Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tiga hari setelah pertemuan investor, Clara muncul di kantor Wirawan Group tanpa pemberitahuan.
Ia datang sendirian. Tidak ada tim yang mengikutinya, tidak ada asisten yang membawa dokumen, bahkan tidak ada map tipis yang biasanya selalu ada di tangannya setiap kali ia datang untuk urusan bisnis. Hari itu Clara hanya membawa dirinya sendiri dengan blazer krem yang rapi, sepatu hak tinggi yang berderap tenang di lantai marmer lobi, dan senyum kecil yang tampak terlalu terlatih untuk disebut santai.
Di lantai eksekutif, sekretaris Elena menerima kedatangannya dengan sedikit kebingungan. Beberapa menit kemudian telepon di meja Elena berdering.
"Bu Elena," suara sekretarisnya terdengar ragu. "Bu Clara dari PT Claresta ada di sini. Beliau bilang ingin bertemu Ibu secara pribadi. Tidak ada janji sebelumnya."
Elena yang sedang mengetik laporan berhenti. Jemarinya masih di atas keyboard beberapa detik sebelum ia menjawab dengan tenang. "Biarkan dia masuk."
Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka.
Clara masuk dengan langkah yang terukur, menutup pintu di belakangnya dengan pelan seolah ia sudah terbiasa berada di ruangan itu. Ia berjalan menuju kursi di depan meja Elena dan duduk tanpa menunggu dipersilakan, gerakannya begitu alami seakan kursi itu memang disediakan untuknya.
Elena menutup laptopnya perlahan dan menatap Clara dengan ekspresi datar.
"Clara."
"Elena," jawab Clara sambil tersenyum tipis. "Maaf datang mendadak. Aku tahu ini bukan waktu yang dijadwalkan."
"Kalau kamu sampai datang tanpa janji, ada sesuatu yang penting," kata Elena dengan nada datar.
Clara menyilangkan kakinya dengan tenang, mengamati ruangan sebentar sebelum kembali menatap Elena. "Memang ada. Tapi bukan soal bisnis."
Elena sedikit mengangkat alis.
"Tentang Adrian," kata Clara.
Ruangan itu langsung terasa lebih sunyi.
Elena tidak berubah posisi. Ia hanya menatap Clara dengan tenang, seolah nama itu tidak menimbulkan reaksi apapun. "Ada apa dengan Adrian?"
Clara menundukkan pandangannya sebentar sebelum kembali menatap Elena dengan nada yang terdengar terlalu sabar, seperti seseorang yang merasa perlu menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah seharusnya dimengerti orang lain.
"Elena, aku akan langsung bicara saja. Aku tahu kamu dan Adrian punya sejarah panjang. Delapan tahun pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilupakan." Ia berhenti sebentar, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Dan aku juga mengerti kalau kamu mungkin masih punya perasaan untuknya. Itu wajar. Sangat wajar bahkan."
Elena mengangkat satu tangan. "Berhenti sebentar."
Clara berkedip, sedikit terkejut. "Maaf?"
"Kamu bilang kamu akan langsung bicara," kata Elena dengan tenang. "Tapi kamu mulai dengan menebak perasaanku." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Itu bukan bicara langsung, Clara. Itu asumsi."
Clara terdiam sebentar. Lalu ia mengangguk kecil dengan senyum yang menipis. "Baiklah. Aku akan langsung ke intinya." Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Hentikan semua ini."
"Semua ini?" Elena mengulang kata itu pelan.
"Surat cerai itu," jawab Clara. Suaranya tetap lembut tapi ada sesuatu yang tajam di baliknya. "Kamu dan aku sama-sama tahu itu bukan tentang perceraian sungguhan. Itu strategi, cara untuk menarik kembali perhatian Adrian. Dan itu berhasil, aku akui." Ia mengangkat bahunya sedikit dengan nada yang terdengar seperti orang yang sudah sangat berbaik hati. "Tapi sudah cukup, Elena. Kamu sudah dapat perhatiannya. Sekarang lepaskan dia."
Elena menatapnya beberapa detik. Lalu ia tertawa.
Tawa itu singkat dan pelan tapi cukup untuk membuat Clara berhenti bicara dan mengerutkan keningnya.
"Ada yang lucu?" tanya Clara dengan nada yang mulai dingin.
"Maaf," kata Elena. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka kamu akan mengatakan itu dengan wajah seserius itu."
Clara tidak tersenyum. "Aku memang serius."
"Aku tahu kamu serius." Elena menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Clara langsung. "Dan itu yang membuatnya lucu, Clara. Kamu benar-benar percaya bahwa surat cerai yang aku siapkan dengan pengacara, yang aku bawa ke pertemuan bisnis resmi, yang aku serahkan langsung ke Adrian bahkan di depan kamu sendiri saat aku menyerahkannya, kamu bilang itu strategi untuk menarik perhatiannya?"
Clara membuka mulutnya tapi Elena melanjutkan sebelum ia sempat bicara.
"Yang tidak mau menandatangani surat itu adalah Adrian. Yang datang ke rumah keluargaku tengah malam itu Adrian. Yang masuk ke kantor ini tanpa izin itu Adrian. Yang mengejar-ngejar aku ke parkiran sampai harus dilepaskan orang lain itu juga Adrian." Elena memiringkan kepalanya sedikit. "Jadi kamu datang ke sini, ke kantor aku, tanpa janji untuk meminta aku melepaskan suamiku sendiri?"
"Kamu masih menyebutnya suamimu," kata Clara dengan nada yang terdengar seperti tuduhan.
