NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Jarum jam dinding ruang tengah merayap ke angka sembilan, memecah kesunyian malam dengan detak mekanis yang monoton.

jjAroma kayu cendana dari lilin aromaterapi di atas meja kaca beradu dengan bau kertas tua yang menguar dari album foto di pangkuan Selena. Wanita itu duduk bersandar, jemarinya gemetar saat menyentuh permukaan plastik yang kusam.

Di sampingnya, Quinn mengamati profil wajah ibunya yang tampak sepuluh tahun lebih tua di bawah temaram lampu gantung.

Selena menarik napas panjang, paru-parunya seolah dipenuhi debu kenangan. Ia mengusap sebuah foto bertepi gerigi. Dua balita, laki-laki dan perempuan, mengenakan kaus bergaris serupa, menyeringai ke arah kamera dengan sisa cokelat di sudut bibir.

"Dia seharusnya tumbuh setinggi papamu," gumam Selena.

Quinn mendekat, bahunya bersentuhan dengan bahu ibunya yang mendadak terasa ringkih.

"Kael punya tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya, sama seperti milikmu, Ra." lanjut Selena.

Mata Quinn terpaku pada sosok bocah laki-laki di foto itu. Matanya bulat, menyimpan binar nakal yang entah mengapa terasa akrab.

"Kenapa Mama baru nunjukin ini sekarang?" tanya Quinn.

Selena membalik halaman, namun matanya menerawang menembus dinding ruang tamu.

"Rasa sakit punya cara sendiri untuk bersembunyi. Mama pikir, dengan mengunci album ini di gudang, Mama bisa mengunci lubang di hati Mama." jawab Selena sendu.

"Ceritain sama aku, Ma. Semuanya."

Suara Quinn rendah, hampir tenggelam oleh deru AC yang mendinginkan ruangan, namun gagal mengusir hawa sesak yang mendadak muncul.

Selena menutup matanya sejenak, membiarkan gerbang memori yang selama empat belas tahun terkunci rapat, kini berderit terbuka.

Flashback on...

Empat belas tahun yang lalu, Stasiun Gambir adalah labirin manusia yang berdenyut kacau.

Udara Jakarta yang lembap bercampur dengan aroma solar kereta api dan keringat ribuan calon penumpang.

Suara peluit petugas peron melengking, bersahutan dengan pengumuman keberangkatan yang bergema tak jelas melalui pelantang suara yang pecah.

Armand mencengkeram gagang koper besar dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari mungil Kael.

Selena menggendong Quinn yang mulai merengek karena hawa panas yang menyengat kulit balitanya.

"Keretanya sebentar lagi berangkat, Armand! Kita harus masuk ke peron sekarang." teriak Selena di antara kebisingan.

"Nenek sudah menunggu di Bandung. Kita tidak boleh terlambat." sahut Armand, wajahnya bersimbah peluh.

Langkah kaki mereka terburu-buru, membelah lautan manusia yang saling sikut.

Kael, dengan rasa ingin tahu khas anak tiga tahun, terus menoleh ke belakang, terpukau oleh penjual balon gas yang membawa rombongan karakter kartun berwarna-warni di atas kepalanya.

"Kael, lihat depan, Sayang. Pegang tangan Papa kuat-kuat." tegur Armand tanpa menoleh.

Tiba-tiba, sebuah pengumuman darurat mengguncang stasiun. Kereta dari arah timur mengalami kendala teknis, memicu arus massa yang mendadak berbalik arah demi mengejar informasi di loket. Kerumunan itu seperti ombak pasang yang tak terkendali.

Selena terdorong ke samping, bahunya menabrak seorang pria berjaket kulit yang mengumpat kasar.

"Armand!" teriak Selena, mendekap Quinn lebih erat.

"Aku di sini! Terus jalan!" sahut Armand juga berteriak.

Namun, sebuah rombongan besar pembawa barang panggulan menerobos paksa di antara Armand dan Selena. Arus manusia itu menjadi dinding daging yang memisahkan mereka. Armand merasakan tarikan di tangannya melonggar saat seseorang dengan tas ransel raksasa menabrak pundaknya, membuatnya limbung.

