Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hoshi Gabut
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin
"Opa jangan bercanda deh!" seru Kaivan gemas. "Bagaimana jika terjadi sesuatu sama Opa? Aku bisa dimarahi Papa dan Oma Rina! Belum Eyang Bima!"
"Lho, kan ada Dendeng. Kamu masih jadi relawan kan Deng?" Hoshi menoleh ke Raiden yang tampak bingung.
"Aku masuk sih malam ini sampai sebulan ke depan. Kan aku tinggal wisuda doang dan itu masih bulan April. Ini masih bulan Februari. Gimana Opa?" tanya Raiden.
"Oke. Kai, bikin Opa masuk ke panti jompo dong," pinta Hoshi.
Kaivan hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Nggak, Opa! Aku tidak mengijinkan Opa masuk ke sana! Aku bisa digantung Papa di pohon mangga!"
"Bagaimana jika aku membantu?" tawar Kompol Jarot. "Aku rasa tidak jelek ide pak Quinn. Tapi kalau saya lancang ... Maafkan saya."
"Kamu ada ide apa Jarot?" tanya Hoshi.
"Bagaimana jika ...."
***
Seminggu kemudian, Harmoni Life kedatangan penghuni baru. Pria itu bernama Paramudya Kim dengan kondisi matanya rabun akibat katarak. Paramudya ditemani oleh asistennya yang masih muda bernama Jarot.
"Padahal aku sudah operasi beberapa kali tapi tetap saja kataraknya belum beres," ucap Paramudya sambil meraba-raba kotak domino di ruang serba guna bersama dengan para penghuni lainnya.
"Lho, jadi kamu pindah sini karena?" tanya salah seorang penghuni yang dengan dandanan necis.
"Aku sendirian di rumah. Anakku sudah menikah semua, begitu juga dengan cucuku. Mereka sudah punya keluarga sendiri-sendiri jadi aku tidak mau merepotkan mereka. Toh, aku punya uang sendiri." Paramudya menyusun kotak dominonya. "Jarot, kamu kasih tahu ya jumlah titik dominonya.
"Baik Pak," jawab Jarot.
Paramudya pun mulai bermain domino bersama dengan para penghuni panti jompo lainnya. Sementara itu, Jarot melihat sekelilingnya. Dia bisa melihat bagaimana keamanan di Harmoni Life, tidak seketat yang dikira. Ada banyak celah yang bisa ditembus.
"Aku menang ya?" tanya Paramudya dengan wajah sumringah.
"Keberuntungan pemula," kekeh salah satu Opa. "Kita main lagi?"
"Ayo. Kenapa tidak." Paramudya mulai mengocok kartu domino yang terbuat dari kayu itu.
***
Ruang Autopsi RS Bhayangkara Jakarta
Dokter Wayan sedang membuat laporan kematian seorang anak muda yang bunuh diri, terjun dari jembatan ke sungai, ketika mendengar suara langkah masuk. Pria berdarah Bali itu mendongakkan wajahnya dan melihat seniornya datang.
"Dokter Wayan," sapa dokter Arlo Gunawan.
"Dokter Arlo," senyum dokter Wayan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah anda mendapatkan kasus baru?" tanya dokter Arlo.
"Benar. Ada di lemari pendingin nomor lima. Pemuda berusia sekitar dua puluhan awal, bunuh diri terjun ke sungai."
Di ruang forensik yang sunyi, hanya terdengar dengungan alat pendingin. Dokter Wayan duduk di kursi kerjamya sementara Dokter Arlo Gunawan memperhatikannya dengan wajah serius.
“Korban ditemukan di sungai pagi tadi,” ujar dokter Wayan pelan, membuka berkas di tangannya. “Identitasnya sudah terkonfirmasi. Pria, kondisi paru-paru penuh dengan air yang signifikan orang tenggelam saat masih hidup.”
Dokter Arlo mengangguk. “Ada tanda-tanda kekerasan dari orang lain?”
Wayan menggeleng. “Tidak ada. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka yang mengarah pada perlawanan atau serangan. Semua mengarah pada satu kesimpulan… dia melompat sendiri.”
Dokter Arlo menarik napas dalam. “Penyebab kematian utamanya?”
“Akibat tenggelam,” jawab dokter Wayan. “Air masuk ke saluran pernapasan. Tidak ada indikasi racun atau zat lain yang mempercepat kematian. Ini murni kasus bunuh diri.”
