bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecelakaan
Malam di Bandung masih terasa dingin ketika Yoga keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah. Ia mengusap wajahnya dengan handuk, lalu berjalan santai menuju meja.
Tangannya meraih ponsel.
Namun langkahnya terhenti.
Layar ponsel itu penuh dengan notifikasi.
Panggilan tak terjawab.
Banyak.
Semua dari satu nama.
Bella.
Alis Yoga langsung berkerut. “Kenapa dia nelepon sebanyak ini…”
Rasa tidak enak langsung muncul.
Ia tanpa pikir panjang langsung menekan tombol panggil.
Nada sambung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Namun—
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.”
Yoga langsung menurunkan ponselnya perlahan.
Wajahnya berubah.
“Bella…” gumamnya pelan.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Tidak aktif.
Napasnya mulai tidak teratur.
Tanpa menunggu lama, ia langsung menghubungi satu orang.
“Kania.”
Panggilan diangkat cepat.
“Kak? Kenapa?”
“Kania, Bella di apartemen nggak?” suara Yoga langsung serius.
Kania sempat diam. “Tunggu ya, aku cek dulu.”
Yoga berjalan mondar-mandir di ruangan.
Detik terasa lama.
Sangat lama.
Beberapa menit kemudian—
“Kak…”
Nada suara Kania berubah.
Yoga langsung berhenti. “Kenapa?”
“Bella nggak ada di sini.”
Hening.
Yoga menegang. “Maksudnya?”
“Kamarnya kosong… dan… bajunya banyak yang nggak ada.”
Jantung Yoga seperti jatuh.
“Coba ke kos lamanya,” ucap Yoga cepat.
“Iya, aku ke sana sekarang.”
Panggilan terputus.
Yoga berdiri diam beberapa detik.
Lalu mengusap wajahnya kasar.
“Jangan sampai…” gumamnya.
Tak lama, ponselnya kembali berbunyi.
Kania.
Yoga langsung angkat.
“Kak… nggak ada,” suara Kania pelan.
Harapan terakhir itu…
hilang.
Yoga menutup mata sejenak.
Dadanya terasa sesak.
“Dia ke mana…” suaranya hampir tak terdengar.
Tanpa pikir panjang—
Yoga mengambil kunci mobil.
Jaket.
Dan langsung keluar.
Ia tidak peduli apa pun lagi.
Satu-satunya hal di pikirannya—
Bella.
Jalanan malam menuju Jakarta cukup sepi.
Lampu-lampu jalan memanjang.
Mobil Yoga melaju cepat.
Terlalu cepat.
Tangannya mencengkeram setir erat.
Pikirannya kacau.
Bella.
Tangisnya.
Panggilan itu.
Dan entah kenapa… perasaan buruk terus menghantui.
“Angkat dong…” gumamnya sambil kembali mencoba menelpon.
Namun tetap—
tidak aktif.
Yoga menekan setirnya.
Frustrasi.
“Kenapa sih kamu…”
Kecepatannya bertambah.
Angin malam menerpa kaca mobil.
Hujan rintik mulai turun.
Jalanan menjadi licin.
Namun Yoga tidak melambat.
Pikirannya terlalu penuh.
Fokusnya terpecah.
Dan di satu tikungan—
lampu dari arah berlawanan menyilaukan.
Dalam sepersekian detik—
ban mobil kehilangan kendali.
“Brak!”
Suara keras menggema di jalanan.
Mobil Yoga menabrak pembatas jalan.
Kaca pecah.
Tubuhnya terdorong keras ke depan.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Lalu—
hening.
Di Jakarta.
Ponsel keluarga Yoga mulai berdering satu per satu.
Kabar itu datang seperti petir.
Ayah Yoga yang menerima telepon pertama langsung berdiri dari kursinya.
“Apa?!”
Wajahnya berubah drastis.
Ibu Yoga yang melihat langsung panik. “Ada apa?!”
Ayah Yoga menatapnya dengan wajah tegang. “Yoga… kecelakaan.”
“APA?!”
Ibu Yoga langsung gemetar.
Kania yang berada di dekat mereka langsung membeku. “Kak Yoga…?”
Suasana rumah langsung berubah kacau.
Semua panik.
Semua bergerak cepat.
“Kita ke sana sekarang!” ucap ayah Yoga tegas.
Ibu Yoga sudah menangis. “Gimana keadaan dia?!”
“Belum jelas… kita harus segera ke rumah sakit.”
Kania langsung mengambil tasnya dengan tangan gemetar.
“Bella…” bisiknya pelan.
