Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Matahari pagi menyiram gedung Wiratama Group dengan cahaya keemasan, namun bagi Arkan, cahaya itu terasa seperti lampu sorot yang merayakan kemenangannya. Hari ini, ia tidak datang sendiri.
Dengan langkah tegap yang memancarkan kepercayaan diri berlebihan, Arkan melangkah masuk ke lobi utama. Di sampingnya, seorang pengasuh bayi berjalan dengan kepala menunduk, menggendong Arjuna yang terlelap dalam balutan selimut sutra.
Seluruh karyawan di lobi membeku. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering. Pemandangan ini belum pernah terjadi, sang Direktur Utama membawa bayi ke kantor pusat tanpa didampingi istrinya, Nyonya Besar Kinanti.
"Siapkan ruang khusus di sebelah kantor saya untuk Arjuna," perintah Arkan pada sekretarisnya yang terpaku. "Mulai sekarang, anak saya akan berada di sini. Saya tidak ingin dia jauh dari pandangan saya sedetik pun."
Arkan masuk ke ruang kerjanya, menduduki kursi kebesarannya, dan menaruh ponselnya di meja dengan denting keras. Ia merasa telah benar-benar mematahkan dominasi Kinanti.
Semalam, ia melihat wanita itu meledak, membanting alat makan, dan lari ke kamar seperti pecundang. Bagi Arkan, itu adalah bukti sah bahwa Kinanti sudah tidak memiliki taring.
Ia melirik ke arah pintu yang terbuka, memastikan Arjuna aman di ruangan sebelah.
"Tunggu saja, Kin. Setelah ini, aku akan membawa Alana kembali ke Jakarta. Aku akan menempatkannya di tempat yang layak," gumamnya dengan senyum miring.
Sementara itu, di kediaman Wiratama, kesunyian menyelimuti lorong-lorong megah itu. Kinanti berdiri di depan cermin, mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang menutupi lehernya. Di belakangnya, Bi Ijah berdiri dengan tangan gemetar.
"Katakan pada Pak Arkan jika dia pulang nanti, aku pergi ke luar kota untuk menenangkan diri," ucap Kinanti dengan nada yang terdengar lemah, sengaja dibuat seolah-olah hatinya hancur. "Katakan aku butuh waktu karena aku tidak sanggup melihat wajahnya setelah apa yang dia lakukan padaku."
"Baik, Bu," sahut Bi Ijah ragu.
Kinanti melangkah keluar. Namun, begitu pintu mobil tertutup dan supir pribadinya mulai melaju keluar dari gerbang tinggi itu, raut wajah Kinanti berubah total. Kesedihan palsu itu lenyap, berganti dengan tatapan predator yang sedang mengamati mangsanya masuk ke dalam lubang jebakan.
"Biarkan dia merasa menjadi raja di kantor itu," bisik Kinanti pada dirinya sendiri. "Semakin dia seenaknya, semakin banyak bukti yang bisa kugunakan untuk menyeretnya ke pengadilan nanti."
Mobil melaju membelah kemacetan, namun bukan menuju hotel mewah di luar kota, melainkan menuju sebuah pinggiran kota yang tenang, ke sebuah rumah asri yang tersembunyi dari hiruk pikuk Jakarta.
Rumah itu milik Ibu Sarah, bunda Kinanti, wanita yang selama ini menjadi satu-satunya pelabuhan bagi hati Kinanti yang beku. Begitu Kinanti melangkah masuk, ia melihat ibunya sedang menyiram tanaman di teras.
"Kinanti?" Ibu Sarah menjatuhkan gembor penyiramnya. Ia segera berlari memeluk putrinya.
Di pelukan sang bunda, tembok pertahanan Kinanti akhirnya retak. Bukan karena takut pada Arkan, tapi karena rasa sakit hati yang selama ini ia pendam sendirian.
"Bunda... dia benar-benar melakukannya," bisik Kinanti parau.
Ibu Sarah mengusap punggung putrinya dengan pilu. "Bunda tahu, Nak. Bunda sudah tahu semuanya bahkan sejak hari pertama Arkan menikah siri dengan anak itu."
Kinanti tersentak. Ia melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan mata membelalak. "Bunda tahu? Kenapa Bunda tidak mengatakannya padaku?"
