Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
"Jika memiliki maksud dan tujuan tertentu, saya pasti sudah melakukannya sejak lama. Tidak perlu menunggu hingga bertahun-tahun."
"Tadinya saya juga berpikir kalau gadis kecil itu anak bapak, soalnya senyumnya mirip banget sama bapak."
Semua kata-kata tersebut kembali berputar di kepala Sandi setelah mendengar penyampaian Bara tentang Vania. Di tambah lagi dengan setiap kata yang tercantum di akta kelahiran Sesil, di mana status bocah perempuan tersebut dinyatakan sebagai anak dari seorang ibu.
Sandi nampak memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut memikirkan semua itu.
"Sepertinya aku butuh bantuan Nindi."
Sandi meraih ponselnya kemudian melakukan panggilan telepon pada salah seorang saudari sepupunya yang berprofesi sebagai seorang dokter.
"Tumben jam segini kamu meneleponku." Terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon, saat panggilan tersambung.
"Aku ingin bertemu denganmu. Aku harap besok kamu tidak terlalu sibuk."
"Kebetulan besok jadwalku tidak terlalu sibuk, datanglah ke tempat kerjaku!" Nindi yakin ada hal penting yang ingin dibahas oleh saudara sepupunya tersebut hingga meluangkan waktu berharganya untuk mengajaknya bertemu. Karena biasanya Sandi selalu saja mencari alasan untuk menolak ajakan para sepupunya untuk sekedar nongkrong. Tentunya dengan alasan sibuk. Padahal faktanya, Sandi tak terlalu suka membuang waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, salah satunya nongkrong hingga berjam-jam lamanya.
"Terima kasih sebelumnya."
Kedua bola mata Nindi nyaris keluar dari tempatnya ketika mendengar ucapan terima kasih dari saudara sepupunya tersebut. Pasalnya, Sandi hampir tak pernah mengucapkan kalimat keramat itu kepada semua saudara sepupunya.
"Kamu nggak habis divonis mengidap penyakit berat kan?." Bisa jadi karena telah divonis mengidap penyakit berat oleh dokter hingga membuat sikap Sandi berubah seratus delapan puluh derajat. Ya, Sandi memiliki beberapa orang saudara sepupu yang usianya tak terpaut jauh darinya. Mungkin karena itu sikap mereka akrab layaknya teman sebaya, Makanya ucapan terimakasih hampir tak pernah terucap antara satu sama lain.
"Enggak lah..." Setelah merasa percakapan mereka cukup, Sandi pun pamit untuk menyudahi panggilan telepon.
Sandi beranjak dari ruang kerjanya, dan kembali ke kamar.
Sandi bergerak perlahan agar tidak sampai membangunkan Vania dari tidurnya. Sesaat sebelum membuka lemari pakaian milik Vania, Sandi kembali menoleh ke arah Vania untuk memastikan wanita itu lelap dalam tidurnya.
Sandi memeriksa setiap sela lipatan pakaian Vania untuk mencari sesuatu. Hingga hampir lima menit berusaha mencari benda yang diinginkannya, namun Sandi tak juga berhasil menemukannya. Hingga pada akhirnya, pandangan Sandi mengarah pada koper besar milik Vania yang berada di atas lemari.
"Apa mungkin Vania menaruhnya di dalam koper?." Batin Sandi. Tak ingin membuang waktu, Sandi pun segera menurunkan koper tersebut lalu memeriksanya.
Benar saja, Sandi berhasil menemukan keberadaan benda tersebut di dalam koper. Sepertinya Vania memang sengaja menyembunyikannya di sana. Benda itu tak lain adalah kutipan akta kelahiran Sesil.
Deg
Jantung Sandi seperti berhenti berdetak saat melihat tanggal lahir Sesil yang tercantum di dalam kutipan akta kelahiran tersebut. Sesil lahir tepat setelah sembilan bulan kejadian di kamar hotel malam itu.
Waktu itu Sandi memang tidak sempat melihat tanggal lahir Sesil, karena Vania buru-buru memasukan kembali kutipan akta kelahiran tersebut ke dalam tasnya.
"Ya Tuhan, apa mungkin gadis bersamaku malam itu adalah Vania?." Batin Sandi seperti tak percaya. Jika benar, begitu unik cara Tuhan kembali mempertemukan mereka. Namun begitu Sandi tak mau terlalu menaruh harapan tinggi, takut kecewa jika kenyataannya Vania bukanlah gadis yang malam itu menghabiskan malam panas bersamanya. Sandi tak bodoh, dengan menanyakan kebenaran tersebut langsung pada Vania. Ia memilih menggunakan caranya sendiri.
Sandi segera mengembalikan akta kelahiran Sesil ke dalam koper setelah terlebih dahulu mengabadikan isi kertas tersebut menggunakan kamera ponselnya. Kini koper besar milik Vania sudah dikembalikan Sandi ke tempat semula.