Ia langsung mencoba menelpon Bella.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Namun—
tidak diangkat.
“Kenapa nggak diangkat…” suaranya mulai bergetar.
Ibu Yoga juga mencoba.
Tetap sama.
Tidak ada jawaban.
Di sisi lain—
Rafi dan Andre juga mendapat kabar itu.
“Bro… Yoga kecelakaan!” suara panik Rafi di telepon.
Andre langsung berdiri. “Apa?!”
“Kita ke rumah sakit sekarang!”
Malam itu—
semua orang bergerak.
Semua panik.
Semua takut.
Namun satu orang…
yang paling ingin mereka hubungi—
tidak bisa dijangkau.
Bella.
Yang seharusnya ada di sisi Yoga…
justru menghilang.
Dan tidak tahu—
bahwa seseorang yang ia cintai…
sedang berjuang antara hidup dan mati
...----------------...
Malam itu hujan masih turun tipis, menyisakan jalanan yang basah dan dingin.
Sebuah bus melaju dari arah jakarta menuju bandung
Di dalamnya, suasana cukup sepi. Beberapa penumpang tertidur, sebagian lagi hanya diam menatap keluar jendela.
Di salah satu kursi dekat jendela—
Bella duduk.
Diam.
Matanya kosong menatap ke luar.
Lampu-lampu jalan yang lewat hanya terlihat seperti bayangan samar.
Tangannya menggenggam ponsel.
Namun layar itu gelap.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Karna Bella mengeluarkan kartu dari ponselnya.
Semua terasa hampa.
Pikirannya masih dipenuhi satu hal.
Foto itu.
Yoga.
Dan Aline.
Air mata sudah tidak lagi deras seperti sebelumnya.
Namun sisa-sisanya masih terasa.
Sesak.
Sakit.
Dan kecewa.
Bus terus melaju.
Hingga tiba-tiba—
kecepatannya sedikit melambat.
Bella tidak terlalu memperhatikan.
Sampai akhirnya…
matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Lampu merah berkedip.
Kerumunan.
Dan—
sebuah mobil.
Hancur.
Bagian depannya ringsek.
Kaca pecah.
Beberapa orang berdiri di sekitar.
Bella menatap sekilas.
Namun tidak terlalu lama.
Baginya itu hanya… kecelakaan biasa di jalan.
Tanpa ia tahu—
itu adalah mobil yang sangat ia kenal.
Mobil Yoga.
Namun kondisi mobil itu terlalu parah.
Terlalu hancur.
Tidak lagi mudah dikenali.
Bus perlahan melewati lokasi itu.
Beberapa penumpang mulai berbisik.
“Ih, parah banget ya kecelakaannya…”
“Kayaknya baru kejadian…”
“Mobilnya hancur gitu…”
Seorang ibu di samping Bella ikut menoleh ke luar jendela.
“Ya ampun… ngeri sekali…”
Ia kemudian menoleh ke Bella.
“Kamu lihat, Nak? Parah sekali ya…”
Bella hanya mengangguk pelan.
“Iya…”
Suaranya datar.
Tidak ada ekspresi.
Padahal di dalam—
hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Ibu itu kembali bicara, mencoba mengalihkan suasana.
“Kamu dari Bandung juga?”
Bella mengangguk lagi. “Iya.”
“Mau ke bandung?”
“Iya.”
“Sendirian?”
Bella terdiam sebentar.
Lalu menjawab pelan.
“Iya… sendiri.”
Ibu itu tersenyum tipis. “Hati-hati ya, Nak. Perjalanan malam begini…”
Bella hanya membalas dengan senyum kecil.
Tipis.
Dipaksakan.
“Terima kasih…”
Ibu itu kembali melihat ke depan.
Namun Bella kembali menatap jendela.
Kali ini lebih lama.
Lampu-lampu jalan kembali lewat.
Namun entah kenapa—
dadanya terasa tidak nyaman.
Seperti ada yang mengganjal.
Seperti ada yang hilang.
Tapi ia tidak tahu apa.
Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat.
Nama itu muncul lagi di pikirannya.
Yoga.
Bella memejamkan mata.
Menarik napas dalam.
Lalu berbisik sangat pelan—
“…kenapa sih kamu…”
Namun tidak ada jawaban.
Bus terus melaju.
Menjauh dari lokasi kecelakaan.
Menjauh dari seseorang yang sangat ia cintai—
tanpa ia sadari…
ia baru saja melewatinya.
Dan malam itu—
takdir mempermainkan mereka.
Sangat dekat.
Namun tetap…
terpisah.