Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32. BCS.
Albi keluar dari rumah mewah namun, di hadang oleh sekumpulan bodyguard berbadan besar. Albi menelan air ludah dengan sulit saat melihat mereka. Satu per satu Albi melawan mereka, Beberapa menit berlalu Albi berkelahi melawan para bodyguard sampai kewalahan, hampir saja ia kalah dan jatuh namun masih bisa berdiri.
Seseorang memukul Albi dari belakang membuatnya pingsan, Albi di bawa masuk ke dalam kamar yang sudah di tunggu Rosmaya dengan senyum penuh kemenangan. Para bodyguard sempat terpana melihat tubuh Rosmaya tanpa sehelai kain.
Rosmaya tersadar dari lamunannya ketika melihat Bodyguard melihat tubuhnya langsung menutupi dengan selimut. "Kurang ajar, kalian. Cepat pergi,"
Para bodyguard meninggalkan kamar sambil menelan ludah. "Gila tuh cerek, bodynya bagus sekali, andai saja tadi aku langsung terjang tuh tubuhnya,"
Salah satu bodyguard mengagumi tubun Rosmaya sambil membayangkan ketika bersetubuh dengan Rosmaya. Sebuah pukulan pada bahunya membuatnya sadar sambil mengumpat. "Apa salahku? Kenapa kamu memukulku?"
"Bukan waktunya mengkhayal, tapi kerja. Perempuan punya body seperti bos banyak masalahnya mau tidak mereka sama kamu," kata temannya.
"Tentu saja maulah, perempuan mana yang tidak mau sama pria tampan, badan kekar, dan pintar berkelahi, seperti aku," katanya membanggakan dirinya.
Semua temannya tertawa melihat pria tersebut dengan rasa percaya diri. "Tidak semua perempuan suka sama pria seperti kita, mereka juga takut kali,"
"Memang begitu kenyataannya, Sudahlah nanti kita cari perempuan yang bisa menerima kita apa adanya saja jangan yang mau karena fisiknya doang," sahut yng lainnya.
Matahari hampir tenggelam Bisma menunggu Albi tidak menunjukkan tanda keluar membuatnya merasa khawatir. Ponsel Albi tidak aktif sedangkan teman-temannya juga sulit dihubungi. Bisma tidak tenang, dari jauh terlihat mobil keluar dari rumah mewah tersebut dan dibelakangnya ada mobil mengikuti mobil didepannya. Bisma menyalakan mobilnya dan mengikuti dari jarak jauh agar tidak terlihat oleh mereka.
"Bi, bangun," panggil Dasa menepuk wajah Albi yang terlelap akibat pingsan setelah kena pukulan.
Beberapa saat kemudian Albi terbangun merasakan sakit di bagian tengkuknya sambil merintih lalu membuka mata dan melihat sekitar ternyata masih di tempat yang sama. Albi terkejut melihat Dasa ada disebelahnya.
”Sekarang kita aman tapi tidak dengan istrimu, kita harus segera mencari istrimu, ayo cepat bangun," perintah Dasa.
Keduanya keluar dari kamar dengan cara mengendap-endap, setelah merasa aman keduanya segera meninggalkan rumah mewah tersebut.
”Hei, kalian," panggil seseorang dari arah belakang mereka.
Albi dan Dasa berbalik menghadap ke belakang kemudian berdecih. “Ternyata kamu," kata Dasa melihat Abas berjalan ke arah mereka.
“Bagaimana mereka semua sudah pergi kan?“ tanya Abas.
"Sepertinya iya, semua bodyguardnya juga tidak ada," sahut Albi melihat sekeliling.
“Kenapa Bisma tidak kemari, kemana tuh anak?" tanya Dasa berjalan keluar mencari Bisma di tempat asal parkir.
Albi dan Dasa terkejut tidak melihat mobil Bisma. Albi menelpon Bisma hanya berdering tidak di angkat. Beberapa menit kemudian Bisma menelpon Albi.
“Iya, Bis. Kamu dimana kami mencari kamu di sini?“ tanya Albi ketika mengangkat ponselnya.
“Aku sedang mengintai mereka, ternyata mereka menuju tepi sungai dan di sini ada bermacam-macam ternak sepertinya ini sangat berbahaya, aku akan menjemput kalian, tunggu aku di sana,“ Bisma mematikan ponselnya meninggalkan tempat tersebut dan menjemput teman-temanya di rumah mewah.
