Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Warga desa
Keesokan harinya, kabar tentang kejadian-kejadian aneh itu semakin menyebar. Apalagi tentang kejadian semalam yang menimpah Daud. Ceritanya sudah tersebar dari warung, ke ladang, hingga ke halaman rumah warga.
Rasa takut kembali menyelimuti warga desa.
Menjelang sore, beberapa warga berkumpul dan akhirnya memutuskan mendatangi rumah Pak Warsito.
"Pak, ini tidak bisa dibiarkan." ujar salah satu warga dengan wajah tegang.
"Iya, Pak RT, sudah terlalu banyak kejadian aneh," sahut yang lain.
Pak Warsito yang sedang duduk di teras hanya bisa menghela napas panjang.
Seorang warga maju sedikit.
"Kami sepakat, Pak, sebaiknya kita panggil orang pintar."
"Orang pintar?" Pak Warsito langsung mengernyit.
"Iya, dukun yang sakti. Biar desa kita ini dilindungi." Jawab warga itu mantap.
"Betul itu. Beberapa warga lain langsung mengangguk setuju.
"Kalau dibiarkan terus, nanti makin banyak kejadian aneh yang terjadi."
Pak Warsito mengusap wajahnya. Dia tampak berpikir sejenak.
"Kalau menurut saya…" Katanya perlahan.
"Lebih baik kita minta bantuan Ustadz Sakari saja."
Beberapa warga langsung saling berpandangan.
"Lho, Pak, ini bukan urusan biasa." Sahut seseorang.
"Iya, ini sudah jelas gangguan setan." Tambah yang lain.
Pak Warsito tetap tenang.
"Justru karena itu, kita minta yang jelas-jelas jalannya." Jawabnya.
"Ustadz Sakari bisa mendoakan, memberi tuntunan. Itu lebih baik."
Namun warga tampak belum puas. Salah satu pria maju lagi.
"Pak Warsito, maaf... tapi menurut kami, ini bukan sekadar doa-doa biasa. Kita butuh yang benar-benar kuat." Katanya menekankan.
"Dukun yang sakti. Yang bisa melawan langsung." Suasana mulai memanas.
"Iya, Pak. Di desa bibi saya ada yang terkenal." Timpal warga lain.
"Katanya ampuh untuk hal-hal begitu."
Pak Warsito menggeleng pelan.
"Saya tidak setuju kalau kita main panggil dukun sembarangan. Ini bisa tambah runyam."
"Tapi Pak! Kalau kita diam saja, apa bapak mau ada korban lagi?" Potong seorang warga.
Suasana terdiam. Ucapan itu membuat semua orang terhenyak.
Pak Warsito menatap satu per satu wajah warga.
Dia tahu, ketakutan sudah menguasai mereka. Dan ketika rasa takut berbicara, akal sehat seringkali kalah.
Pak Warsito menarik napas panjang. Dia tetap berusaha tenang, meskipun tekanan dari warga semakin terasa.
"Bapak-bapak, dengarkan dulu." Ujarnya pelan namun tegas.
Beberapa warga masih terlihat gelisah, tapi mereka mencoba diam.
"Kita ini sedang dalam keadaan tidak baik. Karena itu, jangan sampai kita mengambil keputusan dengan terburu-buru.” Lanjut Pak Warsito.
Seorang warga langsung menyahut.
"Pak, ini bukan terburu-buru. Ini sudah darurat."
"Iya." Timpal yang lain.
"Semalam saja sudah kejadian lagi. Daud, Jaka, sama Udin lihat sendiri penampakan itu." Suasana kembali riuh.
Pak Warsito mengangkat tangan, mencoba menenangkan.
"Coba tenang dulu!"
Perlahan suara mereda, meski napas para warga masih berat.
"Kalau memang benar ada gangguan." lanjut Pak Warsito.
"Kita harus menghadapi dengan cara yang benar."
"Bukan langsung panggil dukun tanpa kita tahu asal-usulnya."
Namun warga tampak semakin tidak sabar.
Salah satu pria melangkah maju dengan wajah tegang.
"Pak RT, kami sudah tidak bisa menunggu lagi."
