Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Kalah
Pagi menjelang siang, cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja Liam tanpa benar-benar menghangatkannya. Rumah itu tetap dijaga ketat seperti biasa namun sejak kepergian Maria, suasananya terasa berubah menjadi lebih sunyi. Bukan karena minimnya suara yang bisa didengar, melainkan karena sesuatu yang biasanya mengisi ruang kini tampak tak ada.
Liam duduk di balik meja kerjanya. Beberapa map terbuka di hadapannya, berisi dokumen-dokumen penting yang seharusnya sudah ia tanda tangani sejak tadi. Tapi matanya hanya melintas di halaman kertas yang sama tanpa benar-benar membacanya. Tangannya berhenti di satu titik, dan jari-jarinya menekan kertas dengan sedikit lebih keras, seolah sedang mencoba menahan sesuatu yang tak kasatmata.
Ponselnya tergeletak di sisi kanan meja. Layarnya tampak gelap, tapi notifikasi panggilan masih terlihat jelas—berisi beberapa nomor seperti nomor milik Maria, dokter probadi Rafael di Sevilla, dan beberapa anak buahnya yang sudah ada di sana.
Ia tahu, lusa ia akan terbang ke sana. Bahkan semuanya sudah diatur—seperti jadwal penerbangan, sistem keamanan, juga orang-orang yang akan menemaninya. Seperti biasa, Liam selalu memastikan tidak ada celah dalam rencananya. Semuanya sudah tersusun dengan rapi, bahkan sebelum Maria benar-benar meninggalkan rumah itu kemarin.
Namun tetap saja, kecemasan tentang kondisi Rafael tidak surut dari pikirannya. Liam menghela napas pelan, lalu mencondongkan tubuh ke sandaran kursi kerjanya. Pikirannya berusaha tenang, memaksa diri untuk kembali pada kebiasaan lamanya untuk mengendalikan keadaan, menyusun langkah, dan memastikan semuanya berada di bawah kontrolnya. Tapi kali ini, upaya itu seperti tidak berhasil.
Ia sudah terbiasa mengatur segalanya. Bahkan hidupnya dibangun dari keputusan-keputusan tegas dan perhitungan yang dingin. Namun ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa untuk diam, tidak peduli seberapa keras ia mencobanya.
Nama itu kembali muncul di kepalanya—Rafael. Bukan pertama kali dalam hari ini, dan jelas bukan yang terakhir. Rafael bukan sekadar rekan bisnisnya. Bahkan menyebutnya demikian terasa terlalu dangkal. Hubungan mereka telah melampaui urusan kerja sejak lama, sejak masa ketika hidup Liam masih berantakan dan tak punya arah yang jelas.
Ia teringat dirinya yang dulu—seorang remaja yang tidak tahu ke mana harus pergi. Tidak ada keluarga yang menunggunya pulang, juga tidak ada tangan yang menepuk pundaknya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hidupnya selalu keras dan penuh kebisingan yang selalu berusaha ia ciptakan sendiri. Hingga akhirnya, mabuk-mabukan menjadi rutinitas, juga pelarian dari kekosongan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Lalu Rafael pun datang—tidak dengan janji manis atau wejangan yang panjang. Ia datang dengan satu tawaran yang pada masanya, terasa seperti satu-satunya pintu yang masih terbuka. Dunia mafia bukan dunia yang benar—Liam tidak pernah menipu dirinya soal itu. Tapi di sanalah ia berhenti tersesat.
Rafael membawanya masuk, mengajarinya bertahan, dan memberinya struktur. Dari seorang anak muda yang hampir hilang arah, Liam tumbuh menjadi anak buah kepercayaannya. Rafael adalah bosnya, ya. Tapi lebih dari itu, ia memperlakukan Liam seperti keluarga. Sosok Rafael telah memberinya tempat, memberinya peran, dan memberinya identitas.
Yang paling diingat Liam adalah bagaimana Rafael, suatu hari, membawanya ke rumahnya dan memperkenalkannya pada Maria.
