Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 elemen baru terbuka
"Naga betina, kau dan hunter lain jaga agar para burung lain tidak sampai ke tempat evakuasi" ucap Voltra melompat ke udara.
"Hei tunggu... VOLTRA" teriak Alina melihatnya pergi.
"Summon hewan peliharaan" ucap Voltra.
Di apartemen kuro dalam bentuk naga kecil yang sedang tidur, tiba-tiba menghilang dan muncul dalam wujud lebih besar di depan Voltra. Voltra menginjakkan kaki di atas kepala kuro, naga kecil itu tengah terbang dan masih tidak tahu kenapa ia ada disini.
"Waktunya pelatihan terbang dan pertarungan" ucap Voltra menarik pedang di pinggang kanannya.
Suara pecahan kaca dari gate berbuntut begitu keras. Lusinan burung keluar dari sana, lalu bayangan lebih besar muncul dibelakang kumpulan burung itu. Thunderbird raksasa telah muncul, Voltra menajamkan pedangnya menggunakan elemen es.
"Maju!" suruh Voltra.
Kuro meraung keras, mengibaskan sayapnya untuk terbang lebih cepat. Thunderbird membalas raungan itu, saat sayapnya berhembus menciptakan badai angin Topan dahsyat dan petir menyambar dari awan. Kuro begitu lihai menghindari sambaran petir yang mencoba mengenainya.
"Sekarang!" Perintah Voltra
Rahang naga muda terbuka, kumpulan api dari dalam mulut dilepaskan menjadi laser api panas kearah Thunderbird. Merasakan ada bahaya, burung besar itu menciptakan tornado yang memblokir nafas panas milik Kuro.
"Lumayan untuk percobaan pertama" Gumam Voltra memuji Kuro. "untuk badainya akan ku bekukan" Lanjutnya menebaskan pedangnya.
Tornado yang berputar kencang tiba-tiba membeku menjadi bongkahan es, Kuro langsung terbang membawa Voltra melewati badai yang membeku. Namun burung itu secara licik terbang di atas mereka, alih-alih mengincar Voltra, ia malah mengincar penduduk yang tengah evakuasi.
Di sisi lain Raven menyerang Thunderbird berikut sedang menggunakan sihir petirnya. Natalius dan Alina bergerak cepat untuk menebas para monster yang mencobanya mengapai penduduk, jalanan dipenuhi oleh banyak mayat burung.
"Liat langitnya" ucap Raven menujuk.
Ketiganya dan para hunter lain melihat pusaran badai disertai kilatan petir yang diciptakan Thunderbird raksasa. Dari arah yang sama Kuro terbang sangat cepat, Voltra melihat serangan itu dan mustahil untuk membatalkan prosesnya.
"Kuro lindungi ibumu" Suruh Voltra melompat ke atas.
Kuro melesat turun membentangkan sayapnya di depan Alina untuk melindungi mereka dari serangan Thunderbird. Angin kencang dan kilatan petir turun dari langit, Voltra yang berada ditengah udara mengangkat tangan kirinya.
"Harus ku serap" Batin Voltra bersikeras.
Voltra menciptakan pilar-pilar es untuk menjadi pusat sambaran, agar serangan Thunderbird tidak mengenai penduduk. Pakaiannya langsung robek, begitupun kulitnya saat menyerap sebagian besar angin dan petir dari serangan Thunderbird yang luar biasa. Sebagian daging wajah Voltra hancur menujukkan tulangnya, ia memompa mana agar tubuhnya langsung regenerasi.
"Voltra" Teriak Alina.
"Hunter Voltra" Teriak natalius.
"Kenapa aku melakukan ini, jika mereka mati itu juga tidak masalah untuk ku" Batin Voltra menahan sambaran menggunakan tubuhnya. "Tapi tubuh ku seperti bilang aku harus melakukan ini" Lanjutnya.
Sambaran petir menjadi lebih dashyat dari sebelumnya. Perlahan-lahan sambaran itu berhenti, Kuro menatap ke atas melihat Voltra terdiam, naga itu menujukkan raut wajah sedih.
"Apa yang kau liat Kuro, tembak burung itu" Teriak Voltra menyuruh.
Kuro meruang senang lalu melepaskan serangan api kembali, kali ini jauh lebih cepat dan berhasil menghantam tubuh Thunderbird membuatnya terlempar. Kuro melesat terbang, Voltra kembali berdiri di atas kepalanya.
"Siapa naga hitam itu?" Tanya natalius.
"Bayi ku" Jawab Alina keceplosan.
