Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Target di Luar Rumah
Pria bermotor itu masih berada di ujung jalan, tidak jauh dari rumah keluarga Mahendra. Ia duduk santai di atas motornya, seolah hanya orang biasa yang sedang berhenti sejenak. Helm masih menutup kepalanya,
menyamarkan wajahnya dari siapa pun yang lewat. Tatapannya tidak pernah lepas dari gerbang besar di depannya.
Sejak pagi, ia sudah beberapa kali berpindah posisi. Ia tahu terlalu lama di satu titik bisa menimbulkan kecurigaan.
Orang seperti dia tidak boleh terlihat mencolok. Ia harus sabar, menunggu waktu yang tepat.
Ponselnya bergetar pelan di dalam saku jaket.
Ia segera mengangkatnya.
“Iya.”
Suara dari seberang terdengar dingin.
“Situasi?”
Pria itu menatap ke arah rumah. Beberapa orang terlihat berjaga di sekitar halaman.
“Pengamanan lebih ketat dari kemarin. Ada beberapa orang baru.”
“Masih bisa masuk?” tanya suara itu lagi.
Pria itu menggeleng pelan meski tidak terlihat.
“Tidak. Terlalu terbuka. Kalau dipaksa, kita bisa ketahuan.”
Beberapa detik hening.
“Berarti tunggu di luar,” kata suara itu akhirnya.
Pria itu paham maksudnya. Target harus diambil saat keluar dari rumah, bukan di dalam.
“Kalau dia keluar, aku kabari.”
“Jangan gagal lagi.”
Telepon terputus.
Pria itu menarik napas pendek lalu kembali menatap gerbang. Ia tahu satu hal pasti—gadis itu tidak mungkin terus bersembunyi di dalam rumah.
Di dalam kamar, Alisha berdiri di depan jendela. Ia memperhatikan halaman yang terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang berjaga di titik berbeda, bahkan di sudut yang sebelumnya tidak pernah dijaga.
Ia tahu semua ini karena dirinya.
Perasaan tidak nyaman sejak kemarin belum hilang. Bayangan kejadian di gudang terus muncul tanpa diminta. Suara bentakan, wajah penuh kebencian, juga darah di pelipis Alvaro.
Alisha menutup mata sebentar, mencoba menenangkan diri.
Ia tidak bisa terus seperti ini.
Terus berdiam diri hanya membuat pikirannya semakin kacau. Ia butuh keluar, butuh melakukan sesuatu agar tidak terus tenggelam dalam ketakutan.
Ia mengambil tas yang terletak di meja. Keputusannya sudah bulat.
Hari ini ia akan keluar.
Di ruang tengah, Helena duduk dengan cangkir teh di tangannya. Teh itu sudah dingin, tapi ia tidak menyadarinya. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi beberapa hari terakhir.
Langkah kaki membuatnya menoleh
“Alisha?”
Gadis itu berdiri di dekat tangga, sudah siap dengan tas di tangan.
“Aku mau keluar sebentar.”
Helena langsung berdiri.
“Kemana?”
“Ke kafe. Aku ingin bekerja.”
Helena mendekat, wajahnya langsung berubah khawatir.
“Sekarang belum aman.”
Alisha menatapnya dengan tenang.
“Aku tidak bisa terus di dalam rumah.”
Nada suaranya tidak keras, tapi jelas.
“Aku hanya ke tempat biasa. Tidak jauh.”
Helena terdiam. Ia ingin melarang, tapi ia juga melihat sesuatu di mata Alisha—keinginan untuk tidak terus menjadi orang yang hanya menunggu.
“Aku tidak mau jadi beban,” lanjut Alisha pelan.
Kalimat itu membuat Helena kehilangan kata-kata.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
“Baik.”
Alisha sedikit terkejut.
“Tapi kamu tidak sendiri,” tambah Helena tegas.
Ia langsung mengambil ponselnya.
Beberapa saat kemudian, Alvaro menerima kabar itu. Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, mendengarkan dengan wajah serius.
“Dia tetap mau keluar?” tanyanya.
“Iya,” jawab Helena singkat.
Alvaro menutup mata sebentar. Ia tidak menyukai keputusan itu, tapi ia mengerti.
Ia menoleh ke arah Damar.
“Kirim orang. Jaga dari jauh.”
Damar langsung mengangguk.
“Sudah disiapkan.”
“Pastikan dia tidak sadar.”
Damar tersenyum tipis.
“Tenang.”
Gerbang rumah terbuka perlahan. Mobil yang membawa Alisha keluar dari halaman.