Hanya butuh tiga detik. Tiga detik bagi genggaman itu untuk terlepas.

"Kael?" Armand memutar tubuhnya.

Posisi yang tadinya diisi oleh bocah kecil berkaus garis-garis itu kini kosong. Hanya ada ubin stasiun yang kotor oleh jejak sepatu dan bungkusan sisa makanan.

"Kael! Di mana kamu?!" teriak Armand panik.

Selena yang berhasil menembus kerumunan, mendapati suaminya berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Lengan baju Armand yang tadinya ditarik oleh tangan kecil Kael, kini menjuntai tak berdaya.

"Mana Kael, Armand? Mana dia?"

Suara Selena meninggi, berubah menjadi jeritan yang menyayat di tengah hiruk pikuk stasiun.

Armand berlari ke arah kerumunan, meneriakkan nama putranya hingga urat lehernya menegang. Ia memanjat kursi tunggu, memindai lautan kepala manusia, mencari warna kaus garis-garis yang sangat ia kenali.

"Kael! Kael! Kamu di mana, Nak!" teriak Armand lagi.

Petugas keamanan mulai berdatangan, meniup peluit, mencoba menciptakan ruang di tengah kekacauan. Namun, stasiun itu terlalu luas, terlalu bising, dan terlalu rakus. Ia telah menelan seorang bocah kecil tanpa meninggalkan jejak.

Selena jatuh terduduk di lantai peron yang dingin. Quinn dalam dekapannya mulai menangis kencang, seolah merasakan separuh jiwanya baru saja direnggut paksa.

Armand terus berlari, menelusuri setiap gerbong, setiap toilet, hingga ke area parkir, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang mencekik.

Matahari terbenam di balik gedung-gedung Jakarta hari itu, namun bagi Selena dan Armand, cahaya dunia mereka baru saja padam untuk waktu yang sangat lama.

Flashback off...

Quinn mengerjapkan mata. Ruang tengah rumahnya kembali fokus. Ibunya masih di sana, menyeka sudut mata dengan ujung jarinya. Kilasan balik itu terasa begitu nyata di kepala Quinn, seolah ia bisa merasakan kembali aroma solar dan rasa sesak di dada ibunya.

"Polisi nggak nemuin apa pun?" tanya Quinn pelan.

Selena menggeleng pelan.

"Nol besar. Seperti Kael menguap menjadi udara. Papa kamu nggak pernah memaafkan dirinya sendiri sampai sekarang. Itu sebabnya dia selalu melarang kamu pergi ke tempat ramai sendirian." jawab Selena dengan suara parau.

Quinn memandangi foto Kael sekali lagi. Sebuah nama berkelebat di benaknya.

Kael.

Seorang pria tampan yang beberapa minggu lalu ia tolong. Sosok pendiam dengan tatapan mata yang dalam, yang entah mengapa selalu membuat Quinn merasa gelisah jika berada di dekatnya.

"Apa mungkin dia?" pikir Quinn.

Tapi tahi lalat di bawah telinga kiri. Quinn mencoba mengingat-ingat. Kael selalu memakai hoodie atau membiarkan rambutnya sedikit panjang menutupi leher.

Quinn menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran gila itu.

"Mama harus istirahat. Ini udah malem." kata Quinn, membantu Selena berdiri.

"Terima kasih sudah mendengarkan Mama, Ra. Mama cuma mau kamu tahu, kamu nggak sendirian di dunia ini. Kamu punya kakak."

Setelah mengantar ibunya ke kamar, Quinn berjalan menuju kamarnya sendiri di lantai dua. Ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Kamarnya adalah wilayah kekuasaannya—berantakan dengan buku-buku sekolah, botol parfum koleksinya, dan poster BTS yang tersebar di beberapa titik di dinding kamarnya.

