Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam telah jatuh menyelimuti kota, menyisakan kerlip lampu jalan yang memantul di aspal basah. Di dalam mobil, Raisa dan Tia sedang asyik berbincang tentang kemajuan kondisi Vina. Suasana hati mereka sedang sangat baik setelah melihat senyum di wajah murid mereka itu.
Namun, saat mobil Tia melintasi sebuah area perumahan tua yang sepi, Raisa tiba-tiba menegakkan punggungnya. Matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di bawah penerangan lampu jalan yang remang.
"Tia, berhenti! Berhenti sebentar!" seru Raisa sambil menunjuk ke arah pinggir jalan.
Tia segera menginjak rem dengan bingung.
"Ada apa, Rai? Kamu lihat hantu?"
"Bukan, lihat itu!"
Di bawah sebuah pohon beringin tua yang rimbun, berdiri seorang kakek dengan kemeja lusuh yang tampak sangat marah. Ia membawa sebuah parang tumpul di tangannya dan berteriak-teriak ke arah dahan pohon.
"Turun kamu! Dasar anak nakal! Gara-gara kamu, pohon ini jadi sarang pengganggu! Kalau kamu tidak turun sekarang, aku tebang pohon ini sekalian sama kamu di atasnya!" teriak kakek itu dengan suara parau yang bergetar karena emosi.
Raisa dan Tia segera turun dari mobil. Saat mereka mendekat, mereka menyadari ada seorang anak laki-laki kecil, mungkin usianya baru lima tahun, sedang meringkuk ketakutan di dahan yang cukup tinggi. Wajahnya yang mungil terlihat pucat di bawah sinar bulan, sementara tangannya gemetar memeluk dahan pohon.
"Pak! Tolong tenang, Pak! Jangan bawa parang begitu, anaknya ketakutan!" Raisa mencoba menengahi dengan suara tenang namun tegas.
Si kakek menoleh dengan mata melotot. "Jangan ikut campur! Anak ini sudah berkali-kali dibilangi jangan naik-naik ke pohon ini! Dia mau mencuri buah atau apa, hah?! Turun kamu!"
Anak kecil itu mulai menangis sesenggukan tanpa suara. "T... takut... kakek marah..."
Tia, dengan insting guru BK-nya, maju selangkah. Ia memberikan isyarat pada Raisa untuk menenangkan si kakek, sementara ia fokus pada si anak. "Sayang, lihat Ibu. Namanya siapa? Turun perlahan ya? Ibu tangkap dari sini. Jangan takut sama kakeknya, ada Ibu di sini."
Anak itu menatap Tia dengan ragu, lalu mulai menggerakkan kakinya dengan sangat hati-hati. Ia turun selangkah demi selangkah, sementara Raisa terus menghalangi kakek tersebut agar tidak mendekat.
Begitu kakinya menyentuh tanah, anak itu langsung berlari dan bersembunyi di balik kaki Raisa, memegang erat rok kerjanya.
"Sudah, Pak. Anaknya sudah turun. Tolong simpan parangnya, ini berbahaya untuk anak sekecil ini," ujar Raisa sambil mengusap kepala anak itu.
Si kakek mendengus, menyarungkan parangnya ke pinggang. "Kalian tidak tahu saja, anak ini sering keluyuran sendirian di sini. Tidak jelas siapa orang tuanya! Bilangi dia, jangan dekat-dekat properti saya lagi!"
Kakek itu berlalu masuk ke dalam rumah tuanya dengan gerutu yang masih terdengar. Suasana kembali hening, hanya menyisakan isak tangis kecil dari anak tersebut.
Raisa berjongkok di hadapan anak kecil itu, mencoba menyamakan tinggi badannya agar anak itu tidak merasa terintimidasi. Tubuh mungil anak itu masih sedikit bergetar, sisa dari ketakutan menghadapi amarah si kakek tadi.
"Sudah ya, kakeknya sudah masuk. Kamu aman sekarang," bisik Raisa lembut sambil merapikan kaus anak kecil itu yang sedikit kotor terkena batang pohon.
