NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Sel tahanan dan ruang konferensi jelas dua tempat yang sangat berbeda. Namun, di sanalah Tobias berada—duduk santai dan mengobrol ringan dengan Gemini seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, baru semalam ia dituduh melakukan pelecehan seksual dan seharusnya mendekam di balik jeruji besi.

Amara hanya bisa menghela napas pelan. Sejujurnya, ia tidak terlalu terkejut melihat Tobias di sana. Apalagi ketika ia menyadari kehadiran Connor Lin, pengacara kondang yang sudah membela Tobias selama lima tahun terakhir. Bagi orang sekaya Tobias, kasus pelecehan atau urusan bisnis tidak ada bedanya; semuanya bisa diselesaikan dengan uang dan koneksi.

"Ah, Nona Miller," sapa Gemini begitu menyadari kehadiran Amara.

Tobias menoleh. Matanya menatap Amara dari ujung rambut hingga ujung kaki, namun ia tetap bungkam, tidak berniat menyapa sepatah kata pun. Amara membalas tatapan itu dengan dingin, hanya beberapa detik, sebelum membuang muka.

"Nyonya Sinclair," Amara menghampiri Gemini dan mengulurkan tangan. Gemini menyambutnya dengan ramah. "Sekali lagi, terima kasih telah memilih Synergy. Saya berjanji, Anda tidak akan menyesali keputusan ini."

Gemini tersenyum tipis. "Saya harap begitu. Silakan duduk," ujarnya sambil menunjuk kursi di sebelahnya. "Mari kita tanda tangani kontraknya sekarang agar bisa langsung bekerja."

Amara duduk dan mengeluarkan dokumen dari tas kerjanya. Setelah memastikan bagian yang harus diisi, ia segera membubuhkan tanda tangan. Dokumen itu kemudian berpindah tangan ke Gemini untuk disahkan. Begitu proses administrasi selesai, Gemini berdiri lebih dulu.

"Ikut saya," ajak Gemini. "Saya akan menunjukkan proyek yang akan kalian kerjakan."

Keduanya pun mengikuti wanita yang lebih tua itu.

"Ibu," Bethany menyapa ibunya dengan anggukan sopan, ikut berjalan bersama mereka saat mereka menuju lift. "Bagaimana hasilnya, Amara?" tanyanya.

"Bagus," jawab Amara singkat dan jelas. Di lain kesempatan, dia mungkin akan meladeni rasa ingin tahu Bethany, tapi hari ini bukan waktunya.

Begitu pintu lift terbuka, mereka semua masuk. Ketegangan mendadak menyelimuti ruang sempit itu, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Amara bisa merasakan tatapan tajam Tobias menusuk bagian belakang kepalanya sepanjang perjalanan turun. Tidak ada yang berani bersuara; seolah satu kata saja bisa meledakkan bom waktu yang ada di antara mereka.

Gemini akhirnya memecah keheningan saat pintu lift terbuka di sebuah lantai bawah tanah yang luas.

"Ini adalah proyek AMC," ucap Gemini formal, seraya menunjuk ke arah sebuah mesin seukuran manusia.

Amara dan Bethany melangkah maju lebih dulu. Bethany tampak sulit menyembunyikan keterkejutannya, sementara Amara menyipitkan mata penuh selidik, mengamati setiap inci dan celah pada mesin tersebut. Ketertarikan mereka terpancar jelas dari raut wajah masing-masing.

Di sisi lain, Tobias tampak penasaran, meski wajah kaku dan datarnya hanya menunjukkan sedikit emosi.

"Awalnya saya ragu membagikan proyek ini kepada kalian, mengingat betapa besar tenaga kerja yang dibutuhkan," Gemini memulai penjelasannya sambil memberi isyarat ke arah manekin logam itu. "Tapi, saya memutuskan untuk mengambil risiko dan memercayai kalian berdua."

Ia menarik napas sejenak. "AMC, singkatan dari Artificially Manufactured Companion. Ini adalah AI pertama dengan jenis mesin seperti ini yang dikembangkan di sini, di bawah pengawasan saya langsung. Ini bukan sekadar robot; ia dirancang untuk melakukan tugas-tugas manusia dengan sempurna. Sesuai namanya, mesin ini diciptakan dan diprogram untuk melayani seorang tuan."

Gemini menjeda kalimatnya, melirik ketiga orang di sekitarnya dengan tatapan penuh arti. "Ia bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan manusia sungguhan, bahkan lebih baik. Kenapa? Karena mereka tidak dikendalikan oleh emosi, dan jika sudah tidak berguna, mereka bisa dibuang dengan mudah."

