NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Niat awal Valerie hanyalah memejamkan mata selama beberapa menit untuk meredakan denyut di kepalanya. Namun, kelelahan fisik ditambah tekanan batin menghadapi tuntutan Damian yang tak habis-habis sejak pagi, akhirnya meruntuhkan pertahanannya.

Kesadarannya perlahan larut, dan tanpa sadar ia terlelap dengan posisi kepala bersandar lemas pada sandaran sofa kulit yang dingin.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Damian melangkah keluar dengan kemeja yang sudah dirapikan kembali. Langkah kakinya yang biasanya tegas mendadak memelan saat matanya menangkap sosok mungil yang meringkuk di sudut ruangan.

Damian menghampiri sofa itu tanpa suara. Ia berdiri menjulang di depan Valerie, mengamati wajah gadis itu yang kini tampak begitu teduh dalam tidurnya.

Sebuah senyum tipis—menghiasi bibir Damian. Ia sendiri merasa aneh dengan dorongan di dalam dirinya. Entah kenapa, ia begitu menikmati setiap detik saat ia membuat Valerie kesal.

Ia suka mengintimidasinya, suka menggoda batas kesabarannya, dan melakukan apa pun yang terlintas di benaknya hanya untuk memancing reaksi dari gadis itu.

Bagi Damian, Valerie seperti pemacu adrenalin yang membuatnya merasa lebih hidup dan bersemangat di tengah rutinitas bisnisnya yang kaku dan dingin.

Damian membungkuk sedikit, helai rambut Valerie yang menutupi matanya ia singkirkan dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut akan merusak ketenangan yang sedang dinikmati gadis itu.

Valerie tersentak dari tidurnya, jantungnya berdegup kencang saat kesadarannya kembali sepenuhnya.

Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Damian yang berdiri menjulang tepat di depannya, menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa menembus pikirannya.

"Sudah bangun? Nyenyak sekali tidurmu di jam kerja, Penipu Kecil," ucap Damian dengan nada yang sulit diartikan.

Valerie refleks langsung berdiri dari sofa, merapikan kemeja dan roknya yang sedikit kusut dengan gerakan gugup. Wajahnya memerah karena malu tertangkap basah sedang terlelap. "Maaf, Pak Bos..., aku tidak sengaja ketiduran. Apa ada yang harus kukerjakan lagi sekarang?"

Damian terdiam sejenak, memperhatikan kegugupan Valerie dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. "Untuk saat ini, tidak ada. Tapi tugasmu belum berakhir," jawabnya dingin. "Sekarang kau akan ikut denganku ke suatu tempat. Bersiaplah."

Tanpa menunggu jawaban atau penjelasan lebih lanjut, Damian memutar tubuhnya dan melangkah tegas ke arah pintu besar ruang kerjanya. Langkah kakinya yang lebar mencerminkan otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Baiklah," gumam Valerie pelan. Ia segera menyambar tas kerjanya yang tergeletak di meja, merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, dan bergegas mengikuti langkah lebar Damian.

Ada rasa penasaran sekaligus waswas yang menyelimuti hati Valerie. Ke mana Damian akan membawanya?

Mobil mewah Damian akhirnya berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Dari luar, arsitekturnya terlihat sangat formal dan normal, tipikal gedung korporat yang membosankan di pusat kota.

Namun, suasana tegang terasa saat dua mobil pengawal yang mengikuti mereka dari belakang ikut berhenti, dan empat pria berbadan tegap segera turun untuk mengamankan area.

Damian melangkah keluar dengan rahang yang mengeras, diikuti oleh Valerie yang berusaha menyamai langkah lebarnya. "Tetap di dekatku," perintah Damian dingin tanpa menoleh.

Valerie mengedarkan pandangannya dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang aneh. Penjagaan di lobi gedung ini jauh lebih ketat daripada kantor pusat tadi, dan para penjaganya tidak memakai seragam resepsionis, melainkan setelan hitam taktis dengan alat komunikasi di telinga mereka.

Saat tiba di depan lift, Damian tidak menekan tombol lantai atas. Ia justru menempelkan kartu akses khusus dan menekan tombol lantai paling bawah—area basement yang jauh di bawah permukaan tanah.

Valerie mengernyit bingung. Mau apa dia membawaku ke gudang atau parkiran bawah tanah?

Begitu pintu lift berdenting dan terbuka, Valerie nyaris kehilangan napas.

Matanya terbelalak menatap pemandangan di depannya yang kontras 180 derajat dengan dunia luar.

Lantai dasar ini bukanlah basement kumuh, melainkan sebuah kasino raksasa yang sangat mewah. Cahaya lampu kristal yang benderang memantul di atas meja-meja judi hijau yang eksklusif.

Ruangan itu dipenuhi oleh pria-pria berjas mahal yang sedang mempertaruhkan tumpukan koin dengan nilai fantastis.

Di sudut lain, terlihat bar panjang di mana beberapa tamu tampak sudah teler, ditemani oleh wanita-wanita berpakaian minim yang melayani mereka dengan genit.

