Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil Leon berhenti di depan rumah keluarga Wirawan menjelang siang.
Elena turun lebih dulu. Map proyek masih di tangannya, kemeja putih yang tadi rapi sekarang berdebu di bagian lengan, sisa dari pagi yang jauh lebih panjang dari rencananya.
Leon mematikan mesin tapi tidak langsung keluar.
Elena menoleh melalui jendela yang terbuka. "Masuk dulu."
Leon menggeleng kecil. "Tidak usah."
"Leon." Elena menatapnya lurus. "Rahangmu memar. Masuk dulu biar aku obati."
Leon diam sebentar. Lalu membuka pintu mobilnya.
Bi Nah sudah membuka pintu sebelum Elena sempat mengetuk. Perempuan paruh baya itu hanya butuh satu pandangan untuk membaca situasi, tatapan cepat ke Elena, lalu ke Leon yang tanpa sadar menyentuh sisi rahangnya.
"Bi Nah, tolong ambilkan P3K ya." Elena melepas sepatunya di depan pintu.
"Iya, Non."
Bi Nah pergi tanpa bertanya apa-apa.
Elena membawa Leon ke ruang tamu. Ruangan yang luas tapi hangat, cahaya siang masuk dari jendela besar di sisi timur, vas bunga segar di atas meja memberi kesan hidup yang tidak dipaksakan.
"Duduk dulu," kata Elena.
Leon duduk dengan sikap tegak dan tenang seperti di ruang rapat.
Beberapa detik kemudian Bi Nah kembali dengan kotak P3K dan semangkuk es yang sudah dibungkus handuk kecil tanpa diminta, karena dua puluh tahun bekerja di rumah ini sudah mengajarinya membaca kebutuhan sebelum diminta.
Elena duduk di samping Leon, membuka kotak P3K, lalu mendekat untuk memeriksa lebam di rahangnya. Lebam itu sudah terlihat jelas, ungu kemerahan di sepanjang tulang rahang, tidak terlalu besar tapi cukup untuk membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Bagian dalam sakit juga atau cuma luar?" tanyanya.
"Cuma luar."
Elena menatapnya sekilas. "Yakin?"
"Kalau retak aku sudah ke rumah sakit dari tadi." Leon menjawab datar.
"Kamu tidak lucu."
"Aku memang tidak bercanda."
Elena tidak menanggapi. Ia mengambil handuk berisi es dan menempelkannya pelan ke sisi rahang Leon. Leon tidak bergerak. Tidak mengeluh. Hanya duduk diam membiarkan Elena melakukan apa yang perlu dilakukan terlihat seperti orang yang tidak terbiasa dirawat tapi tidak tahu bagaimana menolaknya dengan sopan.
Ada kecanggungan diantara mereka saat mereka bertemu pandang untuk beberapa saat. Hening sejenak.
"Adrian pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Leon akhirnya.
"Tidak." Elena menggeleng. "Setidaknya yang aku tahu tidak."
Leon mengangguk kecil. "Berarti hari ini pertama."
"Dan harusnya terakhir." Elena menatap lebam itu dari jarak dekat. "Aku akan minta pengacara kirim surat peringatan."
"Jangan dulu."
Elena menoleh. "Dia meninju kamu di tengah jalan, Leon."
"Aku tahu." Leon menatapnya tenang. "Tapi kalau sekarang dibesar-besarkan itu jadi cerita baru. Dan orang-orang suka cerita baru." Ia berhenti sebentar. "Biarkan dulu. Tidak semua hal harus langsung dibalas."
Elena diam sebentar.
"Kamu lagi memikirkan dampaknya ke aku," katanya pelan. "Padahal yang kena tinju kamu."
"Aku cuma memikirkan yang masuk akal." Leon mengangkat bahu sedikit.
Elena menatap lelaki yang sekarang duduk di sofa ruang tamu keluarganya dengan es batu di rahang karena terkena pukulan yang di sebabkan olehnya, tapi masih memikirkan kepentingan orang lain.
