, hatinya meletup-letup merasakan hal yang tak biasa. Tatapan Rayyan benar-benar tak bisa dikondisikan.

"Ayo kita pulang!" ajak Cahaya melirik lagi masih dengan sekejap, karena ia begitu gugup.

"Ya, kita pulang terus bikin Rayyan junior." Pria itu tersenyum, hanya menggodanya tapi reaksinya seperti gugup mau mati.

"Ku dengar datang bulannya sudah berakhir," ucap Rayyan.

"Gawat! Apa ini yang dinamakan minta jatah?" gumam Cahaya dalam hati, matanya melihat ke sekitar hari masih panas begini dan pria itu meminta sesuatu.

Tak salah kah?

Hendak menolaknya, tapi tangan kekar pria itu menariknya untuk makin dekat dengannya. Badan mereka berhimpitan dan pandangan mereka menyatu, detik itu juga Rayyan menyambar bibir mungil wanita itu.

Cahaya ingin melepaskan diri, namun tengkuknya ditarik agar terus menekan bibir pria tersebut. Hanya saat ia hampir kehabisan nafas barulah Rayyan menghentikannnya.

Nafas Cahaya terengah, seakan baru maraton jauh.

Jempol Rayyan mengusap ujung bibir wanita itu akibat ulahnya, bagian kenyal nan merah muda itu sangat menggoda dan ia ingin melahapnya.

Belum juga dapat untuk kedua kalinya, tangan Cahaya mendorongnya.

"Cukup! Ini diparkiran, nanti ada yang lihat," ujar Cahaya menolaknya.

Rayyan melirik sekitar, ia baru sadar tindakannya tak tepat. "Kalau dihotel, apa kamu mau melakukannya?" tanyanya.

Cahaya membulatkan mata, siang hari begini bahkan ia tak peduli dan masih memikirkan hal intim sebegitu niatnya.

"Jangan minta jatah! Ini masih siang hari, kenapa otakmu hanya bikin anak terus?" omel Cahaya tak suka tapi tak bisa untuk menolaknya juga.

"Karena umurku sudah matang, aku juga mapan. Semua sudah ku miliki kecuali kamu dan calon anak kita," jawab Rayyan dengan tegas dan jelas.

Cahaya menelan ludahnya, harus kah sejelas itu. Tapi pria itu malah terkikik, entah apa yang membuatnya geli. Wanita itu malah tak bisa menahan gejolak malu yang membuat pipinya merona. Tingkah pria ini emang rada-rada dan sebentar dingin sebentar hangat.

"Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Rayyan sembari menyalakan mobilnya.

"Gak ke kantor lagi?" tanya Cahaya.

"Tak usah, aku sangat lapar!" jawab pria itu dengan bibir tersungging senyum dan penuh kelicikan.

Cahaya diam dan hanya ber-oh saja, ia tak curiga dengan kata pria yang ada disampingnya. Lagi pula dia sudah cukup lelah membereskan pekerjaannya. Ia sandarkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya, toh perjalanan ke rumah Rayyan cukup jauh.

Dia hanya bisa bersantai dan biarkan pak bos melajukan mobilnya.

"Oh, iya. Kalau ada supermarket berhenti, ya. Aku mau beli sesuatu," pinta Cahaya dengan mata terpejam.

^

Hari berjalan kian cepat, yang tadinya terang kini mulai gelap. Suasana rumah megah pun cukup sunyi, walau banyak asisten yang bekerja. Tapi malam ini sungguh senyap, seakan mereka semuanya pergi.

Wanita itu mengerjapkan matanya, ia bangun dan langsung duduk. Matanya mengitari tempat sekitar, ia baru ingat tadi ia tertidur didalam mobil.

"Kenapa aku ada disini?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia turun dari ranjangnya dan mengambil ponselnya yang ada didalam tasnya. Ia baru sadar kalau hari sudah malam, setelah melihat jam didalam layar benda pipih miliknya.

