NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Marsha baru saja melepas sarung tangan operasi ketika seorang perawat datang tergesa menghampirinya, wajah perempuan itu terlihat panik, seolah sedang membawa kabar buruk yang tidak bisa ditunda. “Dokter Marsha, pasien di ruang observasi tiga kembali membuat masalah.”

Marsha memejamkan mata sejenak, menahan lelah yang mulai terasa sampai ke pelipis. Ia bahkan belum sempat duduk sejak keluar dari ruang operasi, namun masalah rupanya belum selesai menghampirinya.

“Pasien yang mana?” tanyanya datar, meski sejujurnya ia sudah bisa menebak.

“Liam, Dok.”

Jawaban itu membuat Marsha menghembuskan nafas panjang tentu saja Liam pria pengacau.

“Apalagi yang dia lakukan sekarang?” tanyanya sambil mulai melangkah. “Menolak obat? Mengusir dokter jaga? Atau membongkar alat medis?”

Perawat itu tampak serba salah. “Semuanya, Dok.”

Marsha menghentikan langkah sesaat, menatap lurus ke depan seperti sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa, baru saja ia menyelesaikan operasi yang menguras tenaga, dan sekarang ia harus menghadapi Liam yang entah kenapa selalu berhasil membuat keadaan menjadi lebih rumit.

Saat mendekati ruang observasi, suara keributan sudah terdengar bahkan sebelum pintu dibuka.

“Saya bilang saya tidak mau diperiksa dokter lain!”

Suara Liam terdengar keras dan penuh penolakan.

Begitu pintu didorong terbuka, Marsha langsung disambut pemandangan yang membuat rahangnya mengeras, seorang dokter muda berdiri dengan wajah frustrasi, dua perawat tampak kewalahan, sementara Liam duduk setengah bangkit di atas ranjang dengan perban di kepala dan ekspresi keras kepala yang nyaris menjengkelkan.

Namun begitu Liam melihat Marsha masuk, suasana seolah berubah, pria itu diam, tatapannya yang sejak tadi penuh perlawanan langsung beralih hanya padanya.

Marsha berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di dada, tatapannya dingin, jelas menunjukkan ia sedang tidak punya toleransi sedikit pun untuk tingkah konyol. “Apa ini?” tanyanya singkat, tidak ada yang berani menjawab.

Kecuali Liam.

“Akhirnya dokter yang benar datang.”

Kalimat itu justru membuat tatapan Marsha makin tajam. Ia melangkah mendekat, tiap langkahnya tenang, tetapi cukup membuat seluruh ruangan mendadak hening. “Dokter lain berusaha memeriksa Anda, dan Anda menolak.”

Liam diam.

“Anda hampir membuka jahitan Anda sendiri.”

Masih diam.

“Anda membuat satu ruangan ini kacau, setelah saya keluar dari operasi yang melelahkan.”

Kali ini Liam menatapnya, dan untuk pertama kalinya keras kepalanya tampak sedikit mereda. “Saya cuma mau diperiksa Anda.” Jawaban itu begitu polos hingga nyaris membuat semua orang di ruangan lupa bagaimana harus bereaksi.

Marsha menatapnya tak percaya. “Dan untuk itu Anda memilih membuat keributan?”

Liam mengangkat bahu tipis. “Kalau tidak begini, Anda tidak akan datang.”

Salah satu perawat refleks menunduk, seolah berusaha menyembunyikan reaksi, sementara Marsha benar-benar sedang menguji batas kesabarannya sendiri.

Tanpa banyak bicara, ia mengambil stetoskop dari lehernya lalu memeriksa Liam dengan gerakan cepat dan profesional. “Diam,” katanya pendek.

Anehnya, Liam langsung patuh.

Seluruh ruangan seakan sedang menyaksikan sesuatu yang sulit dipercaya, pasien yang sejak pagi membuat semua orang kewalahan, ternyata bisa tenang hanya dengan satu kata dari Marsha.

Setelah pemeriksaan selesai, Marsha mundur satu langkah dan menatap hasil monitornya. “Vital Anda stabil. Anda tidak mati malam ini. Puas?”