Di rumah tepi sungai dan ladang ternak Prasasti di sekap dengan ikatan di tangan dan kakinya. Waktu berlalu cepat Prasasti berada di tempat tersebut aroma hewan ternak membuatnya ingin muntah perutnya terasa kebas menghirup udara kotor.
Rosmaya menghampiri Prasasti menatap dengan wajah tidak suka. Ia membuka penutup mata Prasasti dengan kasar kemudian memerintah salah satu bodyguardnya. “Kamu Joe, tolong ambil minuman di sana yang di gelas berwarna merah,“
Joe mengambil minuman dan memberikan kepada Rosmaya kemudian berjalan ke belakang sambil bersedekap dada melihat apa yang akan dilakukan oleh bosnya.
Rosmaya hendak meminumkan air berwarna merah ke mulut Prasasti dengan paksa, Prasasti mencium aroma menyengat dari gelas tersebut merasa mual dan hendak muntah. Rosmaya tersenyum smirk melihat reaksi Prasasti, kemudian membuka paksa mulutnya dan meminumkan air tersebut masuk ke dalam mulut Prasasti.
Prasasti menggelengkan kepala menolak pemberian Rosmaya agar tidak masuk ke dalam mulutnya. Bau anyir menusuk hidungnya membuatnya muntah dan mengena wajah Rosmaya. Mendapat perlakuan dari Prasasti, Rosmaya naik pitam menampar Prasasti dengan kasar.
“Kurang ajar kamu, Prasasti. Lihat mukaku terkena darah, kamu memang tidak tahu diri dan tidak punya harga diri. Rasakan ini," teriak Rosmaya menyiramkan sisa air di dalam gelas ke seluruh tubuh Prasasti.
Prasasti diam tidak menyahut apapun yang dilontarkan oleh Rosmaya, ia menunggu saat yang tepat membalas perlakuan Rosmaya kepadanya. Prasasti sudah tahu kelemahan Rosmaya, hanya butuh waktu saja.
Tubuh Prasasti bau anyir darah membuatnya mual dan muntah, semua orang menjauh darinya karena tidak tahan dengan baunya. Hal itu ia gunakan untuk melepas ikatan dalam tubuhnya.
Rosmaya selesai membersihkan tubuhnya memantau rumah mewah tempat Albi, ia tinggalkan karena bodyguardnya menyuruhnya kemari, padahal ia ingin bersenang-senang dengan Albi. Lewat layar laptopnya ia melihat Kondisi Albi setelah pingsan.
Mata Rosmaya sampai melotot, dadanya kembang kempis, pikirannya pening tangannya mengepal kuat kemudian menatap satu per satu bodyguardnya. "Siapa yang menelponku tadi, jawab?"
Para bodyguard saling pandang merasa tidak menelponnya, lalu menggeleng. Rosmaya geram melihat jawaban bodyguardnya, bertiak sambil membuang benda apa saja dihadapannya.
“Siapa yang sudah membebaskan Albi, di rumah itu?" tanya Rosmaya menatap mereka dengan nyalang.
Satu per satu para bodyguard mendapat tamparan keras dari Rosmaya. “Kalian kerja jaga perempuan satu saja tidak becus, kalian laki-laki cuma badannya saja yang besar orak tidak digunakan percuma lebih baik kalian di dapur cuci piring... Lihat Albi ada yang membebaskan siapa diantara kalian yang sudah berkhianat?"
Rosmaya sudah naik pitam kali ini tidak ada kata maaf untuk bodyguard yang sudah berani membebaskan tawanannya. Para bodyguard diam tidak ada yang berani menjawab, mereka menunduk menunggu perintah selanjutnya.
Ponsel Rosmaya berdering langsung di angkat. Ia nampak terkejut mendengar suara seseorang kemudian keluar dari ruangan dengan langkah lebar. Tepat di ambang pintu utama melihat Gael dan Dorman tersenyum tipis melihat Rosmaya.
“Mana bagian kami?" tanya Dorman sambil bersedekap dada melihat Rosmaya.
“Ada di dalam tapi harus dibersihkan lebih dulu,," jawab Rosmaya sambi berbalik kemudian berjalan lebih dulu mengantar Gael dan Dorman.
"Apa pekerjaan kalian sudah beres?" tanya Rosmaya.
“Soal beres tinggal menunggu waktu saja," jawab Gael dengan santai.