Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 32.
Beberapa hari kemudian, pagi hari di Rumah Sakit Cakrawala terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.
Sejak berita penyerangan terhadap Arunika dan insiden penembakan Angkasa tersebar di media, rumah sakit itu menjadi pusat perhatian publik. Wartawan masih berjaga di luar gedung utama, sementara manajemen rumah sakit memperketat keamanan.
Namun bagi Arunika, semua itu hanyalah gangguan kecil. Ia berjalan cepat di lorong lantai sepuluh, diikuti dua dokter muda dan seorang asisten penelitian yang membawa beberapa berkas tebal.
Langkahnya cepat.
Tatapannya fokus.
“Dokter Arunika,” salah satu dokter muda berkata sedikit gugup, “Semua anggota tim sudah menunggu di ruang konferensi.”
Arunika mengangguk singkat. “Baik.”
Beberapa detik kemudian pintu ruang konferensi terbuka. Di dalam ruangan itu, hampir dua puluh orang sudah duduk menunggu. Para dokter spesialis, ahli bedah saraf, peneliti biomedis, hingga perwakilan dari divisi teknologi medis.
Di depan layar besar terpampang tulisan besar.
PROYEK NEUROGENESIS – PROGRAM REGENERASI SARAF OTOMATIS
Begitu Arunika masuk, seluruh ruangan langsung berdiri.
“Dokter Arunika.”
“Selamat pagi.”
Ia hanya mengangguk singkat. “Duduk saja.”
Arunika berjalan menuju meja utama, lalu meletakkan tablet tipisnya di atas meja.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Sepertinya kalian semua sudah membaca laporan perkembangan minggu lalu.”
Seorang dokter paruh baya mengangkat tangan. “Dokter Arunika, kami masih sulit percaya proyek ini benar-benar bisa berhasil.”
Ia menunjuk layar presentasi. “Regenerasi saraf pusat hampir mustahil secara medis. Bahkan pusat penelitian di luar negeri masih gagal.”
Beberapa orang lain ikut mengangguk.
Arunika hanya menatap mereka dengan tenang. “Karena mereka menggunakan metode lama.”
Wanita itu menyentuh layar tablet, layar besar di belakangnya berubah menampilkan model jaringan saraf manusia.
“Selama ini penelitian regenerasi saraf selalu berfokus pada transplantasi sel.”
Ia menunjuk bagian tertentu pada layar. “Tapi masalah utamanya bukan selnya… tapi sinyal pemulihannya.”
Ruangan itu mulai hening.
Arunika melanjutkan dengan nada tenang. “Jika kita bisa mengaktifkan kembali jalur komunikasi neuron yang mati, tubuh sebenarnya memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri.”
Seorang ahli saraf muda terlihat terkejut.
“Dokter… maksud Anda…”
Arunika menjawab singkat. “Kita tidak menciptakan saraf baru.”
Ia menatap semua orang di ruangan itu.
“Kita hanya membangunkan yang sudah ada.”
Ruangan itu benar-benar sunyi sekarang.
Beberapa detik kemudian salah satu peneliti berkata pelan. “Kalau ini berhasil… pasien lumpuh bisa berjalan lagi.”
“Cedera tulang belakang bisa sembuh.”
“Kerusakan saraf permanen bisa diperbaiki…”
Ia menatap Arunika dengan mata tidak percaya. “Ini akan mengubah dunia medis.”
Arunika menutup presentasinya. “Karena itu... proyek ini tidak boleh gagal.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi semua orang di ruangan itu bisa merasakan tekanan besar dari kata-katanya.
Salah satu dokter bertanya lagi.
“Dokter Arunika… kita sudah sampai tahap mana?”
Arunika menjawab tanpa ragu. “Uji coba manusia.”
Seluruh ruangan langsung gempar.
“Apa?!”
“Bukankah itu terlalu cepat?”
“Regulasi medis belum—”
Namun Arunika mengangkat tangannya sedikit, ruangan langsung kembali tenang.
“Subjek uji coba sudah ada.”
Semua orang langsung menatapnya.
Salah satu dokter bertanya hati-hati.
“Siapa?”
Arunika menjawab singkat. “Pasien cedera saraf berat akibat luka tembak.”
Beberapa orang terlihat berpikir.
Lalu tiba-tiba seseorang berkata pelan.
“Dokter… jangan bilang…”
Arunika menatap mereka.
“Ya.”
“Tuan Angkasa.”
Ruangan itu kembali sunyi, salah satu dokter berkata dengan gugup. “Tapi Dokter Arunika… Tuan Angkasa baru beberapa hari lalu menjalani operasi besar.”
Arunika menjawab tenang.
“Justru itu.” Ia menampilkan data medis di layar. “Peluru merusak jaringan saraf di sekitar area abdomen bagian bawah.”
Ia menatap semua orang di ruangan itu.
“Jika tidak ada terapi regenerasi, kemungkinan besar akan muncul komplikasi saraf jangka panjang.”
