NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Stefani Minta Berhenti

Kamar asisten itu kini telah berubah menjadi pusat badai yang meluluhkan segala logika. Di bawah siraman cahaya lampu tidur yang jingga temaram, suasana terasa begitu pengap oleh uap gairah dan aroma parfum musk milik Stefani yang kini bercampur dengan aroma maskulin Erian. Erian, yang biasanya dikenal sebagai pria yang dingin, kaku, dan penuh kontrol, kini telah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda—seorang pemburu yang sedang berpesta di atas mangsanya, didorong oleh zat kimia yang membakar habis sisa-sisa nuraninya.

Dengan napas yang menderu layaknya mesin yang dipacu melampaui batas, mulut Erian dengan rakus menciumi dan memuji kedua gumpalan bulat Stefani. Ia membenamkan wajahnya di sana, menyesap keharuman kulit yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari balik meja makan atau di lorong rumah. Setiap kecupan yang ia berikan terasa menuntut, penuh dengan rasa lapar yang terpendam bertahun-tahun. Erian seolah sedang mencoba menelan habis seluruh pesona fisik wanita yang ada di bawah kungkungannya.

"Kamu... kamu begitu indah, Stef... Luar biasa..." gumam Erian dengan suara parau yang nyaris tidak dikenali. Kalimat pujian itu meluncur terus-menerus, memuja kemulusan dan kepadatan tubuh Stefani yang baginya malam ini adalah satu-satunya realitas yang nyata.

Sementara mulutnya sibuk memuja, tangannya meremas dengan penuh damba setiap lekuk padat yang ia jamah. Jemari Erian yang kuat mencengkeram dengan posesif, seolah-olah ia sedang berusaha memastikan bahwa sosok di bawahnya ini bukanlah sekadar ilusi atau mimpi basah di tengah malam. Tekanan tangannya yang kasar namun penuh pemujaan itu menciptakan kontras yang luar biasa di atas kulit Stefani yang putih bersih, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang menjadi saksi bisu atas liarnya hasrat yang sedang meledak.

Di tengah gempuran pemujaan fisik yang begitu intens, Stefani hanya bisa menangis. Air mata yang mengalir di pipinya tampak berkilau terkena cahaya lampu, memberikan kesan rapuh yang semakin memicu insting purba Erian untuk mendominasi. Isak tangisnya terdengar menyayat, sebuah perpaduan antara sandiwara yang ia susun dengan rapi dan kejutan fisik yang sebenarnya ia rasakan di balik kulitnya sendiri.

"Mmmmmpppphhhhh...... Mas jangan..... berhenti Mas...... mmmmmmpppphhhhhh............." rintih Stefani.

Suara itu teredam, tertahan di kerongkongan saat Erian kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang memabukkan. Stefani terus menggelengkan kepalanya, rambut hitam panjangnya yang halus terserak berantakan di atas seprai sutra, menciptakan pemandangan yang sangat erotis di mata Erian. Tangannya yang mungil terus mencoba mendorong bahu bidang Erian, namun tenaganya seolah lenyap, terserap oleh dominasi pria yang sedang kehilangan kewarasannya itu.

Setiap kali Stefani memohon untuk berhenti, Erian justru semakin gencar melakukan eksplorasi. Di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi, penolakan Stefani justru terdengar seperti undangan yang semakin manis. Erian tidak lagi peduli pada etika, tidak peduli pada persahabatan antara istrinya dan wanita ini, dan yang paling mengerikan, ia tidak peduli pada Nadya yang sedang meringkuk menahan sakit di kamar utama yang letaknya hanya terpisah beberapa tembok saja.

Erian berguling, membawa tubuh Stefani ke tengah ranjang agar ia bisa lebih leluasa memuja setiap inci keindahan wanita itu. Ia menciumi pundak Stefani, turun ke arah lengan, hingga kembali lagi ke arah dadanya yang naik-turun dengan napas yang tersengal.

"Maafkan aku, Stef... aku tidak bisa... aku sudah terlalu lama menginginkanmu," bisik Erian tepat di telinga Stefani, lalu ia memberikan gigitan kecil yang membuat Stefani menjerit tertahan.