"Hah? Maksudnya?" Tanya Raven tercengang.
"Maksudnya... Ahhh, pokoknya panjang untuk diceritakan" Balas Alina setengah panik karena keceplosan.
Di balik awan naga hitam dan Thunderbird bertarung sengit, saling membalas cakar di atas langit. Kuro mengigit leher Thunderbird, lalu burung besar mengempaskan Kuro menggunakan tekanan angin yang begitu kencang. Naga hitam terombang-ambing di langit.
"Serahkan pada ayah" ucap Voltra melesat. "Hei burung sialan, terimakasih untuk serangan tadi" Lanjutnya tersenyum jahat.
Kilatan petir merah berkumpul di pedang Voltra. Tebasan kilat mengenai bahu kanan Thunderbird, membuatnya meraung kesakitan. Teriakkan memanggil Thunderbird lebih kecil kearahnya, Voltra mengantuk elemen ke elemen es, seluruh area disekitarnya Thunderbird kecil membeku.
"Bakar mereka Kuro" Teriak voltra.
Nafas api melelahkan es-es yang membekukan para Thunderbird sekaligus membunuh mereka disaat bersamaan. Pusaran badai kembali tercipta disekeliling Thunderbird, ia mengumpulkan kilatan petir di dalam rahangnya. Kuro juga sudah bersiap untuk menyerang kembali.
Nafas api dan nafas petir bertemu, saling bertabrakan begitu dahsyat. Langit malam papua yang gelap berubah menjadi panas oleh api serta kilatan petir, Alina menatap ke langit. Bahkan para hunter di bawah tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikannya pertarungan di atas sana.
"Aku sarankan lebih baik cepat menikahinya" ucap Raven menggoda Alina.
"Bicara apa kau ini" Kesal Alina.
"Itu benar hunter Alina, Laki-laki pemberani seperti hunter Voltra hanya sedikit didunia ini" ujar natalius ikutan menggoda.
"Kalian salah paham, aku dan voltra hanya rekan" ucap Alina menggelengkan kepalanya. "Berhentilah menggodaku" Lanjutnya dengan nada kesal.
"Nanti diambil wanita lain nyesel loh" goda Raven.
"Aaaaaa—" teriak Alina terpotong oleh ledakan petir.
"Wow aku tidak tahu teriakan hunter Alina bisa menciptakan ledakan" ujar natalius kagum.
"Itu bukan aku tau, itu dari langit" Balas Alina menujuk.
"Seandainya aku bawa teropong" Gumam Raven.
Di udara kuro menghindari serangkaian petir sambil mendekat menuju Thunderbird. Ke-dua hewan terbang sudah berada di batas atmosfer karena kecepatannya terbang, voltra mulai menyadari kalau kuro kelelahan. Ini normal untuk bayi naga dalam pertarungan pertamanya.
"Kuro sudah kelelahan, begitupun tubuh voltra ini yang juga diambang batas karena menyerah serangan dari Thunderbird" Batin voltra memandang lawannya. "Kalau begitu aku harus mengakhiri pertarungan ini secepatnya, dengan satu serangan" Lanjutnya.
"Kuro kembali" ucap voltra menggunakan magicnya.
Naga besar yang mampu membawa voltra di atas kepalanya kembali menjadi naga kecil gendut. Kuro menghilang ditransfer kembali ke apartemen tempat vanya berada, kilauan petir merah terbentuk dari tangan kanan voltra, alirannya membentuk sebuah tombak merah.
"Hei burung petir, akan ku cabuti bulu mu itu" Teriak voltra membidik sempurna musuhnya. "Terima ini" Lanjutnya melemparkan tombaknya.
Tombak petir merah melesat begitu cepat kearah Thunderbird, menusuk burung itu secara telak, melemparkan ke luar atmosfer sebelum meledak dahsyat. Tubuh Thunderbird hancur berkeping-keping dan bersamaan gate tertutup, voltra tersenyum tipis namun matanya semakin berat.
"Sial, tubuhku mencapai batasnya" ucap voltra kehilangan kesadaran.
Dibawah Alina, natalius dan Raven melihat tubuh voltra bagaikan sebuah komet yang jatuh dari atmosfer. Alina melompat zig-zag, berusaha menangkap tubuh voltra. Dengan dorongan Mana yang maksimal, ia melesat ke udara, menembus sisa-sisa awan badai yang masih bergolak.
"Jangan berani-berani mati sekarang, Voltra!" teriak Alina mencoba menangkap tubuh yang jatuh itu.