Beberapa warga langsung mengangguk kuat.
"Iya! Hantu yang berwujud Sapri itu! Padahal Sapri meninggal! Kalau ini bukan bahaya, lalu apa lagi, Pak?"
Pak Warsito terdiam sejenak. Dia mencoba mencari kata yang tepat.
Namun warga lain kembali memotong.
"Kalau kita terus menunggu dan bersabar, nanti korban akan bertambah lagi."
"Sudah Sapri, Herman, Seno. Sekarang Daud hampir saja jadi korban!" Suasana kembali memanas. Nada suara mulai meninggi.
Rasa takut berubah menjadi desakan. Pak Warsito menatap mereka satu per satu.
Dia bisa melihat ketakutan itu dengan jelas di mata mereka.
"Pak…" Ujar seorang warga lebih pelan, namun penuh tekanan.
"Kami ini bukan tidak percaya sama Ustadz Sakari. Tapi untuk urusan seperti ini, kami butuh yang lebih tahu."
"Iya." Sambung yang lain.
Pak Warsito menggeleng pelan.
"Tidak semua hal harus dilawan dengan cara seperti itu."
"Tapi ini sudah di luar batas, Pak!" potong warga lain.
"Semalam saja sudah jelas terlihat Kalau kita diam, kita yang akan habis satu-satu.”
Suasana kembali sunyi sesaat setelah kalimat itu terucap. Angin sore berhembus pelan melewati halaman rumah, daun-daun bergesekan lirih.
Pak Warsito menunduk sejenak.
Dia tahu, ini bukan lagi sekadar perdebatan. Ini adalah ketakutan yang sudah berubah menjadi kepanikan.
Dia kembali mengangkat wajahnya.
"Kalau kalian tetap memaksa..." Katanya pelan.
Pak Warsito akhirnya menghela napas panjang. Dia tahu, jika terus ditahan, suasana justru bisa semakin memanas.
"Begini saja…" Katanya pelan, mencoba tetap tenang.
Semua warga langsung menatapnya, menunggu.
"Saya tidak bisa memutuskan ini sendiri."
Beberapa warga mulai berbisik.
"Maksudnya, Pak?"
Pak Warsito menatap mereka satu per satu.
"Ini menyangkut seluruh desa." Lanjutnya.
"Jadi harus dibicarakan dengan Pak Kepala Desa dulu."
Suasana sempat hening. Beberapa warga tampak tidak puas.
"Lho, Pak, ini kan darurat." Sahut seseorang.
"Iya, Pak. Kenapa harus menunggu lagi?" tambah yang lain.
Namun Pak Warsito tetap pada pendiriannya.
"Justru karena darurat, kita tidak boleh sembarangan ambil keputusan."
"Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang tanggung jawab?"
Ucapan itu membuat beberapa warga terdiam.
Pak Warsito melanjutkan.
"Kita bicarakan ini di balai desa saja. Pak Kades harus tahu semuanya. Termasuk kejadian semalam."
"Kalau begitu, jangan lama-lama, Pak. Seorang warga menghela napas panjang.
"Iya." Sahut yang lain.
"Kalau bisa besok sudah ada keputusannya."
Pak Warsito mengangguk.
"Iya, pasti akan saya usahakan." Ujarnya.
Beberapa warga akhirnya mulai mengangguk, walau masih terlihat gelisah.
"Baiklah, Pak. Tapi kami harap, jangan ditunda-tunda lagi."
"Saya mengerti." Pak Warsito hanya mengangguk pelan Kembali.
Satu per satu warga mulai beranjak pergi.
Langkah mereka cepat, seolah masih diburu rasa cemas. Tak lama, halaman rumah Pak Warsito kembali sepi.
Pak Warsito berdiri diam di teras.
Matanya menatap jalan yang mulai lengang.
*****
Maaf ya, ada kesalahan penulisan nama. Seharusnya saya menulis Sapri. Tapi jadi Asep. Efek persiapan lebaran dan tetap menulis jadinya blank. Tadi baru ngeh, ternyata saya salah.
Untuk para pembaca. Selama hari raya, Minal Aidil Walfaizin ya.