Stefani terus meliuk-liuk di bawah tubuh Erian yang berat. Kakinya sesekali menendang udara sebagai bentuk perlawanan, namun pinggulnya tanpa sadar justru merapat, merespons sentuhan-sentuhan tangan Erian yang kini mulai merayap lebih jauh ke arah bawah. Di dalam pikirannya, Stefani sedang merayakan kemenangannya; ia telah berhasil meruntuhkan "benteng" Erian yang terkenal tak tergoyahkan. Namun secara fisik, ia terjebak dalam pusaran kenikmatan dan rasa takut yang nyata. Takut jika suara mereka terdengar, takut jika jeritannya membangunkan seisi rumah.

"Hentikan, Mas... mmmppphhh... jangan lakukan ini... ini salah..." Stefani terus meracau, namun suaranya kini semakin parau dan kehilangan kekuatannya.

Erian tidak memberikan celah sedikit pun. Ia seolah ingin menghapus seluruh ingatan Stefani tentang dunia luar, tentang Nadya, dan tentang pengkhianatan ini. Ia hanya ingin Stefani fokus pada sentuhannya, pada panas tubuhnya, dan pada gairah yang sedang menghancurkan segalanya. Tangan Erian kembali meremas dengan penuh damba, merasakan detak jantung Stefani yang berpacu kencang di bawah telapak tangannya, seirama dengan detak jantungnya sendiri yang kian menggila.

Setiap inci kulit Stefani yang disentuh Erian seolah terbakar. Erian benar-benar memuja keindahan itu dengan cara yang primitif. Ia menciumi perut Stefani yang rata, memuji kemulusan kulitnya dengan kata-kata yang begitu vulgar namun puitis dalam situasi yang penuh dosa ini. Stefani hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya membasahi bantal, sementara tubuhnya terus dieksplorasi oleh pria yang kini telah menjadi tawanan nafsu tersebut.

Pergumulan di atas ranjang itu semakin liar seiring dengan berjalannya waktu. Keringat mulai membasahi tubuh keduanya, menciptakan sensasi licin yang membuat setiap sentuhan terasa semakin intens. Erian tidak lagi menahan diri. Ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk memastikan Stefani tidak bisa lepas dari pelukannya. Di dalam kamar yang terisolasi itu, mereka berdua seolah sedang menari di atas jurang kehancuran, sebuah tarian yang tidak akan pernah bisa mereka hentikan sampai salah satu dari mereka benar-benar hancur.

Isak tangis Stefani perlahan mulai berubah nadanya. Di balik rintihan "jangan" yang ia ucapkan, kini terselip desahan-desahan panjang yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Tubuhnya mulai mengkhianati nuraninya sepenuhnya. Ia mulai mencengkeram punggung Erian, kuku-kukunya yang tajam meninggalkan bekas di sana, seolah ia sedang mencoba mencari pegangan di tengah badai yang sedang menghantamnya.

Erian merasakan perubahan itu. Ia tahu mangsanya mulai menyerah. Ia kembali menatap mata Stefani yang basah, menatap bibirnya yang bengkak karena ciumannya yang kasar, dan ia merasa seperti penguasa dunia. Dengan penuh damba, ia kembali memuji keindahan Stefani, sebuah mantra yang terus ia bisikkan sepanjang malam itu, menjanjikan kenikmatan yang akan membuat mereka berdua melupakan siapa diri mereka sebenarnya.

1
Lee Mba Young
Baca novel ini Stefani kayak nya lbih menggairahkan drpd Nadya. bisa memberi kepuasan pd erian.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
Lee Mba Young
tanpa pengaman tinggal nunggu Stefani hamil 🤣. syukurin Nadya bawa wanita lain ke rumah, jng Salah kan suami mu nnti, Stefani lebih menggairahkan, bisa liar tiap laki pasti akn ketagihan.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
Deeva Satrya
Nadia kmr sbelah msk GK kedengeran pdhl mereka berdua triak triak an psti keras bngt,, sat set KK ending Nadia nangkep mereka berdua lgi indehoi 🤣🤣🤣🤣🤣
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!