Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29| Kabar Baik?
Jason membawa Ara ke rumah sakit terdekat. Jason, Marten dan Nara sama-sama terdiam menunggu Ara yang sedang diperiksa oleh dokter.
Cukup lama dokter memeriksa Ara membuat Jason menjadi gelisah. Perkataan Ara selalu berputar terus-menurus di pikirannya membuat lelaki itu merasa bersalah.
“Bagaimana keadaan istriku?” tanya Jason kepada dokter yang baru selesai memeriksa Ara.
Dokter tersebut tersenyum dan menepuk pundak Jason.
“Selamat, istrimu positif hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke empat,” jelas sang dokter membuat Jason membulatkan kedua matanya terkejut, begitu pun dengan Nara dan Marten yang sama-sama terkejut mendengar kabar baik itu.
“Istrimu sudah sadar dan kau bisa menemuinya sekarang,” lanjut sang dokter sebelum pamitan.
Jason langsung bergegas masuk ke dalam ruangan dan menemukan Ara yang sedang melamun. Perlahan tangan lelaki itu terangkat membelai rambut panjang Ara, tetapi Ara masih saja terdiam membuat Jason memejamkan matanya.
“Ara? Maafkan aku,” lirih Jason yang masih tidak di respon oleh Ara.
Marten dan Nara melihat itu semua dan mereka hanya bisa diam membisu.
“Ara ku mohon bicaralah! Aku tahu sudah banyak kesalahan yang ku lakukan sehingga tidak pantas untuk menerima maaf darimu, tetapi aku mohon padamu untuk bicara. Ku mohon, aku ingin mendengar suaramu,” ucap Jason dengan putus asa.
Marten sangat tahu dengan sifat Jason, sehingga ia tahu kalau kali ini Jason benar-benar menyesal.
“Aku ingin perceraian kita dipercepat!” seru Ara membuat dunia Jason seakan runtuh seketika.
Jason menatap Ara dengan mata berkaca-kaca, belum pernah ia menangis seperti ini sebelumnya. Tapi, kalimat Ara itu mampu membuatnya sangat lemah.
“Apa yang kau katakan? Kau sedang mengandung anakku! Tidak mungkin aku menceraikanmu di saat ada nyawa di dalam perutmu. Aku tidak bisa melakukan itu, kita bisa membicarakan ini secara baik-baik Ara. Ku mohon,” mohon Jason dengan mencoba menggenggam tangan Ara, namun segera Ara tepis.
Ara menatap Jason dengan tatapan dinginya dan ia tersenyum miring melihat suaminya yang terlihat putus asa itu.
“Bukankah ini yang kau mau? Kau ingin segera bebas dari pernikahan konyol ini kan? Kau bilang sudah putus dengan Heori, tetapi kau malah membuat rencana dengannya untuk menerorku dan membuatku menjadi gila. Kau dengar baik-baik ya tuan Jason yang terhormat! Aku bisa membesarkan anak ini tanpamu, aku tidak selemah itu untuk merawat dan membesarkannya sendiri. Lagi pula aku sudah mengabulkan keinginanmu itu! Untuk apa kau bilang kita harus membicarakan ini lagi? Bukannya sudah jelas ya?” Ara menjeda kalimatnya. Menatap Jason begitu dingin dan tangannya terulur menekan dada lelaki itu.
“Atau? Kau masih belum puas menyakitiku, sehingga kau tidak ingin melepasku begitu mudah? APA ITU BENAR?” teriak Ara di depan wajah Jason.
“Bukan itu maksudku, Ara. Aku hanya ingin kita tidak berpisah, karena kau sedang mengandung anakku, aku tidak akan membiarkannya!” tegas Jason membuat Ara tertawa sinis.
“Kau pikir aku akan mau bertahan lagi? Tidak, aku sudah terlalu sakit dan maafmu sudah sangat terlambat untukku!” sinis Ara yang membuat Jason seperti terhempas ke dalam jurang paling dalam.
“Ara, aku tahu ini sudah terlambat. Tapi, tidakkah kau memikirkan janin di kandunganmu itu? Bagaimana pun itu adalah keturuan keluarga Jeon, penerus keluarga Jeon. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya demi janin di dalam kandunganmu. Aku berjanji akan benar-benar berubah untukmu dan janin di kandunganmu, Ara,” lirih Jason yang di anggap angin lalu oleh Ara.
