Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Bertaruh Nyawa
"Kali mambu..." seru Mika saat dia melihat keberadaan Callie yang tengah berjongkok di depan gerbang rumah. (Mambu \= bau)
Tin... Tin...
Bukannya minggir, justru sepupu dari Mika itu malah tetap berjongkok di depan gerbang padahal Janice sudah membunyikan klakson. Tentu saja mobil milik Janice tidak bisa masuk ke dalam rumah milik Julian dan Chiara itu karena ada Callie. Setelah pendaftaran sekolah selesai, Janice dan Mika pergi ke rumah Julian. Di sana juga berkumpul Susan dan Rachel. Namun entah apa yang terjadi pada Callie, dia malah berjongkok di depan gerbang rumah.
"Sembalangan, Callie ndak mambu ya. Situ saja yang mambu combelan," seru Callie tak terima tapi tetap tak bergeser dari tempatnya. Padahal Janice sudah membunyikan klakson berulangkali agar Callie minggir sebentar.
"Eh... Dia tahu ya apa artinya mambu itu?" gumam Mika sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat mendengar respons sepupunya.
"Callie sayang, kamu ngapain di situ? Ayo masuk, nanti diculik orang lho." seru Janice yang meminta Callie masuk ke dalam mobilnya.
"Nggak ada yang mau menculik dia, Ma. Makannya banyak, malah bikin susah." ucap Mika membuat Callie menatap sepupunya itu dengan tatapan sinis.
"Ndak sadal dili. Wawas ya plastik Mika, ndak akan Callie kasih basleng enak punya Callie." seru Callie yang ternyata sedang menunggu penjual basreng datang.
Callie selalu antusias ketika diajak ke rumah Julian dan Chiara. Pasalnya setiap hari ada penjual bakso goreng atau basreng yang selalu mangkal di dekat pos satpam. Tentu saja Callie menjadikan basreng itu sebagai cemilan favoritnya. Sedangkan Mika yang mendengar ucapan Callie langsung keluar dari mobil.
"Ma, Mika ikut tunggu basreng di sini sama kali mambu. Mama masuk duluan aja," ucap Mika tiba-tiba yang kemudian ikut berjongkok di depan gerbang.
"Astaga... Ya nggak gitu juga Callie, Mika. Kalian kan bisa tunggu di pos satpam itu. Ngapain jongkok di depan gerbang begini?" seru Janice yang tampak frustasi dengan kelakuan Mika dan Callie.
"Kasihan nanti pedagang baslengnya halus susah cali Callie. Enakan jongkok di sini" ucap Callie dengan santainya.
"Kasihan juga gerbang rumahnya, nggak ada teman buat bercerita dia." ucap Mika yang ikut-ikutan memberikan jawaban tak masuk akal.
Janice angkat tangan alias menyerah menghadapi dua orang yang mempunyai sifat sama itu. Mika langsung menggendong Callie agar menyingkir sebentar. Walaupun Callie sudah mengomelinya karena terlalu nyaman di tempatnya. Mobil Janice masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua orang yang entah akan melakukan keabsurdan apa.
"Heh... Kali mambu, ini beneran kita mau beli basreng. Emangnya kamu doyan?" tanya Mika menatap Callie yang sudah berjongkok di sampingnya sambil berpangku tangan.
"Ya benelan lah. Kenapa? Dipikil Callie hanya doyan pizza, spaseti, dan bulgel doang. Callie tuh suka semua makanan," seru Callie dengan tak santainya. Bahkan Mika sampai memundurkan kepalanya agar wajahnya tak terkena air ludah dari Callie.
"Buset dah ah, ini bocah butuh semangka kayanya biar nggak marah-marah terus." gumam Mika sambil menggelengkan kepalanya.
"Bikin emosi saja plastik Mika ini. Sudah cocok jadi pembungkus makanan, ngapain ada di sini." ceplos Callie sambil mengusap dahinya. Seakan dahinya itu ada keringat yang banyak setelah dia marah-marah.
