Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Ki Kawi
"Lelembut sing kebek dendo, sing keiket getih… metu… metu…" Gumamnya lirih, namun terasa menggema di dalam ruangan.
Suasana langsung berubah.
Angin yang tadi hanya berhembus pelan. tiba-tiba, bertiup kencang.
Brakkk!
Pintu rumah yang setengah terbuka mendadak terbanting keras.
"Astaghfirullah!" teriak beberapa warga.
Lampu gantung di tengah ruangan bergoyang hebat.
Bayangan di dinding menari-nari liar.
Wussshhh…
Angin masuk dari segala arah, seolah tidak lagi berasal dari luar saja. Debu dan daun kering ikut berputar masuk ke dalam rumah.
Beberapa warga langsung menutup wajahnya.
"Apa ini…?" Teriak seseorang panik.
Namun Ki Kawi tetap duduk diam.
Tubuhnya sedikit bergoyang mengikuti irama bacaan yang semakin cepat.
Tangannya kini mencengkeram rambut panjang yang tadi ia keluarkan.
"Kowe sing kesiksa… sing ora tentrem… aku panggil…" suaranya kini lebih berat.
tok! tok! tok!
Tongkat kayunya menghantam lantai tiga kali.
Dan dalam sekejap, angin berhenti.
Beberapa warga saling berpandangan.
"Sudah selesai, Ki…?" tanya Pak Yuda pelan.
Namun Ki Kawi tidak menjawab. Matanya masih terpejam.
Lalu perlahan, kepalanya terangkat. Dan, senyumnya muncul.
"Wis teka." Bisiknya.
Deg!
Semua orang langsung menegang.
"Si… siapa, Ki?" Suara Pak Warsito hampir tak terdengar.
Ki Kawi membuka matanya perlahan. Tatapannya tidak lagi seperti tadi.
"Sing tak undang."
Hembusan angin dingin kembali terasa, meski tidak ada satu pun daun yang bergerak.
Lampu tiba-tiba meredup.
Krekk…
Suara kayu di atas plafon berderit panjang.
Lalu, dari sudut ruangan. terdengar suara pelan.
Srrrkk…
Seperti sesuatu, diseret.
"Itu… itu suara apa…?" Tanya seorang ibu.
Semua mata perlahan mengarah ke satu titik.
Sudut ruangan.
Dan di sana, seolah ada sesuatu.
Ki Kawi berbisik pelan.
"Ojo wedi."
Tapi justru kata-katanya membuat suasana semakin mencekam. Karena, perlahan, dari kegelapan itu muncul bayangan memanjang di lantai.
Bayangan di sudut ruangan itu semakin jelas. Seperti seseorang sedang berdiri menghadap Ki Kawi. Namun bentuknya tidak utuh.
Beberapa warga mundur ketakutan.
"Astaghfirullah…" ucap salah satu warga seseorang dengan suara gemetar.
Pak Warsito bahkan sampai berdiri perlahan, tubuhnya menjadi kaku.
"Ki… itu… itu apa…?" Tanyanya terbata-bata.
Ki Kawi tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke arah bayangan itu. Matanya menyipit, seolah dia bisa melihat lebih jelas daripada yang lain.
Kemudian, dengan suara rendah dan berat, dia mulai berbicara.
"Kowe." ucapnya pelan.
Bayangan itu sedikit bergerak. Seperti merespons.
Ki Kawi mengangkat tongkatnya sedikit, menunjuk ke arah bayangan itu. Suasana semakin tegang, semua orang menahan napas.
"Goleki sing nglakoni iki kabeh." Suara Ki Kawi kini lebih tegas.
Warga saling berpandangan. Jantung mereka berdegup kencang.
"Sing ngirim santet."
Ki Kawi lalu menghentakkan tongkatnya ke lantai.
Tok!
"Datangi dheweke."
"Jupuk nyawane!"
"Astaghfirullah!!" Pak Yuda sampai mundur dua langkah.
"Ki… jangan…!"ucapnya panik.
Namun, terlambat. Bayangan itu tiba-tiba bergerak cepat.
"Ki, itu... apa yang panjenengan lakukan." Pak Warsito menatap Ki Kawi dengan wajah pucat.
Ki Kawi perlahan menurunkan tongkatnya.
Ki Kawi hanya tersenyum tipis.
Dia lalu menatap satu per satu wajah warga.
"Bukankah kalian mengundangku untuk membasmi orang itu?" Ujarnya dengan logat Jawa yang kental.
Suasana langsung berubah.
"Ki bukan ini yang kamu maksud, kamu tidak meminta untuk panjenengan membunuh orang itu." Ujar Pak Warsito yang sudah mulai tidak sedang dengan keputusan sepihak dari Ki Kawi.
"Lho… Bukankah kalian sendiri yang bilang, ingin semua ini dihentikan?"
Pak Warsito menggeleng cepat.
"Iya, Ki… tapi bukan dengan cara seperti itu." Suaranya mulai tegas.
"Kami hanya ingin tahu siapa pelakunya. Bukan, bukan meminta panjenengan untuk membunuh."
"Iya, benar itu. Kami cuma ingin desa ini aman." Beberapa warga langsung mengangguk setuju.
Namun Ki Kawi justru tertawa kecil. Tawanya pelan.
"Naif…" gumamnya.
"pa maksud panjenengan, Ki?" Pak Yuda mengernyit.
"Kalau dia bisa mengirim santet, membunuh satu per satu." Ki Kawi menatapnya.
Dia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.
"Menurut kalian, dia akan berhenti kalau hanya diperingatkan?"
Tidak ada yang menjawab.
Semua terdiam.
Ucapan itu, masuk akal. Namun tetap saja menyeramkan.
Pak Warsito menggenggam tangannya.
"Ki, tetap saja itu bukan hak kita."
Ki Kawi menyipitkan mata. Dia lalu berdiri perlahan.
"Terlambat." Katanya datar.
Deg!
Ki Kawi menoleh sedikit ke arah sudut ruangan.
"Sing tak undang… wis mangkat."
"Pergi ke mana?!” “Ki, jangan menakut-nakuti!"
Ki Kawi menatap mereka satu per satu.
"Nyambut gawe."
Belum sempat suasana mereda, tiba-tiba dari luar rumah terdengar teriakan panik.
"Hei! Lihat itu!!" Salah satu warga menunduk keatas.
"Astaghfirullah…!!" Warga yang berada di halaman langsung ricuh.
Beberapa berdiri tergesa, menunjuk ke arah langit dengan wajah pucat.
Pak Warsito dan yang lain refleks berlari ke ambang pintu.
Dan saat itulah, semua melihatnya.
Di atas langit desa yang gelap, sebuah api melayang.
Api berbentuk bulat, sebesar kepala manusia.
Dan yang paling menyeramkan, api itu terbang rendah. Melayang pelan di antara atap rumah dan pepohonan.
Suara seperti angin tipis terdengar setiap kali api itu bergerak.
"Astaghfirullah, itu… itu apa…" Beberapa warga langsung mundur ketakutan.
Ada yang berlari masuk ke dalam rumah Pak Warsito.
Ada yang menutup kepala sambil berdoa.
Pak Yuda sampai tertegun. Matanya terpaku.
Api itu bergerak perlahan. Kadang berhenti di satu titik, lalu bergeser lagi.
Warga yang melihat semakin ketakutan dan kebingungan mencerna apa yang terjadi.