NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Akar yang Menembus Musim Dingin

Unit 3B tidak lagi terasa seperti bunker perlindungan; ia mulai terasa seperti ekosistem. Kucing calico yang mereka beri nama "Cali"—nama yang diambil dari Carlton karena ia ditemukan di sana—sudah menguasai sudut sofa bekas yang akhirnya diantarkan toko furnitur Lygon Street kemarin sore. Aroma melati dari pot di jendela bertarung dengan wangi kopi Gayo yang baru saja digiling Arka.

Namun, ketenangan di Melbourne sering kali hanyalah jeda di antara dua tarikan napas yang berat.

Senin pagi, Alya tidak langsung ke kantor. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan blazer warna navy yang baru. Hari ini adalah hari pertamanya sebagai Regional Director. Jabatan itu berat, bukan karena tanggung jawabnya, tapi karena ia tahu mata dunia—terutama sisa-sisa pengikut Marcus—sedang menunggunya terpeleset.

"Bang, kamu yakin nggak mau ikut ke kantor?" tanya Alya, melihat Arka yang masih berkutat dengan tumpukan kabel di bawah meja lipat.

"Aku ada due diligence buat akuisisi unit logistik itu, Al," Arka menyahut tanpa mendongak. "Investor Singapura mau progresnya naik 20% minggu ini karena si 'Hantu Jakarta' itu mulai nyanyi di penjara. Banyak nama besar yang terseret, dan aku harus mastiin aset yang kita ambil itu bersih dari 'darah' mereka."

Alya mendekat, berjongkok di samping Arka. Ia bisa melihat kantong mata suaminya yang menghitam. Kemenangan kemarin ternyata hanya membuka pintu ke pekerjaan yang lebih melelahkan.

"Jangan lupa makan siang. Mrs. Higgins tadi pagi ketuk pintu, dia kasih quiche bayam. Ada di kulkas," kata Alya sambil mencium pipi Arka yang terasa kasar karena belum bercukur.

Arka menarik napas panjang, lalu menatap Alya. "Hati-hati, Chief. Kursi Direktur itu lebih panas dari kursi Lead. Banyak orang yang lebih suka lihat kamu jatuh daripada lihat kamu sukses."

Tamu yang Tidak Terduga

Di kantor lantai 12, suasana memang sudah berubah. Tidak ada lagi sindiran halus, yang ada hanyalah formalitas yang kaku. Alya duduk di ruangannya yang baru—ruangan dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah peelabuhan. Di atas mejanya, ada sebuah map kuning yang tidak ada dalam jadwalnya.

Isinya: Laporan kesehatan Ibu.

Alya tertegun. Ia segera menelepon adiknya di Jakarta.

"Teh, maaf baru kasih tahu," suara adiknya terdengar cemas. "Ibu memang sudah keluar dari RS, tapi dokter bilang ada komplikasi di jantungnya. Ibu sering nanya, 'Alya kapan cuti?'. Ibu nggak mau Teteh tahu karena takut ganggu kerjaan Teteh di sana."

Tangan Alya lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang dingin. Di satu sisi, ia baru saja memegang kemudi besar perusahaan. Di sisi lain, akarnya di tanah air sedang merapuh.

Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Bukan sekretarisnya, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat mahal. Wajahnya asing, tapi auranya memancarkan otoritas yang tenang.

"Mrs. Alya? Saya Julian, Perwakilann dari konsorsium Singapura yang bekerja sama dengan suami Anda," pria itu duduk tanpa dipersilakan.

Alya mengerutkan kening. "Ada urusan apa Anda menemui saya di kantor? Hubungan bisnis suami saya adalah urusan pribadinya."

Julian tersenyum, jenis senyum yang membuat Alya waspada. "Ini bukan soal suami Anda. Ini soal firma hukum yang baru saja runtuh itu. Kami menemukan bahwa sebelum disegel, ada aset rahasia yang dipindahkan atas nama Anda."

Alya tertawa hambar. "Mustahil. Saya tidak punya kaitan apa pun dengan firma itu."

"Secara sadar, mungkin tidak. Tapi lima tahun lalu, saat Anda masih di kota asal, ada dokumen hibah saham yang ditandatangani menggunakan nama Anda sebagai penerima manfaat pasif," Julian meletakkan selembar salinan dokumen di meja. "Laki-laki itu... dia tidak hanya ingin memiliki Anda, dia ingin menjadikan Anda 'tempat cuci uang' tanpa Anda sadari. Dan sekarang, pihak otoritas Indonesia mulai melacak nama Anda."

Dunia seolah berputar. Laki-laki itu benar-benar setan. Bahkan dari balik penjara, dia masih punya cara untuk menarik Alya ke dalam lumpur bersamanya. Jika nama Alya terseret kasus pencucian uang, jabatan Regional Director-nya akan hangus dalam hitungan detik.

Misteri di Lorong Apartemen

Sore itu, Alya pulang dengan pikiran yang kacau. Ia tidak menceritakan soal Julian kepada Arka lewat telepon; ia butuh bicara tatap muka. Namun, saat ia melangkah keluar dari lift di lantai tiga, ia melihat sesuatu yang aneh.