Tia tersenyum, lalu mengusap air mata di pipi gembul anak itu. "Kita cari es krim yuk? Di dekat sini ada kedai yang masih buka. Mau?"
Mendengar kata es krim, mata bulat anak itu sedikit berbinar meski masih berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan.
Mereka pun membawanya ke sebuah kedai minimarket terdekat. Di sana, mereka membelikan anak kecil itu es krim cokelat kesukaannya.
Sambil menikmati es krimnya, ketegangan anak itu mulai mencair.
"Namanya siapa, Sayang? Usianya berapa tahun?" tanya Tia dengan nada bicara yang sangat bersahabat.
"Azka... lima tahun," jawabnya pelan sambil menjilat es krimnya. Suaranya kecil namun terdengar sangat menggemaskan.
"Azka kenapa malam-malam ada di atas pohon itu? Tadi naik sendiri?" tanya Raisa hati-hati.
"Azka mau ambil layangan putus buat temen Azka di rumah. Tapi tadi kakek itu datang bawa parang, Azka takut turun," jelasnya dengan polos.
Raisa dan Tia saling berpandangan. Hati mereka tersentuh mengetahui niat tulus anak sekecil ini. "Azka tinggal di mana? Biar Tante antar pulang, ya?"
"Azka tinggal di rumah ramai-ramai. Ada Ibu panti di sana," jawab Azka
Setelah menanyakan alamat lengkapnya, Raisa dan Tia menyadari bahwa Azka adalah salah satu anak dari Panti Asuhan Yayasan Ar-Rais. Tanpa membuang waktu, mereka segera melajukan mobil menuju lokasi tersebut.
Suasana di panti asuhan sedang sangat tegang. Beberapa pengasuh tampak panik mencari ke sudut-sudut halaman. Di teras depan, terlihat Ibu Indah yang baru saja tiba dari pengajian keluarga karena mendapat telepon darurat dari ketua panti.
Wajah Ibu Indah tampak sangat cemas. Baginya, anak-anak di panti ini sudah seperti cucu sendiri.
"Bagaimana bisa Azka keluar tanpa ada yang tahu? Pagar sudah dikunci, kan?" tanya Ibu Indah dengan nada khawatir yang mendalam.
"Maaf, Bu Indah. Tadi sedang ada persiapan makan malam, mungkin Azka menyelinap lewat pintu belakang saat ada pengantaran barang," jawab Ibu Panti dengan suara gemetar.
Tepat saat itu, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Raisa dan Tia turun, diikuti oleh Azka yang menggandeng erat tangan Raisa.
"Azka!" seru Ibu Indah seketika. Ia langsung berlari memeluk anak kecil itu. "Ya Allah, Nak, kamu dari mana saja? Nenek khawatir sekali."
Azka menunduk takut. "Maaf, Nek... Azka mau ambil layangan tadi."
Setelah Azka dibawa masuk oleh pengasuh untuk dibersihkan, Ibu Indah berbalik menatap Raisa dan Tia. Ekspresi cemasnya berganti dengan rasa syukur yang luar biasa.
"Terima kasih banyak, Nak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian tidak menemukan dia. Saya Indah, pengelola yayasan ini," ucap Ibu Indah sambil menjabat tangan mereka satu per satu.
"Saya Raisa, Bu. Dan ini rekan saya, Tia. Kami tidak sengaja melihat Azka di bawah pohon beringin tadi sedang dimarahi warga," jelas Raisa dengan sopan.
Ibu Indah tertegun menatap Raisa. Ada sesuatu pada cara bicara dan tatapan mata Raisa yang entah kenapa membuatnya merasa tenang dan nyaman.
"Kalian sungguh baik sekali. Jarang ada anak muda yang mau peduli sampai mengantarkan langsung malam-malam begini. Tolong, masuklah sebentar, biar saya buatkan minum sebagai tanda terima kasih," ajak Ibu Indah dengan ramah.