Sabar, Mpok kali. Marah-marah mulu cepat tua lho. Orang ini cuma tanya doang kok,
Pelgi sana, Callie mau sendili. Ndak tahu apa kalau Callie balu datang matahali,
Ha? Datang matahari? Datang bulan kali. Astaga... Masih bocil juga,
Basreng...
Callie beli. Jangan tinggalkan Callie dulu, Abang.
Callie, hati-hati. Ntar gelinding kaya bola lho,
Dilalang body cermin,
Heh...
***
Ehemmm...
"Semalam kayanya ada yang habis dapat duit nih," sindir seseorang yang baru saja datang mendekatinya.
Dia adalah Ronand yang baru pulang dari bekerja. Saat sampai rumah Julian, ternyata semua tengah berkumpul dan dia melihat Mika duduk sendirian di gazebo belakang. Dia pun memilih ikut duduk di gazebo belakang rumah kemudian menatap Mika yang cengengesan. Bukan hal rahasia lagi kalau Ronand bisa mengetahui tentang keberadaan keluarganya.
Mika tidak jadi pergi dengan Axel, Reska, dan lainnya. Tadi Mika langsung dibawa pergi oleh Janice saat melihatnya tengah berbincang dengan Reska. Alhasil mungkin besok baru dia bisa pergi bersama mereka. Mika yang mendengar ucapan Ronand pun hanya bisa cengengesan.
"Iya dong, Uncle Onand. Mau buat beli cilok dan telur gulung. Uncle mau Mika traktir?" tanya Mika dengan tatapan polosnya.
"Nggak minat, Uncle punya uang banyak. Uncle nggak perlu ikut balapan kalau cuma butuh duit," ucap Ronand dengan pelan. Ucapan yang santai tapi mengandung sindiran.
Hehehe...
"Mika juga cuma iseng dan penasaran aja kok, Uncle. Nggak beneran itu," ucap Mika sambil cengengesan.
"Bahaya, Mika. Nyawa taruhannya," ucap Ronand memberikan teguran pada Mika.
Mika hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya ketika mendengar bahwa balapan itu nyawa taruhannya. Ia tak berpikir panjang, asal gas saja. Padahal dia juga tahu kalau dirinya belum sepenuhnya mahir dalam mengendarai motor. Ronand merangkul bahu keponakannya itu dengan pelan.
"Mika, mencari anak buah atau orang untuk memperkuat diri itu tak harus dengan membahayakan nyawa. Contohnya sekarang kamu sekolah di tempat anak-anak geng motor. Cukup itu saja, tidak perlu sampai keluar malam dan ikut balap liar." ucap Ronand memberi pesan.
"Kamu berlatih beladiri, tapi tak perlu ikut tawuran. Cukup itu untuk membantu orang di sekitarmu dan diri sendiri. Kamu juga bisa menembak, memanah, dan punya alat-alat dari Uncle. Gunakan itu, tapi jangan sampai salah sasaran. Kamu bisa berdiri sendiri dengan kekuatan dan orang-orangmu, tapi Uncle jangan pernah mempertaruhkan nyawamu." lanjutnya membuat Mika menganggukkan kepalanya mengerti.
"Mika mau belajar buat alat-alat kaya Uncle. Selain punya teman yang banyak membantu, Mika juga mau menggunakan alat itu untuk membalas kematian Nenek gayung." ucap Mika sambil mengepalkan kedua tangannya.
Benar kata Ronand, dia punya keluarga yang bisa memfasilitasi semuanya. Dari pistol hingga alat canggih yang dibuat oleh Ronand. Tinggal dia mencari teman untuk membantunya saja dalam misi ini. Dia juga akan menjadikan teman itu sebagai lawan sparing beladiri. Mika baru menyadari bahwa bisa kuat dan mampu berdiri sendiri tidak harus mempertaruhkan nyawa.
OMG... Plastik Mika mau tawulan,
Tante sonice...
Plastik Mika mau tembak-tembak dan tawulan,
Astaga...
Itu bocah darimana datangnya coba?
Kali mambu... Kamu salah paham,
Ndak ada salah paham ya. Olang Callie dengal pakai mata kepala sendili kok,
Pakai telinga, Callie.
Nah... Itu, Mama.
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