“Ini Maria,” kata Rafael waktu itu, dengan nada bangga yang tak pernah ia sembunyikan. “Putriku satu-satunya.”
Maria masih sangat muda saat itu. Wajahnya tampak ceria dan terlalu polos untuk dunia yang mengelilingi ayahnya. Sejak awal, Liam melihatnya sebagai sesuatu yang harus dijaga, bukan didekati. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan itu tidak pernah berubah. Maria tumbuh di hadapannya seperti seorang adik—kadang menyebalkan, kadang manja, tapi selalu menjadi bagian dari lingkaran yang ingin selalu ia lindungi.
Tidak pernah ada ketertarikan romantis padanya. Tidak pernah ada pemikiran lain yang terlintas. Bagi Liam, garis itu selalu jelas. Bahwa ia menyayangi Maria seperti keluarganya sendiri, seperti adik perempuannya yang harus ia jaga.
Namun ia juga tahu, bahwa dari luar, kedekatan itu bisa tampak berbeda. Orang-orang melihat apa yang ingin mereka lihat, tanpa memahami sejarah yang membentuknya. Kedekatan tidak selalu berarti cinta, tapi dunia jarang peduli pada perbedaan semacam itu.
Lalu, pikirannya kembali ke pagi ini, ke rumah yang terasa terlalu sepi. Kecemasan tentang Rafael menekan dadanya, hingga membuatnya sulit bernapas lega. Ia menggeser ponselnya, mempertimbangkan untuk menelepon kembali, lalu mengurungkannya. Namun, Liam pikir mungkin belum sekarang—ini belum saatnya. Ia tidak ingin mendengar kabar buruk melalui sambungan telepon yang dingin.
Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela, lalu menatap halaman luar tanpa benar-benar melihatnya. Ada banyak hal yang menuntut kehadirannya—Rafael, Maria, dan perjalanan ke Sevilla, Spanyol. Tapi ada satu hal lain yang juga terus mengganggu pikirannya, sesuatu yang belum ia beri nama, namun semakin sulit diabaikan.
Dan untuk pertama kalinya, Liam merasa bahwa kendali yang selama ini ia pegang erat sepertinya mulai goyah, sedikit demi sedikit. Liam mulai menyadari perubahan itu tanpa perlu ada satu kejadian besar yang menyadarkannya. Disana, hanya ada rangkaian detail kecil yang, jika digabungkan, membentuk jarak yang tidak bisa lagi ia abaikan. Bahwa kini Rachel tampak lebih diam.
Ia tetap menjalankan tugasnya dengan rapi dan efisien, seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang terasa hilang, seperti respons singkat yang dulu muncul tanpa perlu diminta—berupa anggukan kecil, komentar seperlunya, bahkan ekspresi samar yang tak pernah ia anggap penting. Kini Rachel berbicara hanya jika Liam bertanya. Bahkan apa yang Rachel lakukan tampak begitu berjarak dan menjadi kaku.
Bagi Liam, perubahan itu terasa mengganggu dengan cara yang tidak ia duga. Ada ketidaknyamanan yang mengendap—seperti sesuatu yang membuatnya sulit fokus, dan seperti ada suara samar yang terus berdengung di belakang kepalanya. Ia mencoba mengabaikannya, dan menyebutnya sebagai imbas dari situasi Maria dan Rafael. Tapi rasa itu tidak mau pergi. Ada kehilangan yang ia rasakan di sana. Dan ia tidak menyukainya.
Kesadaran itu datang perlahan, lalu menghantamnya dengan tenang, bahwa Rachel telah melihat kedekatannya dengan Maria. Dan Rachel pasti telah menarik kesimpulannya sendiri. Sementara Liam, dengan segala kebiasaannya untuk mengontrol keadaan, tidak pernah menjelaskan apa pun.
Diamnya Rachel kini terasa lebih keras daripada pertanyaan apa pun yang bisa ia ajukan. Dan tanpa benar-benar menyadarinya, Liam mulai membuat keputusan-keputusan kecil, yang tidak mencolok dan tidak dramatis. Bahkan, di keputusan-keputusan itu, semuanya tampak masuk akal.