“Aku akan tetap pergi jauh dari hidupmu dan kau bisa menganggap janin di dalam perutku ini bukanlah keturunanmu. Kau bisa menikah dengan Heori dan keturunan keluarga Jeon tidak akan hilang, anggap saja kau tidak pernah mendengar bahwa aku sedang mengandung anakmu,” ujar Ara membuat Jason membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
Jason menatap Ara dengan tatapan yang sangat menyesal dan terluka, entah mengapa hatinya begitu terluka mendengar itu semua.
“Ara ku mohon jangan katakan itu! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu!” tegas Jason.
“Kalau begitu biarkan aku yang mengurus semuanya dan kau tinggal tanda tangan saja!” balas Ara.
“Sampai mati pun aku tidak akan pernah menandatanginya! Aku tegaskan sekali lagi, kita tidak akan pernah bercerai!” lirih Jason.
“Kau ternyata sangat egois ya? Bukannya dari awal kau sendiri yang menginginkan ini? Tapi, kenapa sekarang kau bersikeras untuk mempertahankannya? Kau sangat aneh!” lelah Ara.
“Aku memang egois dan sangat egois! Tetapi, itu semua aku lakukan hanya untuk mempertahankanmu agar tetap di sisiku! Aku mohon jangan pernah pergi dari hidupku, aku mohon tetaplah di sini bersamaku. Kita mulai lagi semuanya dari awal, aku ingin memperbaiki semua kesalahku. Aku ingin menebus semuanya dan ku mohon beri aku satu kesempatan saja. Aku janji, ini yang terakhir kalinya. Jika, aku mengulangi hal yang sama lagi, kau boleh memilih untuk tetap di sisiku atau pergi. Aku akan benar-benar menerima itu, aku akan melepasmu. Jika, itu yang terbaik untuk kita,” Jason bersimpuh di lantai menatap Ara yang masih menatapnya dengan begitu dingin.
“Ku mohon berilah aku satu kesempatan lagi dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya, ku mohon Ara. Katakan sesuatu!” Jason terus menatap Ara dan memohon kepadanya agar Ara tidak pergi.
Nara yang melihat ketulusan dari Jason mulai tersentuh, ia melangkah menghampiri keduanya bersama Marten. Marten menarik tubuh Jason untuk berdiri, tetapi Jason enggan pindah dari posisinya.
Nara mendekati Ara yang mengalihkan pandangannya agar tidak melihat Jason. Nara tahu, sahabatnya itu tidak bisa melihat seseorang memohon begitu tulus kepadanya.
“Ara, kau menganggapku sebagai sahabat dan kakakmu sendirikan?” tanya lembut Nara sambil mengusap pelan rambut panjang Ara.
“Kau sahabat dan kakakku,” sahut Ara membuat Nara tersenyum mendengarnya.
“Apakah kau benar-benar ingin pergi?” tanya Nara lagi membuat Jason memejamkan matanya, ia tidak siap dengan jawaban Ara.
“Aku sangat yakin dengan itu. Sudah cukup semua yang aku rasakan, aku sudah lelah dan ingin kembali ke kampung halamanku,” jawaban dari Ara benar-benar membuat Jason merasa sangat bersalah.
“Tapi, apakah kau tega melihat anakmu nanti menanyakan keberadaan Ayahnya? Apakah kau tega melihat wajah sedihnya yang merindukan Ayahnya? Saranku sebagai seorang kakak dan sahabatmu hanya bisa memberikan yang terbaik yang menurutku itu penting demi masa depan anakmu, kau harus tetap di sini dan memberi suamimu satu kesempatan lagi. Kau dengar kan? suamimu ingin memperbaiki semuanya dan dia berjanji ini adalah kesempatan terakhir yang di terimanya, kalau suamimu kembali melakukan kesalahan yang sama, kau bisa pergi agar dia benar-benar menyesal. Sebaiknya kau pikirkan ini lagi, aku tahu hati kecilmu pasti masih ingin bertahan di sini, sudah jelas dari matamu,” bisik Nara yang hanya di dengar oleh Ara.
Jason hanya terdiam, karena ia memang tidak mendengar percakapan mereka sama sekali, begitu pun dengan Marten yang hanya mengamati mereka.
“Baik, ini adalah kesempatan terakhir untukmu. Jika kau mengulanginya lagi, aku akan benar-benar pergi jauh darimu!” kata Ara tanpa menatap ke arah Jason.
“Terima kasih, Ara,” bisik Jason dengan memeluk erat tubuh Ara.
Bersambung...