Suasana menjadi hening sejenak. Arlo menatap lantai, seolah memikirkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hasil medis.
“Kadang,” kata dokter Arlo akhirnya, “yang paling sulit kita pahami bukan bagaimana mereka meninggal … tapi kenapa mereka sampai memilih jalan itu.”
Dokter Wayan menutup berkasnya perlahan. “Benar. Dari luar mungkin terlihat biasa saja. Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka hadapi.”
Dokter Arlo mengangguk pelan. “Pastikan laporan lengkapnya rapi. Keluarganya pasti butuh kejelasan, walaupun tidak akan pernah cukup menjawab semuanya.”
“Sudah saya siapkan,” jawab dokter Wayan.
Keduanya terdiam lagi, bukan karena kehabisan kata, tapi karena sama-sama memahami, bahwa di balik setiap laporan kematian, selalu ada cerita yang tak sempat tersampaikan.
Dokter Wayan memperhatikan dokter Arlo yang seminggu ini tidak ditemui oleh dokter Westin. Menurut laporan dokter Rahmat, banyak pasien IGD yang harus ditangani dan harus mendapatkan prosedur bedah.
"Apa anda membutuhkan sesuatu yang lain, Dokter Arlo?" tanya Dokter Wayan dengan wajah polos.
"Tidak. Lanjutkan laporan anda, dok Wayan," jawab dokter Arlo lalu keluar dari ruang autopsi.
Dokter Wayan mengangguk. Entah mengapa, perasaannya membisikkan bahwa dokter Arlo sedang mencari mangsa jenazah yang masuk. Kebetulan, yang datang dalam kondisi tidak baik, entah karena kecelakaan maupun bunuh diri di tempat ekstrim.
"Apakah dia mengincar sesuatu?" gumam dokter Wayan.
***
Harmoni Life
Paramudya makan ditemani oleh Jarot dengan dilayani Raiden. Pemuda itu memberikan teh tawar ke penghuni baru Harmoni Life dengan wajah masam.
"Serius Opa jadi Ethan Hunt!" bisik Raiden.
"Ethan sudah meninggal. Malah kamu panggil!" balas Paramudya sambil berbisik juga.
"Haaaiisshhhh!" Raiden mengingat pengawal setia Opa itu meninggal beberapa waktu lalu karena menderita sakit kanker paru. Ethan bukan pria perokok tapi sekelilingnya banyak perokok yang membuat dia terpapar racun nikotin.
Sejak itu PRC Group melarang semua pegawainya yang bernaung di perusahaan, tidak boleh merokok di area kerja. Mereka memberikan tempat khusus perokok dan ada sanksi tegas buat yang melanggarnya! Klan Pratomo bukan tipe perokok bahkan tidak suka merokok jadi mereka tidak mau ada pegawainya yang sakit akibat merokok karena yang rugi tidak hanya diri sendiri tapi juga sekitarnya.
"Ya sudah. Hati-hati! Kata Dok Rahmat, dokter Westin tidak bisa kemana-mana karena Bhayangkara sibuk!" bisik Raiden.
Paramudya mengangguk. "Kamu juga harus waspada, Dendeng!"
Raiden mengangguk dan berjalan menuju dapur. Paramudya dan Jarot pun makan bersama.
"Apa yang kamu temukan, Jarot?" tanya Paramudya.
"Banyaknya celah yang bisa dimasuki si pelaku. Aku sudah mencatat semua titik-titik blind spot yang tidak ada CCTV disana," jawab Jarot.
"Bagus! Kita selidik besok ya? Aku rasa, malam ini akan aman," jawab Paramudya sambil makan. "Lha, nasinya lembek amat!"
***
Note
Nama lengkap Hoshi : Hoshi Paramudya Quinn Reeves ya
Yuhuuuu up pagi yaaaa gaaeeessss
***
Maaf aku ketiduran semalam jadi baru up
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
tp nkmti dlu teror dr krban kjhtannya,atw mngkn pra arwah dr dvisi gabut mau ikutan jg????🤣🤣🤣
Belum lagi nanti teror para anomali ...
kuapokmu kapannnnn 🤣🤣🤣
Ga nyangka y opa boncabe bkln brjdoh sm oma rina,scra dr zmn dlu kl ktmu rbut mulu...sling ledek,taunya jth cintrong.....😁😁😁