Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Melodi vs Dahlia # Acara peresmian
Melodi terus mengayuh sepedanya dengan cepat, hingga akhirnya menghentikannya di tempat agak sepi di ujung desa. Ia menepuk dadanya dengan pelan berulang kali berusaha menormalkan debaran jantungnya yang tidak beraturan sejak kedatangan Davin ke rumahnya.
"Ya Allah, hamba yakin kepadaMu, tapi hamba merasa tidak pantas untuknya."
Netra Melodi berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Davin. Jika boleh jujur dia mengagumi pemuda itu. Siapa sih, gadis normal yang tidak kagum sama dia. Sudah tampan, baik, dan ramah, mapan pula. Namun, ia tak berani berandai-andai.
"Ya Allah, hamba hanyalah gadis biasa yang miskin. Mana berani hamba berharap bisa bersanding dengan pemuda seperti Pak Dokter? Ini seperti pungguk merindukan bulan."
Melodi mengusap matanya, menarik napas berkali-kali untuk melepaskan beban di dadanya. "Ya sudahlah, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Jika memang dia jodohku sejauh apapun aku mencoba menghindar pada akhirnya akan bertemu juga."
"Dasar tak tahu malu! Lihat dirimu -- gadis miskin seperti kamu mana pantas buat Dokter Davin? Mimpi saja sana?" cibir Dahlia sambil mencebikkan bibirnya.
Entah sejak dari kapan dirinya berada di sana dan mendengar ucapan Melodi. Yang pasti hatinya bergolak bagaikan lahar panas gunung berapi, tak rela rasanya jika seorang Davin yang sudah diincarnya sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Puskesmas Pembantu itu, harus takluk pada gadis miskin dan tak berpendidikan macam Melodi.
Sungguh, saingan yang sepadan sebenarnya, tetapi pada kenyataannya Melodi memiliki nilai plus yang tak dimilikinya. Itulah yang membuatnya terus merasa iri dengan sosok Melodi hingga saat ini.
Melodi tersentak kaget, lalu menoleh ke belakang. "Kamu... Lia? Sejak kapan, kamu jadi suka menguping pembicaraan orang lain?"
"Heh...jangan nggak sopan sama aku, ya!" hardik Dahlia. "Apa kamu lupa aku ini bidan di kampung ini, asal kamu tahu!" imbuhnya dengan pongah sambil melengos dan mengangkat dagu.
"Terus... Aku harus bilang wow, gitu?" Melodi terkekeh pelan.
"Dan asal kamu tahu, Lia. Di luaran sana sangat banyak orang yang berprofesi jauh di atas seorang bidan, dan mereka tidak sombong atau semena-mena. Tapi kamu... baru jadi bidan saja tingkahmu sudah sengak kayak begini." Melodi menggelengkan kepala. Ia berbicara dengan tutur kata pelan, tetapi setiap kata yang diucapkannya sangat menusuk.
"Sungguh, sikapmu sama sekali tidak mencerminkan profesimu yang sangat mulia itu," lanjut menambahkan, diakhiri dengan senyuman tipis yang seakan mengejek.
"Kurang ajar, kamu!" marah Dahlia, wajahnya merah padam karena terpancing amarah.
"Memangnya dirimu siapa, hahhh! Berani-beraninya mengomentari sikapku?" Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Wajar kalau aku sedikit sombong. Toh, ada yang aku banggakan. Ayahku orang nomor satu di desa ini dan ibuku juga pegawai. Sedangkan kamu..." Dahlia menjentikkan jari kelingkingnya ke arah Melodi lalu meludah sambil berdecih.
"Cuih... Kamu itu nggak ada seujung kuku sekalipun dibandingkan dengan diriku ini. Jadi, jangan berharap bisa bersaing denganku memperebutkan Dokter Davin. Karena aku yakin dengan kekuasaan ayahku, aku pasti akan sangat mudah mendapatkan apa yang aku mau," ujarnya penuh percaya diri.
"Camkan itu, perempuan udik. Babu aja, belagu!" imbuhnya menandaskan dengan nada sengit.
Selesai berkata, Dahlia lantas menstarter motor maticnya, menggeber gasnya dengan raungan yang keras lalu meninggalkan Melodi.
"Baiklah, gadis sombong!" ucap Melodi dengan tatapan matanya yang nanar, tangannya mencengkeram ujung kaosnya dengan kuat.
"Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan hati Pak Dokter!" Wajah Melodi berubah gelap dalam sekejap.
Ia pun lalu melanjutkan penjalanannya menuju rumah Murni.
.
.
.
Davin telah berada di lokasi tempat berlangsungnya acara peresmian rumah bagi para korban banjir dan tanah longsor. Ada kurang lebih seratus KK yang menerima bantuan tersebut, termasuk Melodi. Dia tampak duduk tenang di deretan kursi yang disediakan bagi tamu penting. Di sampingnya tampak Alvian ikut serta. Awalnya bocah lelaki itu menolak ikut, tetapi dengan kelihaiannya Davin pun berhasil membujuknya.
"Kamu harus terlihat percaya diri. Jangan minder, oke!"
Davin menekankan kata-kata itu untuk membangun kepribadian Alvian agar tak berkecil hati dengan kondisi fisiknya.
"Minumlah, biar kamu nggak grogi." Davin memberikan segelas air mineral kemasan pada Alvian.
Bocah lelaki itu mencoba tersenyum dan menerimanya. Lantas meminum seteguk demi seteguk, untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Beberapa saat kemudian rombongan pejabat dari kecamatan datang, tak berselang lama disusul rombongan pejabat dari kabupaten pun tiba.
Herman selaku sekretaris desa didapuk sebagai pembawa acara hari itu. Mengingat hari semakin siang, acara pun dimulai dengan sambutan dari Pak Aris sebagai kepala desa, kemudian Pak Camat dan terakhir Pak Bupati.
"Terima kasih, secara pribadi saya ucapkan kepada Saudara Davin Nararya. Beliau ini selain sebagai tim relawan tenaga medis, tetapi juga dengan gagasannya yang cepat tanggap darurat mengkoordinir para pengusaha untuk turut serta berpartisipasi dalam pembangunan hunian bagi para korban bencana. Ini sungguh luar biasa. Terima kasih, sekali."
Davin berdiri tersenyum kepada para hadirin sambil membungkukkan badannya sebagai bentuk rasa hormat.
Kemudian Davin pun diberikan waktu untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mewakili para pengusaha yang tak lain adalah saudaranya sendiri.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... Terima kasih, atas waktu yang diberikan kepada saya. Di sini saya mewakili teman-teman yang telah berkontribusi baik berupa dana tunai maupun pengadaan barang. Mohon maaf sebelumnya, jika apa yang kami lakukan ini terkesan mendadak dan tanpa melalui prosedur yang berlaku. Namun, karena kami menganggap ini berasal dari sumber dana kami pribadi, sehingga kami berharap bantuan ini bisa tepat sasaran, tanpa menyinggung pihak manapun. Dan yang terpenting dari itu semua, sekarang warga yang terdampak bencana dapat kembali menempati rumah mereka masing-masing dengan aman dan nyaman. Terima kasih, semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Davin menundukkan kepalanya sesaat lalu kembali ke tempat duduknya dan mendapat aplaus dari warga yang hadir. Kebanyakan dari mereka sangat mengagumi kepribadian Davin yang ramah dan hangat kepada warga selama tinggal di Desa Sukun.
Acara selanjutnya adalah pengguntingan pita yang akan dilakukan oleh Bapak Bupati. Dengan mengucap basmallah, beliau menggunting pita sebagai tanda bahwa rumah-rumah tersebut telah siap untuk dihuni.
Semua bertepuk-tangan gembira, dan acara pun berakhir, lalu dilanjutkan dengan ramah-tamah bagi warga yang ingin mengenal lebih dekat pemimpinnya.
Davin membawa Alvian ke tempat yang lebih lega agar bocah itu bisa sedikit bernapas dengan bebas.
"Kak Davin keren deh, tadi," puji Alvian, bocah itu menatap Davin penuh rasa kagum.
"Biasa aja itu, jangan terlalu dibesarkan." Davin menyahut seraya mengibaskan tangannya.
Dia lantas membuka salah satu jajanan yang terbungkus daun pisang lalu memberikannya pada Alvian. "Nih, kakak sudah kupas, makanlah!"
"Makasih, Kak." Alvian menerimanya dengan senang hati. Dia sangat bahagia kini mendapatkan tambahan perhatian dan kasih sayang.
Davin tersenyum, tangannya mengusap lembut pucuk kepala Alvian dengan rasa sayang terhadap adik. Maklum dia anak bontot yang berlimpahan kasih sayang dari keluarganya.
Tak jauh dari tempat Davin, Pak Aris memperhatikan interaksi mereka dengan pandangan yang tak terbaca. Bibirnya tersenyum tipis seakan ada sesuatu yang direncanakannya.
.
Terima kasih, moms ucapkan, buat kalian yang masih antusias membaca sampai bab ini🤗
Menunggu kehancuran Renata
siap jadi penghuni hotel prodeo mantap 👍