Klek

Pintu terbuka memperlihatkan Rayyan sambil membawa nampan. Pria itu masuk masih dengan kemeja putihnya yang dilipat sampai siku. Ia berjalan menghampiri Cahaya yang menatap padanya.

"Sudah bangun? Makan lah dulu!" ujar Rayyan sembari menaruh nampan itu diatas meja yang ada kursi sofa.

"Kebetulan aku sudah laper," ucap Cahaya.

Wanita itu hendak duduk disamping Rayyan, namun lelaki itu menariknya dan mendudukkannya diatas pahanya.

"Pak Rayyan, anda mau apa?" tanya Cahaya pura-pura polos.

"Mau memakanmu," jawab Rayyan langsung memagut bibir kenyalnya.

Dua manusia itu menikmati keintiman mereka seolah dunia itu milik mereka, saling meluapkan dan saling membalas pagutan yang sudah dibakar gairah itu.

Cahaya tersenyum, ia berdiri lalu menarik lengan Rayyan menuntun pria itu ke tepi ranjang. Kembali mereka saling memagut, kali ini dengan penuh hasrat yang membara dan tanpa obat juga minuman memabukkan.

Diatas Ranjang Cahaya duduk dipaha lelaki itu dan mereka saling melampiaskan gairah masing-masing. Rayyan membuka kancing blues wanitanya, melepaskannya melemparnya asal.

Tak mau kalah, Cahaya juga melepaskan baju Rayyan sehingga dada bidang nya itu terlihat menggiurkan.

Cup

Satu kecupan mendarat dileher pria itu, Rayyan membalasnya dan mendaratkan kecupan yang akan membekas.

Sampai suara menyebalkan menyadarkannya didalam lembah mimpi. Bukan itu saja, bahkan badannya terasa diguncang berkali-kali.

"Cahaya, Yaya!" lagi suara itu mengganggunya.

Cahaya tersentak kaget dengan bibir manyunnya, matanya terbuka dan melihat ke sekitarnya berada. Ia bingung sendiri karena barusan ia berada dikamarnya, kenapa sekarang masih berada didalam mobil?

Bahkan hari pun masing panas dan silau, diujung sana bahkan terlihat warna jingga yang begitu indah. Membuat Cahaya kikuk kala menatap wajah Rayyan.

"Kamu mimpi, ya?" tanya Rayyan menatapnya dengan dengan senyum menggoda.

Mata Cahaya membulat, haruskah ada adegan yang seperti ini?

Ini memalukan, sangat malah.

"Bibirmu cantik, mau mencium siapa?" lagi Rayyan menggodanya.

Segera Cahaya merapatkannya dan memejamkan matanya, memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Suara geli Rayyan saja masih terdengar membuatnya tak mau melihat wajah pria itu.

"Sialan banget!" gumam wanita itu merutuki diri, ia buka pintu dan keluar dari mobil.

Mereka sudah berada didepan supermarket yang membuat wanita itu makin tak tahan dengan sikap Rayyan. Ia berjalan lurus hendak pergi ke toko besar tersebut tanpa melihat kiri kanan.

Dari jauh sebuah mobil melaju kencang, tanpa terkendali dan ...

Bug

Badan Cahaya ambruk oleh mobil hitam yang menabraknya.

1
Dew666
😍😍😍
Dew666
🪭🪭🪭
Dew666
Lanjuttttttt
Dew666
💟💟💟
vj'z tri
prettttt peduli sama uang nya Aya ajj lu🤧🤧🤧🤧
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Dew666
💄💄💄💄
vj'z tri
sialan dangkalan bikin emosi loh ....baru ajj senyam senyum 🤬🤬🤬🤬
falea sezi
🤣🤣 mertua toxic
🌀 SãñõõR 💞
yap ntar ceritanya jadi membingungkan.
partini
saling terhubung suami selingkuh dengan wanita yg pernah di sukai lelaki yg tidur dengan cahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!