Ibu Sarah menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Ayah Alana... Pak Broto menelpon Bunda tepat di malam pernikahan siri itu. Dia mengancam Bunda, Kin. Dia bilang, jika Bunda memberitahumu, dia akan memastikan hidup Bunda dan kamu hancur. Dia bilang dia ingin Alana bahagia merebut Arkan agar harta Wiratama bisa jatuh ke tangan keluarga Hadiningrat."
Ibu Sarah terisak. "Dia bilang kamu hanya anak pembantu yang beruntung, dan tidak pantas bersaing dengan putrinya. Bunda takut, Kin... Bunda takut mereka menyakitimu lagi seperti dulu."
Rahang Kinanti mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Jadi, selama ini keluarga Hadiningrat bukan hanya sekadar penyelamat, tapi juga penindas di balik layar yang mencoba menggunakan Alana untuk menghisap kekayaan yang suaminya bangun dengan susah payah.
"Jadi itu sebabnya Pak Broto begitu membenci Alana sekarang? Bukan karena dia suci, tapi karena Alana gagal menjadi alat untuk merebut harta Arkan?" tanya Kinanti dengan suara bergetar karena amarah.
Ibu Sarah mengangguk lemah. "Mereka menganggap Alana pecundang karena dibuang Arkan, dan mereka menyalahkanmu karena kamu terlalu kuat untuk mereka jatuhkan."
Kinanti tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Mereka meremehkanku karena aku anak pembantu. Mereka pikir Alana berhak atas suamiku hanya karena kasta? Sekarang aku mengerti. Aku tidak akan hanya menghancurkan Arkan, Bunda. Aku akan memastikan keluarga Hadiningrat melihat bagaimana anak pembantu ini meratakan segalanya hingga tidak tersisa satu butir pasir pun."
~~
Kembali di perusahaan, Arkan semakin bertindak semena-mena. Ia membatalkan beberapa kontrak yang sebelumnya telah disetujui Kinanti hanya karena ia ingin menunjukkan kekuatannya.
Ia memerintahkan bagian keuangan untuk menyiapkan sejumlah dana besar yang akan ia kirim ke sebuah desa di Jawa Tengah.
"Pak, ini melanggar prosedur. Kita butuh tanda tangan Nyonya Kinanti untuk pengeluaran di atas satu miliar," ucap kepala keuangan dengan ragu.
"Saya pemilik sah aset ini sekarang!" gertak Arkan sambil membanting berkas. "Tanda tangani atau kamu saya pecat hari ini juga!"
Dari kejauhan, Suryo yang memantau melalui kamera tersembunyi mengirimkan laporan video tersebut kepada Kinanti.
Kinanti, yang kini duduk di teras rumah ibunya sambil menggenggam secangkir teh, melihat rekaman itu di ponselnya. Ia melihat Arkan yang sedang berteriak-teriak, dan ia melihat Arjuna yang menangis di ruangan sebelah karena terganggu suara gaduh ayahnya.
"Menarilah, Arkan. Berteriaklah sesukamu," gumam Kinanti dengan mata yang berkilat dingin. "Kirimkan uang itu pada Alana. Buatlah dirimu terlihat seperti pencuri dana perusahaan di depan dewan komisaris suatu saat nanti."
Kinanti berbalik menatap ibunya yang sedang memperhatikannya dengan cemas. "Bunda, jangan khawatir lagi. Dulu kita memang tidak punya apa-apa. Tapi sekarang, aku adalah badai yang mereka undang sendiri ke dalam rumah mereka."
Kinanti bangkit berdiri, ia menelepon Andi, Andi adalah sosok lain yang jauh lebih tinggi posisinya di dunia perbankan.
"Aktifkan protokol pembekuan fisik. Aku ingin besok pagi, saat Arkan mencoba menarik uang itu, semua sistemnya mati total dan dokumen fisik dari brankas diterbitkan ke seluruh otoritas jasa keuangan."
Arkan tidak tahu, bahwa saat ia mencium Arjuna dan membayangkan masa depan indahnya dengan Alana, Kinanti sedang menyiapkan algojo hukum yang akan memenggal semua mimpinya tepat di saat matahari terbit besok pagi.
Pengkhianatan keluarga Hadiningrat dan Arkan telah menciptakan monster yang tidak akan pernah mengenal kata ampun.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.