Ia tidak berkata apapun. Tapi tangannya yang memegang handuk berisi es itu tidak bergetar. Lalu terdengar suara Evan memanggilnya.
"Ibu!"
Suara itu memecah keheningan ruangan.
Evan berlari turun dari tangga, kaus rumah, celana pendek, rambut berantakan, umumnya anak yang baru bangun dari tidur siang. Ia langsung menuju Elena lalu berhenti saat melihat ada orang lain di sofa.
Matanya menyipit sedikit. Mengamati.
"Siapa, bu?" tanyanya singkat.
"Namanya Leon." Elena menjawab. "Teman ibu."
Evan menatap Leon lebih lama dengan cara anak kecil yang sedang mengevaluasi seseorang dengan kriteria yang hanya ia sendiri yang tahu. Pandangannya turun ke rahang yang memar.
"Kenapa mukanya biru?"
Elena langsung menatap anaknya, "Evan!"
"Tidak apa-apa." Leon memotong tenang. Ia menatap Evan. "Kena benda keras."
Evan berpikir sebentar. "Benda apa?"
"Benda yang seharusnya tidak kena muka orang."
Evan mengangguk pelan seolah jawaban itu cukup logis untuknya. "Sakit?"
"Sedikit."
Evan menunjuk handuk berisi es di tangan ibunya. "Harus dikasih es. Biar tidak makin parah."
Leon melirik handuk kecil itu lalu kembali ke Evan. "Baik. Terima kasih infonya."
Evan mengangguk puas. "Sama-sama."
Elena memperhatikan pertukaran itu dengan cara yang tidak menunjukkan apapun di wajahnya. Tapi ada sesuatu yang hangat di dadanya yang tidak ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Ibu Elena muncul di ambang pintu ruang tamu lalu berhenti. Matanya menelusuri wajah tamu di sofa itu beberapa detik seperti orang yang sedang mencocokkan wajah yang ia lihat sekarang dengan ingatan yang tersimpan sangat jauh di belakang.
"Leon?" Suaranya ragu tapi hangat.
Leon langsung berdiri. "Iya, Tante."
Wajah ibu Elena berubah seketika, ia mendekat dan memegang kedua tangan Leon seperti seorang ibu memegang tangan anak yang sudah lama tidak ia lihat, dengan dua tangan, dengan senyum yang sangat tulus.
"Ya ampun. Anaknya Bimo." Ia menatap Leon dari dekat, dari wajahnya, ke posturnya, ke cara ia berdiri. "Kamu sudah sebesar ini sekarang."
"Sudah lama, Tante."
"Terakhir Tante lihat kamu..." ibunya Elena berhenti sebentar, seperti mengingat sesuatu, "kamu sama Elena masih kecil, masih sering main bersama saat Ayahmu berkunjung kesini. Kamu ingat tidak?"
Elena yang duduk di sofa mendongak.
Leon diam sebentar. "Masih ingat sedikit."
"Ayahmu sering cerita soal kamu ke Tante." Ibu Elena menepuk tangan Leon pelan. "Sampai akhir. Dia bangga sekali sama kamu, Leon. Selalu cerita setiap kali kamu dapat pencapaian baru."
Leon tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di wajahnya yang bergerak, sebelum kembali ke ekspresi biasanya. Tapi Elena melihatnya.
"Terima kasih, Tante." Suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.
Ibu Elena melirik rahang Leon. Alisnya naik sedikit, tapi Elena menggeleng kecil dari sofa. Seperti memberi isyarat jangan banyak bertanya.
Ibunya langsung beralih. "Sudah makan?"
"Tidak usah repot, Tante..."
"Tidak repot." Ia sudah berbalik ke arah dapur memanggil Bi Nah. "Bi Nah! Tambah peralatan makan satu ya!"