Raisa melirik jam tangannya, sedikit ragu. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Bu Indah. Tapi ini sudah cukup malam, rasanya kurang sopan jika kami bertamu di jam seperti ini."
"Oh, jangan begitu, Nak. Kalian sudah menyelamatkan Azka, pahlawan kecil panti ini. Hanya makan malam sederhana, saya tidak menerima penolakan," ujar Ibu Indah dengan nada hangat namun penuh penekanan.
Tia yang memang memiliki kepribadian lebih santai dan sejujurnya sudah mulai merasa lapar lagi, menyenggol lengan Raisa dengan antusias. "Ayo dong, Rai. Sekali-kali. Bu Indah sudah sangat baik mengajak kita. Nggak enak kalau ditolak mentah-mentah," bisik Tia dengan tatapan memohon.
Raisa menghela napas, ia tahu jika Tia sudah mulai memaksa, sulit baginya untuk menghindar. "Baiklah, Bu. Jika tidak merepotkan, kami terima tawarannya."
Ibu Indah tersenyum puas. "Sama sekali tidak merepotkan. Mari masuk."
Mereka bertiga duduk di ruang makan panti yang luas. Ibu Indah dengan sigap meminta pengasuh menyiapkan hidangan spesial, soto ayam hangat dan beberapa camilan yang tadi dibawa dari pengajian.
"Jadi, kalian mengajar di SMA Pelita Bangsa?" tanya Ibu Indah sambil menuangkan teh hangat untuk mereka.
"Iya, Bu. Saya mengajar wali kelas 12, dan Tia ini guru BK-nya," jawab Raisa sopan.
"Wah, hebat sekali"
Saat mereka sedang asyik berbincang, suara deru mobil terdengar di depan. Tak lama kemudian, langkah kaki yang tegap terdengar mendekat ke arah ruang makan.
"Ma, Azka sudah ketemu? Mama telepon Fatih berkali-kali tadi, tapi Fatih baru bisa lepas dari ruang operasi," suara bariton yang khas itu terdengar sebelum sosoknya muncul di pintu.
Fatih mematung. Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Raisa yang sedang duduk di meja makan ibunya, mengenakan pakaian rapi namun tampak sedikit lelah, sedang memegang cangkir teh.
Ibu Indah berdiri dengan wajah berseri-seri.
" Fatih, ke sini. Kenalkan, ini dua guru hebat yang menyelamatkan Azka tadi. Nak Raisa dan Nak Tia."
Fatih mencoba mengembalikan ekspresi datarnya, meski detak jantungnya sedikit berkhianat. "Kita sudah saling kenal, Ma," ucap Fatih pendek sambil berjalan mendekat.
Ibu Indah terbelalak kaget. "Loh? Kalian sudah kenal?"
"Dokter Fatih adalah paman dari murid saya, Bu," Raisa mencoba menjelaskan dengan tenang, meski ia bisa merasakan tatapan Fatih yang menghunjamnya.
Tia yang menyadari suasana mulai berubah menjadi dingin karena kehadiran Fatih, mencoba mencairkan suasana. "Iya Bu Indah, Dokter Fatih ini sering sekali muncul di saat-saat darurat sekolah. Ternyata beliau memang benar-benar pahlawan, ya?" goda Tia sambil melirik ke arah Fatih.
Ibu Indah tertawa kecil, ia mulai memperhatikan ada aura yang berbeda antara anak laki-lakinya dan Raisa. Sebagai seorang ibu, ia menangkap sesuatu di balik tatapan Fatih yang biasanya tak peduli pada sekitar.
"Dunia sempit sekali, ya," gumam Ibu Indah.
"Fatih, ayo duduk. Makan malam bersama. Jarang-jarang kan Mama punya tamu secantik dan sebaik Nak Raisa dan nak tia di sini."
Fatih menarik kursi tepat di seberang Raisa. Raisa fokus pada makanannya, sementara Fatih, sesekali tertangkap mata sedang memperhatikan bagaimana cara Raisa berbicara dengan ibunya.