Alih-alih tersinggung, Liam justru tersenyum tipis, senyum yang nyaris membuat Marsha semakin kesal. “Kalau saya hampir mati lagi, apakah Anda akan datang lebih cepat?”

Marsha mengangkat pandangan, menatapnya tajam. “Saya bisa membuat Anda pingsan sekarang juga kalau mau.” Namun di luar pintu yang sedikit terbuka, seseorang berdiri menyaksikan semuanya dalam diam.

Archio.

Tatapannya bergantian antara adiknya dan sahabatnya dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari ada sesuatu yang mungkin sedang tumbuh di antara keduanya.

Marsha melepaskan stetoskop dari lehernya, lalu menatap Liam dengan sorot yang tak lagi sekadar dingin, melainkan benar-benar lelah.

“Tolong, lain kali jangan membuat kekacauan seperti ini. Semua dokter sibuk. Jangan hanya karena Anda putra Tuan Theodore, lalu merasa bisa bersikap manja dan tidak tahu diri.” Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup tajam untuk membuat ruangan yang tadi tegang mendadak sunyi.

Ia menarik nafas pendek, seolah berusaha menahan sisa tenaga yang hampir habis. Wajahnya terlihat pucat, ada gurat lelah yang tak bisa lagi disembunyikan. Bukan satu atau dua jam ia berdiri di ruang operasi, melainkan berjam-jam tanpa jeda, memaksa tubuhnya tetap tegak dan pikirannya tetap fokus, sementara kesalahan sekecil apa pun bisa merenggut nyawa seseorang.

Hari itu, kesabarannya benar-benar menipis.

Liam yang sedari tadi keras kepala justru terdiam. Tatapannya tertahan pada wajah Marsha, seolah baru benar-benar menyadari betapa letih perempuan di hadapannya. “Aku…” Liam seperti hendak membela diri, tetapi kalimatnya menggantung.

Marsha tak memberinya ruang. “Kalau semua pasien bertindak seperti Anda, rumah sakit ini lumpuh sejak pagi.” Ucapan itu telak, tidak emosional, justru karena diucapkan dengan tenang, kalimat itu terasa lebih menusuk.

Di ambang pintu, Archio menghela napas berat, Ia mengenal adiknya sangat mengenalnya. Marsha jarang bicara setajam itu pada pasien, kalau sampai nada suaranya berubah seperti ini, artinya ia benar-benar kelelahan.

Archio mengusap tengkuknya, lalu melirik Liam yang kini mendadak diam seperti anak sekolah yang baru dimarahi kepala sekolah, sungguh pemandangan yang nyaris mustahil.

Sahabat keras kepalanya, putra Theodore yang biasanya tak mau diatur siapa pun, kini duduk diam tanpa membantah satu kata pun. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Archio makin curiga. Jika sahabatnya ini menyukai adiknya.

Marsha masih berdiri dengan wajah lelah ketika Archio melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan. Ia mengedarkan pandangan pada dokter jaga dan para perawat yang sejak tadi ikut kewalahan menghadapi Liam, lalu menghela napas seperti seseorang yang sudah terlalu akrab dengan situasi semacam ini.

“Adik saya bawakan kopi dan sandwich,” ujarnya, nadanya tenang namun cukup menenangkan suasana. “Lain kali kalau pria ini berulah dan menolak ditangani kalian, hubungi saya saja.”

Beberapa petugas medis saling berpandangan, nyaris seperti menahan lega mendengar ada orang lain yang bersedia menghadapi pasien keras kepala itu.

Archio lalu menyerahkan paper bag di tangannya pada Marsha. “Istirahatlah,” katanya lebih lembut, nada seorang kakak yang tahu persis adiknya sedang berada di batas tenaganya.

“Jangan hiraukan bocah ini.” Ucapan itu membuat salah satu perawat hampir menahan senyum, sementara Liam langsung mengangkat pandangan, jelas tidak suka disebut bocah, tetapi entah mengapa tak membantah.

