sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: MAHKOTA DAN PENGORBANAN
Tiga hari perjalanan dari Dusun Willow membawa mereka kembali ke Nivalen. Tiga hari melewati desa-desa yang mulai bangkit dari keterpurukan, ladang-ladang yang mulai ditanami ulang, dan jalanan yang mulai ramai oleh pengungsi yang kembali ke rumah mereka.
Kabar tentang kematian Four Horsemen telah menyebar lebih cepat dari api. Entah bagaimana, orang-orang tahu bahwa ancaman telah berlalu. Mereka tidak tahu persis siapa yang menyelamatkan mereka, tapi mereka tahu namanya disebut-sebut dalam bisikan: Pangeran Aldric. Pangeran yang konon mati, ternyata hidup. Pangeran yang konon monster, ternyata pahlawan.
Aldric tidak terbiasa dengan tatapan kagum yang ia terima saat memasuki gerbang kota. Orang-orang berhenti bekerja, menunduk hormat, beberapa bahkan berlutut. Seorang wanita tua menangis sambil memegang tangannya, berterima kasih karena putranya selamat dari kabut kegelapan. Seorang petani memberinya sekarung apel, sambil tersenyum penuh syukur.
Aldric hanya bisa tersenyum canggung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Elara tertawa kecil melihatnya. "Kau tidak terbiasa jadi pahlawan, ya?"
"Aku lebih terbiasa jadi buronan," jawabnya getir.
"Biasakanlah. Mulai sekarang, kau bukan lagi buronan. Kau penyelamat mereka."
Istana Veynheart masih berdiri, meskipun tidak semegah dulu.
Dinding-dindingnya retak, jendela-jendela pecah, dan di beberapa tempat, atapnya masih bolong. Tapi para pelayan yang selamat—yang selama ini bersembunyi di ruang bawah tanah—sudah mulai membersihkan. Mereka menyambut kedatangan Aldric dengan tangis bahagia.
"Pangeran Aldric! Pangeran Aldric hidup!" teriak seorang wanita tua sambil memeluknya erat.
Aldric mengenalnya—Marta, pelayan dapur yang sudah bekerja sejak masa kecilnya. Ia membalas pelukan itu dengan hangat.
"Aku pulang, Marta."
"Kau pulang, Pangeran. Akhirnya kau pulang."
Dari kerumunan pelayan, sesosok wanita paruh baya berjalan tertatih. Wajahnya lebam, tangannya terbalut perban, tapi matanya—matanya bersinar begitu melihat Aldric.
Mira.
Aldric terpaku. "Mira? Kau... kau hidup?"
Mira tersenyum—senyum yang membuat semua luka di tubuhnya terasa tidak berarti. "Aku hidup, Pangeran. Mereka tidak berhasil membunuhku. Lila datang tepat waktu, membawa penjaga yang masih setia. Mereka menyelamatkanku."
Aldric berlari, memeluk wanita itu erat-erat. Air mata mengalir—air mata bahagia, air mata lega. Selama ini ia mengira Mira sudah mati. Selama ini ia membawa beban kematiannya. Ternyata ia selamat.
"Aku pikir kau—" suaranya tercekik.
"Aku terlalu keras kepala untuk mati, Pangeran." Mira tertawa—tawa yang membuat semua orang ikut menangis. "Aku masih harus melihat kau menjadi raja."
Ruang tahta terasa berbeda saat dimasuki.
Dulu, tempat ini megah, dengan lantai marmer mengkilap dan tiang-tiang emas menjulang. Kini, lantai retak, tiang-tiang roboh, dan di tengah ruangan, singgasana masih berdiri—meskipun sedikit miring.
Di bawah patung naga—patung yang selama ini ia lewati tanpa sadar—Aldric berdiri. Ia menatap singgasana yang dulu diduduki ayahnya, lalu pamannya, lalu Darius.
Sekarang, gilirannya.
"Apa kau siap?" bisik Elara di sampingnya.
Aldric menghela napas. "Aku tidak pernah siap. Tapi mungkin tidak ada yang benar-benar siap."
Ia melangkah maju, menaiki anak tangga singgasana. Setiap langkah terasa berat, seperti menapaki masa lalu, menapaki kematian ayahnya, ibunya, Liana. Setiap langkah mengingatkannya pada semua yang hilang.
Ia duduk di singgasana.
Dari luar, para pelayan dan prajurit yang selamat mulai masuk. Mereka berkumpul, menatapnya dengan harapan.
Mira berdiri di depan, memegang mahkota—bukan mahkota baru, tapi mahkota lama milik Raja Aldous. Mahkota yang selamat dari kebakaran, tersimpan rapi di ruang bawah tanah.
"Pangeran Aldric Veynheart," suara Mira bergema di ruangan yang sunyi. "Kau telah kembali dari kematian. Kau telah mengalahkan kegelapan. Kau telah menyelamatkan kerajaan ini. Kini, rakyatmu memintamu untuk memimpin."
