(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesombongan
"Maaf, Tuan."
Sebuah suara angkuh namun halus terdengar.
Bai Yunfei - Jenius Peringkat 4 Akademi Dao Suci. Tingkat: Jiwa Baru Lahir Awal.
"Meja ini adalah meja langgananku setiap sore," Bai Yunfei menatap Han Luo dengan senyum yang sangat sopan namun tidak menyembunyikan rasa jijiknya melihat pakaian kusam dan batuk Han Luo. "Sebagai seorang Sponsor Kehormatan, Anda mungkin tidak tahu aturan tidak tertulis di akademi ini. Bisakah Anda pindah ke meja lain? Ada banyak meja kosong di dekat tangga."
Itu adalah pengusiran halus. Sebuah unjuk kekuasaan senioritas.
Para cendekiawan lain di Lantai Tiga berhenti membaca dan menoleh. Mereka menunggu untuk melihat si "Orang Kaya Baru" ini dipermalukan oleh salah satu jenius top akademi.
Han Luo perlahan mendongak. Mata abu-abunya menatap Bai Yunfei yang berdiri menjulang di atasnya.
Jika ini adalah Han Luo dalam mode Bai Ze atau Tuan Gerhana, kepala pemuda ini sudah terpisah dari lehernya. Tapi saat ini, dia adalah Xie Yan. Seorang penyakitan.
"U-Uhuk..." Han Luo terbatuk keras, memegang dadanya. "Maafkan saya, Tuan Muda Bai. S-Saya tidak tahu ini meja Anda. Tapi... saya sedang berada di tengah-tengah membaca slip giok yang rapuh ini. Memindahkannya bisa merusak auranya. Bisakah Anda memberikan saya waktu lima menit lagi?"
Bai Yunfei mengerutkan kening. Arogansinya sedikit terusik. Di akademi ini, perintahnya adalah hukum bagi orang-orang biasa.
"Lima menit sangat berharga bagi seorang kultivator sejati," Bai Yunfei melangkah lebih dekat, menempatkan satu tangannya di atas meja Han Luo. Aura Jiwa Baru Lahir-nya secara sengaja dibocorkan sedikit, cukup untuk membuat kursi Han Luo berderit menahan tekanan.
"Saya sarankan Anda pindah sekarang, Tuan Xie."
Han Luo menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat seolah-olah dia terintimidasi oleh aura tersebut.
"B-Baiklah... saya akan pindah..."
Han Luo mulai berdiri dengan susah payah, tangannya bertumpu pada pinggiran meja untuk menopang tubuhnya. Tangan kanannya secara tidak sengaja "menyenggol" punggung tangan Bai Yunfei yang sedang bertumpu di meja.
Sentuhan itu hanya berlangsung seperseribu detik. Sangat ringan. Seperti bulu yang jatuh.
Namun, di sepersekian detik itu, Han Luo memfokuskan Mata Dewa Gerhana di mata kirinya. Dia tidak menggunakan energi pembeku. Dia menggunakan Pemutarbalikan Gravitasi.
Dia menanamkan sebuah simpul gravitasi terbalik tepat di jalur meridian di telapak tangan Bai Yunfei.
"S-Silakan mejanya, Tuan," Han Luo membungkuk dalam-dalam, mengambil saputangannya, lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan meja tersebut, turun menuju tangga.
Bai Yunfei mendengus pelan, membersihkan meja itu dari 'kotoran' dengan hembusan angin kecil, lalu duduk dengan gaya pemenang. Para cendekiawan lain mengangguk-angguk setuju, merasa hierarki akademi tetap terjaga.
Namun, Han Luo yang sedang menuruni tangga tersenyum lebar di balik saputangannya.
"Lima... Empat... Tiga..." gumam Han Luo pelan.
Di Lantai Tiga, Bai Yunfei membuka gulungan bambunya dan bersiap mengalirkan Qi-nya ke tangan kanan untuk mengaktifkan segel bacaan.
"Dua... Satu."
KRAAAAK!
Tepat saat Bai Yunfei mengalirkan Qi ke tangan kanannya, simpul gravitasi terbalik yang ditanamkan Han Luo bereaksi. Qi Bai Yunfei yang seharusnya mengalir keluar, tiba-tiba memantul ke dalam dengan kecepatan dan berat sepuluh kali lipat.
"GAAAAHK!"
Bai Yunfei menjerit histeris. Darah segar muncrat dari mulutnya. Tangan kanannya melengkung ke belakang dengan bunyi tulang patah yang mengerikan. Seluruh meridian di lengan kanannya meledak dari dalam, merobek sutra jubahnya.
Dia jatuh dari kursinya, berguling-guling di lantai Lantai Tiga, berteriak dalam penderitaan absolut yang menghancurkan wibawanya seketika.
Kepanikan meledak di perpustakaan yang tenang itu.
"Tuan Muda Bai! Apa yang terjadi?!" "Penyimpangan Qi! Dia mengalami penyimpangan Qi!" "Cepat panggil Tetua!"
Tidak ada satu pun dari jenius berotak teori di ruangan itu yang menyangka bahwa ini adalah serangan. Mereka semua mengira Bai Yunfei memaksakan diri berlatih ilmu yang salah dan meledakkan tangannya sendiri. Kesombongannya hancur menjadi debu dalam satu detik, dan kariernya sebagai jenius tamat sudah.
Di lantai dasar, Han Luo berjalan mendekati Long Tian yang sedang bersandar di pilar. Teriakan histeris Bai Yunfei terdengar sayup-sayup dari lantai atas.
"Ada apa di atas, Tuan?" tanya Long Tian, menatap ke arah tangga.
"Ah," Han Luo menyeka sisa darah palsu dari sudut bibirnya. "Hanya seorang jenius yang terlalu keras belajar hingga urat nadinya putus. Kasihan sekali. Belajar terlalu rajin memang bisa membunuhmu, Hei Mian."
Han Luo menepuk bahu Long Tian.
"Ayo kembali ke penginapan. Kita punya banyak hal untuk direncanakan. Sebulan lagi, Menara Ujian Langit akan dibuka. Dan kita akan menjadi juara akademis tahun ini."
Malam itu, Akademi Dao Suci mendapatkan pelajaran pertama mereka dari Sang Dalang: Jangan pernah mengusir hantu dari kursinya, atau kau akan kehilangan tangan yang mengusirnya.