NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Perut Terasa Dikocok

"Kami tahu! Kami akan melakukan apa pun untuk membantu pemulihan Biru. Kami punya akses ke dokter terbaik di luar negeri yang selama ini menangani Biru secara rahasia," potong Pertiwi dengan cepat, suaranya terdengar sangat putus asa.

"Beri kami kesempatan untuk menebus dosa kami. Kami akan mengundurkan diri dari jabatan kami hari ini juga, asal jangan serahkan kami ke polisi."

Selena memperhatikan wajah mereka satu per satu. Akting mereka sangat sempurna. Mereka sengaja menyerahkan "dosa kecil" berupa korupsi uang untuk menutupi "dosa besar" berupa rencana pembunuhan.

Mereka ingin Selena merasa sudah menang sehingga ia berhenti menggali lebih dalam soal racun itu.

"Kalian ingin mengundurkan diri?" Selena menyandarkan punggungnya, menatap mereka dengan tatapan meremehkan. "Baik. Tinggalkan surat pengunduran diri kalian di meja saya sore ini. Dan semua aset pribadi yang kalian beli dari uang perusahaan akan saya sita."

"Terima kasih, Selena... Kamu sungguh berhati malaikat," rintih Pertiwi sambil mencoba meraih tangan Selena, namun Selena segera menariknya menjauh.

Setelah Raka dan Pertiwi keluar dengan langkah gontai dan wajah yang dibuat hancur, Selena memutar kursinya menghadap jendela besar. Ia tahu, macan yang terluka akan jauh lebih berbahaya.

"Mereka pikir aku percaya," bisik Selena pada kaca jendela yang dingin. "Kalian menyerahkan jabatan kalian hanya untuk membebaskan tangan kalian agar bisa memegang senjata di kegelapan. Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu dalam permainan ini."

Pertiwi dan Raka saling melirik dengan ujung bibir terangkat. Mereka senang karena Selena percaya pada tipuan mereka.

Dua orang itu pun merasa bebas tapi mereka tidak tahu kalau Cakra, bayangan Biru sudah menunggu di dalam mobilnya. Tanpa sepengetahuan Selena.

Dua orang itu langsung diberikan pelajaran yang sangat bermakna hingga mereka lupa akan niat jahat mereka.

bugh!

Rahang Raka seolah lepas dari tempatnya, oleh pukulan Cakra.

Raka tersungkur di aspal parkiran yang panas, suara berderak dari rahangnya terdengar mengerikan di tengah kesunyian area VIP itu. Belum sempat ia memproses rasa sakit yang menghantam sarafnya, kerah kemeja mahalnya sudah dicengkeram kasar oleh tangan Cakra yang sekeras besi.

Pertiwi memekik, mencoba melarikan diri, namun dua pria bertubuh tegap yang merupakan anak buah kepercayaan Cakra sudah lebih dulu mencekal lengannya, menyeretnya kembali ke dalam bayang-bayang mobil hitam yang terparkir di sudut paling gelap.

"Kalian pikir... karena Nyonya Selena membiarkan kalian pergi, kalian bisa bernapas lega?" suara Cakra terdengar sangat rendah, namun sarat dengan ancaman kematian. Matanya yang biasanya kaku kini berkilat seperti predator yang sedang mencabik mangsa.

"C-Cakra... apa-apaan ini! Kami ini keluarga Hermawan!" rintih Raka dengan mulut berdarah. Suaranya sengau karena posisi rahangnya yang bergeser.

Bugh!

Satu hantaman lagi mendarat di ulu hati Raka, membuatnya meringkuk seperti cacing, kehilangan seluruh oksigennya. Cakra berjongkok di samping pria itu, lalu menjambak rambut Raka agar mereka bisa bertatap muka.

"Keluarga? Kalian hanyalah parasit yang meracuni tuan saya," bisik Cakra tepat di telinga Raka. "Nyonya Selena mungkin terlalu lembut karena dia seorang penulis yang masih punya hati. Tapi saya? Saya adalah anjing penjaga yang dilatih Biru untuk menghancurkan sampah seperti kalian."

Cakra beralih menatap Pertiwi yang sudah pucat pasi. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening—botol yang sangat dikenali oleh wanita itu.

"Obat ini... dirancang untuk membuat jantung meledak saat aktivitas berat, bukan?" Cakra menyeringai tipis, sebuah seringai yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Bagaimana jika kalian merasakan dosis yang sama? Tanpa bantuan rumah sakit, tanpa bantuan mesin. Kita lihat seberapa kuat jantung pengkhianat kalian bertahan."

"Tolong... Cakra, jangan..." isak Pertiwi, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di atas aspal. "Kami akan pergi! Kami tidak akan menyentuh Selena! Kami janji!"