Aldric menunduk. Mahkota itu diletakkan di kepalanya—dingin, berat, tapi terasa... tepat.
"Panjang umur Raja Aldric!" seru seseorang.
"Panjang umur Raja Aldric!" sahut yang lain.
Sorak-sorai memenuhi ruang tahta yang hancur. Orang-orang menangis, tertawa, berpelukan. Di tengah semua itu, Elara berdiri di samping singgasana, tersenyum bangga.
Aldric menatapnya. Di matanya, ia melihat masa depan—masa depan yang selama ini ia kira tidak akan pernah ia miliki.
Tapi di tangannya, Soulrender masih bersinar.
Malam itu, Aldric duduk sendirian di ruang kerja ayahnya—ruang yang sama tempat ia menerima peringatan terakhir dari ayahnya, malam sebelum kudeta.
Meja kayu jati masih sama. Peta-peta masih bergelantungan di dinding. Bahkan buku-buku masih tersusun rapi, seolah tidak ada yang berubah.
Tapi semuanya berubah.
Ia meletakkan Soulrender di atas meja. Pedang itu berdenyut pelan—bukan ancaman, tapi seperti detak jantung, seperti sesuatu yang hidup.
"Kau merasa ada yang belum selesai."
Suara Elara dari pintu. Aldric tidak menoleh.
"Aku membaca surat-surat ayahku," katanya pelan. "Dia tahu. Sejak lama, dia tahu ada konspirasi. Tapi dia tidak bisa membuktikannya. Dia hanya bisa memperingatkanku."
Ia mengeluarkan selembar perkamen tua—surat terakhir yang ditulis ayahnya, ditujukan padanya, tapi tidak pernah sempat dikirim.
"Aldric, Nak,
Jika kau membaca surat ini, berarti Ayah sudah tiada. Jangan sedih. Ayah sudah siap. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu: dendam tidak akan membawamu ke mana pun. Aku tahu, karena aku pernah mengalaminya.
Dendam seperti api. Ia bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar. Jangan biarkan ia membakar dirimu.
Jadilah raja yang lebih baik dari Ayah. Jadilah pemimpin yang tidak hanya kuat, tapi juga bijaksana.
Ayah mencintaimu. Selamanya.
Aldous Veynheart."
Aldric membacanya dua kali. Tiga kali. Air mata mengalir di pipinya—untuk pertama kalinya sejak ia menjadi raja.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi raja yang baik," bisiknya.
Elara duduk di sampingnya. "Kau akan belajar."
"Tapi dendam itu..." ia menatap Soulrender, "masih ada. Api itu masih menyala. Darius mati, tapi bukan di tanganku. Shadow Council hancur, tapi Kael bilang mereka akan kembali. Four Horsemen tumbang, tapi Lilith bilang mereka akan bangkit lagi. Kapan ini akan berakhir?"
Elara meraih tangannya. "Mungkin tidak akan pernah berakhir. Mungkin akan selalu ada musuh baru, tantangan baru. Tapi kau tidak sendirian. Aku di sini. Ren di sini. Sera di sini. Mira di sini. Varyn di sini, meskipun jauh."
Aldric menatapnya. "Apa yang membuatmu tetap bertahan? Setelah semua yang kau alami—dipaksa menikah, diancam, hampir mati—apa yang membuatmu tidak menyerah?"
Elara tersenyum. "Kau."
"Aku?"
"Aku tahu kau akan kembali. Sejak pertama kali Darius membawaku ke istana setelah kudeta, aku tahu kau tidak mati. Aku merasakannya—di sini." Ia menunjuk dadanya. "Dan selama aku merasakan itu, aku tidak akan pernah menyerah."
Mereka berpelukan di ruang kerja yang sunyi, ditemani cahaya lilin yang berkedip-kedip.
Soulrender di atas meja berdenyut lebih lambat, lebih tenang. Seolah ia juga merasakan kedamaian.
Keesokan paginya, Master Elian datang.
Penyihir tua itu muncul dari gerbang istana dengan berjalan santai, tongkat di tangan, jubah usang berkibar tertiup angin. Para penjaga yang baru ditunjuk Aldric terkejut, tapi tidak berani menghalangi—aura Elian terlalu kuat untuk diabaikan.
Aldric menyambutnya di halaman istana. "Master Elian. Kau datang."
"Aku harus." Elian menatap Soulrender yang terselip di pinggang Aldric. "Pedang itu masih menyala. Artinya, syarat ketiga belum terpenuhi."
Aldric menghela napas. "Aku tahu. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukorbankan."
Elian tersenyum—senyum misterius yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. "Kau tahu, Aldric. Kau hanya belum siap mengakuinya."
"Apa maksudmu?"
Elian menunjuk ke arah istana, ke arah orang-orang yang mulai sibuk membangun kembali. "Lihat mereka. Mereka butuh pemimpin. Mereka butuh raja yang hadir sepenuh hati, yang tidak terbagi antara masa lalu dan masa depan."