Kini Sandi nampak duduk di sofa dengan posisi menyilangkan kedua kakinya, sementara pandangannya terfokus pada istrinya. Sungguh, saat ini isi kepala Sandi sangat berisik dengan berbagai macam dugaan. Mungkin karena lelah berpikir, Sandi pun akhirnya ketiduran di sofa hingga pagi menjelang.
"Apa semalam mas Sandi ketiduran di sofa?." Begitu membuka mata, Vania melihat sisi tempat tidur di sampingnya kosong. Saat memandang ke arah Sofa, terlihat suaminya ketiduran di sana.
Vania beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah sofa.
"Mas...."
"Hm..." Sandi bergumam masih dengan posisi mata terpejam. Perlahan Sandi membuka matanya.
"Sudah jam berapa sekarang?."
"Jam setengah tujuh, mas."
"Apa ada yang salah?." Vania mengeryit saat menyadari tatapan tak biasa suaminya itu padanya.
"Tidak ada yang salah." Sandi memutuskan tatapannya dari Vania.
"Mandi dan bersiaplah! Aku akan mengantarmu ke hotel."
Dari perkataan Sandi, Vania dapat menyimpulkan bahwa Sandi memiliki tujuan lain setelah mengantarkannya ke hotel. Mungkin Sandi sedang ada urusan di perusahaan, begitu pikir Vania.
"Baiklah."
*
Pagi ini Vania tak lagi mengendap-endap turun dari mobil suaminya. Ia turun dari mobil Sandi tepat di depan gedung hotel Admodjo Group. Kini semua pegawai hotel telah mengetahui status pernikahannya dengan Sandi, hingga tak ada lagi gunanya mengendap-endap turun dari mobil pria itu.
"Terima kasih sudah menyayangi Sesil layaknya putri kandung sendiri." Selama Sesil bersekolah, Vania selalu melihat Sandi sibuk membantu bocah itu bersiap-siap, termasuk membantu Sesil mengenakan seragam sekolahnya.
"Bagaimana jika seandainya Sesil memang putri kandungku?."
Deg.
"Apa maksud kamu, mas?." Mimik wajah Vania berubah, sedikit gelisah.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan! Aku kan cuma bilang, seandainya." Sandi mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.
Vania lega, rupanya pria itu hanya sekedar berandai-andai saja. Setelahnya, Ia pun berpamitan lalu turun dari mobil Sandi.
Setelah melihat Vania memasuki pintu utama hotel, Sandi pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat saudari sepupunya bekerja.
Hampir satu jam Sandi berada di rumah sakit, mengobrol serius bersama saudari sepupunya, yakni wanita cantik yang akrab disapa Dokter Nindi.
"Dua hari kedepan kamu boleh balik lagi ke sini!." Pesan Nindi pada Sandi.
"Baiklah." Setelah merasa kepelukannya bersama Nindi sudah selesai untuk hari ini, Sandi pun berpamitan pada saudari sepupunya tersebut.
Cafe favorite nya bersama Bara adalah tujuan Sandi setelah meninggalkan rumah sakit. Bara sudah menantinya di sana sejak beberapa waktu lalu.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, mobil Sandi tiba di cafe. Sandi beranjak turun dari mobilnya dan memasuki cafe. Dari kejauhan Sandi melihat Bara dengan pakaiannya yang nampak basah. Merasa penasaran, Sandi pun segera menghampiri sahabatnya itu.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa pakaianmu bisa basah seperti ini?." Tanya Sandi dengan dahi berkerut bingung.
"Ini semua pembuatan gadis gila tadi, dia menyiram ku dengan segelas minuman." Bara nampak kesal setengah mati.
"Gadis gila?." Cicit Sandi dan Bara pun mengangguk kesal.
"Kenapa bisa?."
"Dia menuduhku menyenggol bo-kongnya, dan langsung menyiram ku dengan segelas jus." Aku bara. Beberapa saat sebelum kedatangan Sandi, Bara melintas dibelakang punggung seorang gadis yang tengah berdiri di depan mejanya, dan seorang pelayan wanita yang kebetulan juga sedang melintas secara tidak sengaja menyenggol bokongnya. Tanpa bertanya terlebih dahulu, gadis itu langsung meraih gelas jus dihadapannya kemudian menyiramkan nya pada Bara.
Sandi langsung melebarkan senyum mendengar cerita Bara.
"Dalam kondisi pakaianmu basah seperti ini, tak enak berlama-lama di sini, kamu bisa jadi pusat perhatian orang-orang. Lebih baik kita ke hotel sekarang. Kamu bisa mengenakan kemejaku nanti." Merasa kondisi Bara saat ini tidak memungkinkan berlama-lama di tempat umum seperti ini, Sandi lantas mengajak sahabatnya itu ke hotel Admodjo Group. Mereka bisa mengobrol di sana saja.
setelah ini tolong kamu laporkan dua manusia iblis itu🤬🤬🤬
biar mereka di jebloskan ke hotel prodeo