Pintu Unit 3A—milik Mr. Henderson—terbuka sedikit. Dan dari dalam, terdengar suara orang berdebat. Bukan suara TV, tapi suara manusia yang sedang ketakutan.

"Saya sudah bilang, saya tidak tahu apa-apa! Saya cuma tetangga!" itu suara Mr. Henderson yang parau.

"Jangan bohong, tua bangka! Kamu lihat siapa saja yang masuk ke Unit 3B selain pasangan itu, kan?" suara itu berat, kasar, dan memiliki aksen yang sangat akrab di telinga Alya. Aksen dari kota asalnya.

Alya membeku di lorong. Apakah orang-orang dari masa lalunya sudah sampai ke Melbourne? Apakah hantu itu punya kaki yang begitu panjang sampai bisa menyentuh koridor Carlton?

Ia perlahan mendekati pintu 3A, jantungnya berdegup seirama dengan langkah kaki yang ia usahakan tanpa suara. Ia mengintip melalui celah pintu.

Di dalam, Mr. Henderson sedang duduk di kursinya, wajahnya pucat. Di depannya berdiri seorang pria muda dengan jaket kulit hitam, tangannya memegang sebuah amplop cokelat. Di atas meja Mr. Henderson, ada beberapa foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi—foto Alya yang sedang masuk ke kantor, dan foto Arka yang sedang membawa kotak cat kemarin.

"Kami cuma butuh tahu rutinitas mereka. Kalau kamu kooperatif, tagihan gasmu bulan ini ada yang bayar," kata pria berjaket kulit itu.

Tiba-tiba, Cali—kucing mereka—yang entah bagaimana bisa keluar dari unit 3B, berlari di koridor dan menabrak kaki Alya.

"Meong!"

Alya tersentak. Pria di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu.

"Siapa di sana?!"

Alya tidak berpikir dua kali. Ia berbalik dan berlari menuju pintunya sendiri. Ia merogoh kunci di tasnya dengan tangan gemetar. Klik. Klik. Sial, kuncinya macet!

Pintu 3A terbuka lebar. Pria berjaket kulit itu keluar.

"Hey! Kamu!"

Alya berhasil memutar kunci, masuk ke dalam, dan membanting pintu. Ia langsung mengunci semuah slot yang ada. Napasnya memburu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, menatap tembok hijau mint yang sekarang terasa seperti satu-satunya pelindung yang ia miliki.

"Bang! Arka!" teriak Alya.

Arka berlari dari arah dapur, memegang pisau pemotong sayur. "Al? Kenapa? Ada apa?"

Alya menunjuk ke arah pintu dengan telunjuk yang gemetar. "Ada orang di tempat Mr. Henderson. Mereka... mereka punya foto-foto kita. Mereka nanya rutinitas kita."

Arka meletakkan pisaunya, wajahnya mendadak sangat gelap. Dia berjalan ke pintu, melihat melalui lubang intip (peephole). Koridor sudah kosong. Pria itu sudah pergi.

Arka berbalik, memeluk Alya yang masih gemetar. "Tenang, Al. Tenang."

"Bang, Julian datang ke kantor. Dia bilang namaku dipakai buat cuci uang di firma itu. Terus sekarang ada orang di depan pintu kita," Alya mulai menangis. "Kapan ini selesai? Aku pikir kita sudah menang."

Arka mengeratkan pelukannya. Dia menatap tembok hijau mint itu, lalu menatap tanaman melati yang bunganya mulai rontok satu per satu karena guncangan angin dari jendela yang lupa ditutup.

"Ini belum selesai karena kita baru memotong kepalanya, Al. Tapi badannya masih bergerak," bisik Arka. "Laki-laki itu punya jaringan yang lebih besar dari yang kita kira. Tapi dia bikin kesalahan besar dengan kirim orang ke sini."

Arka melepaskan pelukannya, menatap mata Alya dengan intensitas yang menakutkan. "Malam ini kita nggak bisa tidur di sini. Kita harus pindah ke hotel sementara. Dan besok... besok aku bakal hubungi investor Singapura itu lagi. Kita nggak cuma bakal gigit firma hukumnya. Kita bakal hancurin seluruh jaringannya sampai nggak ada satu pun dari mereka yang berani sebut namamu lagi."

Kemistri di antara mereka malam itu berubah dari rekan seperjuangan menjadi sesuatu yang lebih primitif: bertahan hidup. Di tengah dinginnya Melbourne, di bawah bayang-bayang ancaman yang nyata, Unit 3B mendadak terasa sangat rapuh.

"Al," panggil Arka saat mereka sedang mengepak tas darurat.

"Iya?"

"Kamu percaya sama aku, kan?"

Alya menatap suaminya. Pria yang dulu gagal di stasiun, tapi sekarang berdiri tegak seperti karang di tengah badai Carlton. "Aku selalu percaya sama kamu, Bang. Tapi aku takut kita kehilangan diri kita sendiri karena perang ini."

Arka tidak menjawab. Dia hanya mengunci tas, mematikan semua lampu, dan memeluk Alya dalam kegelapan. Di luar, suara angin Melbourne kembali bersiul, kali ini terdengar seperti peringatan bahwa musim dingin yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
pembaca sejati
izinnnnnnnn
pembaca sejati
👍
putra Damian
izinnn
putra Damian
🙏🙏
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!