Ia melempar tas sekolahnya ke kursi belajar, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur yang empuk. Pikirannya masih melayang pada cerita ibunya. Bayangan bocah di stasiun itu terus bertumpang tindih dengan wajah Kael yang ia kenal sekarang.

"Ah, udahlah. Jangan terlalu drama, Quinn." batinnya kesal.

Getaran ponsel di saku celananya memutus lamunan itu. Sebuah nama muncul di layar, membuat sudut bibir Quinn otomatis terangkat.

"Ryuga." bisiknya.

Ia menggeser ikon hijau dengan gerakan lincah.

"Halo, Pacaaar? Baru mau nelepon, eh udah diduluin." ucap Quinn, suaranya berubah drastis menjadi manis dan manja, jauh dari kesan gadis barbar yang hobi memanjat pagar sekolah jika terlambat.

"Lagi apa?"

Suara di seberang sana rendah, dalam, dan membawa wibawa yang membuat Quinn selalu merasa kecil namun terlindungi.

"Lagi mikirin kamu lah. Emang ada lagi yang lebih penting dari Ryuga?"

Quinn berguling di kasur, memeluk gulingnya erat-erat.

"Bohong. Suara kamu kedengeran berat. Ada masalah?" tanya Ryuga.

Quinn mendesah. Ryuga selalu tahu. Cowok itu punya indra keenam jika menyangkut suasana hati Quinn. Sifat protektifnya terkadang berlebihan, tapi bagi Quinn, itu adalah bentuk cinta yang paling murni.

"Cuma habis ngobrol sama Mama. Ternyata aku punya saudara kembar, Ga. Tapi... Dia hilang waktu kami kecil."

Hening sejenak di ujung telepon. Quinn bisa mendengar deru napas Ryuga yang teratur.

"Saudara kembar?" ulang Ryuga.

"Iya, tapi aku nggak mau bahas detailnya sekarang. Kepalaku mau pecah rasanya."

"Ya udah. Jangan dipikirin sekarang. Besok aku jemput jam tujuh. Jangan telat, atau aku tinggal."

Quinn mencibir, meski matanya berbinar.

"Iya, Bapak Posesif. Jemputnya depan pagar ya, jangan depan gang. Malu dilihatin tetangga kalau kamu bawa motor gede kayak mau tawuran gitu."

"Hm. Tidur sekarang, Sayang. Aku nggak mau lihat kantung mata di muka kamu besok pagi."

"Ih, kok ngatur? Tapi oke deh, demi kamu. Love you, Ga!"

"Hm. Tidur."

Klik.

Sambungan terputus. Ryuga memang tidak pernah membalas ucapan cinta Quinn secara verbal dengan mudah. Terakhir kali Ryuga mengatakan cinta padanya saat mereka jadian beberapa minggu lalu. Tapi, Quinn tahu besok pagi cowok itu pasti sudah berdiri di depan rumahnya dengan jaket kulit hitam dan helm cadangan di tangan, siap menjaganya dari apa pun.

Quinn meletakkan ponselnya di meja nakas. Ia menatap langit-langit kamar. Besok adalah hari Senin. SMA Lentera Cendekia akan kembali dengan segala hiruk pikuknya. Kelas 11 IPS 5 yang berisik menunggunya.

Ia menarik selimut hingga ke dada, membiarkan kantuk mulai menyerang. Di luar, angin Jakarta berhembus kencang, menggoyahkan dahan pohon mangga di halaman, sementara di dalam hati Quinn, sebuah benih kecurigaan mulai berakar, menanti matahari pagi untuk tumbuh menjadi sesuatu yang tak terduga.

...----------------...

Matahari pagi di Jakarta tidak pernah ramah. Cahayanya yang tajam menembus celah-celah gorden kamar Quinn, memaksa gadis itu untuk mengerang dan menutupi wajahnya dengan bantal.

Alarm di ponselnya sudah berteriak lima kali sebelum ia akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa hari Senin telah tiba.