Akhir-akhir ini, dengan sengaja Liam memanggil Rachel jauh lebih sering, dengan memberikan instruksi-instruksi ringan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pelayan lainnya.
“Bawakan dokumen di pos penjaga depan,” katanya suatu saat, meski ia tahu dokumen itu sebenarnya tidak mendesak.
Lalu lain waktu, ia meminta Rachel mengambilkannya minum, meski air masih tersedia di mejanya. Atau memintanya tetap di ruangan lebih lama dengan dalih menunggu instruksi lanjutan.
Bagi Rachel, semua permintaan itu terlihat normal, dan tidak ada yang berlebihan. Tidak ada satu pun yang bisa dipersoalkan. Jadi, Rachel selalu patuh dan bersikap profesional. Ia tidak banyak bertanya, dan tidak menunjukkan apa pun selain sikap kerja yang sempurna.
Dan Liam mulai kembali menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, bahwa ia memberi perintah bukan karena butuh bantuan—melainkan karena tidak ingin sendirian. Ada satu momen ketika Rachel diminta berdiri beberapa langkah darinya, menunggu dengan tenang. Tidak ada percakapan panjang di antara mereka. Tidak ada instruksi lanjutan, melainkan hanya kehadiran yang diam.
Liam merasakan tubuhnya merespons lebih dulu daripada pikirannya. Detak jantungnya melambat dan napas yang sejak pagi terasa pendek dan terpotong mulai teratur. Kecemasan tentang Rafael—tentang perjalanan, dan tentang kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi kini sedikit mereda.
Entah bagaiamana, kehadiran Rachel mampu menjadi penenangnya. Bahkan tanpa perlu berusaha. Dan kesadaran itu membuat dadanya mengeras. Ia tidak membutuhkan apapun dari Rachel, cukup hanya kehadiran. Dan justru itulah yang membuatnya takut.
Pikirannya kembali bercabang, seperti sejak pagi—bahwa ia harus pergi ke Spanyol, ia harus berada di sisi Rafael, dan tidak ada pilihan lain, sebab itu adalah kewajiban yang mutlak dan tidak bisa ditawar. Namun di saat yang sama, ada keinginan yang terus menekannya. Keinginan agar Rachel tetap berada di dekatnya, agar jarak ini tidak semakin melebar, dan agar rumah ini yang terasa kosong sejak Maria pergi, tidak menjadi lebih sunyi dari yang seharusnya.
Rasa bersalah itu pun perlahan muncul, tapi konsisten. Ia seharusnya menjaga jarak dari Rachel. Dan Rachel tidak boleh terlibat perasaan dengannya. Seharusnya, posisi mereka sudah jelas, begitu pun peran mereka. Jadi, Rachel tidak boleh terlibat lebih jauh lagi ke dalam dunianya yang berbahaya.
Dan semakin lama ia berpikir, semakin jelas pula satu hal yang tidak ingin ia akui, bahwa batas itu tidak hanya dilanggar oleh Rachel. Ia sendiri yang mendorongnya, sehingga perasaan itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Dan lagi-lagi, ia membiarkannya.
Kesimpulan itu akhirnya menetap di benaknya. Ini bukan sekadar ketertarikan sesaat. Ini adalah keterikatan. Ia merindukan Rachel, lebih dari yang seharusnya.
Liam akhirnya menoleh. “Kau,” katanya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Kau bisa kembali ke tempatmu. Tidak perlu menunggu lagi.”
Rachel pun mengangguk singkat, tanpa banyak berkomentar. Tidak ada jeda yang berarti. Ia langsung berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah yang terlihat mantap.
Lalu, Liam berdiri sendiri lagi. Ia tahu, jika ia terus menahannya—terus mencari alasan agar Rachel berada di dekatnya—ia akan melewati batas yang selama ini ia pertahankan dengan keras. Untuk saat ini, ia memang masih memegang kendali. Namun untuk pertama kalinya, kendali itu terasa seperti pertarungan yang hampir saja membuatnya kalah.