Valerie tidak terkejut dengan suasana hingar-bingar seperti ini; sebagai putri seorang Blackwood, ia sudah terbiasa dengan kehidupan malam di kelab-kelab elite.

Namun, yang membuat jantungnya mencelos adalah fakta bahwa tempat ini berada tepat di bawah gedung yang terlihat "bersih" tadi.

Ini bukan sekadar tempat hiburan. Valerie menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam jantung kekuasaan yang sebenarnya—markas besar bisnis gelap milik Damian yang selama ini tersembunyi dari mata publik.

Damian melangkah dengan tenang menyusuri koridor panjang yang terletak di balik area kasino yang bising. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja tunggal yang terlihat sangat kokoh.

Damian menekan beberapa digit kode akses pada panel digital, lalu pintu itu terbuka dengan desisan pelan.

Ia melangkah masuk bersama Valerie, sementara keempat bodyguard-nya segera mengambil posisi siaga di luar pintu, menutup akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak senyap. Ruangan itu sepenuhnya kedap suara, dilapisi karpet bludru berwarna merah bata yang tebal di dindingnya.

Pencahayaan di dalamnya agak remang dengan nuansa biru safir yang memberikan kesan misterius sekaligus intim.

Interiornya luar biasa mewah; ada bar pribadi di sudut ruangan dengan deretan botol minuman mahal, sofa kulit berukuran besar, meja kerja dari kayu jati gelap, bahkan sebuah pintu kecil yang tampaknya menuju ke kamar istirahat pribadi.

Valerie mengedarkan pandangannya dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdegup kencang; ia tidak menyangka Damian akan cukup gila untuk membawanya ke tempat sekrusial ini—jantung dari seluruh operasi rahasianya.

Damian menjatuhkan tubuhnya di sofa kulit, melonggarkan satu kancing kemeja teratasnya. Ia menyandarkan punggung, lalu menatap Valerie dengan tatapan yang sulit dibaca di bawah temaram lampu biru.

"Selamat datang di duniaku yang sebenarnya, Valerie," ucap Damian dengan nada rendah yang menggema.

Valerie menelan ludah dengan susah payah. Suasana ruangan ini seketika terasa mencekam baginya.

Bukan karena kemewahannya, tapi karena ia sadar bahwa sekali ia menginjakkan kaki di sini, tidak akan ada jalan untuk kembali menjadi "orang luar" lagi.

Damian kemudian menepuk sisi sofa kosong di sampingnya, memberikan isyarat yang jelas.

"Duduklah," perintahnya singkat.

Valerie mematung sejenak, menatap telapak tangan Damian yang baru saja menepuk sofa itu. Ia merasa seolah sedang diundang masuk ke dalam sarang sang penguasa kegelapan.

Dengan langkah yang sedikit ragu, ia mendekat, menyadari bahwa setiap inci jarak yang ia pangkas membawanya semakin dalam ke dalam pusaran hidup Damian yang berbahaya.

Valerie duduk di tepi sofa dengan kaku, punggungnya tegak seolah-olah ia siap untuk lari kapan saja jika keadaan memburuk.

Damian yang menyadari ketegangan itu hanya memperhatikannya dari sudut mata, lalu terkekeh rendah melihat posisi duduk Valerie yang sangat canggung.

"Kenapa? Kau takut, hm?" tanya Damian dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Sebagai asisten pribadiku, kau memang harus masuk ke wilayah pribadiku. Ini adalah syarat mutlak jika kau ingin tetap berada di bawah perlindunganku."

Valerie menoleh, menatap Damian dengan binar keraguan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Kenapa kau semudah itu mempercayaiku, Damian? Kita baru saja saling mengenal, dan kau sudah membawaku ke tempat rahasia seperti ini," suara Valerie sedikit bergetar. "Apa kau tidak takut kalau suatu saat nanti aku akan berkhianat? Bagaimana jika aku membocorkan tempat ini?"

Mendengar itu, Damian tidak marah. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat sangat berbahaya namun juga memikat.

Tanpa peringatan, ia condong ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Napas hangat Damian terasa menyapu permukaan kulit wajah Valerie, membuat gadis itu terpaku di tempatnya.

"Kita sudah berbagi ranjang yang sama, bahkan mandi bersama..." bisik Damian pelan, suaranya parau dan dalam tepat di depan bibir Valerie. "Setelah semua keintiman itu, bagaimana mungkin kau bisa dengan tega mengkhianatiku, Sayang?"

Tangan Damian terangkat, jemarinya membelai ujung rambut Valerie dengan gerakan yang sangat posesif. Tatapan matanya yang gelap seolah mengunci seluruh kesadaran Valerie, memaksanya untuk mengakui bahwa mereka kini terikat lebih dari sekadar kontrak kerja.

Seketika, wajah Valerie merona merah padam hingga ke telinga. Bayangan-bayangan kejadian di kamar mandi dan di atas tempat tidur semalam mendadak terputar kembali di kepalanya seperti film pendek yang memalukan.

Ia ingin membantah, namun lidahnya terasa kelu, dan jantungnya kembali berdegup kencang karena kedekatan fisik yang begitu intim ini.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!