"Janji kalian sampah," desis Cakra. Ia memberi isyarat pada anak buahnya. "Bawa mereka ke gudang lama. Pastikan mereka memberikan semua akses rekening rahasia mereka, dan setelah itu... buat mereka menghilang dari negeri ini tanpa membawa satu sen pun. Jika saya melihat wajah mereka lagi di radius sepuluh kilometer dari Nyonya Selena atau Tuan Biru, pastikan mereka pulang dalam kantong plastik."

Raka dan Pertiwi diseret masuk ke dalam mobil bagaikan barang rongsokan. Tidak ada lagi tawa kemenangan, tidak ada lagi rencana pembunuhan kedua. Di tangan Cakra, mereka menyadari bahwa bermain-main dengan Biru Hermawan berarti harus siap berhadapan dengan bayangannya yang jauh lebih kejam.

Setelah mobil itu melesat pergi, Cakra berdiri diam, merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia menyeka noda darah Raka di buku jarinya menggunakan sapu tangan putih, lalu menatap gedung Hermawan Grup tempat Selena berada.

"Nyonya Selena harus tetap menjadi tangan yang bersih," gumam Cakra, kembali menjadi 'patung' yang dingin. "Biar tangan saya yang berlumuran darah untuk memastikan jalan yang ia tapaki tetap aman bagi Tuan... dan bagi siapa pun yang ada di rahimnya."

Ia membuang sapu tangan bernoda darah itu ke tempat sampah, lalu masuk kembali ke dalam mobilnya untuk kembali ke rumah sakit, menjaga satu-satunya nyawa yang menjadi pusat dunianya.

*

Setelah kepergian Pertiwi dan Raka yang berani berlutut di hadapannya, Selena tiba-tiba merasa mual. Mual membayangkan kedua keluarga dekat suaminya berani melakukan hal keji seperti itu.

"Sial! Sifat mereka seperti bangkai sampai aku ingin muntah, uwekkk..."

Selena bergegas menuju kamar mandi pribadi di dalam ruang kerja CEO, tidak sanggup lagi menahan gejolak hebat yang mengocok perutnya. Ia mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan jemari yang memutih, membiarkan rasa mual itu tumpah sepenuhnya.

"Uwekkk... hosh... hosh..."

Napasnya tersengal. Rasa asam naik ke tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit yang membakar. Ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, mencoba mengusir bayangan wajah memelas Pertiwi dan Raka yang baru saja bersimpuh di kakinya.

"Benar-benar seperti bangkai," bisik Selena pada pantulannya di cermin. Suaranya serak dan bergetar. "Berakting sedih di atas nyawa yang mereka coba habisi... bagaimana manusia bisa sebusuk itu?"

Selena segera mencuci wajahnya dengan air dingin kemudian melanjutkan pekerjaannya, menghadapi laptop untuk belajar banyak hal tentang perusahaan.

Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan kakinya yang terasa sedikit lemas. Ia tidak boleh pingsan di sini. Ia adalah CEO Hermawan Grup. Ia adalah benteng terakhir bagi suaminya, meskipun pria itu hilang entah kemana.

"Ah mas Biru, dimana Cakra sialan itu menyembunyikanmu. Kalau kamu masih hidup mas, tolong bangun dan temui aku," bisik Selena dengan perut yang terasa kembali dikocok.

"Uwek uwek..."

Selena kembali merasakan mual parah.

***

1
Rahmah Salam
Anu lagi??...😄....ini lg si cakra bilamg aja suka susah amat😎
Rahmah Salam
lagi anu apa sihn....jd ngelayap otakx😄
Rahmah Salam
salting dia...😄😄
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
mana ada mati yang paling indah....
idihhhh onellll ngadaaa ngadaaa....
pernah merasakan mati ta.... hihihu
Nanda🌻
semangat Thor
nur annisa
🤭😄🤭🤭🤭
Bubu
lanjut Thor 💪
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
antara cemas dan cinta ini.... ketika gairah bercinta kalah sama gairah cemas takut kehilangan... hihihi....
Bee s.g.h
yg sabar biru,kasih makan dulu istri mu biar ada power 😄
nur annisa: hahaha power 3 ronde 😄
total 1 replies
Bubu
ganggu aja terus 🤣
Bubu
ikutan ngakak Thor, tapi aku suka Cakra Thor 🤣😄
Raffi975
pagi2 Cakra😄🤣
Rahmah Salam
salut sm cakra...se perfect itu jaga tuanx👍
Rahmah Salam
kepooo😄
Sofiaa
Cakra oh Cakra 🤣
Sofiaa
ngakak 🤣🤣🤣
Daniaaa
duuh Cakra jgn ganggu ya🤣
Justin
mawar merah untukmu Thor 👍.. lanjutkan 🤭
Nanda🌻
lanjut Thor 🤭
Bubu
up lagi dong 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!