Marsha menerima paper bag itu tanpa banyak bicara. Aroma kopi yang samar tercium dari dalamnya, dan entah kenapa justru itu yang membuat tubuhnya terasa semakin menyadari betapa lelah dirinya.

Ia menghembuskan napas panjang, seolah baru memberi izin pada dirinya sendiri untuk berhenti tegang, tanpa melirik Liam lagi, Marsha berbalik menuju pintu, langkahnya tenang, tapi terlihat berat.

Begitu melewati ambang pintu, ia langsung meninggalkan ruang perawatan itu, membawa kopi dan sandwich dari Archio, sementara suasana di belakangnya mendadak terasa jauh lebih sunyi dibanding beberapa menit sebelumnya.

Liam menatap pintu yang baru saja tertutup itu cukup lama, sampai akhirnya Archio melipat tangan di dada, menatap sahabatnya dengan sorot penuh arti. “Jangan bilang aku salah lihat,” katanya pelan.

Liam tidak menjawab.

Namun tatapannya yang masih tertuju ke arah pintu itu, sudah lebih dari cukup sebagai jawaban. Pintu ruang perawatan baru saja tertutup ketika keheningan aneh menyelimuti ruangan. Liam masih menatap ke arah pintu tempat Marsha pergi, seolah pikirannya belum ikut kembali.

Archio memperhatikannya beberapa saat, lalu menghela napas berat. Sebagai sahabat, ia terlalu mengenal Liam untuk tidak membaca perubahan kecil di wajahnya. “Kamu menyukai adikku?” tanyanya akhirnya, lugas tanpa basa-basi.

Pertanyaan itu membuat Liam menoleh.

Namun bukannya menyangkal, ia justru diam dan diamnya Liam justru terdengar lebih jujur daripada jawaban apa pun. Archio menggeleng pelan, seakan sudah menduga ke mana arah ini berjalan.

“Menurutku kamu tidak cocok untuk adikku.”

Kali ini Liam mengangkat alis tipis. “Begitu?”

Archio melipat tangan di dada, sorot matanya berubah serius. “Ya. Karena aku mengenalmu terlalu baik.” Nada suaranya tenang, tetapi mengandung ketegasan yang tidak biasa.

“Kamu keras kepala. Terbiasa menang sendiri. Hidupmu terlalu berisik, terlalu rumit, terlalu penuh hal yang bahkan aku sendiri sering malas ikut membereskannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Liam lurus.

“Sementara Marsha…” suara Archio sedikit melunak ketika menyebut adiknya.

“Dia sudah terlalu banyak memikul beban sendirian, yang dia butuh hanya ketenangan, bukan kekacauan baru.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Liam bersandar pelan, tetapi matanya tak lepas dari Archio. “Kamu sedang melindunginya sebagai kakak,” katanya rendah.

“Aku sedang memperingatkanmu sebagai kakaknya.” Jawaban itu datang cepat tajam dan jelas.

Archio mendekat satu langkah.n“Jangan jadikan adikku permainan isengmu, Liam.” untuk pertama kalinya, sorot mata Liam berubah.

Bukan tersinggung.

Tapi seperti seseorang yang baru saja ditantang. “Dan kalau ini bukan permainan?”

Archio terdiam sesaat, entah kenapa, justru jawaban itu yang paling tidak ingin ia dengar.

Ia menghela napas panjang, mengusap tengkuknya seperti sedang menahan sesuatu.

“Kalau begitu justru lebih buruk.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu serius…” Archio menatap sahabatnya dalam-dalam, “aku tahu kamu tidak akan mundur.” Dan entah kenapa, tak satupun dari mereka menganggap percakapan itu lagi sebagai candaan.

1
Nessa
apakah liam jodohnya marsha 😁
Forta Wahyuni
gk slh thor, tapi marsha anak bungsu n koq manggil adik sama archio.
羽菜 Hana: iya kak ada kesalahan, Terimakasih banyak untuk koreksinya.
total 1 replies
Nessa
ahh mewek 😭
Nessa
ngeriii kok ada y ibu yang hatinya seperti iblis binatang aja g tega membuang anaknya loh miris kali
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!