Dengan langkah gontai, Quinn menuju kamar mandi. Air dingin yang menyentuh kulitnya sedikit mengusir sisa-sisa mimpi buruk tentang stasiun kereta api yang gelap.

Ia mematut diri di cermin. Seragam SMA Lentera Cendekia—rok abu-abu pendek dan kemeja putih yang pas di badan—tampak sempurna di tubuhnya. Ia menyisir rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap, membiarkannya terurai bebas.

"Quinn! Ada Ryuga di depan!" teriak Selena dari lantai bawah.

Quinn tersenyum kecil. Ryuga tidak pernah terlambat, bahkan satu menit pun.

Ia menyambar tasnya yang penuh dengan gantungan kunci berisik, lalu berlari menuruni tangga.

Di ruang tamu, Selena sedang memberikan segelas air putih kepada Ryuga. Cowok itu berdiri tegak, wajahnya datar tanpa ekspresi, seperti patung marmer yang dipahat dengan sempurna. Sementara Armand sedang duduk di sofa sambil membaca koran.

"Pagi, Ma, Pa. Pagi, Ga." sapa Quinn dengan nada ceria yang sengaja dibuat-buat untuk menggoda Ryuga.

Ryuga hanya mengangguk kecil ke arah Quinn, lalu beralih kembali ke Selena. "Saya bawa Quinn berangkat sekarang, Tante."

"Iya, hati-hati ya, Ryuga. Quinn, jangan barbar di sekolah," pesan Selena.

Quinn memutar bola matanya. "Mama, aku ini anak teladan!"

"Hati-hati bawa motornya, Ryuga." pesan Armand.

Ryuga mengangguk.

"Baik, Om."

Begitu mereka keluar dari pintu rumah, Ryuga langsung menarik tangan Quinn, membimbingnya menuju motor sport hitam besar yang terparkir di depan pagar.

Ryuga mengambil helm yang khusus ia bawa untuk Quinn di stang motornya.

"Sini." perintah Ryuga singkat.

Quinn pun tersenyum manis, kemudian mendekat selangkah.

Lalu dengan cekatan tangan Ryuga bergerak memasangkan helm ke kepala Quinn.

Ia memastikan talinya terkunci dengan bunyi klik yang mantap. Jarak mereka begitu dekat hingga Quinn bisa mencium aroma parfum Ryuga yang maskulin—campuran kayu gaharu dan jeruk nipis.

"Jangan senyum-senyum di depan umum." gumam Ryuga, meski matanya memancarkan kehangatan yang hanya ia tunjukkan pada Quinn.

"Kenapa? Aku cantik, ya?"

"Jelek." canda Ryuga, membuat Quinn cemberut.

Quinn naik ke boncengan motor dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Ryuga, mengeratkan pelukannya seolah takut jatuh.

Ryuga tersenyum tipis. Tangannya mengusap punggung tangan Quinn sejenak.

Kemudian ia menyalakan mesin motor yang menderu rendah, memecah kesunyian kompleks perumahan. Mereka membelah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan.

Di atas motor, Quinn merasa aman. Semua ketakutan dan kegelisahan tentang saudaranya yang hilang seolah tertiup angin yang menerpa wajahnya.

...----------------...

SMA Lentera Cendekia sudah ramai saat mereka tiba. Gerbang besar sekolah itu dijaga oleh satpam yang tampak kewalahan mengatur alur masuk motor dan mobil mewah. Ryuga memarkir motornya di tempat khusus—area yang secara tidak tertulis memang milik "anak-anak berpengaruh" di sekolah.

,Begitu Quinn turun dari motor, ia langsung menjadi pusat perhatian. Siswa-siswi lain berbisik-bisik. Bukan hal aneh, Quinn adalah salah satu gadis tercantik di kelas 11, sementara Ryuga adalah sosok yang paling disegani.

"Nanti istirahat aku ke kelas kamu." kata Ryuga sambil melepas helm Quinn.

"Nggak usah, Ga. Aku mau ke kantin bareng geng aku." sahut Quinn.

Ryuga mengerutkan kening, matanya menyipit protektif.