Ia menatap Aldric tajam. "Dendam adalah api yang membakar masa lalu. Tapi untuk membangun masa depan, kau harus memadamkan api itu. Selamanya."
Aldric terdiam. Ia mengerti maksud Elian.
Pengorbanan yang dimaksud bukanlah nyawa. Bukan harta. Bukan orang yang dicintai.
Tapi dendam itu sendiri.
Dendam yang selama ini menjadi bahan bakarnya. Dendam yang membuatnya bertahan di dasar jurang. Dendam yang membuatnya kuat, tapi juga membuatnya buta. Dendam yang telah menjadi bagian dari dirinya, yang akan sangat sulit dilepaskan.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa," katanya lirih.
"Kau bisa." Elian meletakkan tangan di bahunya. "Kau sudah melewati ujian leluhur. Kau sudah melepaskan masa lalu. Sekarang, lepaskan dendam. Biarkan ia mati bersama mereka yang pergi."
Malam itu, Aldric berdiri di pemakaman keluarga.
Di sini, di bukit kecil di belakang istana, ayahnya, ibunya, dan Liana dimakamkan. Batu nisan sederhana, tanpa ukiran mewah—seperti yang diinginkan ayahnya.
Ia berlutut di depan makam Liana, meletakkan boneka kelinci—boneka yang diselamatkan Mira—di atasnya.
"Maaf, Li. Kakak terlambat."
Angin malam berdesir, membawa aroma bunga liar.
"Tapi Kakak janji, Kakak tidak akan melupakanmu. Kakak akan hidup. Kakak akan menjadi raja yang baik. Kakak akan membuat ayah dan ibu bangga."
Ia menatap Soulrender di tangannya.
"Dendam ini... Kakak lepaskan. Untuk mereka. Untuk kalian. Agar kalian bisa tenang di sana."
Ia menancapkan Soulrender ke tanah di depan makam Liana.
Pedang itu bersinar terang—sangat terang—lalu perlahan meredup. Denyutnya berhenti. Api merah di gagangnya padam. Soulrender menjadi pedang biasa—tidak lebih dari sepotong besi hitam.
Aldric berdiri. Ia merasa... ringan.
Selama berbulan-bulan, ia membawa beban dendam. Beban yang membuatnya kuat, tapi juga membuatnya hampir kehilangan segalanya. Kini beban itu lepas. Yang tersisa hanya kenangan—kenangan manis tentang keluarga yang dicintainya, kenangan pahit tentang pengkhianatan yang dialaminya, dan harapan tentang masa depan yang akan dibangunnya.
Ia berbalik. Di kejauhan, Elara menunggu dengan senyum hangat.
Ia berjalan mendekat, meraih tangannya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Elara.
Aldric menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. "Siap untuk apa?"
"Untuk hidup. Untuk menjadi raja. Untuk membangun kerajaan ini bersama."
Aldric tersenyum—senyum yang tidak lagi pahit, tidak lagi getir. Senyum yang tulus, ringan, seperti beban yang terangkat dari pundaknya.
"Aku siap."
Mereka berjalan bergandengan tangan, meninggalkan pemakaman di bukit, meninggalkan Soulrender yang tertancap di tanah, meninggalkan masa lalu yang penuh luka.
Di depan mereka, istana berdiri dengan cahaya-cahaya yang mulai menyala—tanda kehidupan yang kembali. Di dalam, Ren berlarian dikejar Sera yang marah karena anak itu mencuri kue dari dapur. Mira tertawa sambil membereskan puing-puing. Para pelayan dan prajurit yang selamat bekerja bersama, membangun kembali rumah mereka.
Kerajaan Veynheart akan bangkit lagi.
Dan Aldric akan memimpinnya—bukan dengan dendam, tapi dengan cinta. Bukan dengan pedang, tapi dengan hati.
Bulan berganti musim. Istana perlahan pulih. Kerajaan mulai stabil. Aldric belajar menjadi raja—tidak sempurna, tapi terus belajar. Elara ada di sisinya, mendukung, menasehati, mencintai.
Ren tumbuh besar di bawah asuhan Sera dan sering "bercakap-cakap" dengan Varyn dalam mimpinya. Iblis tua itu kadang muncul di istana—dalam wujud kecilnya—untuk "mengawasi muridnya", katanya.
Mira menjadi kepala pelayan istana, merawat semua orang dengan kasih sayang seorang ibu.
Dan di bukit pemakaman, Soulrender tetap tertancap di tanah. Pedang yang dulu menjadi senjata pembunuh iblis kini menjadi monumen—pengingat bahwa dendam harus mati agar cinta bisa hidup.
Tapi di sudut dunia yang gelap, sesuatu bergerak. Sesuatu yang lebih tua dari Four Horsemen. Sesuatu yang menunggu, sabar, untuk saat yang tepat.
Karena selama masih ada dendam di hati manusia, kegelapan tidak akan pernah benar-benar mati.
Ia hanya menunggu.