"Tim saya menciptakan dua versi AMC," lanjut Gemini. "Di sebelah sini adalah versi pertama, dirancang untuk menjalankan fungsi anggota keluarga—sebut saja sebagai pengasuh atau pengurus rumah. Sementara yang satu lagi dirancang untuk berperan layaknya pasangan, seorang pendamping hidup."

Gemini mengambil sebuah perangkat dari podium di depannya. "Kalian bisa mengontrol AMC melalui jam tangan yang terhubung langsung ke mesin ini." Ia memasangkan perangkat itu di pergelangan tangannya dan menekannya sekali. "Begitu koneksi terjalin, kalian bisa dengan mudah memberi perintah; entah itu untuk memasak, membersihkan rumah, atau sekadar menghibur."

Seketika, kedua mesin itu seolah "bangun". Versi keluarga adalah yang pertama bergerak.

"Saya sudah memprogram yang satu ini," kata Gemini. Robot versi keluarga itu melangkah maju dan berhenti tepat di depan Amara. Mesin itu mengulurkan tangan, lalu dengan lembut mengelus kepala Amara. Amara tersentak; sentuhan itu terasa sangat familiar, begitu mirip dengan cara ibunya dahulu membelainya.

"Ia mampu menangkap dan meniru gerakan yang menurut manusia paling menenangkan," jelas Gemini.

Baru saja Amara ingin bertanya bagaimana mesin itu bisa tahu gerakan mana yang ia sukai, AMC versi pendamping tiba-tiba angkat bicara.

"Kau... tampak kesepian. Apakah kau ingin aku menghiburmu? Haruskah aku pulang bersamamu?" tanya mesin itu dengan suara maskulin yang berat dan dalam. Rasa terkejut sempat melintas di wajah Amara, namun ia segera menguasai dirinya kembali.

Bethany terkekeh kecil. "Kedengarannya ide yang bagus, bukan, Amara?"

Sebelum Amara sempat membalas, Tobias memotong dengan nada mengejek. "Apa hebatnya manusia buatan seperti ini?" cibirnya. "Mau sebagus apa pun buatannya, mesin tetaplah mesin. Ia tidak akan pernah bisa menandingi kehangatan nyata dari manusia sungguhan."

"Saya tidak setuju," balas Amara tanpa ragu. Ia menatap Tobias dengan dingin. "Jika bicara soal keuntungan, AMC jelas pilihan yang lebih baik karena tidak melibatkan emosi. Itu membuat mereka jauh lebih mudah dikendalikan. Tidak seperti pria yang hanya manis di mulut menjanjikan kehangatan, AMC tidak akan mengkhianati kepercayaanmu. Dan yang terpenting, mereka tidak akan merendahkanmu, peduli seberapa keras pun kau berusaha menyenangkan mereka."

Mata Amara tetap terkunci pada netra Tobias saat ia bicara. Tobias merasa setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu adalah sindiran tajam yang dikhususkan untuknya.

"Kenyataannya, membawa pulang AMC jauh lebih baik daripada memiliki pria sungguhan," lanjut Amara dingin. "Tanpa drama pernikahan dan perceraian, tanpa perlu mengemis perasaan atau cinta. Hanya ada efisiensi dan kepuasan murni bagi kedua belah pihak."

Kata-kata itu menyayat ego Tobias layaknya pisau panas yang mengiris mentega—cepat, telak, dan tepat sasaran. Tobias terbungkam, tak mampu menyangkal sedikit pun. Sebelum ia sempat membalas, ponsel Gemini berdering, memecah ketegangan yang nyaris meledak.

"Permisi," ujar Gemini seraya menempelkan ponsel ke telinganya. Setelah terdiam sejenak, ia menghela napas. "Saya mengerti."

Ia menutup panggilan dan kembali menatap mereka. "Saya senang melihat ketertarikan kalian. Namun, pertemuan hari ini harus berakhir di sini. Saya ada urusan mendadak. Silakan luangkan waktu sejenak untuk lebih mengenal AMC, karena kalian akan sering berurusan dengan mereka ke depannya. Permisi."

Dengan anggukan sopan, Gemini beranjak pergi, meninggalkan tiga manusia dan dua android di ruangan yang dingin itu.

"Baiklah," Bethany bertepuk tangan, mencoba mencairkan suasana. "Karena urusan formal sudah selesai, saya rasa ini waktunya kita pergi."

