Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 5)
Mata yang sangat aneh. Warnanya merah seperti buah tomat, dan terus mengeluarkan cairan hitam pekat. Mata itu bergerak-gerak, mencari-cari, hingga akhirnya berhenti tepat menatap wajah Herman yang saat itu sedang ketakutan.
"AAAAAAAARRGGHHHH!!!"
Herman melompat mundur, menjerit histeris, meraih parang yang ada di sampingnya dan menebas sembarangan ke arah dinding.
"Pergi kau! Pergi! Pergi!!!"
Sontak, terbangunlah Sulaiman, Deri dan si kecil Umar. Mereka terkejut melihat Herman yang sudah histeris.
"Ada apa?! Apa yang terjadi?!" teriak Sulaiman sambil meraba senter yang jatuh.
"Dia lihatin aku! Dia ngintip aku! Matanya sangat besar! Matanya hitam keluar air!" teriak Herman tak karuan.
Deri terperanjat ketakutan, sedang Umar langsung menyambar memeluk paha ayahnya.
"Aku mau pulang, Bos... aku mau pulang... aku janji gak mau kerja lagi... tolong..." Jerit Deri sambil memejamkan mata. "Ayah... ayo ayah kita pulang, kapan kita pulang haaa heeee." Umar pun mulai menangis.
Sulaiman menyalakan senter dan mengarahkannya ke dinding yang ditunjuk Herman. Bilik bambunya memang bolong, tapi di luar sana hanya gelap gulita. Tidak ada apa-apa. Tapi baunya... baunya masih sangat kuat menempel di udara.
"Diam! Kalian semua diam!" Sulaiman mencoba menenangkan, tapi tangannya sendiri gemetar. "Umar, berhenti menangis, nak, kita akan segera pulang." Ucapnya sambil memegang dua bahu putranya
"Herman. Itu cuma halusinasi! Kita lelah, kita lapar, jadi pikiran kita bermain-main! Sejak dari area lubang pohon tumbang yang sudah kita tinggalkan, tidak ada penampakan yang benar-benar sebuah penampakan nyata, kecuali makhluk jin itu. Sedang yang lain, semua hanya gangguan penglihatan masing-masing. Jadi, jangan kalian terbawa suasana, ingat itu!!"
"Tidak Bos! Aku melihatnya jelas! Itu nyata!" sanggah Herman.
Tiba-tiba, atap gubuk di atas kepala mereka bergetar.
Sesuatu yang berat mendarat di atas sana. Lalu terdengar suara langkah kaki yang berjalan mondar-mandir di atap rumbia yang rapuh. Serpihan-serpihan daun kering dan debu berjatuhan ke wajah mereka.
Kriuk... krak... kriuk...
Atap itu seolah siap ambruk kapan saja. Dan mereka sadar... sesuatu itu tidak lagi di luar. Ia ada di atas mereka. Sangat dekat.
"Baiklah, sekaranglah yang sepertinya nyata. Kita tidak bisa diam saja!" Sulaiman berdiri, napasnya menghimpun. "Kalau kita di sini terus, kita cuma jadi makanan empuk. Kita harus cari jalan keluar lain. Mungkin ada pintu belakang atau jendela."
"Tapi Bos, di luar gelap gulita! Kita gak tahu jalan!" kata Deri ketakutan.
"Heeeee haaaaaa heee.." Umar tetap menghambur tangisannya.
"Kalian semua dengarkan aku. Lebih baik berhadapan dengan harimau daripada mati pelan di sini menunggu dimakan kegelapan!" jawab Sulaiman tegas. "Ayo! Kita cari jalan keluar!"
Mereka mulai meraba-raba dinding dalam kegelapan, dibantu cahaya senter yang mulai meredup karena baterai lemah. Gubuk itu kecil, hanya satu ruangan utama. Namun, di sudut paling belakang, tertutup gorden kain hitam yang sudah lusuh dan berdebu, mereka menemukan sesuatu.
Sebuah pintu kecil. Pintu kayu yang sangat tua, warnanya kecokelatan, dengan ukiran aneh berupa gambar ular yang melilit pohon.
"Itu dia! Ada pintu!" seru Herman.
Mereka bergegas mendekat. Sulaiman meraih gagang pintunya yang terbuat tali serabut.
"Siap-siap. Begitu pintu kebuka, kita lari sekuat tenaga. Jangan lihat kanan kiri, lurus saja!" instruksi Sulaiman, sambil kembali menggendong Umar, putranya.
Deri dan Herman mengangguk, siap dengan parang di tangan masing-masing.
Sulaiman menarik napas dalam-dalam. Satu... dua... tiga!
Ia mendorong pintu itu keras-keras. Pintu itu berdecit keras saat terbuka, mengeluarkan suara seperti jeritan wanita yang sedang disiksa.
Tidak ada yang dapat mereka rasakan saat itu selain lari, Sulaiman dengan gergaji mesin di bahunya, dan Umar dalam dekapannya, menerobos semak-semak paling depan, diikuti dua anak buahnya.
Setelah berlari dan terus berlari, mereka kembali menemukan sebuah gubuk di bawah pohon besar, tanpa berpikir lama, mereka segera memasukinya. Tetapi, ada satu hal yang aneh, bagian interior gubuk yang mereka masuki sama persis dengan gubuk yang sebelumnya mereka tinggalkan, tidak ada perbedaan sama sekali kecuali deretan foto yang kini sudah tidak ada lagi.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?