Pria bermotor itu langsung menegakkan posisi duduknya.
“Target keluar,” katanya pelan melalui ponsel.
Mobil mulai menjauh. Ia tidak langsung mengikuti. Ia menunggu beberapa detik sebelum menyalakan mesin, menjaga jarak agar tidak mencurigakan.
Dari arah lain, sebuah mobil hitam juga mulai bergerak.
Alisha tidak sadar, lebih dari satu pasang mata sedang mengawasinya.
Perjalanan menuju kafe berjalan normal. Alisha duduk di kursi belakang sambil melihat keluar jendela. Jalanan ramai seperti biasa, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.
Tapi perasaan itu tetap ada.
Seperti ada yang memperhatikan.
Ia menoleh sekilas ke belakang, tapi tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
“Mungkin cuma perasaan…”
Ia berusaha fokus.
Mobil berhenti di depan kafe. Ia turun, lalu melangkah masuk.
Di dalam kafe, suasana cukup ramai. Aktivitas normal itu sedikit membantu mengalihkan pikirannya. Ia mulai bekerja seperti biasa, melayani pelanggan, merapikan meja, dan menyiapkan pesanan.
Beberapa saat, semuanya terasa normal.
Sampai ia merasakan sesuatu.
Tatapan.
Alisha menoleh ke arah sudut ruangan.
Seorang pria duduk sendirian. Tatapan mereka sempat bertemu. Pria itu langsung mengalihkan pandangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Alisha mengerutkan kening.
Perasaan aneh kembali muncul.
Ia mencoba mengabaikannya. Tidak mungkin semua orang mencurigakan.
Ia kembali bekerja.
Di luar, pria bermotor itu masih mengawasi dari seberang jalan.
“Dia masih di dalam,” lapornya singkat.
Di dalam mobil hitam, dua pria memperhatikan situasi.
“Tempat ini lebih terbuka,” kata salah satu dari mereka.
“Kesempatan lebih besar,” jawab yang lain.
Mereka diam beberapa saat, memperhatikan keluar masuk orang.
“Tapi juga lebih berisiko.”
Keputusan tidak boleh salah.
Waktu berlalu. Langit mulai gelap.
Alisha akhirnya selesai bekerja lebih awal. Ia keluar dari kafe sambil menggenggam tasnya.
Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Perasaan itu muncul lagi.
Lebih kuat.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa pun yang terlihat mencurigakan.
Jalanan masih cukup ramai.
Ia menghembuskan napas, mencoba menenangkan diri.
“Aku terlalu berpikir jauh…”
Langkahnya kembali normal, tapi jantungnya masih berdetak lebih cepat.
Di kejauhan, pria bermotor itu memperlambat lajunya.
“Dia keluar.”
“Sekarang?” tanya suara di seberang.
Pria itu mengamati sekitar. Banyak orang masih berlalu lalang.
“Belum.”
Jawabannya tegas.
“Masih terlalu ramai.”
Di dalam mobil, dua pria itu juga mengambil keputusan yang sama.
“Kita tunggu,” kata salah satu dari mereka.
“Kesempatan berikutnya.”
Alisha masuk ke gang menuju rumahnya. Suasana lebih sepi dibanding jalan utama.
Langkahnya melambat.
Perasaan diawasi semakin jelas.
Ia menoleh lagi.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Tangannya menggenggam tas lebih erat. Ia mempercepat langkah, hampir berlari kecil.
Beberapa detik kemudian, ia sudah sampai di depan rumah. Pintu dibuka cepat, lalu ditutup kembali.
Tubuhnya bersandar ke dinding.
Napasnya tidak teratur.
Hari ini ia selamat.
Di ujung jalan, pria bermotor itu berhenti. Ia tidak masuk ke dalam gang. Ia hanya memperhatikan dari jauh sebelum akhirnya mengangkat ponsel.
“Hari ini bukan waktu yang tepat.”
Suara di seberang terdengar tidak puas.
“Kita hampir bisa.”
“Belum aman,” jawabnya.
Beberapa detik hening.
“Siapkan rencana lain,” kata suara itu akhirnya.
Pria itu menutup telepon. Tatapannya tetap ke arah gang itu beberapa saat sebelum akhirnya menyalakan mesin.
“Keberuntunganmu tidak akan selalu ada…”
Ia berbalik dan pergi.
Di dalam rumah, Alisha masih berdiri di tempatnya.
Perasaan itu belum hilang.
Ia tahu sesuatu sedang mengintainya.
Hari ini mereka mundur.
Besok… apakah mereka akan kembali dengan cara yang berbeda?
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~