"Karena secara hukum dia masih suamiku." Elena menjawab datar. "Karena dia tidak mau tanda tangan."
"Karena kamu tidak sungguh-sungguh mau bercerai!" Clara akhirnya meninggikan suaranya sedikit, suara yang selama ini selalu ia jaga tetap lembut dan terukur. "Kalau kamu sungguh-sungguh mau bercerai kamu tidak akan terus muncul di depan Adrian. Kamu tidak akan hadir di acara-acara yang sama. Kamu tidak akan..."
"Clara." Elena memotong dengan tenang. "Aku hadir di acara-acara itu karena aku punya kepentingan bisnis di sana. Bukan karena Adrian." Ia menatap Clara lurus. "Wirawan Group mengundang PT Claresta ke pertemuan itu, bukan sebaliknya. Pesta itu diadakan ayahku bukan aku yang memilih tamu undangannya."
Clara mengambil napas. Mencoba menyusun kembali ekspresinya yang mulai retak.
"Elena," katanya dengan nada yang dipaksakan kembali lembut. "Aku tidak ingin bermusuhan. Aku hanya ingin situasi ini selesai. Adrian tidak baik-baik saja. Ia minum setiap malam. Ia tidak keluar kamar. Dan itu semua karena kamu."
"Karena aku?" Elena memotong pelan.
Clara tidak menjawab tapi jawabannya tersirat jelas.
Elena menatapnya dengan cara yang sangat tenang. "Clara, kamu datang ke sini dan bilang Adrian tidak baik-baik saja karena aku. Tapi aku yang minta cerai. Aku yang sudah siapkan semuanya. Aku yang ingin ia pergi dan melanjutkan hidupnya." Ia berhenti sebentar. "Lalu siapa sebenarnya yang tidak membiarkan Adrian baik-baik saja?"
Clara berdiri dari kursinya, gerakannya cepat dan sedikit tidak terkontrol, jauh dari sikap elegan yang selalu ia jaga. "Kamu tidak mengerti situasinya."
"Aku mengerti dengan sangat jelas." Elena tetap duduk, suaranya tetap tenang, tidak terusik sedikit pun oleh Clara yang berdiri di depannya dengan emosi yang mulai tidak terbendung. "Kamu mencintai Adrian. Kamu tinggal bersamanya hampir setahun. Kamu yang ada di sana saat ia harusnya ada bersama istri dan anak-anaknya." Ia menatap Clara langsung. "Dan sekarang kamu duduk di depanku bicara soal aku yang tidak mau melepaskan?"
"Aku mencintainya!" suara Clara keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Tangannya mengepal di sisinya. "Aku mencintai Adrian dan aku tidak akan diam saja melihat kamu terus bermain-main dengan perasaannya!"
Ruangan itu hening.
Elena menatap Clara yang berdiri di depannya dengan rahang yang mengeras, dengan mata yang akhirnya tidak menyembunyikan apapun, dengan topeng yang sudah retak terlalu dalam untuk diperbaiki.
"Clara." Elena berkata pelan. "Tidak ada yang bermain-main di sini."
Ia berdiri dari kursinya bukan dengan cara yang terburu-buru, bukan dengan cara yang marah, tapi dengan cara yang sangat terukur yang justru membuat Clara selangkah mundur tanpa disadarinya.
"Kamu datang ke sini dan menuduh aku merebut Adrian." Elena berjalan pelan ke sisi meja, berdiri menghadap Clara dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Tapi Clara, siapa yang merebut siapa?"
Clara membuka mulutnya.
"Adrian datang ke kota ini." Elena melanjutkan sebelum Clara sempat bicara. "Adrian yang bekerja di perusahaanmu. Adrian yang tinggal di rumahmu hampir setahun. Adrian yang tidak pulang ke istrinya, tidak menafkahi anaknya, tidak pernah membalas pesan istrinya." Matanya tidak bergerak dari wajah Clara. "Dan kamu bilang aku yang merebut?"
Clara tidak bersuara.
"Aku tidak mau Adrian kembali." Elena berkata dengan nada yang sangat jelas, sangat tidak memberi ruang untuk disalahartikan. "Aku tidak pernah mau. Yang aku mau dari dia sejak tahu dia tinggal bersamamu hanya satu hal, tanda tangannya di surat cerai itu. Itu saja. Tidak lebih dari itu."
Clara menatapnya dengan ekspresi yang sudah tidak bisa disembunyikan antara marah, terluka, dan sesuatu yang terasa seperti pengakuan yang tidak mau ia ucapkan.
"Jadi kalau kamu benar-benar mencintai Adrian." Elena berkata pelan, "dan kamu benar-benar ingin ia baik-baik saja, bantu ia tanda tangan surat itu. Biarkan semuanya selesai dengan benar." Ia menatap Clara. "Karena selama surat itu belum ditandatangani, tidak ada yang bisa melanjutkan hidupnya. Termasuk kamu."
Clara berdiri diam cukup lama. Lalu tanpa berkata apapun lagi ia mengambil tasnya, merapikan blazernya, dan berjalan ke pintu dengan langkah yang berusaha kembali terukur tapi tidak sepenuhnya berhasil.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
"Clara." Elena memanggil sekali lagi.
Clara tidak berbalik. Tapi ia berhenti.
"Kamu tidak perlu datang ke sini lagi untuk urusan ini." Elena berkata pelan. "Kalau kamu mau Adrian, urus sendiri. Itu bukan urusanku."