Seorang ahli bedah berkata pelan. “Dokter… Anda ingin menggunakan proyek ini… untuk menyembuhkannya?”
“Ya, dia kandidat terbaik.” Jawab Arunika penuh keyakinan.
Beberapa orang saling berpandangan, namun tidak ada yang berani membantah. Karena semua orang di ruangan itu tahu satu hal, Arunika tidak pernah mengambil keputusan tanpa perhitungan.
Beberapa detik kemudian seorang dokter muda berkata dengan kagum.
“Dokter Arunika… jika ini berhasil…”
“Nama Anda akan tercatat dalam sejarah medis.”
Arunika menatapnya datar. “Aku tidak tertarik pada sejarah.”
Ia mengambil kembali tabletnya.
“Aku hanya ingin pasienku sembuh.”
Di sudut ruangan… seorang pria baru saja masuk tanpa suara.
Angkasa.
Ia masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit, perban masih membalut tubuhnya di balik baju longgar. Wajahnya memang masih pucat, tetapi tatapannya tetap tajam seperti biasa. Seolah luka tembak itu tidak cukup untuk membuatnya terlihat lemah.
Pria itu duduk di atas kursi roda dengan seorang perawat di belakang. Semua orang langsung menoleh kaget, beberapa dokter langsung berdiri panik.
“Tuan Angkasa! Anda tidak boleh keluar dari ruang rawat intensif! Luka Anda belum stabil!”
Namun Angkasa hanya mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar mereka berhenti ribut. Tatapannya justru tertuju pada satu orang, Arunika.
Wanita itu masih berdiri di depan layar presentasi, tablet di tangannya. Ekspresinya tetap datar seperti biasa, tetapi alisnya sedikit berkerut.
“Kenapa kamu keluar ruangan?” tanyanya dingin.
Angkasa tersenyum tipis. “Aku bosan.”
Beberapa orang di ruangan itu hampir tersedak mendengar jawaban itu.
Bosan?
Ia baru saja menjalani operasi akibat luka tembak!
Arunika berjalan mendekat, langkahnya tenang. Namun semakin dekat ia berdiri di depan Angkasa, aura dingin di sekitarnya semakin terasa.
“Bosan?” ulangnya.
Angkasa mengangguk santai.
“Iya.” Ia melirik ke dalam ruangan. “Lagipula aku mendengar sesuatu yang menarik.”
Arunika menyilangkan tangan. “Apa?”
Angkasa tersenyum kecil. “Ternyata aku bukan hanya pasienmu. Tapi... akan menjadi pasien percobaanmu juga.”
Beberapa dokter langsung menegang, mereka khawatir situasi akan menjadi rumit. Namun reaksi Angkasa justru jauh dari yang mereka bayangkan.
Pria itu malah terlihat… tertarik.
“Regenerasi saraf, ya?”
Perawat mendorong masuk kursi roda Angkasa ke ruangan. “Proyek besar, dan aku adalah subjeknya.”
Arunika tidak langsung menjawab, tapi pada akhirnya dia berkata tenang. “Kamu tidak seharusnya mendengar itu.”
“Kenapa?” Angkasa terkekeh pelan, Ia menatapnya lebih dalam. “Apa kau takut aku menolak?”
Arunika menjawab datar. “Kemungkinan itu ada.”
“Kalau begitu kau salah.” Angkasa tersenyum, tatapannya penuh keyakinan. “Aku setuju.”
Beberapa dokter langsung terkejut.
“Serius?”
“Tanpa berpikir dulu?”
Namun Angkasa hanya menjawab santai. “Kenapa harus berpikir?”
Ia menatap Arunika lagi.
“Jika dokter yang memimpinnya adalah kamu… aku bahkan tidak perlu membaca kontraknya.”
Suasana ruangan kembali sunyi, beberapa dokter saling berpandangan. Kepercayaan seperti itu jarang sekali terjadi dalam dunia medis.
Arunika menatapnya beberapa detik.
“Kamu terlalu percaya diri.”
Angkasa tersenyum tipis dan menatap Arunika dalam-dalam. “Bukan percaya diri, aku percaya padamu.”
Kalimat itu membuat beberapa dokter langsung menahan napas.
“Kepercayaanmu padaku... tidak menggantikan risiko medis.”
Angkasa mengangkat bahu. “Risiko sudah jadi bagian hidupku.”
Beberapa detik mereka saling menatap, lalu tiba-tiba... Arunika menghela napas pelan.
“Baiklah.” Ia menoleh ke tim medis. “Siapkan semua prosedur uji coba tahap pertama.”
Beberapa orang langsung bergerak mencatat.
Namun sebelum rapat benar-benar dilanjutkan, tiba-tiba pintu ruang konferensi terbuka lagi. Langkah sepatu hak tinggi terdengar jelas, Veronica masuk dengan wajah tegang.
“Tidak boleh!”
Suasana langsung membeku.
jangan marahan lagi..,..
ga enak tau memendam perasaan....berasa ada batu di dada....sesak kali buat nafas....🤭