"Siapa aja?"

"Cuma Vexa aja. Hehehe... Jangan posesif gitu deh, nggak akan ada yang berani macem-macem sama pacar Ryuga si 'Pangeran Es' ini."

Quinn mencubit pipi Ryuga dengan gemas sebelum berlari kecil menuju gedung kelasnya.

"Ra! Jangan lari!" teriak Ryuga, tapi gadis itu hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.

Quinn masuk ke koridor kelas 11. Suasana di sini jauh lebih kacau dibandingkan gedung kelas 10 atau 12.

Di depan kelas 11 IPS 5, sekelompok siswa sedang tertawa keras sambil melakukan aksi akrobatik yang tidak jelas. "Woi, Quinn! Baru datang lo?" sapa seorang cowok bertubuh gempal, teman sekelasnya.

"Bacot, Ndut! Minggir, gue mau lewat." sahut Quinn dengan gaya barbarnya yang khas.

Ia menyenggol bahu temannya itu hingga hampir terjatuh, memancing tawa dari siswa lainnya.

Quinn masuk ke kelas dan meletakkan tasnya di meja barisan belakang.

Matanya menyapu ruangan, mencari satu sosok.

Vexa.

Tapi sepertinya Vexa belum datang.

Quinn menopang dagunya dengan kedua tangan.

Kael.

Nama itu bergema kembali di kepala Quinn. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.

...****************...

1
Nur Halida
fiks kael kembarannya quinn
ollyooliver🍌🥒🍆
kael?🤔
ollyooliver🍌🥒🍆
lah ngapain emosi kalau ibunya sendiri baru tau dan meminta memperkenalkan dengan baiik.
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌
Nur Halida
eh beneran kael saudaranya quinn??
Adinda
mungkin kael kakaknya Quin mungkin selena dan armand kehilangan anak pertamanya
Nur Halida
jangan jatuh cinta pada kael ya quinn...😔
Nur Halida
apa iya kael kakaknya quinn?
hmmm 🤔
Angelia nikita Sumalu: Masih plot twist sih...
apa mungkin Kael kembarannya quiin tapi terpisah
total 2 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ryuga mmng anak yg buat ibunya darting, terlalu cuek sama ibunya sendiri bahkan hal untuk yg wajar seorng ibu tau. gk bagus sikap seperti itu pd ibu sendiri, klau orng lain wajar.
ollyooliver🍌🥒🍆
kemarin kan baru ketemu, udab dikota yg sama lagi..gk mungkin gk akan ketemu. lebay
Nur Halida
emang kalo berhadapan dg quinn ryuga gak bisa berkutik😁
Nur Halida
wkwkwkwk.. di kenalin sama anak sendiri🤣🤣🤣
Nur Halida
udah pacaran mareka mah gak usah dijodohin lagi🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
lamjuttt
Nur Halida
ada ada aja nih si vexa 🤭
Yudi Chandra: hehehe....ganjen dia🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya emang ufah terlamabat kael karena quinn udah punya ryuga seorang😁jadi sebelum perasanmu semakin dalam kamu harus lupain quinn biar gak sakit2 banget entar😁
Yudi Chandra: betul tuh betul😅😅😅
total 1 replies
Durahman Rahman
sangat baguss
Yudi Chandra: makaciiiiiih....🙏🙏🙏🙏
kalau ada kritik dan saran tulis aja ya. aku terima semua masukannya🤗🤗🤗🤗
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
kalau tau, knp masih berharap dodol!😏
Yudi Chandra: iya tuh. dodol banget emang😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
aku selalu dukung kamu ga. .😍😍😍
Yudi Chandra: hehehe...aku juga😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
quinn jangan jatuh cinta sama kael quinn ...ingat ryuga quinn... kasihan ryuga quinn udah nunggu kamu lama...
Yudi Chandra: iya betul. kasian Ryuga ya kan🤗🤗🤗😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Yudi Chandra: namanya cinta itu buta lo. naomi cuma mau dapetin cintanya🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!