Leon menatap punggung ibu Elena yang menghilang ke dapur. Lalu menatap Elena.
Elena mengangkat bahunya sedikit. "Percuma nolak."
Makan siang itu terjadi tanpa rencana.
Ibu Elena duduk di depan Leon dan bicara dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh ibu-ibu yang memang senang berbicara, tentang pekerjaan, tentang kota yang makin padat, tentang apakah Leon sudah menikah dengan nada yang terlalu santai untuk benar-benar santai.
Leon menjawab semuanya dengan sabar. Lebih sabar dari yang Elena bayangkan dari seseorang yang di ruang rapat tidak pernah bicara lebih dari yang diperlukan.
Evan memilih duduk di sebelah Leon, keputusan yang ia buat sendiri tanpa ditanya siapapun, seperti anak yang sudah memutuskan bahwa orang ini menarik dan tidak perlu alasan lebih dari itu.
"Ini mobil paling cepat," kata Evan menyodorkan mobil merah kecil ke arah Leon.
Leon menerima dan memperhatikan dengan serius,p bukan dengan cara orang dewasa yang berpura-pura tertarik, tapi dengan cara yang terlihat seperti ia memang benar-benar melihatnya. "Roda belakangnya lebih besar dari roda depan."
Evan langsung bersinar. "Iya! Biar kencang. Kakek yang bilang."
"Kakekmu benar."
Evan mengambil mobil biru dari saku celananya. "Kalau ini katanya lebih cepat lagi tapi kakek bilang itu bohong karena warnanya lebih bagus saja."
Leon melihat mobil biru itu sebentar. "Kakekmu berkata jujur."
Evan tertawa kecil, tawa yang tidak dibuat-buat, yang keluar begitu saja.
Elena duduk di seberang mereka. Memperhatikan.
Leon di ruang rapat dan Leon di meja makan ini, keduanya terasa seperti orang yang sama persis. Sama-sama tenang. Sama-sama serius bahkan untuk hal yang kecil. Tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada yang dipaksakan. Anehnya justru itu yang paling tidak biasa.
Setelah makan Leon berpamitan di depan pintu. Ibu Elena menahan tangannya sebentar sebelum melepaskannya, seperti orang yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang lama tidak ada.
"Sering-sering ke sini ya, Leon. Jangan tunggu ada urusan baru datang."
"Baik, Tante."
Evan berdiri di samping Elena dengan mobil merah masih di tangannya. Ia menatap Leon dengan ekspresi yang sudah jauh lebih lunak dari saat pertama kali ia turun dari tangga tadi.
"Besok masih biru tidak?" tanyanya langsung.
"Mungkin." Leon menjawab.
Evan menggeleng. "Harus dikasih es lagi."
"Baik. Akan aku lakukan."
"Datang lagi ya!" kata Evan.
"Baik, nanti aku datang lagi."
Evan mengangguk puas seperti urusan itu sudah selesai dan tidak perlu dibahas lebih lanjut.
Leon menoleh ke Elena. "Terima kasih untuk tadi."
"Itu hal paling minimal yang bisa aku lakukan." Elena menjawab. "Mengingat kamu yang kena pukul karenaku."
"Sudah kubilang bukan salahmu."
"Dan aku tetap merasa begitu."
Mereka saling menatap sebentar dengan cara yang tidak perlu dilanjutkan dengan kata-kata karena semuanya sudah tersampaikan.
Leon mengangguk sekali. Lalu berjalan ke mobilnya.
Elena berdiri di depan pintu memperhatikan mobilnya sampai menghilang di tikungan.
Di sampingnya Evan masih berdiri.
"Bu."
"Hm?"
"Dia orangnya baik."
Elena menoleh ke anaknya.
Evan sudah berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban cara anak yang sudah menyampaikan pendapatnya dan merasa tidak perlu menambahkan apapun lagi.
Elena kembali menatap jalan yang sudah kosong itu. Lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangnya.