NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Santi tidak langsung pergi, wanita itu masih berdiri diam di balik pintu yang sedikit terbuka. Tatapannya tertuju pada putrinya yang sedang berdiri di balkon bersama Bilal. Angin malam meniup tirai tipis kamar itu perlahan, membuat suasana terasa semakin sunyi.

Dan untuk sesaat… ada sesuatu yang terasa menyesakkan di dada Santi. Bukan marah, bukan juga kecewa sepenuhnya.

Melainkan perasaan seorang ibu yang perlahan mulai sadar bahwa anaknya sudah benar benar tumbuh dewasa. Bahwa kini ada seseorang lain yang berdiri di samping Feryal.

Menenangkan, menjaga, bahkan menjadi tempat putrinya kembali tenang. Santi menarik napas pelan sebelum akhirnya memilih melangkah pergi tanpa suara.

Di dalam kamar, Feryal masih terdiam dalam pelukan Bilal. Kepalanya bersandar pelan di dada pria itu, sementara pikirannya terus dipenuhi banyak kemungkinan. “Aku capek takut terus, Bi,” bisiknya lirih.

Bilal mengusap perlahan lengan istrinya. “Nggak usah dipaksa kuat terus.”

Feryal memejamkan mata sesaat. “Aku pengen semuanya baik baik aja.” “Aku juga.” sahut Bilal. “Tapi rasanya susah.”

Bilal tersenyum kecil, meski matanya menyimpan kelelahan yang sama. “Kalau gampang, mungkin dari dulu kita nggak bakal sampai di titik ini.” Feryal terkekeh kecil mendengarnya. Lemah, tapi tulus.

Dan itu cukup membuat Bilal lega. Karena setidaknya malam ini. Feryal masih mau tertawa bersamanya.

Keesokan paginya Bali menyambut dengan udara hangat dan cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamar.

Feryal terbangun lebih dulu. Beberapa detik ia hanya diam menatap langit langit kamar sebelum akhirnya sadar, Bilal masih tertidur di sampingnya.

Deg. Entah kenapa pemandangan sederhana itu terasa begitu asing sekaligus menenangkan.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka tidur dalam ketenangan seperti ini tanpa jarak emosional yang terasa begitu besar diantara keduanya.

Feryal menatap wajah Bilal beberapa saat. Pria itu terlihat jauh lebih tenang saat tidur. Tidak setegang biasanya.

“Kenapa liatin abang kayak gitu?” Feryal langsung tersentak kecil, ternyata Bilal sudah bangun sejak tadi.

“Kaget ih.” gumamnya sambil cepat mengalihkan wajah. Bilal terkekeh pelan dengan suara serak khas baru bangun tidur. “Salah sendiri curi-curi lihat.”

“Aku nggak curi-curi.” sahut Bilal.

“Hm iya deh.” Feryal mendecih kecil lalu bangkit dari tempat tidur. Rambut pendeknya sedikit berantakan, membuat Bilal tanpa sadar memperhatikannya lebih lama.

“Apa?” tanya Feryal curiga.

“Cantik.”

Deg. Feryal langsung salah tingkah sendiri. “Baru bangun juga.”

“Justru itu.”

“Gombal.”

Bilal hanya tersenyum kecil sambil ikut bangun. Namun suasana hangat itu perlahan berubah ketika suara ketukan terdengar dari luar kamar.

Tok.

“Kalian sudah bangun?” suara Santi terdengar dari balik pintu. Refleks Feryal langsung menegang.

Bilal menoleh cepat ke arahnya, lalu berdiri lebih dulu membukakan pintu.

Santi berdiri di depan kamar dengan ekspresi tenang. Wanita itu sudah rapi sejak pagi, rambutnya tertata sempurna seperti biasa. “Mama bikin sarapan,” ujarnya pelan.

“Iya Ma, bentar lagi turun,” jawab Feryal. Santi mengangguk kecil. Namun sebelum pergi, tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada Feryal… lalu pada Bilal. Seolah sedang membaca sesuatu.

“Atau kalian mau jalan jalan hari ini?” tanyanya tiba tiba. Feryal sedikit bingung. “Hah?”

“Bukannya honeymoon?” lanjut Santi datar. Deg.

Feryal langsung batuk kecil karena salah tingkah, sementara Bilal berusaha keras menahan senyum. “Ma…”

“Apa? Mama salah ngomong?” tanyanya santai. “Nggak juga sih…” gumam Feryal pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, suasana terasa sedikit lebih cair. Namun itu tidak berlangsung lama.

Karena tepat setelah sarapan selesai dan Bilal sedang membantu membereskan meja makan, ponsel Feryal tiba tiba berbunyi. Satu pesan masuk.

Dari nomor yang sangat ia kenal. Kaizan. “Masih hidup anak Bali?” Feryal refleks tersenyum kecil membaca pesan itu.

Namun senyum itu langsung memudar saat suara Santi terdengar dari depan.

“Kamu masih sering ke masjid sekarang?”

Deg. Pertanyaan itu datang begitu tiba tiba. Feryal langsung membeku seketika.

Bilal yang sedang berdiri di dekat wastafel ikut menghentikan gerakannya perlahan. Rumah mendadak terasa sangat sunyi.

Santi berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya lurus pada putrinya, bukannya marah.

Tapi tajam dan kali ini, tidak ada lagi percakapan ringan untuk mengalihkan suasana. Feryal menelan ludahnya pelan. Jemarinya yang memegang ponsel perlahan menegang.

Bahkan notifikasi dari Kaizan yang tadi sempat mengalihkan pikirannya kini terasa hilang begitu saja. “Bun…” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Santi tidak memotong. Wanita itu tetap berdiri dengan tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa jauh lebih menekan.

“Aku cuma nanya,” ujar Santi akhirnya. “Kamu masih sering ke sana?” Feryal menunduk beberapa detik sebelum akhirnya menjawab jujur. “Iya” suasananya mendadak sunyi seketika,

Bilal diam ditempatnya. Ia bisa merasakan ketegangan yang mulai memenuhi ruangan itu, tetapi ia memilih tidak ikut masuk terlalu cepat ke dalam percakapan ibu dan anak tersebut.

Santi mengangguk kecil. Ekspresinya sulit ditebak. “Karena nyaman?” tanyanya lagi.

Deg. Pertanyaan itu terasa jauh lebih sulit dijawab dibanding sebelumnya.

Feryal membuka mulutnya pelan, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Bali, ia benar benar merasa seperti sedang berdiri di tengah dua arah yang sama sama penting dalam hidupnya. “Aku… nggak tahu harus jelasinnya gimana, Bun.”

Santi tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak benar benar sampai ke matanya. “Berarti memang sudah sejauh itu ya.”

“Bun, aku bukan—” ucap Feryal memotong tapi masih belum selesai dengan ucapannya langsung di potong lagi oleh sang Bunda.

“Bunda belum selesai ngomong, Fey.”

Kalimat itu langsung membuat Feryal diam.

Bilal perlahan menoleh. Rahangnya sedikit mengeras, namun ia tetap menahan diri.

Santi berjalan pelan mendekat ke meja makan. Tangannya menyentuh sandaran kursi sebentar sebelum kembali menatap putrinya.

“Bunda nggak pernah ngajarin kamu buat membenci keyakinan orang lain,” ucapnya tenang.

“Tapi Bunda juga membesarkan kamu dengan apa yang Bunda yakini sejak awal.” Feryal menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku tahu, Bunda" sahut Feryal.

“Lalu sekarang?” tanya Santi lirih. “Kamu lagi mencari, atau sebenarnya sudah memutuskan?” tanya Bunda santi pada anak sulungnya.

Deg. Pertanyaan itu terasa menghantam jauh lebih dalam dari yang Feryal bayangkan. Karena jujur saja, Ia sendiri belum tahu jawabannya.

“Aku masih nyari, Bunda,” jawabnya akhirnya dengan suara pelan. “Aku belum selesai memahami semuanya, aku juga enggak tau akhirmya seperti apa," ucap Feryal.dengan jujurnya.

Tatapan Santi melembut sedikit mendengar itu. Namun tetap ada luka samar yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan seorang ibu pada umumnya.

“Feryal,” katanya pelan. “Bunda cuma takut kamu berubah bukan karena keyakinanmu sendiri.” Kalimat itu membuat Feryal langsung mengangkat wajah.

“Bunda takut kamu berubah karena cinta.” Hening sejenak dan untuk pertama kalinya sejak tadi, Bilal akhirnya bicara.

“Saya nggak pernah minta Feryal berubah demi saya, Bunda” suasana kembali menegang.

Santi menoleh perlahan ke arah Bilal. Tatapannya tajam, namun Bilal membalasnya dengan tenang. “Saya cuma ingin dia menemukan jawabannya sendiri,” ucap Bilal lagi.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!