Bethany mengulurkan tangan hendak meraih Amara, namun Tobias dengan cepat melangkah maju, menghalangi jalan dan berdiri tepat di depan Amara.

"Amara, kita perlu bicara."

Nada bicaranya menuntut, lebih mirip perintah daripada ajakan.

Amara tidak bergeming. "Tuan Larsen, tolong jangan membuat keributan," peringatnya tegas. "Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."

"Banyak yang perlu kita bicarakan," bantah Tobias keras kepala. "Kejadian semalam, misalnya—"

"Tuan Larsen," potong Bethany sebelum Tobias sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia berjalan memutari Tobias dan menggandeng tangan Amara. "Tidakkah menurut Anda ini sudah berlebihan? Amara tidak lagi terikat dengan Anda. Atas dasar apa Anda terus memaksanya?"

Tobias ingin membuka mulut untuk berdebat, namun kalimat Bethany berikutnya benar-benar mengunci lidahnya.

"Tidakkah Anda merasa terlalu peduli untuk ukuran mantan suami yang bahkan gagal memberikan kebahagiaan saat masih terikat pernikahan? Saran saya, berhentilah mencampuri urusannya, Tuan Larsen."

Tanpa menunggu jawaban, Bethany berbalik dan menuntun Amara pergi dengan lembut. Amara menurut tanpa menoleh sedikit pun kepada Tobias yang terpaku di tempatnya; dia sadar bahwa setiap perkataan Bethany adalah kebenaran.

1
Yuli Yulianti
amara kamu perempuan yg bersifat pinplan apa apa minun yg membuk kan sekali ud mabuk bikin hal yg memalukan seolah kamu masih istri dihadapan mantan suami
nia febriyani
mantap
Virgo Non
kurang keren harusnya amarah lebih dinginlebih waspada dan lebih menghancurkan apalagi nama besar keluarganya cukup di hormati
Mundri Astuti
bethany menyesatkan nih...
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias
Yuli Yulianti
lama lama muak juga liat tobias selalu ad di sekitar Amara
azzura faradiva
bosen banget dimana² si para benalu slalu nongol
Yuli Yulianti
knp sih ad tobias disekitar Amara coba dong cowok lain yg lebih berkuasa yg mendekati Amara kan nie judul kehilangan setelah bercerai masa ad mantan trus disekitar Amara
azzura faradiva
semoga saja kakaknya Bethany seorang pria dan bisa mengambil hati seorang Amara❤️💞
azzura faradiva
keren sich ceritanya,tapi masa iya Amara harus kembali lagi sama tobias nantinya🤔klo bisa untuk season skrg hadirkan pemain pria Baru yg mengisi hari² Amara biar si tobias tambah membara🔥🔥🔥
Yuli Yulianti
jgn mau kembali dgn lelaki yg telah mbuang mu Amara orang meanggap mu murahan yg slalu bisa disentuh ...
S
Lama lama Mara balikan deh itu emosi krn cemburu kan.
S
bagus
merry
herann mntn setiap gundik y dpt mslhh knp Mara yg dislhk,, hrs cari tau gundikmu itu Tobi jgn ssrhh mntn istri Menghntiknn perbuatan y,,, dan kmu Mara ud cerai jgn Mau di tdrinn lhh klo kmrin gpp krn Kena obat kyk gk pyn hrg dri ajj
lovina: gara2 baca komen ini g jd baca, otak othornya gablek
total 1 replies
S
murah dan bodoh miris srkali pewaris terkaya tp terkihat tak berharga.kemana si kakakbya
Lee Mbaa Young
nikmati saja Amara burung Tobias 🤣🤣👎. km kn bucin smp goblok.
Lee Mbaa Young
wanita selalu murah ya bgitu sprti Amara 🤣. Kl Berkelas tinggal banting saja la ini malah mapan 🤣.
S
mara bukan siapa siapa dan apa apa ternyata hanya krn proyek dia haris menyuyak harga dirinya tak sebanding dg sumpahnya yg terkesan hebat.
S
sukurin kau akan menysali tawaran Mela, mara
S
rasain berlagak sempurna.nyatanya di luar expectasi makanya bertindak preventif itu perlu kau.bukan orang super Mara.Sekali berbuat salah fatal akbatnya sdh pernah salah langkah masih sj remeh,ceroboh.
Yuli Yulianti
amara jgn mau kamu jadi tempat napsu nya melawan lah ...
Lee Mbaa Young: 🤣🤣 melawan yo eman to burung Tobias kn enak Amara menikmati kn murah dia. laki dah bgitu masih gk melawan mlh menikmati pdhl dah cerai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!